Perpustakaan yang Seperti Rumah Hantu dan Sebuah Renungan

Alkisah di suatu pagi yang cerah. Seperti biasa, mukimku diliputi nuansa alami khas pedesaan. Angin yang sejuk, burung berkicau, embun yang menetes dari dedaunan, dan para peternak bersama sapi-sapi gemuknya yang merumput. Rutinitas sama seperti pagi-pagi lainnya, menghabiskan waktu mengurusi siswa-siswa yang hendak berangkat sekolah. Meminta mereka bergegas mandi, memakai seragam dengan rapi, salat dhuha berjamaah, lalu sarapan pagi bersama.

Aku duduk di meja makan menikmati kebiasaan-kebiasan itu. Menjadi seperti bapak bagi anak-anak, dan terkadang menjadi seorang ibu. Kadang menjadi guru yang berceloteh, sesekali menjadi seorang murid yang sibuk mendengar keluhan mereka. Kuseruput kopiku sembari tetap bercengkrama dengan “sahabatku”. Saat itulah urita gembira datang lewat pesan WA, “Tolong hadiri kegiatan literasi di gedung Balai Keprajuritan Manunggal Makassar!” Kira-kira seperti itu inti pesannya.

Imajinasiku dengan cepat merespon, membayangkan seperti apa kegiatan tersebut. Di sana pasti bisa bertemu sahabat baru. Buku-buku yang menanti untuk dibaca. Itulah yang dikatakan Charles W. Eliot, buku adalah sahabat. Sahabat yang paling tenang dan setia, pembimbing paling bijaksana, dan guru yang paling sabar.

Singkat cerita, motorku melesat cepat berpacu dengan waktu, karena rasa takut terlambat tiba di lokasi. Takut menjadi seperti manusia akhir zaman yang dimaksud Gus Mus. Mereka memakai jam tangan mahal, tetapi tidak pernah tepat waktu.

Begitu tiba di depan gedung, mataku liar melirik kiri dan kanan. Barangkali saja ada bazar buku, mengingat kegiatan tersebut merupakan event literasi yang dilaksanakan oleh pustakawan provinsi. Atau mungkin saja ada komunitas-komunitas yang melapakkan buku-bukunya di pelataran gedung atau di dalam gedung. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada apa-apa, selain sekumpulan orang-orang yang berdesak-desakan melakukan registrasi. Tidak ada satu pun, bahkan mobil pustaka keliling yang paling mudah dibawa ke mana-mana.

Positif thinking. Jauhkan segala prasangka negatif dan jangan terlalu cepat menghakimi. Itulah hikmah yang kupetik dari fenomena yang menimpa bangsa kita dewasa ini. Ada pelajaran dari kegaduhan-kegaduhan yang dibikin orang-orang yang fasih lisannya mengkafirkan, menyesatkan, atau memfitnah saudara sebangsanya. Mereka sebagian besar adalah orang-orang yang terlalu cepat berprasangka buruk kepada orang lain, dan terlalu cepat membaiat diri sebagai pemilik kebenaran.

Dengan penuh harap, aku segera memasuki gedung. Ruangannya cukup luas dengan kapasitas 1500 orang. Kesan glamor terlihat jelas dari dekorasi bah acara pengantin. Entah berapa juta anggaran yang dikucurkan untuk penyelenggaraan talkshow ini. Di sisi lain para peserta tampak sibuk bercengkrama dengan rekan atau sekadar berswafoto bersama.

Tetapi suara-suara mereka tenggelam di dasar bunyi-bunyian alat musik, yang telah menguasai seluruh atmosfer gedung dan merebut suasana hening. Padahal keheningan adalah suasana paling nyaman untuk berbincang tentang literasi dengan para pegiat yang hadir, atau sekadar bersetubuh dengan buku-buku di event literasi tersebut.

“Ini konser musik atau kegiatan sosialisasi membaca?” Rasa kecewa mulai menjalari sekujur tubuhku. Tetap berpikir postif, karena musik juga adalah literasi kata seorang kawan. Sebagian musik memang menjadi sarana untuk berkampanye literasi. Atau sekadar menghilangkan kejenuhan saat membaca. Maka pandanganku kembali menelusuri seluruh ruangan, mencari jejak-jejak yang bernuansa literasi.

Tidak ada. Semua terasa asing. Para aparatur negara dari tingkat wilayah hingga desa, atau para pustakawan yang hadir, semua hanya sibuk dengan gawai masing-masing. Sesekali mereka hanya terlihat menyoraki penyanyi di panggung yang terletak di pojok gedung, meminta sang biduan untuk menyanyi sekali lagi. Sahaya duduk lesu di bagian belakang penonton. Menggamit sebuah buku. Dan menenggelamkan diri dalam pikiran Paulo Coelho.

***

Kegiatan yang diprakarsai oleh perpustakaan wilayah merupakan kegiatan sosialisasi pembudayaan kegemaran membaca. Tak tanggung-tanggung, kepala Perpustakaan Nasional diterbangkan dari Jakarta guna menjadi narasumber kegiatan. Panitia juga menghadirkan seorang tokoh pegiat literasi di Sulawesi Selatan. Tema yang diusung pelaksana adalah implementasi program revolusi mental menuju Indonesia cerdas 2024. Tetapi bagi sahaya kegiatan ini tak ubahnya sebuah konser musik saja. Atau hanya kegiatan seremonial samata, serupa temu kangen antara pustakawan.

Dalam laporan yang disampaikan pelaksana tugas Badan Arsip dan Perpustakaan Nasional mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menjadikan pepustakaan yang dulu eksklusif, menjadi inklusif dan lebih merakyat. Semoga hal ini berangkat dari sebuah kesadaran bahwa banyak perpustakaan-perpustakaan di negeri ini masih belum berfungsi secara maksimal. Bahkan gedung-gedung perpustakaan dibeberapa wilayah, tak ubahnya rumah hantu yang menyeramkan. Sepi, mencekam, dan suram.

Ditingkat desa misalnya, banyak buku-buku perpustakaan desa hanya menjadi perhiasan yang berdebu di pojok belakang kantor desa. Yah, selalu seperti itu. Atau terkadang juga di ruang depan, hanya saja terkunci rapat di dalam ruangan. Jika kondisi perpustakaan minimal setingkat desa seperti ini, bagaimana masyarakat bisa mengakses buku-buku yang ada? Dalam sebuah perbincangan dengan Sulhan Yusuf, seorang pegiat literasi dan penulis, beliau mengatakan seharusnya buku-buku di perpustakaan desa disimpan di ruang depan, atau di sudut-sudut ruang tunggu agar mudah diakses.

Di sekolah-sekolah dan kampus nasibnya tak jauh beda. Perpustakaan hanya sesekali tampak ramai. Itu hanya ketika peserta didik dan mahasiswa dibebani tugas oleh guru. Di luar dari itu, kantin menjadi prioritas utama. Kenapa? Karena perpustakaan tampak membosankan. Buku-buku yang ada diperpustakaan tidak menarik bagi peserta didik. Peserta didik notabenenya lebih menyukai karya-karya sastra. Karenanya perpustakaan sekolah jangan hanya ditumpuki buku-buku pelajaran, tetapi mulai harus diisi dengan buku-buku novel atau cerpen. Lalu bagaimana dengan perpustakaan daerah? Sejauh pengamatan penulis, masih sepi.

Ide menjadikan perpustakaan menjadi inklusif pada dasarnya merupakan gagasan cemerlang. Itu artinya, perpustakaan harus siap merakyat dan mereformasi beberapa sektor. Jangan malu untuk berkiblat pada gerakan-gerakan literasi akar rumput yang bergerak atas dasar altruisme. Bagaimana mereka mampu menarik minat anak-anak di sekitar mereka untuk datang membaca di rumah-rumah baca yang mereka inisiasi. Mulai dari tampilan ruangan yang menarik, hingga buku-buku bergizi yang digemari anak-anak.

Selain itu sirkulasi buku dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain harus terus diputar, agar anak-anak pada suatu daerah setiap saat mendapat bahan bacaan baru. Ingat, hampir semua pegiat literasi sepakat bahwa minat baca bangsa kita tidaklah rendah, hanya saja bahan bacaan yang belum merata. Belum semua anak-anak dapat mengakses buku-buku yang sesuai dengan usia mereka. Kita tidak bisa memberi bahan bacaan pertanian – judulnya seperti Cara Menanam Tomat, Cara Mengatasi Hama Wereng, dan sebagainya – kepada anak-anak yang lebih suka komik atau cerita rakyat.

Walakhir, satu kalimat dari kepala perpustakaan nasional yang patut direnungi. Katanya bagaimana mungkin minta baca peserta didik di sekolah-sekolah, anak-anak di desa-desa, remaja di kota-kota, kalau guru-guru, pegawai perpustakaan pusat hingga desa atau staf pemerintahan lainnya, juga masih malas membaca.

Sumber gambar: https://in.pinterest.com/pin/123849058476917308/

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Kereenn…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *