Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Sang Sendu dan Para Pendosa

Mengapa bayi menangis ketika dilahirkan?

Satu hal yang mesti kita sadari dalam hidup ini adalah kehadiran Sang Sendu. Ia telah menyertai kita sejak mula kelahiran. Sang Sendulah yang pertama kali menyapa kita. Ia juga satu-satunya yang mengerti apa yang kita rasakan. Di saat semua orang mendendangkan kebahagiaan, menyambut calon pendosa baru, Sendu senantiasa merangkul dan memeluk kita. Namun, mengapa terkadang kita tak menghargai Sendu? Berharap ia tak menghampiri kita. Lupakah kita akan kehadirannya dulu?

Penyesalan terbesar manusia sebagai pendosa adalah lahir di dunia ini. Hal inilah yang membuat calon pendosa bertemu untuk pertama kali dengan Sang Sendu. Sendu berbisik, memberitahu calon pendosa bahwa ia berada di tempat yang begitu kejam. Begitu keji. Di mana semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, hingga sekitarnyapun diluluhlantakkan. Saling menunjukkan pamornya. Saling menusuk satu sama lain. Saling membunuh untuk mendapatkan sebuah pengakuan sementara.

Berusaha mengusai semua yang bisa dikuasainya. Calon pendosa menangis. Ia tak sanggup mendengar perkataan Sang Sendu. Meluapkan segala emosi dan penyesalannya melalui air mata. Sebuah tangisan yang dianggap sebagian orang atau bahkan setiap orang sebagai nyanyian kebahagiaan. Namun tidak bagi calon pendosa. Ia tak bahagia. Ia menangis. Tangisnya telah disalahartikan.

Mereka –siapapun itu, mengatakan jika calon pendosa tidak menangis saat dilahirkan, umurnya tidak akan bertahan lama. Itu karena calon pendosa bersyukur telah memilih pilihan yang tepat untuk tidak terlahir di dunia ini. Maka dari itu ia tak menangis, Sang Sendu tak mengunjunginya. Ia memilih terlelap kembali, bersiap untuk berjumpa dengan Sang Kuasa.

Konon sebelum dilahirkan di dunia ini, kita akan diberikan pilihan. Pilihan ingin menyentuh dunia atau tetap berada di samping Sang Kuasa. Entah mengapa sewaktu itu saya memilih pilihan pertama. Tak teringat sedikitpun alasan mengapa saya memilih pilihan tersebut. Begitu pula kau. Kita sama-sama seorang pendosa yang lupa akan alasan kita sendiri. Alasan mengapa memilih pilihan yang berat.

Apakah sebelum dilahirkan, kita diberi gambaran mengenai kehidupan yang akan kita jalani kelak? Jika benar, mungkin itu bisa menjadi suatu alasan mengapa kita memilih pilihan pertama. Namun, bagaimana dengan mereka yang melihat kehidupannya sebagai seorang sengsara? Mengapa mereka masih memilih pilihan yang berat itu? Entahlah.

Mungkin ada alasan lain. Alasan yang menjadi pertimbangan kita mengapa ingin mencoba hal duniawi. Alasan yang awalnya kita ketahui. Mungkin detik-detik sebelum dilahirkan, alasan kita disimpan dan dijaga oleh Sang Kuasa. Dia Maha Kuasa. Dapat melakukan segala kuasaNya, termasuk mengambil alasan kita yang begitu berharga. Kita tak dapat menolak. Itulah mengapa Dia disebut Sang Kuasa.

Setidaknya sekarang saya sudah tahu. Pertanyaan apa yang akan pertama kali kulontarkan jika berhadapan denganNya. Meminta kembali alasan yang telah disimpan dan dijagaNya. Kuyakin Sang Kuasa tidak akan memberikannya begitu saja. Setahu saya Sang Kuasa menyukai perilaku-perilaku baik.

Mungkin, kita bisa memberikan hal yang disukai Sang Kuasa. Sebagai alat tukar untuk mendapatkan alasan mengapa kita memilih sebagai penikmat duniawi dan seorang pendosa. Ini saran dariku. Jika kau ingin mengikutinya, silakan. Tetapi, jika kau tidak peduli akan alasan tersebut, kau bisa mengacuhkannya. Namun satu hal yang saya yakin benar, alasan itu telah menunggu dirimu. Menunggu untuk diingat kembali.

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/inuzukatxema/art/Baby-angel-615760870

The following two tabs change content below.

Saffana Mustafani

Saffana Mustafani, mahasiswa Psikologi UNM. Dan, bergiat di organisasai pecinta alam, MARABUNTA Fakuktas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM)

Latest posts by Saffana Mustafani (see all)