Ketika Iblis pun Tertipu

Arepus Cula Merah keluar dari ruangan bernuansa kelam itu dengan lunglai. Cula merahnya tidak memancarkan api yang berkobar seperti biasanya. Matanya yang merah menyala, kali ini redup bagai habis disiram air kencing. Bibirnya yang tebal hitam tergantung menggelepai. Sementara cambang, kumis dan janggutnya yang memang selama ini meranggas simpan siur, kini terlihat semakin sengkarut. Paras yang betul-betul muram, bahkan lebih gelap dari Ruang Kegelapan, tempat dari mana Ia berjalan keluar.

Ada apa gerangan? Bukankah iblis termuda yang bernama Arepus Cula Merah ini biasanya selalu gembira? Apalagi inilah pertama kalinya ia mendapat titah dari Raja Iblis untuk masuk ke dunia manusia menggoda para penghuninya. Bagi Arepus menggoda manusia agar terjatuh ke jalan yang sesat adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus mulia. Itulah semulia-mulia pekerjaan iblis. Para iblis akan sampai pada keimanan yang sejati bila semakin banyak manusia yang digelincirkan ke jalan yang sesat.

Suatu masa, ketika Arepus belum bertugas menggoda manusia ia mendengar salah seorang iblis senior mengeluh kepada Raja Iblis. Iblis senior itu sudah bosan menggoda para manusia dan ingin berhenti merecoki manusia untuk berbuat jahat.

“Saya mau tobat yang mulia dari menggoda manusia agar tergelincir ke jalan yang sesat.” Begitu iblis senior memulai permohonannya.

Mendengar perkataan iblis yang ingin tobat ini, seluruh iblis di ruangan itu terhenyak. Bahkan raja iblis sendiri untuk sesaat terkesima. Tanduk Raja Iblis yang bercabang tiga itu menyala semakin memerah. Dari dalam seperti ada bara api yang ingin muntah ke luar. Sorot matanya juga bagai dikobari api. Menyaksikan itu iblis yang lain semakin terpaku. Jika tanduk raja iblis menunjukkan gejala demikian, berarti dia sedang marah dan pasti tidak lama kemudian kedongkolannya segera akan dimuntahkan. Ruangan Kegelapan menjadi senyap, tapi kemudian tersentak.

“Goblok….!” Itulah kata pertama yang keluar dari mulut raja iblis ini. Keras membahana seakan ingin meruntuhkan atap Ruang Kegelapan.

“Goblok…! Pekerjaan menggoda manusia agar tersesat adalah pekerjaan kita yang mulia. Perdalam lagi ilmu keiblisanmu, agar paham bahwa surga dan neraka itu ada karena adanya para iblis yang menggoda manusia!” bentak Raja Iblis, nafasnya tersengal-sengal saking geramnya. “Coba kalau iblis semua tobat, lalu manusia semua jadi baik maka apa artinya neraka…, apa artinya surga…ha…!” Raja Iblis berucap dengan berapi-api, suaranya bagai halilintar yang menyambar-nyambar.

Seluruh iblis yang ada di ruangan itu terdiam. Iblis senior yang tadi minta berhenti dan ingin tobat mengkeret merapat ke dinding batu di ruangan itu. Dan ia semakin gemetar ketakutan ketika raja iblis turun dari singgasananya melangkah mendekat ke arahnya. Tepat di depannya, raja iblis berhenti, lalu memegang dua bahu iblis senior ini, menariknya lebih dekat. Kini paras mereka nyaris bersentuhan. Dengan mata tajam bagai dipenuhi bara api, Raja Iblis menatapnya dalam-dalam.

“Dengarkan iblis goblok, semakin banyak manusia yang tersesat dan semakin banyak yang berbuat jahat karena godaanmu, maka kau naik derajat,” ucap Raja Iblis tandas. Lalu tangan Raja Iblis menunjuk dada iblis yang mau tobat ini, tapi karena terlalu dekat, jari telunjuknya menyentuh dada tersebut, tepatnya menusuk-nusuk. “Keimananmu diukur dari berhasil tidaknya kau membuat manusia tersesat,” pungkas Raja Iblis dengan tatapan mencorong ganas, seakan ingin merobek-robek muka iblis senior itu. Tanpa menunggu iblis senior itu menimpali, Raja Iblis segera berbalik dan bergegas meninggalkan iblis tersebut yang menggigil pucat di sudut Ruang Kegelapan.

Peristiwa itu membekas sangat dalam di benak Iblis Arepus. Karena itu bagi Arepus menggoda manusia adalah tugas mulia dan harus dilaksanakan sepenuh hati. Suatu saat jika perintah untuk menggoda manusia dijatuhkan padanya Iblis Arepus akan menyambut gembira. Tapi nyatanya ketika perintah itu tiba, Arepus justru kehilangan semangat.

Iblis Arepus melangkah lunglai menyelusuri Lorong-lorong iblis yang pekat. Masih terngiang-ngiang di telinganya ketika Raja Iblis menjatuhkan perintah tersebut.

“Arepus Cula Merah, tugas pertamamu kali ini adalah menggoda dan menyesatkan Si Rahib Suci!”

Bagaimana Arepus tidak lemas dan kehilangan semangat, Si Rahib Suci ? Siapa iblis yang tak kenal. Orangnya alim, rajin sembahyang, ke tempat ibadah paling duluan, bahkan konon dialah yang menjadi otak dari munculnya aturan agar semua kawula kerajaan melakukan semadi bersama tepat waktu. Lalu bagaimana caranya menggoda orang semacam Si Rahib Suci ini ? Iblis senior saja pasti keder mendengar nama Si Rahib Suci, apalagi kalau hanya iblis pemula semacamnya. Kegagalan sudah menari-nari di depan mata Iblis Arepus. Ia sangat yakin tugas pertamanya justru akan berantakan dan kali ini tak mungkin naik pangkat. Imannya sebagai iblis tak akan meningkat.

Iblis Arepus sesungguhnya telah minta dispensasi. Ia meminta Si Rahib Suci diganti dengan manusia lain. Bisa si Hartawan Kaya Raya atau siapa pun yang penting bukan Si Rahib Suci. Tapi permintaannya ditolak mentah-mentah.

“Kamu coba dulu…, lakukan apa yang kau bisa, jika ada masalah kau menghadap kepadaku,” kata raja iblis dengan suaranya yang berat. Tentu Iblis Arepus tak bisa lagi membantahnya.

Maka Arepus pun dengan setengah terpaksa dan kegagalan yang membayang di mata, mulai mendekati Si Rahib Suci. Tapi bagaimana mau mendekati si Rahib, ke mana-mana dia selalu memboyong kitab suci. Iblis Arepus menjadi kepanasan jika terlalu dekat. Bila tidak ada kitab suci yang dikepitnya, pasti si Rahib sedang sembahyang. Sembahyang yang lama. Si Rahib akan duduk tafakur lama dalam tempat ibadah, punggung sedikit condong ke depan, kepala tertunduk takzim. Begitulah Si Rahib Suci sembahyang.

Di waktu yang lain Iblis Arepus melihat Si Rahib Suci pidato di depan khalayak. Dengan tegas ia menyerukan orang-orang meninggalkan segala perbuatan jahat. Meminta mereka berpindah dari perbuatan yang buruk ke perbuatan yang baik. Lalu dia memperlihatkan baju yang dikenakannya. Di situ tersulam kalimat pengesaan Tuhan dan di bawahnya ada tulisan lain. “Berpindah menjadi Lebih Baik Adalah Tujuan Hidupku.”

Pada kesempatan lainnya lagi, Iblis Arepus menyaksikan Si Rahib Suci bersama beberapa petugas menyidak beberapa kawula kerajaan. Beberapa ditemukan tidak ikut semadi bersama tepat waktu. Si Rahib terlihat gusar terhadap mereka. Menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah para kawula yang tidak disiplin ibadah itu.

Iblis Arepus hanya bisa memandang galau Si Rahib Suci dengan segenap kesalehannya itu dari jarak jauh. Takut mendekat. Dalam keadaan sedih, kecewa, jengkel dan cemas itu, ia lalu berniat menjauh. Tidak ada gunanya menggoda Si Rahib Suci, tidak akan berpengaruh. Beberapa jenak ia menatap ke arah Si Rahib Suci, air mukanya sengkarut, matanya redup, lalu Iblis Arepus berbalik. Sebelum ia menangis di tempat itu karena kegagalan, lebih baik berbalik pulang. Malu kan, kalau sampai iblis menangis karena gagal menggoda manusia. Tetapi baru saja Iblis Arepus berbalik dan bersiap beranjak dari tempat itu, mendadak seberkas sinar diiringi dengan gemuruh yang dahsyat melintas di depannya. Iblis Arepus surut beberapa langkah. Beberapa saat Arepus mempertajam penglihatannya. Sorot matanya mencorong mencari tahu siapa gerangan di depannya. Sejurus kemudian, Arepus melihat sosok bercahaya dengan sayap-sayap kokoh di punggungnya. Tegak menatap ke arahnya dengan pamor yang membuat nyalinya jadi lumer.

“Malaikat…!” gumam Arepus gugup. Kedatangan malaikat tentu terkait dengan tugasnya ingin menggoda Si Rahib Suci. Pasti ia akan dipermak habis oleh malaikat karena berani mengganggu Si Rahib Suci tersebut. Tapi dilihatnya si malaikat hanya berdiri saja di tempatnya.

“Kau mau menggoda Si Rahib Suci?” tanya malaikat.

“Iyy..a..a…, !” jawab iblis Arepus takut-takut.
“Terus kenapa kamu hanya berdiri bengong di situ?”
“Bukannya kamu juga lihat, Si Rahib Suci sulit didekati, ia terlalu alim, kawula yang sangat taat, bagaimana aku bisa menggodanya,” kata Iblis Arepus mulai lancar, Ia melihat malaikat tidak menunjukkan raut yang bengis terhadapnya saat ini.

“Ha..ha..ha…” Malaikat bersayap itu tak dinyana tertawa terbahak-bahak.

“Dasar makhluk rendahan…mudah tertipu,” ucap malaikat setelah tawanya reda.

Disebut makhluk rendahan Iblis Arepus tersinggung.

“Eh…jangan ngomong seenaknya dong! Kita ini makhluk Tuhan yang setara. Kita sama-sama menjalankan tugas,” timpalnya sembari menatap ke arah malaikat.

Malaikat balas memandangnya dengan sengit. Mau tidak mau iblis Arepus menundukkan parasnya. Ia kalah pamor.

“Buktinya sekarang kau tidak bisa menjalankan tugasmu dengan baik, takut mendekat ke Si Rahib Suci …, takut kepanasan…! Cengeng…! Di mana keyakinanmu sebagai iblis?” ucap malaikat tersebut. Dan rupanya sang malaikat tak membutuhkan jawaban iblis Arepus sama sekali, karena setelah berkata demikian si malaikat segera melesat terbang meninggalkan suara gemuruh di belakangnya.

Pernyataan dan pertanyaan malaikat itu menyentak kesadaran iblis Arepus. Jangan-jangan ia memang iblis yang masih belum memiliki keyakinan yang kuat ? Memikir sampai di situ, akhirnya Arepus bertekat untuk mendekati Si Rahib Suci dan melihat kemungkinan untuk menggodanya. “Apapun yang terjadi aku harus mendekatinya, menggodanya.” Iblis Arepus menguatkan hatinya.

Keesokan harinya, Iblis Arepus mulai mendekati rumah ibadat tempat Si Rahib Suci kerap sembahyang. Mulanya ia gentar mendekat, apalagi dilihatnya satu-satu orang mulai berdatangan untuk beribadah. Namun sisi lain batinnya memaksanya untuk merapat. Tugas harus dijalankan, apa pun risikonya. Lantas dibulatkanlah tekatnya. Dikuat-kuatkannya hatinya. Sejurus ia menengadah ke langit, mulutnya komat-kamit. Entah berdoa, entah merapal mantra. Tak tahulah.

Dengan langkah pelan bergetar, iblis Arepus mendekat tempat ibadah itu. Kemampuan deteksi kejahatannya sebagai iblis ditingkatkan, cula merahnya bersinar semakin merah dan matanya semakin nyalang. Alangkah kagetnya ketika kemampuannya ditingkatkan semakin jauh, dilihatnya beberapa orang yang menuju tempat ibadah itu berubah jadi binatang. Ada yang serupa ular mendesis-desis, watak liciknya jelas terlihat, yang lain mirip monyet yang rakus. Sementara ada pula yang menyerupai singa yang buas, amarahnya terlihat masih menggelak dalam dadanya. Iblis Arepus Cula Merah tertawa dalam hati.

“Ternyata tidak sulit mendekati orang-orang yang datang ke rumah ibadat ini. Mereka memang datang ibadah tapi sifat-sifat binatangnya tidak dibuang jauh-jauh,” bisik Iblis Arepus dalam batinnya. Sesaat matanya berpindah menatap seorang pemuda yang dengan bangga memamerkan baju kaosnya yang bertuliskan kalimat tentang pengesaan Tuhan.

“Belum sah Anda menjadi orang yang berhijrah, bila belum memakai baju ini,” kata pemuda tersebut pada sejawatnya yang juga ada di rumah ibadat tersebut.

Melihat itu iblis Arepus tersenyum sinis.

“Hijrah adalah perbuatan yang mulia, saya sungguh gentar dengan mereka yang betul-betul berhijrah. Tapi di tangan orang itu, hijrah seakan-akan hanya karnaval,” gumam iblis Arepus. Senyum sinisnya terus membayang di mukanya yang kelam.

“Keimanan mereka hanya sebatas pameran pakaian, betul-betul iman yang ringkih.” Lagi-lagi Iblis Arepus bergumam sinis.

Tapi mendengar kalimatnya yang terakhir, Iblis Arepus jadi tersenyum kecut sendiri. “Bukankah tadi juga aku tidak lebih baik dari anak muda itu ? Imanku juga rapuh.”

Iblis Arepus tidak terlalu lama mengamati jemaah yang datang beribadah tersebut, perhatiannya segera terfokus pada si Rahib Suci. Di lihatnya Rahib itu duduk paling depan. Sedang sembahyang. Entah sembahyang apa namanya.

“Loh…kok tidak mau berhenti ya?” gumam Arepus takjub. Perlahan ia mendekat dan berusaha mendengarkan apa sesungguhnya yang diucapkan oleh Si Rahib Suci ini. Mulanya tak terdengar, karena semuanya hanya disuarakan dari batin. Tapi semakin Arepus mempertajam pendengaran iblisnya sampai bisa menembus suara batin manusia, ia pelan-pelan bisa mendengar kata hati Si Rahib Suci. Mula-mula didengarnya Si Rahib membaca doa permohonan, lalu segala macam syair pujian pada Tuhan. Tapi di sela-sela itu samar-samar Iblis Arepus mendengar suara lain. Iblis Arepus pun makin mempertajam pendengarannya. Tiba-tiba saja cula merah di kepalanya menyala. Api sesekali meletup keluar dari culanya. Wajah yang kelam itu bagai dijatuhi seribu cahaya, lalu secara bersamaan memancar keluar. Iblis Arepus dicekam kegembiraan tak terperi.

“Aku sudah begitu lama sembahyang belum ada orang-orang yang melayangkan pujian padaku. Sial….mereka sama sekali tidak memandang hormat orang yang paling alim di antara mereka.” Begitu suara batin dari Si Rahib Suci. Tentu itulah yang menyebabkan Iblis Arepus begitu semringah. Ia menemukan titik hitam, bahkan ceruk yang kelam, tempat yang bisa dijadikan sandaran untuk menggoda lebih dalam Si Rahib Suci. Rupanya, diam-diam si Rahib ini ria dan sombong dengan ibadahnya.

Iblis Arepus kembali memperhatikan sembahyang Si Rahib Suci. Semadinya begitu lama. Tiba-tiba didengarnya salah seorang jemaah yang hadir nyeletuk.

“Luar biasa ibadah Rahib Suci, tak ada orang di negeri ini setaat beliau.”

Lalu iblis Arepus pun melihat Si Rahib Suci bangkit dari semadinya dan tak lama kemudian si Rahib itu menyelesaikan sembahyangnya.

“Sial…! Aku dan iblis lainnya ternyata tertipu dengan penampilan dan perilaku alim Si Rahib keparat ini,” geram iblis Arepus.

Sejak saat itulah Iblis Arepus selalu mengintil ke mana pun Si Rahib Suci pergi. Tapi sejauh itu iblis Arepus belum membisikkan godaan-godaan untuk menyesatkan Si Rahib. Iblis Arepus masih ragu. Ia baru sebatas mengamati.

Mana kala Si Rahib Suci pulang ke rumahnya, Iblis Arepus ikut pula membuntutinya. Diamatinya rumah Si Rahib yang mewah bagaikan istana. Beberapa mobil mewah dilihatnya terongok begitu saja di garasinya. Di belakang rumahnya terdapat beberapa istal dengan kuda-kuda tegar tertambat di dalamnya.

Begitu sampai di ruang dalam rumah Si Rahib, Iblis Arepus melihat seorang perempuan cantik berbusana mahal menyambut Si Rahib Suci tersebut. Tersenyum, walau samar-samar Iblis Arepus menangkap senyum itu terlalu di buat-buat. Ketika Si Rahib terus melangkah ke ruangan lain. Iblis Arepus sempat memperhatikan kembali perempuan cantik itu, dilihatnya tatapan matanya menyorot tajam bagaikan menikam punggung Si Rahib Suci dari belakang. Senyum manisnya tadi pudar berganti paras yang kelam. “Tentu inilah istrinya,” pikir Iblis Arepus.

Di ruang lain Si Rahib Suci bertemu dengan perempuan yang tak kalah cantiknya juga. Pakainnya juga mewah. Iblis Arepus segera pula tahu bahwa itu juga istri Si Rahib Suci. Pahamlah Iblis Arepus, kenapa paras istrinya yang pertama tadi, tiba-tiba berubah jadi kecut, ternyata ia cemburu, setelah Si Rahib terus melangkah mendapati istrinya yang kedua.

Selesai mengintil Si Rahib sampai ke dalam rumahnya, ia lalu tergerak ingin melihat tetangga rumah Si Rahib. Melihat rumah mewah Si Rahib Suci, tentu tetangganya juga orang-orang kaya. Untuk melakukan itu, Iblis Arepus mesti melewati pembatas dari tembok tinggi dan tebal. Tentu saja sebagai iblis, tak ada kesulitan bagi Arepus melewatinya.

Iblis Arepus tercengang melihat tetangga Si Rahib Suci, mereka ternyata bukan orang kaya, tetap orang-orang yang miskin papa. Rumah mewah Si Rahib ternyata berdiri megah di antara gubuk-gubuk reyot. Dengan kemampuannya sebagai iblis, Arepus segera tahu bahwa tetangga-tetangga itu adalah orang-orang yang pernah berutang pada Si Rahib Suci. Kini sebagian besar harta yang mereka miliki, termasuk tanah-tanah mereka, telah diserahkan pada Si Rahib Suci. Mereka tidak bisa membayar utang, akhirnya mau tidak mau tanahnya dan harta benda lainnya berpindah tangan pada si Rahib Suci tersebut.

“Jahat luar biasa, bahkan mungkin ia lebih jahat dari aku yang hanya menjalankan tugas ini,” kata Iblis Arepus dalam hatinya.

Ketika Iblis Arepus kembali ke rumah Si Rahib Suci, dilihatnya seorang berperut buncit sedang bertamu ke rumah Si Rahib Suci itu. Keduanya terlihat bercakap dengan riang.

“Syukurlah guru yang mulia, dagangan kami laku. Baju-baju bertulis kalimat-kalimat suci dan ajakan-ajakan yang apa…itu…istilahnya…saya lupa, banyak dibeli orang,” kata orang yang berperut buncit itu. Si Rahib Suci hanya tersenyum. Lalu Iblis Arepus melihat orang berperut buncit itu menyerahkan selembar cek dengan nilai uang yang cukup fantastis.

“Ini kita berbagi keuntungan, guru yang mulia,” ucap orang berperut gendut ini kembali. Si Rahib Suci tak banyak bicara, ia menyambutnya dengan wajah sukacita.

Menyaksikan semua itu iblis Arepus hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Luar biasa, jangankan manusia, aku saja yang iblis ini bisa tertipu dengannya. Melihat semua ini, aku tidak perlu lagi menggodanya, ia bahkan lebih iblis dariku.”

Iblis Arepus bersiap meninggalkan tempat itu. Ia ingin melaporkan semuanya pada Raja Iblis. Kali ini ia tidak menjalankan tugasnya menggoda manusia yang dianggap paling alim itu. Tidak ada gunanya. Ia pun yakin raja iblis akan menerima alasannya. Namun belum sempat bergerak, dari luar dilihatnya seorang berlari-lari masuk ke dalam menemui Si Rahib Suci.

“Gawat…gawat… Raja ditangkap atas perintah Dewan Kehormatan Kerajaan,” lapor orang yang baru datang itu dengan terengah-engah.

“Kenapa?” Yang bertanya adalah orang yang berperut buncit.

“Anggaran yang digunakan untuk mendukung peraturan Semadi Bersama Tepat Waktu itu terbukti banyak yang diselewengkan. Bukankah…bukankah…. guru yang mulia rahib…juga….,” orang ini tidak melanjutkan ucapannya. Dengan ragu-ragu ia melihat ke arah Si Rahib Suci. Si perut gendut juga melihat ke arah Rahib itu dengan tatapan cemas. Si perut gendut sendiri sejak tadi parasnya telah pucat pasi.

Melihat semua itu Iblis Arepus segera paham, kejahatan Si Rahib Suci akan segera terbongkar. Tidak ada gunanya lagi ia berlama-lama di tempat itu. Dengan segera ia melesat cepat meninggalkan rumah Si Rahib Suci.

Dalam waktu singkat iblis Arepus tiba di kediaman Raja Iblis. Ia segera meminta izin pada iblis penjaga untuk melapor pada Taja Iblis. Setelah mendapat izin, Iblis Arepus kemudian bergerak cepat ke dalam Ruang Kegelapan. Di tengah ruang yang kelam itu, duduk Raja Iblis, tapi tidak sendirian. Di depannya seseorang berjubah putih duduk berhadapan dengan raja iblis ini. Iblis Arepus tidak bisa melihat parasnya karena duduknya membelakangi arah datang Iblis muda tersebut. Arepus menghentikan langkahnya, namun raja iblis sudah melihatnya dan memanggilnya mendekat.

“Kebetulan kau datang… sini kau berkenalan dengan tamuku ini, dia ini adalah salah satu petinggi iblis, dia ini penasihat saya,” kata Rja Iblis.

Iblis Arepus dengan langkah pelan mendekat. Ketika hanya tinggal dua langkah lagi dari tempat Raja Iblis dan tamunya duduk, sosok yang ada di depan raja berbalik. Iblis Arepus terlonjak kaget. Ia sampai surut dua langkah. Bibir tebalnya bergetar mengucapkan sebuah nama.

“Si…si…Rahib…S..su..ci…!

Sumber gambar: http://leftbehind.wikia.com/wiki/Satan

The following two tabs change content below.

Ijhal Thamaona

Lahir di Bulukumba, 17-11-1976. Aktif di Gusdurian Sulsel. Belajar meneliti di LAPAR dan Litbang Agama Makassar

Latest posts by Ijhal Thamaona (see all)

Ijhal Thamaona

Lahir di Bulukumba, 17-11-1976. Aktif di Gusdurian Sulsel. Belajar meneliti di LAPAR dan Litbang Agama Makassar

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. seru.. Tapi kok Si Rahin suci manusia atau iblis?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *