Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa

Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng –kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan–“Literasi Dari Desa Labbo”. Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan.

Bukan rahasia lagi, cara untuk mengapresiasi buku-buku yang diterbitkan orang-orang dekat atau komunitas yang sevisi, kami-kami sering saling “memesan”, saling mendukung, dan juga saling menyemangati entah dengan cara apa. Resensi ini salah satu wujudnya.

Saya yakin di balik terbitnya buku ini, “pesanan” adalah kekuatannya. Seperti dituliskan dari catatan penyunting, buku ini lahir atas dasar inisiatif warga Desa Labbo yang ingin mengabadikan ingatan, pengamatan, dan pengalamannya mengenai apa saja yang berkaitan dengan Desa Labbo.

“Buku ini merupakan hasil dari proses panjang aktivitas literasi di Desa Labbo, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sejak kepala desa dijabat oleh Subhan Yakub, saya sudah ikut mendorong program-program literasi yang dicanangkan Pemerintah Desa Labbo, mulai dari pembenahan perpustakaan desa hingga pelatihan literasi untuk Karang Taruna.”

Di atas, kutipan saya ambil untuk membunyikan makna “pesanan” yang dimaksud. Yakni hasil kalkulasi tukar tambah pengetahuan dan pengalaman dari siapa pun yang terlibat dari macam-macam kegiatan di atas.

Mulai dari kepala desa, kepala dusun, mahasiswa, ibu rumah tangga, aktivis, pendamping desa, dan warga desa, adalah orang-orang yang gotong royong mengafirmasi “pesanan” dari aktivitas bermatra literasi.

Dengan kata lain, “pesanan” itu berwujud pemberdayaan dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Ya, buku ini bisa dibilang adalah hasil rembukan warga desa untuk menghasilkan sesuatu bagi desa mereka.

Itulah sebabnya, kalau ada yang mengetahui gerak-gerik para penulis di buku ini, mereka bergerak atas “pesanan” yang sama, visi yang sama, dan beruntungngnya bisa bertahan dalam frekuensi yang sejajar.

Mereka, walaupun datang dari beragam profesi, latar belakang pendidikan berbeda, usia, dan kecenderungan politik yang saling membelakangi, bisa demikian kejadiannya karena lahir dari hasil ijtimak bersama: menerbitkan buku.

Dari sisi ini, imajinasi tentang desa mesti digugat. Kadang desa diidentikkan terbelakang, tidak dinamis, dan sulit berkembang. Bahkan, desa dari kacamata ilmu-ilmu sosial mainstream, didudukkan sebagai lokasi pinggiran dengan kota sebagai pusatnya. Sebab dari itu, desa selalu dipandang wilayah yang tidak layak diperjuangkan dan tidak mesti diprioritaskan.

Hadirnya buku ini ibarat gugatan tentang semua itu. Bukan padi, buah-buahan, atau hasil ternak saja, melainkan buku sebagai penanda signifikan yang menjadi catatan kritis mengenai pergeseran aktivitas warga desa.

Buku yang identik bagi kalangan terdidik, di Desa Labbo diusahakan menjadi lebih liberal lagi. Ia didudukkan sama dengan sawah, kebun, dan ladang sebagai area atau benda yang menjadi pusat pikiran warga desa.

Seketika warga desa bertransformasi bukan saja akrab dengan perkakas pertanian dan perkebunan, tapi juga dengan laptop, jaringan wifi, buku, jurnal, catatan koran, laporan desa, dan siaran televisi yang semuanya menjadi semesta baru membentuk wacana di keseharian mereka.

Dengan kata lain, sebagian warga desa yang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan tanah, berubah ikut naik ke ketinggian bagaimana mengabsraksi ide dan gagasan dalam dunia literasi –sesuatu yang demikian jauh dari keseharian mereka.

Berkat itu semua, Desa Labbo berhasil meraih penghargaan Perpustakaan Desa terbaik dari seluruh perpustakaan desa se-Tanah Air. Tentu ini hanya salah satu program dari sekian banyak program desa yang bergerak dengan visi literasi.

Sekarang konteks masyarakat desa tidak jauh berbeda keadaannya dengan masyarakat kota, para kontributor di buku ini masih mempertahankan oleh apa yang disebut sosiolog Prancis, Emile Durkeim sebagai “kesadaran kolektif”. Ihwal inilah yang memandu hal-hal di atas dapat mewujud menjadi satu buku seperti ini.

Patut dicurigai jangan-jangan warga kota sudah tidak mampu lagi memiliki kemampuan seperti warga Desa Labbo. Selain berwatak individualis dan dinamisnya aktifitas profesi, sulit rasanya membayangkan, satu kelurahan, misalnya, mau keluar sejenak dari spekulatifya hidup kiwari demi melakukan kerja kultural semacam menerbitkan buku.

Di sisi ini kita mesti mengacungi jempol buat warga Desa Labbo. Kendati tidak semua, mereka yang menulis untuk buku ini telah memosisikan dirinya sebagai figur-figur publik, walaupun untuk desa mereka saja. Figur publik di sini, tentu mereka yang mengedepankan urusan umum sebagai urusan pribadi mereka.

Dengan kata lain, mereka bekerja dan menulis tentu untuk kemajuan bersama. Kemajuan Desa Labbo sendiri.

Walaupun tema tulisan buku ini macam-macam, tapi barangkali kecintaan terhadap desa mereka-lah sehingga buku ini dapat terbit di hadapan khalayak. Itulah sebabnya, sulit menemukan narasi yang mampu mengikat keseluruhan dan keberagaman tulisan di buku ini yang juga mengikutkan fiksi di dalamnya.

Literasi Dari Desa Labbo terdiri16 artikel, 16 esai, 11 cerita, 4 puisi. Editor atau penyunting buku ini, barangkali sedikit kesulitan mengkamar-kamarkan baik genre, tema, isi dan jenis tulisan dalam buku ini. Dari sisi ini mungkin pembaca bisa menilai dan mengkritisinya, bahwa akan jauh lebih baik jika sebuah buku mesti berdiri di dalam satu genre tulisan saja.

Satu hal yang pasti, kehadiran buku ini yang merupakan buah tangan langsung para warga Desa Labbo, walaupun sifatnya tidak umum, adalah gejala tersendiri bahwa di desa-desa sekarang, terutama di Sulawesi Selatan, tengah terjadi perubahan senyap memformulasikan ulang modal utama apa yang bisa dimaksimalkan di desa bersangkutan. Uniknya semua itu tidak lagi didasakan kepada tradisi lisan, sesuatu yang khas masyarakat desa, melainkan beralih menjadi tradisi tulisan.

Perubahan tradisi keberaksaraan ini besar kemungkinan akan mengubah pola pikiran, sumber daya, mengikut hasil-hasil apa saja yang lahir dari potensi desa. Bukan lagi hasil-hasil bumi saja, tapi bisa saja bakal lahir potensi lain yang lebih besar karena ditunjang dengan kegiatan-kegiatan literasi.

Dilihat dari sisi ini, walaupun demikian masih jauh, kegiatan literasi adalah salah satu syarat terjadinya transformasi masyarakat agar lebih maju dan kreatif. Merupakan teka-teki, apa yang nanti bakal terjadi, bukan saja di Sulawesi saja, jika semua desa di Indonesia bergeliat yang sama seperti Desa Labbo. Menarik mengamati perkembanganya.

Terakhir, jika Anda sudah sampai di bagian ini, Anda bakal mengerti bahwa tulisan ini bukanlah sepenuhnya resensi. Biarlah pembaca lain yang melakukannya, atau warga Desa Labbo sendiri yang mengisi tugas itu. Tulisan ini hanya berusaha menempatkan dirinya pada keberpihakan yang sama, bahwa –meminjam istilah Alwy Rachman– gerak-gerik perababan yang baik, tidak dimulai kecuali dari aktifitas literasi di dalamnya. Ihwal yang menjadi modal sejarah Bugis-Makassar, seperti sudah kita ketahui selama ini.

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).