Berikan Ruang pada Perasaan Anak

Jika Band Letto mengangankan Ruang Rindu, dan Tulus, seorang musisi terkenal, yang  menginginkan Ruang untuk bebas dan sendiri, pernahkah terlintas dalam pikiran untuk memberikan ruang pada perasaan anak? Bukan hanya ruang bermain, ruang belajar, atau ruang-ruang fisik lainnya. Karena semua fasilitas tersebut sudah lebih mudah ditemukan di rumah-rumah tinggal, sekolah, atau area publik lainnya. Kendati masih butuh banyak pembenahan dalam hal keamanan, kenyamanan, serta keselamatan mereka.

Anak-anak beserta dunianya yang penuh warna, tantangan pengasuhan, kepelikan menghadapi perilakunya, akan selamanya mendorong dan memaksa setiap orang dewasa di sekitarnya untuk terus siap siaga, belajar, berubah, dan bertumbuh. Tak sedikit yang kewalahan hingga berujung pada rasa frustrasi, namun banyak pula yang jatuh-bangun mau belajar segala hal yang terkait pengetahuan pengasuhan mereka. Walaupun mungkin lebih banyak jatuhnya daripada bangunnya. Tak jadi soal selama mereka bangkit kembali dan belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu.

Di dunia yang terus bergerak ini, selamanya masih akan ditemukan tiga kelompok yang memiliki cara pandang berbeda dalam berinteraksi dengan anak-anak sehari-hari. Baik dengan anak-anak sendiri maupun dengan anak-anak orang lain. Kelompok pertama yang masih sangat tradisional adalah mereka yang menganggap anak-anak sebagai objek bernyawa, tak punya perasaan, sehingga bebas diperlakukan sekehendak hati orang dewasa. Mudah melontarkan kata-kata makian, mudah menyalahkan, dan menyudutkan mereka, membohongi tanpa beban rasa bersalah, atau memanipulasi anak-anak kecil untuk tujuan-tujuan tertentu yang  akan selamanya menjadi rahasia.

Kelompok kedua, orang dewasa yang mulai terbuka cakrawala pandangnya dalam mendudukkan hak-hak anak walau masih dengan setengah hati. Ada kalanya ia melakukannya dengan benar, dan ada kalanya ia bertindak ceroboh, enggan menimbang salah benarnya tindakan tersebut. Tindakan-tindakannya digerakkan oleh mood atau suasana hatinya. Akhirnya kebenaran tinggallah nama, lain konsep lain perwujudan.

Kelompok ketiga, mereka yang benar-benar konsisten berjalan di jalur kebenaran, bagaimana pun situasi dan kondisinya saat itu. Anak-anak dijadikan kawan, mitra, dan teman berdiskusi. Tanpa khawatir akan melanggar batas etika keadaban orangtua anak sebagaimana yang dipahami selama ini. Jika sekali waktu terperosok pada kekeliruan, mereka tidak segan untuk mencoba lagi, pada kesempatan berbeda. Dan, bisa dipastikan pengulangan yang kedua, ketiga kali, dan seterusnya tentu membuahkan hasil yang semakin baik dibandingkan tindakan-tindakan sebelumnya.

 

Ruang untuk rasa

Perasaan adalah benda abstrak yang tentu tak kasat mata. Seseorang hanya dapat melihat dampak yang ditimbulkan dari suatu perasaan. Misalnya perasaan marah akan memunculkan ekspresi wajah dengan kontur bibir atas yang melengkung ke bawah, serta sorot mata yang tajam menghunjam. Begitu pula dengan perasaan sedih, dapat ditampakkan dengan ekspresi yang kurang lebih sama. Bibir atas melengkung seperti kurva terbalik, disertai sorot mata yang sendu dengan pancara sinar yang lemah.

Seharusnya kita semua mampu membaca isyarat-isyarat perasaan semacam ini, sayangnya banyak orang yang tak peduli, khususnya jika menyangkut perasaan anak-anak. Ia dianggap sesuatu yang tidak penting, yang tak butuh respons serius dari orang-orang di sekitarnya. Padahal ekspresi wajah adalah salah satu bentuk bahasa tubuh yang nyata pada diri seseorang.

Mereka yang terlatih bercakap-cakap dengan memahami isyarat bahasa tubuh akan memiliki ikatan emosional yang peka dan terjalin kuat satu sama lain. Tidak butuh energi besar untuk memberikan suatu pemahaman kepada orang-orang  yang memiliki kepekaan perasaan seperti ini. Lontaran rasa marah yang acapkali diumbar dengan mudahnya tidak akan pernah dilakukan oleh kelompok ini.  Karena mereka tumbuh dalam lingkungan dan atmosfir yang positif dan saling menghargai perasaan masing-masing.

Jika di lingkungan orang dewasa, saling menghargai perasaan adalah hal yang lumrah terjadi,  bagaimana halnya dalam lingkaran interaksi dengan anak-anak? Apakah suatu pemandangan yang lazim menyaksikan para orangtua yang serius menyimak pembicaraan anak, mau meluangkan waktu dan energi perhatian mendengarkan suara hati anak-anak mereka? Ataukah mereka sendiri sesungguhnya masih sibuk  menjajaki intensitas perasaan masing-masing, lalu bingung hendak menamai apa perasaan-perasaan tersebut? Marahkah, kesal, haru, kecewa, atau bahagiakah nama perasaan itu?

Orang dewasa punya hak untuk mengungkapkan perasaan marahnya, begitu pula anak-anak. Orangtua boleh mengungkapkan rasa kecewanya terhadap sesuatu, maka latihlah anak-anak untuk berlatih mengungkapkan warna-warni perasaan yang ia miliki. Jangan disepelekan, diremehkan, ataupun ditertawakan. Karena mereka pun mempunyai hak untuk menyatakan semua itu.

Bukankah emosi atau perasaan yang tertahan dapat berujung pada munculnya penyakit medis tertentu? Nah, sebagai orangtua kita tentu tidak ingin hal-hal seperti ini menimpa putra-putri kita tercinta. Olehnya itu dengarkanlah keluh-kesah mereka, berempatilah pada masalahnya, serta berikan ruang pada perasaannya. Karena anak-anak pun berhak untuk itu.

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Latest posts by Mauliah Mulkin (see all)

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *