Pembajak buku seperti benalu, hidup dari kerja dan keringat orang lain. Leher pengarang digerek, leher penerbit dicekik. (Soesilo Toer)

Salah satu cara menilai kemajuan suatu masyarakat, dapat dilihat melalui buku. Sebab buku merupakan produk peradaban, sekaligus buku dapat melahirkan peradaban. Buku dan peradaban, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Buku melahirkan peradaban, sekaligus peradaban menelurkan buku. Peradaban buku.

Dalam perkembangannya, buku sebagai penanda peradaban, mengalami dinamika dilema. Adakalanya buku dianggap sebagai ancaman, sehingga melahirkan tindakan pelarangan dan pembakaran. Buku dilarang. Buku dibakar. Ada pula musuh alami buku, berupa rayap. Seorang pakar perbukuan berkebangsaan Venezuela, cukup lantip merekam pelarangan, pembakaran, dan penghancuran buku. Sekotahnya, ia tuliskan dalam bukunya, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.

Namun, pada saat lain, buku menjadi komoditi yang sangat menguntungkan secara ekonomi. Akibatnya, buku menjadi industri, diperdagangkan. Banyak pelibat mengambil keuntungan pada kehadiran sebuah buku, sebagai hasil industri. Salah satunya, pembajak buku. Para pembajak buku, bukan saja merusak buku, namun mematikan pengarang, penerbit, dan toko buku. Pembajak buku, serupa makhluk baru, perusak ekosistem industri perbukuan.

Pembajakan buku, dengan sederet akibat buruknya, ditabalkan oleh Soesilo Toer seperti benalu. Para pembajak buku merupakan benalu, merusak ekosistem industri perbukuan. Ilustrasi benalu ini, sungguh sangat tepat. Sebab, para pembajak mengambil keuntungan dari kerja dan keringat orang lain, khususnya pengarang dan penerbit, serta toko buku.

***

Bagaimana benalu hidup? Sudah menjadi pengetahuan umum, merujuk pada Wikipedia, “Benalu (Loranthus, suku Loranthaceae) adalah termasuk tumbuhan parasit obligat yang hidup dan tumbuh pada batang (dahan) pohon tumbuhan lain. Benalu dapat dijumpai dengan mudah pada pohon-pohon besar di daerah tropis. Biji tumbuhan ini pada buahnya menghasilkan getah seperti lem berbentuk jeli yang lengket.”

Selanjutnya, “Benalu menyerap makanan dari pohon inangnya sehingga merugikan inangnya, jika dibiarkan benalu dapat bertambah banyak dan dapat menyebabkan tumbuhan inangnya kurus dan pada akhirnya kering dan tumbuhan inangnya mati.”

Adapun penyebaran dan pengembangbiakannya, “Penyebaran tumbuhan ini terjadi dibantu oleh burung, apabila burung memakan buah dan bijinya lalu mengekskresikan pada dahan pohon, bijinya yang lengket akan menempel pada dahan pohon selanjutnya akan berkecambah dan benalu muda mulai tumbuh.”

Nah, tatkala pembajak dan pembajakan buku dikiaskan laiknya benalu dan cara hidupnya, menjadi benalu buku, maka pembajak adalah benalunya, sementara burung merupakan penadah atau distributornya. Dan, pohon dapat dikiaskan sebagai pengarang, juga penerbit. Karenanya, tepatlah tohokan ujar dari Soesilo Toer, pembajak buku serupa benalu, menggerek leher pengarang, mencekik leher penerbit.

***

Mengapa pengarang tergerek lehernya dan penerbit tercekik tenggorokannya? Saya ajukan pemaparan salah seorang pengarang dan pegiat perbukuan, Muhidin M. Dahlan. Menurutnya, paling tidak ada 5 tahapan perjalanan nasib satu buku, dari pengarang hingga tiba di pembaca. Pengarang,  penerbit, percetakan, distributor-toko buku, dan pembaca.

Masih menurut Gusmuh, sapaan akrab Muhiddin, agar satu buku bisa hadir, banyak pelibat yang mesti dibiayai oleh penerbit, sebagai penyebab terdepan terbitnya buku. Memberi royalti pengarang, membayar editor, mengongkosi lay outer– desainer, menganggarkan percetakan, mengupah distributor, dll. Jika dirinci lebih detail, menurut Gusmuh, ada 15 langkah.

Kesemua tahapan dan langkah lahirnya satu buku, penerbit mengeluarkan biaya. Itulah sebabnya, harga sebuah buku orisinal tinggi. Sementara pembajak, langsung mencuri di tikungan, memotong siklus, langsung saja mencetak. Jadi, nyaris biaya cetak dan distribusi saja yang diongkosi. Makanya, harga buku bajakan amat murah. Namun, di balik murahnya harga buku bajakan, pengarang dan penerbit tergerek lehernya dan tercekik tenggorokannya.

Berikutnya, industri buku bajakan ini akan ikut memengaruhi toko buku. Apa pasalnya? Toko buku merupakan rangkaian tahapan dari siklus perbukan agar buku tiba di konsumen. Sebagai mitra penerbit, tentulah mengalami resiko yang sama. Buku orisinal menjadi tidak laku. Manakala buku tidak jalan, buku dikembalikan kepada penerbit, atau menumpuk dan menjadi risiko toko buku. Akibatnya, toko buku akan macet siklus tangkai keuangannya, mengering ranting modalnya. Berikutnya, secara perlahan toko buku akan tutup. Akhirnya, bila toko buku ingin tetap hidup, maka harus menjadi bagian dari industri buku bajakan. Menjadi penadah-penjual. Sama persis dengan burung yang menyebarkan benalu dari pohon ke pohon.

***

Dari realitas makin leleuasanya pembajakan buku ini beroperasi, bahkan telah menjadi industri, menyebabkan lahirnya gerakan perlawanan pada pembajakan buku.  Saya rujukkan saja uritanya ke tirto.id. “Dua belas penerbit di Yogyakarta yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) resmi melaporkan perkara pembajakan buku yang diduga dilakukan oleh sejumlah pihak. Buku-buku bajakan itu telah disebar dan dijual secara terang-terangan di kios-kios buku di Shopping Center Yogyakarta. Ke-12 penerbit yang dimaksud adalah CV Gava Media, Media Pressindo, Pustaka Pelajar, CV Pojok Cerpen, PT Gardamaya Cipta Sejahtera, PT Galang Media Utama, PT LkiS Pelangi Aksara, Penerbit Ombak, PT Bentang Pustaka, CV Kendi, CV Relasi Inti Media, dan CV Diva Press.”

Kelanjutan tuntutan di Yogyakarta, ikut merembes ke Kota Makassar. Koalisi tiga toko buku di Makassar, Toko Buku Intuisi, Dialektika Book Shop, dan Paradigma Group, menggelar sawala dan deklarasi Makassar Melawan Pembajakan Buku. Hajatan itu berlangsung pada hari Rabu, 16 Oktober 2019, bertempat di kafe Kopisentris Alauddin Makassar, menghadirkan Soesilo Toer dan Muhidin M. Dahlan, serta ketiga owner toko buku tersebut. Sekaum pegiat literasi menyata sebagai penghadir.

Simpulan dari persamuhan itu, dapat ditempuh  dua langkah guna menghentikan pembajakan buku. Menempuh jalur hukum, agar ada efek jera dan mengedukasi konsumen, supaya tidak membeli buku bajakan. Dari acara sawala dan deklarasi Makassar menolak pembajakan, Soesilo Toer bersuara keras, memastikan pembajak buku sebagai benalu. Para pembajak buku hidup di atas kerja dan keringat orang lain. Menggerek leher pengarang, mencekik leher penerbit.

Selaiknya, buku sebagai produk peradaban dan sekaligus melahirkan peradaban dimuliakan. Para pelibat mesti memuliakan buku. Industri perbukuan tempat mencari makan, sekaligus memburu makam. Para pembajak buku dan mata rantainya, merupakan sekaum benalu buku. Dan, untuk mencegahnya, negara harus hadir menegakkan hukum. Penegakan moral masyarakat harus nyata. Perlu diedukasi agar tidak menikmati hasil telikungan para benalu buku.

 

Sumber ilustrasi: https://kaltim.prokal.co/read/news/298147

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.