Senja baru saja beranjak dari tempatnya bersemayam di pojok semesta, setelah berbagi keindahan pada seluruh makhluk di bumi, terkhusus pada manusia yang diberi kemampuan menyesap keindahan, hingga meruang di pojok hatinya yang paling dalam, hingga memengaruhi jejaknya dalam meniti hidup, bagi yang mampu mengartikulasi dan mensyukuri, segala nikmat dan keindahan, yang disebar oleh Sang Mahaindah di seluruh penjuru semesta.

Tak tersisa sepercik pun senja merah saga nan indah setelah malam menyambut menggantikannya. Sepedaku kukayuh dari bilangan Hertasning Baru, menuju ke jantung Kota Makassar, tepatnya di seberang timur Lapangan Karebosi yang mashur itu, yang bersisian langsung dengan Bank Indonesia.

Sepanjang jalan sepedaku berpacu di hiruk pikuk kendaraan bermotor yang sangat padat. Dari yang beroda dua, tiga, dan empat, bahkan lebih. Suara nyaring yang memekakkan telinga dari knalpot, hingga klakson yang menderu-deru, seolah saling bersahut dengan nada tinggi penuh amarah, yang mungkin pengaruh stress, setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan di kantor, atawa tempat mengais nafkah lainnya dan setelah di jalan menemui keadaan yang sangat hiruk-pikuk pula.

Sepeda kukayuh dengan santai, di tengah hiruk-pikuk yang gelegar dengan suara bising khas kota-kota besar. Dengan menyisip tepi jalan sepanjang jalan dan waktu, sekira tiga puluh menit lamanya, dengan segala upaya yang cukup berat karena berpacu dengan kendaraan bermotor yang padat, maka tibalah saya di bilangan jalan Jendral Sudirman, di sisi Lapangan Karebosi.

Di sana telah tiba lebih dulu, beberapa pegowes muda dengan jenis sepeda RB (road bike) dan Pixed gear atawa Pixi. Beberapa di antaranya yang sudah kukenal menggunakan sepeda MTB (mountain bike) dan Seli (sepeda lipat), dan beberapa orang anak belia sedang beratraksi di trotoar di sisi Bank Indonesia dengan sepeda BMX (bicycle motocross) atawa sepeda off-road, sepeda yang diperuntukkan untuk perlombaan kecepatan dan akrobatik.

Karenanya, pengguna sepeda jenis ini rata-rata anak-anak berusia sangat belia, bila pun ada yang berusia cukup dewasa, sangat jarang dijumpai. Sebelum gowes bareng mengelilingi Kota Makassar di malam hari ini, yang kerap dibilangkan NR (night ride), kawan-kawan dari berbagai komunitas dan beragam jenis sepeda, nampak berasyik-masyuk bercengkrama.

Momen inilah salah satunya yang kusukai dalam setiap sua komunitas sepeda, semua cair, sangat bersahabat membincangkan apa saja bekenaan dengan sepeda. Bahkan kawan-kawan yang telah lama berteman di komunitas sepeda ini tidak saja membincangkan soal sepeda ansich tapi juga masalah-masalah keseharian, mulai dari pekerjaan hingga keluarga. Semua dibincangkan dengan santai dan egaliter.

NR malam ini diselenggarakan dan diorganisir oleh sebuah komunitas yang beranggotakan anak-anak muda, yang dikenal sebagai Indonesian Critical Mass atawa biasa juga disingkat ICM. Gerakan bersepada massal ini, sebelum sampai ke Indonesia, untuk pertama kalinya diselenggarakan di San Fransisco, Amerika Serikat pada tahun 1992. ICM adalah sebuah gerakan bersepeda massal yang independen dan spontanitas, guna menyuarakan hak sesama pengguna jalan raya.

Selain sebagai sebuah gerakan menyuarakan hak-hak pengguna jalan, juga melakukan proses edukasi, dengan harapan akan semakin banyak pengguna sepeda, yang teredukasi terhadap adanya hak sesama pengguna jalan. Selain melakukan proses edukasi mengajak warga untuk bersepeda, sebagai salah satu cara berkedaraan untuk mengurangi polusi.

Setelah di San Fransisco, gerakan ini merambah jauh ke negeri dan kota-kota besar dunia, seperti Jerman, Inggris, Rumania, Ceko, Swedia, Balanda, Belgia, Indonesia, dll. Di Indonesia, pertama kali diselenggarakan pada tahun 1912 yang digagas oleh kawan-kawan dari komunitas pesepeda Fixed Gear atawa sering pula dibilangkan sepeda Fixi, yakni komunitas Indonesian fixed Gear di Jakarta, kemudian merambah ke kota-kota besar di negeri ini, seperti Bandung. Bogor, Solo, Yogyakarta, Banjarmasin, Makassar, dll. Bersepeda massal dengan ICM dilaksanakan setiap akhir bulan di hari Jumat malam. Di kota-kota besar dunia lainnya mengambil waktu di akhir bulan pada hari Jumat pagi atawa sore.

Bila ICM digagas di San Fransico sebagai gerakan independen untuk mengedukasi warga dunia, tentang pentingnya bersepeda dan berbagi jalan, maka di Indonesia ada pula gerakan moral dari komunitas pesepeda yang mereka bilangkan B2W (Bike to Work). Gerakan moral ini lahir dari keprihatinan akan kemacetan, pemborosan energi, dan meningkatnya polusi, yang berakibat pada degradasi kecerdasan dan mental manusia Indonesia.

Komunitas ini lahir dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung, yang kemudian menggagas lahirnya komunitas pekerja bersepeda (Bike to Work Community). Komunitas ini dideklarasikan pada Agustus 2005 di Balai Kota DKI Jakarta, dihadiri kurang lebih 750 pesepeda dari berbagai komunitas dan jenis sepeda. Dari deklarasi ini lahirlah organisasi B2W (Bike to Work). Kemudian gerakan dan kampanye ini mengakumulasi pada acara B2W Day di Bundaran HI (Hotel Indonesia) di Jakarta, pada 27 Agustus 2006, yang dihadiri sekitar 1.300 pesepeda dari seluruh wilayah di Jakarta.

Kampanye tersebut terbilang sukses sebab berhasil mencuri perhatian seluruh media cetak dan elektronik. Gerakan moral ini juga akhirnya tersebar ke pelbagai kota di negeri ini, termasuk Kota Makassar. Secara personal, aku mengenal beberapa kawan yang secara rutin bersepeda pergi dan pulang kantor, dengan jarak yang bervariasi dan jenis sepeda yang berbeda-beda pula. Ada yang setiap hari mengayuh sepedanya pergi dan pulang kantor, ada pula selang-seling harinya, dan yang paling minim adalah sekali seminggu.

Untuk Kota Makassar, komunitas sepeda cukup banyak dengan berbagai dinamikanya. Ada komunitas Sepeda Lipat Makassar (SLIM), beranggotakan lebih dua ratus orang, menghimpun pesepeda dari pelbagai komunitas, walaupun keanggotaannya bersifat perorangan. Komunitas pesepeda beragam jenis sepeda, dan ada pula komunitas pesepeda berdasarkan kriteria sepedanya. Belum lagi komunitas sepeda di kantor-kantor, dari BUMN, pemerintahan, dan perusahaan swasta. Secara umum, yang menarik dari hampir semua komunitas sepeda adalah ikatan solidaritas yang sangat tinggi, independen, keberagaman suku dan agama, cair dari sisi strata sosial, di mana dan ke mana saja pasti ada kawan.

Bersepeda, sehat, asyik, dan banyak kawan. Prinsip itu yang membawaku jauh mengayuh sepeda bersama kawan-kawan dari waktu ke waktu. Dalam memoar yang cukup panjang, ditulis oleh Lance Amstrong dalam buku A Survivor’s Story, beliau mengisahkan, dengan bersepeda ia mengapit sahabat yang cukup banyak dan baik di pelbagai negara. Bahkan kala karir bersepedanya sedang menanjak sebagai pesepeda profesional, divonis oleh dokter sebagai pengidap kanker stadium lanjut, kanker itu telah menyebar hingga ke paru-paru dan otaknya, sehingga menurut dokter yang menanganinya, peluang untuk bertahan hidup sudah sangat tipis dan dokter telah menvonisnya pula bahwa ia tak mungkin bisa bersepeda lagi.

Namun, sebagai pesepada yang tangguh dan semangat cinta dari kawan-kawannya, Lance bisa berusaha keras “melawan” penyakit yang dideritanya. Dan sangat mengejutkan, sebab ia sembuh dari penyakit kanker yang menggerogotinya. Bahkan lebih mencengangkan setelah sembuh dari sakitnya, ia mampu mengayuh sepeda mendaki dan menuruni pegunungan Alpen dengan kecepatan 125 Km perjam, dan tujuh kali memenangi event balap sepeda paling bergengsi di dunia itu, Tour De France.

***

Setelah menempuh jarak kurang lebih 20 km, bersama kawan-kawan ICM (Indonesian Critical Mass), yang diikuti goweser sekira empat ratusan orang, dan finish di halaman sebuah mal ternama di Makassar, kami kembali bercengkerama berbagi senyum penuh kasih dengan kawan-kawan. Di momen seperti ini kerap waktu terasa sangat cepat berlalu, hingga terasa obrolan belum usai, tapi waktu mengajak kami untuk kembali ke rumah masing-masing.

Ah.. rupanya bersepeda memang sungguh mengasyikkan, sehat, banyak teman, dan silaturahmi tak pernah bersudah. Aku ingin SESAT (sepeda sampai tua) saja sebagai solusi tanpa polusi, hehehe…

 

Makassar, Desember 2019.

 

 

 

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).