Lotto. Putera keempat Daeng Marewa -anak lelaki Deang Mattayang, mantan Kades Butta Tinggi, saat itu merasa sangat senang. Wajahnya berseri-seri. Ia tampak sibuk menyalami para tamu yang datang ke rumahnya. Ia tersenyum puas. Itu tersungging di bibirnya.

Hari itu ia terpilih lagi menjadi Kades oppo’ di desanya. Semua warga ikut bahagia. Bagaimana tidak, Kades muda yang kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki di bale-bale rumahnya itu, diterima baik oleh semua orang. Pasalnya sederhana, Lotto orangnya tidak pelit. Berbeda dengan Kamarudding, calon Kades bergelar Sarjana Pendidikan itu. Ia cerdas, tapi miskin.

Sebenarnya, masalah bukan pada Cakades siapa yang bakal terpilih. Masalah hanya pada budaya demokrasi yang sudah bertahun-tahun mati di desa ini. Jabatan Kades sudah dianggap seperti tahta pribadi yang siap diwariskan turun-temurun di keluarga Daeng Mattayang. Baru dua priode pemilihan belakangan, ada tokoh-tokoh baru mencoba menghidupkan kembali demokrasi yang mati suri ini. Mereka adalah I Cullang dan Kamarudding.

Sebenarnya, di priode pemilihan Kades sebelumnya, I Cullang sudah tersaring sebagai Cakades. Tapi, kalah. Ia kalah bersaing dengan Lotto. Alasannya sederhana, pamor Lotto hampir menyamai pamor bapaknya, di masanya. Salah satu program unggulan Daeng Rewa adalah, memfasilitasi para pemuda untuk kerja di luar negeri menjadi TKI. Hampir seluruh dana desa diproyeksikan membangun perusahaan-perusahaan seperanakan, untuk memberangkatkan para pemuda calon TKI baik dari desa setempat maupun sekitar, ke negara-negara Timur Tengah seperti Saudi, Kuwait, Oman, dan Uni Emirat Arab. Sementara Lotto dan anak cucu Daeng Mattayang bertugas menjaga keberlangsungannya. Lotto juga berjasa  membangun rumah-rumah penukaran uang asing (money changer), tepat di  samping kantor desa. Ia berupaya menjaring sisa-sisa Dollar para TKI, setelah lebih dulu tersedot di jejaring yang lebih besar.

“Untung oppo’ki sedeng Deng Lotto. Punna tena, tenamaki anggappa pambageang. Untung si Lotto menang lagi. Kalau kalah, tidak ada lagi pembagian yang bakal kita terima.” ujar Daeng Sitaba.

“Tojengi. Lampa ngaseng mi turungkayya, mae boya doe. Benar sekali. Pergi sudah anak-anak muda desa. Pergi mencari nafkah.” Istrinya menyelutuk, dan segera ditimpali oleh suaminya yang petani ubi kayu itu.

“Tojeng mantongi. Sejahtera ngasengki’ punna oppoki sedeng I Lotto. Sallang, I Kesang tossedeng anggappa jama-jamaang. Tepat sekali itu. Kita semua bakal sejahtera kalau Si Lotto menang lagi. Nanti giliran Kesang yang dapat kerjaan (diberangkatkan ke Kuwait sebagai TKI)”

***

Kurang lebih seperti itu, beberapa fenomena demokrasi dan kesejahteraan di sebuah desa tertinggal. Banyak contoh dan fakta Kades seperti Daeng Rewa dan Lotto. Mengiming-iming kesejahteraan dengan pola tukar barang. Saya kasih seribu, kamu beri seribu. Ibaratnya, modal yang diinvestasikan ke perusahaan jasa pemberangkatan TKI hakikatnya adalah milik warga. Meski nama yang tertera di akta adalah nama keluarga Daeng Mattayang. Semua adalah kekayaan dari warga dan untuk warga. Pajak negara yang dipungut dari rakyat, adalah riil akan dinikmati oleh rakyat juga. Itulah kesejahteraan dalam sudut pandang keluarga Daeng Mattayang.

Berbeda dengan Kamarudding. Pemuda desa berusia 24 tahun ini berpandangan bahwa kesejahteraan itu tidak selalu bernilai uang. Jika toh benar, nilai 1 Dollar US sama kadarnya dengan Rp 14.500, toh investasi dana desa dalam upaya pencerdasan warga akan menghasilkan nilai yang lebih berlipat-lipat lagi. Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan kerja, dianggap lebih berpeluang menciptakan  lapangan kerja. Desa akan lebih maju, dan warga akan sejahtera.

Hanya saja, pencapaian ini tentu butuh proses panjang. Sebab, tidak sekolah saja yang mesti dibangun. Infastruktur pendukungnya juga dibutuhkan, dan untuk mewujudkannya butuh waktu. Warga desa dituntut untuk sedikit sabar dan bertahan. Meski begitu, industri rumah tangga dan koperasi mandiri akan segara disosialisasikan. Akan dibangun. Swasembada akan digalakkan. Itu janji Kama’ jika terpilih sebagai Kades priode ini. Visinya adalah menciptakan masyarakat Butta Tinggi yang mandiri dalam pencapaian kesejahteraannya. Tidak lagi bergantung pada perbudakan diri di tanah sendiri, apalagi di kampung orang lain. Budaya Butta Tinggi kaya akan Pappasseng to Rioloa, hingga ia yakin mampu mengantar warga desa untuk hidup lebih mandiri. Tentu tidak mudah. Visi misi ini berat.

Lalu apa hubungannya dengan budaya Cecceng na Jekkong? Apakah keluarga Mattayang berbuat curang dalam pemilihan? Tidak! Tak satu amplop pun ditemukan oleh tim pengawas sampai ke tangan warga desa. Pemilihan berlangsung luber. Tapi desa, tidak kunjung maju, tidak mandiri, dan berjarak dari pendidikan. Lalu apa sebenarnya yang terjadi di Butta Tinggi?

Sebenarnya yang terjadi di bumi Butta Tinggi adalah, budaya Cecceng na Jekkong telah diubah wajahnya oleh pemuda Lotto menjadi budaya tamak. Hingga hilanglah semua kecurangan, berganti dengan keserakahan. Hati dan akal Lotto ditutup oleh ketamakan. Tidak ada yang diinginkan, kecuali meraup keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya sendiri. Hati dan akal Lotto tertutup awan gelap. Bagi Lotto, akal praktis dapat ditundukkan sebagaimana otak bisa dicuci. Tapi ia lupa, bahwa ada akal sadar yang tak pernah bisa dibayar. Orang-orang seperti Lotto, lalai mewaspadai akal sadar yang sifatnya selalu ingin merdeka. Disogok apapun dan berapapun, orang-orang sadar (akal sadar) akan selalu berontak dan menyuarakan keadilan. Ketika potensi sadar ini aktual, keserakahan akan berbalik menyerang diri, jabatan, dan kekuasaan para orang-orang tamak. Ini efek dari budaya tamak.

Budaya Cecceng na Jekkong dalam budaya Lontara disebut sebagai pintu keserakahan. Awalnya kelihatan, sebab ia memang adalah pintu masuk keserakahan. Ketika jauh di pertengahan jalan, cecceng na jekkong akan semakin tak terlihat. Dalam Lontara disebutkan, “Cecceng ponna, cangnga tenggana, sapu ripale cappa’na”. Awalnya curang, tengahnya menang, akhirnya tersisa hanya kehancuran. Bahwa, kecurangan akan terhapus oleh keserakahan, dan keserakahan akan menghancurkan dirinya sendiri. Di sinilah menakutkannya wajah keserakahan yang dijaga baik oleh Lotto.

Ia lupa bahwa saking seramnya sifat serakah, akan melumat pecintanya sendiri. Kalau saat ini Liberalis Barat mengekspor masuk ke negara kita istilah seperti Jeruk makan Jeruk, atau Apel makan Apel, maka ada istilah yang diwanti-wanti oleh To Rioloa, yaitu Serakah makan Serakah!

Jangan sekali-kali kita berbuat Cecceng dan Jenkkong, sebab sama dengan memakan buah serakah. Sekali makan, hati dan pikiran manusia akan berubah wujud menjadi “serakah itu sendiri”. Serakah akan malakah dalam diri orang-orang serakah. Mengapa? Sebab, makanannya tak lain adalah keserakahan. Setelah kenyang, sifat serakah akan menyakiti badannya hingga tak tersisa kecuali rasa sakit yang berakhir dengan kehancuran.

Benar sekali makna Pappasseng to Rioloa, “Cecceng ponna, cangnga tenggana, sapu ripale cappa’na”. Awalnya curang, tengahnya menang, akhirnya tersisa hanya kehancuran. Janganlah kita berlaku serakah, baik di rumah, sekolah, kantor, organisasi, yayasan, jama’ah, apalagi di struktural pemerintahan. Itu membawa kehancuran yang sulit dibangun kembali.

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.