Jika berniat mengadakan hajatan semisal akikah, atau sekadar syukuran masuk rumah baru, lalu butuh kambing-kambing gemuk, orang-orang akan mencari Indo’ Zakka. Telah puluhan tahun dia melakoni pekerjaannya sebagai penjual kambing, tak heran jika dirinya demikian dikenal di kampung Malua dan sekitarnya. Indo’ Zakka menyulap lahan bekas tanaman Murbei miliknya, menjadi penampungan kambing berpagar jejeran bambu-bambu kering. Sebelum berdagang kambing, Indo’ Zakka sempat memelihara ngengat sutra di kolong rumahnya. Namun karena ngengat tersebut butuh waktu sekitar sepuluh hari untuk menetas, ditambah berminggu-minggu untuk menjadi kokon siap panen, itu terbilang lama menghasilkan uang menurut Indo’ Zakka jika dibandingkan dengan sepuluh hari atau sebulan berjualan kambing. Maka, setelah ulat sutranya, siap panen, segera dijualnya. Bermodal hasil jualan kokon tersebut, dia mulai membeli satu persatu kambing dari beberapa peternak kecil di kampung Malua, lalu dijual kembali kepada pembeli dengan selisih harga tipis.

Nama Indo’ Zakka melejit, karena cara berdagangnya jujur perihal kondisi kambing-kambing pada setiap pelanggan, dan harganya pun bersahabat. Dia berprinsip, asal kambing-kambing itu cepat laku, akan berbanding lurus dengan keuntungannya. Karena itu dia kebanjiran pembeli. Kebutuhan stok kambing dagangannya sering tidak mencukupi, sehingga dia harus berburu kambing di kampung-kampung lain.

Belakangan, orang-orang juga senang bertanya perihal kambing-kambing padanya. Indo’ Zakka mempelajari jenis-jenis kambing dan tahu peruntukan pas untuk kambing tersebut. Semisal kambing berbulu putih bersih nan sehat banyak ditawarkan untuk acara akikahan agar anak bayi dalam hajatan itu kelak senantiasa lurus dan bersih jalan hidupnya, serta tumbuh sehat fisik dan jiwanya. Demikian halnya suatu ketika, saat dia kedatangan seorang pembeli, menginginkan kambing berbulu cokelat. “Saya ingin mengadakan doa dan syukuran kesembuhan istri saya. Dia dulunya lumpuh karena jampi-jampi!” Kata Bapak itu. Namun Indo’ Zakka malah menawarkan satu-satunya kambing berbulu abu-abu gelap miliknya.

Awalnya Si Bapak menolak. Namun setelah mendengar penjelasan dari Indo’ Zakka bahwa menyembelih kambing berbulu abu-abu gelap dapat menolak bala dan segala keraguan perihal jampi-jampi, Si Bapak manggut-manggut, lalu melakukan transaksi sebelum kambing itu berpindah tangan padanya. Pernah juga, ada sepasang kekasih mendatangi Indo’ Zakka mencari kambing yang cocok untuk disumbangkan memperingati hari jadian mereka. Indo’ Zakka tersenyum lama, dan memilihkan kambing berbulu cokelat pada mereka.

“Mengapa bukan putih saja? Bukankah putih menandakan ketulusan cinta kami?” Protes Si Cewek. Ujung matanya meminta Si Cowok mengiyakan juga.

“Cokelat lebih cocok untuk kalian. Seperti kayu jati, cokelatnya adalah kekuatan, keawetan, dan keindahan. Itu kalau yang kalian namakan ‘cinta’ ini terawat. Kalau tidak, bisa jadi kambing berbulu coklat hanya seperti permen coklat saja. Manisnya sebatas ujung lidah, dan tenggorokan, selebihnya hambar. Pahamkan?!”

Buntutnya, permintaan kambing semakin meningkat. Mereka berasal bukan hanya dari kampung tetangga desa Malua, namun telah mengular ke kota. Dengan cepat nama Indo’ Zakka melesat dari mulut ke mulut pelanggannya. Mereka mengatakan Indo’ Zakka tidak sebatas penjual kambing saja, dia juga memiliki indra keenam karena mampu meramal nasib dari kambing-kambing dagangannya. Itulah sebabnya orang-orang berbondong-bondong mencarinya.

Kambing berbulu putih, abu-abu gelap, dan cokelat masih digemari pelanggan di kampung Malua dan sekitarnya. Berbeda dengan orang-orang kota yang justru sering memesan kambing-kambing berbulu hitam dengan jumlah banyak. Dalam hal ini, Indo’ Zakka hanya sebatas penyedia saja. Dia tidak punya kesempatan bertatap muka, dan berbicara langsung pada pembeli kambing-kambing tersebut untuk membincang mengapa kambing hitam? Sebab, para pelanggannya selalu saja memesan lewat telepon, mengirim sejumlah uang, lalu menyebutkan alamat tujuan. Meski otaknya ditumbuhi banyak pertayaan, Indo’ Zakka memilih diam. Berbicara dengan kontak mata menurutnya selalu lebih jujur.

****

Sore itu, beberapa kambing belum terjual disuapinya kulit pisang masak bergantian. Matanya menatapi kambing itu satu-satu, sambil menimbang-nimbang permintaan pelanggannya dari kota. Baru saja Dia mendapat telepon lagi, orang kota tersebut butuh tiga ratus ekor kambing berbulu hitam, dan akan dibayar dua kali lipat dari harga biasa jika Indo’ Zakka mengumpulkan tepat waktu, dan bersedia membawanya sendiri ke kota. Tawaran ini menggiurkan. Tetapi Indo’ Zakka merasa kesulitan, sebab para peternak kampung biasanya memberi kambing dengan warna acak. Dia tidak bisa memilih demi menghargai jerih payah para peternak, dan agar kambing-kambing tersebut tidak jatuh di tangan tengkulak lain yang biasanya membayar tidak wajar. Ini demi keberlangsungan hidup peternak di kampungnya.

Dia menghabiskan waktunya tetap di penadahan kambing sore itu, sembari memikirkan cara cepat menyelesaikan persoalan ini. Orang kota tersebut memberinya waktu sebulan saja. Ada beberapa solusi terpikirkan, semisal menggaji orang-orang kampung membantunya mencari kambing berbulu hitam. Bisa juga, dia sendiri yang berkeliling kampung dengan mobil open cup miliknya seperti biasa jika pesanan banyak. Namun dengan beberapa pertimbangan, solusi-solusi itu dianggapnya kurang efektif. Lalu terbesit di benaknya melakukan sayembara. Bahwa siapa pun yang mampu mengumpulkan kambing hitam paling banyak akan diberi hadiah sejumlah uang tunai dan televisi 42 inch, sebagai hadiah utama.

Informasi perihal sayembara pengumpulan kambing hitam tersebar cepat. Orang-orang berlomba-lomba mencari kambing tersebut demi memenangkan hadiah utama. Hanya butuh waktu dua minggu kambing hitam terkumpul, genap tiga ratus ekor. Indo’ Zakka berterima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi. Dia memotong beberapa ekor kambing untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, sekaligus penyerahan hadiah utama untuk pemenang, dan hadiah hiburan bagi semua peserta. Papa Accu, si pemenang bersuka ria. Uang tunai yang diterimanya sungguh cukup digunakan membeli pupuk dan bibit padi, serta jajanan anaknya sebulan. Apalagi bonus televisi berlayar besar, sangat menyenangkan baginya. Karena sepulang membajak sawah, Papa Accu bisa nonton acara bola, dan berita tanpa harus berebut remot televisi dengan anak laki-lakinya. Bukan hanya Papa Accu, hari dimana kambing-kambing itu genap tiga ratus, semua warga kampung Malua, bergembira. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perut kenyang.

****

Kambing-kambing berbulu hitam melompat satu persatu dari truk pengangkutnya menuju sebuah ruangan terbuka berukuran luas. Indo Zakka turun paling akhir setelah dump truk itu kosong. Dia menandatangani bukti serah terima dari seseorang yang sedari awal mengurusi kedatangan kambing-kambing tersebut. Ketika berniat meninggalkan ruangan karena semua urusan dianggap selesai, orang itu mencegatnya.“Bapak ingin bertemu!”

Daun pintu yang berada di tengah-tengah ruangan itu berderik. Lalu muncul seorang lelaki berbadan gemuk mengenakan kacamata hitam dipadukan dengan topi model fedora di kepalanya. Indo’ Zakka memperkirakan usia lelaki itu sekitar 50 tahun.

“Terima kasih telah bekerjasama dengan saya selama ini.” Sambil menjabat tangan Indo’ Zakka.

“Iya, terima kasih juga atas kepercayaan, Bapak!”

“Bisakah kamu memberi saya kambing-kambing hitam lagi? Lebih banyak!”

“Bapak tidak ingin kambing lain?”

“Hanya kambing hitam!”

“Mengapa?”

“Mereka bisa menebus banyak hal!Bisakan?”

“Iya….” Jawab Indo’ Zakka. Mematung, ragu.

Sejenak hening. Bapak itu mendekati, dan mengelus punggung beberapa ekor kambing hitam di ruangan tersebut. Indo Zakka’ terdiam. Di kepalanya berkelindan ingatan. Wajah bapak itu sering muncul di layar televisi. Saban waktu berkabar keberhasilannya menekan angka kemiskinan. Di lain kesempatan, beredar gambar-gambar sedang berbagi peralatan sekolah kepada anak-anak yang membutuhkan di sebuah pemukiman. Di layar datar persegi, orang-orang terlihat menyanjungnya.

“Kamu boleh pulang!” Tetiba Bapak tadi sudah dihadapan Indo’ Zakka

“Bapak…?” Ujung telunjuknya mengarah ke wajah Bapak tadi.

Pembicaraan terputus! Beberapa orang berhamburan masuk ke ruangan itu. Separuh memegangi kedua tangan Indo’ Zakka, separuhnya lagi menutup matanya dengan kain tebal.

“Kamu terlalu banyak tahu!” Suara Bapak itu kembali terdengar.

Sekoyong-konyong, Indo Zakka merasa berada di antara kambing-kambing hitam dalam ruangan itu.

Makassar, 9 Februari 2020

 

Sumber gambart: https://science.howstuffworks.com/nature/natural-disasters/firefighting-goats.htm

ditulis oleh

Muchniart AZ

Lahir 35 tahun silam. Punya dua jagoan andalan, Za dan Ken. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.