Sabtu pagi itu beberapa komunitas pesepeda di Kota Makassar telah membuat kesepakatan untuk rute gowesnya. Komunitas kami pun demikian adanya, Komunitas Dahon Classic yang baru saja dideklarasikan keberadaannya. Untuk merayakan kehadiran komunitas kecil ini, maka kami mengawalinya dengan gowes bareng, walaupun dengan member yang sangat terbatas. Dari jumlah keseluruhan anggotanya 14 orang, yang sempat ikut gowes bersama pagi itu hanya 8 orang, itu juga terkait dengan beberepa event bersepeda di Kota Makassar yang bersamaan, jadi beberapa di antara kami tidak sempat bergabung karena di event tersebut mereka punya peran penting.

Sesuai kesepakatan beberapa hari sebelumnya bahwa tikum (titik kumpul) untuk gowes bersama ini, di halaman Kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia) yang terletak di bilangan jalan Jendral Ahmad Yani, pas bersebelahan dengan kantor Walikota Makassar. Setelah peserta gowes berdatangan satu per satu, waktu telah mendekati pukul delapan, barulah bersepada bersama ini dimulai. Dari kebiasaan di beberapa komunitas sepeda yang ada di Kota Makassar, awal start di Sabtu pagi itu terbilang sudah mulai telat.

Rute yang disepakati hari itu adalah ke tempat-tempat heritage yang masih tersisa di Kota Makassar, di antaranya adalah Gedung Mulo, Benteng Fort Rotteradam, Pelabuhan Paotere, Makam Raja-raja Tallo di Kampung Tallo – Mangarabombang Kota Makassar.

Sebelum berangkat, dengan santai kami bercengkrama bercerita tentang dinamika Kota Makassar. Maka sebagai peserta yang tertua di antara semua peserta dan bertepatan dengan aku lahir dan tumbuh kembang di kota berjuluk Anging Mammiri ini, maka kuceritakanlah bahwa tempat atawa lokasi yang sementara kita pijak ini yang menjadi tikum kita, dulu berdiri sebuah hotel yang terbesar dan termegah di kota ini, bernama Hotel Grand. Hotelnya masih peninggalan Belanda dan berarsitektur klasik, sama dengan tipe sepeda yang kita pakai saat ini. Berdiri dua gedung besar yang disambung dengan koridor terbuat dari kayu di lantai atasnya menambah artistik bangunannya. Halamannya sangat luar ditumbuhi pepohonan dan beraneka ragam bunga-bunga nan indah. Di salah satu sisinya di bagian depan terdapat air mancur yang mengesankan kemewahan. Kuceritakan pula bahwa Kantor Wali Kota Makassar, sebelum dialihfungsikan sebagai kantor walikota, dan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan dipindahkan ke bilangan jalan Urip Sumoharjo, di Kampung Panaikang. Itu pun setelah memindahkan kuburan etnis Cina yang terbilang cukup tua.

Perjalanan pun kami mulai dari bilangan Jalan Ahmad Yani, kemudian berbelok kanan ke Jalan Kajao Laliddo. Di jalan ini berhambur kenangan yang cukup banyak, di antaranya Bioskop Capitol yang berganti nama sebanyak dua kali, yakni Bioskop Madya dan Bioskop Mitra yang saat ini telah berubah menjadi Kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia)  sembari bercengkrama mengumbar tawa. Tahu tidak kataku, di sebelah kiri kita ini  persis di tepi Lapangan Karebosi ini dan berseberangan dengan Bioskop Mitra, dulu berdiri tempat berjudi bernama “King” judi lotre yang pengundian angka-angkanya dinyanyikan seorang vokalis dan diiringi band pengiring. Gedungnya berdinding semi terbuka jadi tidak perlu berpendingin cukup kipas angin di beberapa titik sebab tempat judi “King” ini selalu dijubeli pengunjung yang hendak berjudi sekaligus mencari hiburan.

Setelah melewati dua tempat yang pernah banyak dikunjungi oleh warga Kota Makassar dan sekitarnya, di pertigaan Jalan Kajao Laliddo dan Jalan RA. Kartini, persis di depan pintu pagar gereja tua kami mampir sejenak berpose mengambil gambar dan  selfie-selfie karena kami menganggap gereja tua ini termasuk heritage yang masih tersisa di Kota Makassar. Dari gereja tua, kami gowes lagi menyusuri Jalan Kajaolalido dan Jalan Bontolempangan. Sebelum sampai Jalan Bontolempangang, di depan Hotel Singgasana kuceritakan pada teman-temanku bahwa di pojok itu yang saat ini menjadi halaman parkir Hotel Singgasana itu dulunya adalah perpustakaan Kota Makassar yang cukup representatif di zamannya. Teman-temanku yang relatif masih muda terheran-heran “masa sih” “iya dulu tempat itu adalah perpustakaan Kota Makassar yang bangunannya sudah tergolong antik, tapi entah alasan apa perpustakaan dienyahkan” tegasku.

Beberapa menit kemudian setelah melintasi Jalan Kajaolalido, Jalan Bontolempangan, dan sepotong Jalan Sungai Saddang, sampailah kami di Gedung Mulo (Meer Uitgebreid Lager Ondewijs) yang dibangun pada tahun 1920, sebagai tempat bersekolah bagi anak-anak pribumi yang orangtuanya bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda. Gedung Mulo ini letaknya di Jalan Jenderal Sudirman yang diapit oleh Jalan Sungai Saddang dan Jalan Gunung Batu Putih. Di tempat itu kami tidak panjang lebar mendiskusikan tentang sejarah berdirinya Mulo, hanya mengambil gambar pada spot-spot yang menampakkan keaslian dan sisi antiknya gedung bersama klasiknya sepeda kami, Dahon classic, sebagai sepeda lipat yang awal-awal dijual bebas di masyarakat. Kami ingin memotret dua sisi yang sama-sama mengikuti perjalanan sejarah masing-masing.

Dari Gedung Mulo, kami menyusuri kembali Jalan Sungai Saddang dan sempat menepi sejenak di pojok Jalan Arif  Rate karena hujan walaupun tidak terlalu deras. Kala hujan masih menyisakan rintik, kami melanjutkan perjalanan menuju Benteng Fort Rotterdam atau kerap pula dibilangkan Benteng Jumpandang atawa Ujung Pandang, sebagai salah satu heritage yang paling legendaris di Kota Makassar, bangunan berupa benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke IX bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung di tepi selat Makassar. Awalnya bangunannya hanya terbuat dari tanah liat lalu kemudian oleh Raja Gowa ke XIV Sultan Alauddin merekonstruksi bangunannya berganti batu padas yang bersumber dari pegunungan karts yang terdapat di Kabupaten Maros. Bangunanya bila dipotret dari udara nampak berbentuk seperti seekor penyu. Konon mengikuti filosofi yang dianut Kerajaan Gowa bahwa penyu bisa hidup di darat maupun di laut, begitu pun Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Benteng ini kerap pula disebut Benteng “Pannyua” yang mungkin dari sisi arsitekturnya yang menyerupai pannyu atawa penyu. Dari benteng bernama Benteng Jumpandang atawa Benteng Ujung Pandang, oleh Cornelis Speelman mengganti nama menjadi Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di kampung halamannya Belanda, setelah penandatanganan Perjanjian Bungayya Kerajaan Gowa-Tallo, di mana salah satu pasalnya adalah menyerahkan Benteng Jumpandang ini pada Belanda, yang sebelumnya benteng ini merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.

Di Benteng Pannyua ini, kami hanya mengambil gambar sepeda-sepeda kami di spot-spot tertentu yang bisa menggambarkan padu padan antara gedung-gedung peninggalan sejarah dengan menghentikan sepeda kami. Setelah puas berfoto dan bervideo ria, kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan rakyat, Pelabuhan Paotere yang berlokasi di bilangan Jalan Sabutung yang letaknya di ujung paling utara Kota Makassar.

Pelabuhan Paotere adalah juga peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada abad ke XIV sewaktu diawali dengan pemberangkatan sekira 200 armada perahu phinisi  ke Malaka. Hingga kini pelabuhan rakyat ini masih diriuhi perahu rakyat berupa phinisi dan lambo. Pelabuhan Paotere hingga saat ini masih menjadi heritage yang masih menyisakan pasang surut kenangan masa lampau, bukan hanya perahu phinisi dan lambonya, tetapi juga mobil-mobil truk pengangkut barang pergi dan datang dari pelabuhan ini nampak antik. Suasana inilah yang menjadikan para fotografer dan para peselfie sebagai destinasi wisata yang murah meriah untuk mengambil gambar yang sangat eksotik. Karena matahari semakin jauh merangkak ke atas menambah gerah dan panasnya bumi, makanya perjalanan ke makam Raja-Raja Tallo terpaksa ditunda untuk perjalanan selanjutnya.

***

Dahon adalah produsen sekaligus merek sebuah sepeda lipat yang didirikan oleh David T. Hon pada tahun 1982, yang bermarkas di Los Angeles California, seorang fisikawan. Pada awal didirikan, Dahon memiliki visi “mobilitas hijau atawa green mobility”, sebuah bentuk transportasi yang tidak hanya berfungsi untuk menyehatkan penggunanya, tetapi juga melestarikan lingkungan untuk generasi berikutnya. DR Hon, yang tak hentinya melakukan inovasi sebagai dinamika dalam berbagai hal pada sepeda lipat juga dikenal sebagai bapak sepeda lipat modern. Pada tahun 2006 ia adalah produsen sepeda lipat terbesar di dunia. Menguasai pangsa pasar hingga dua per tiga dari seluruh pangsa pasar sepeda lipat dunia. Pada awal tahun 2020 ini, Dahon juga telah membangun pabrik di Kendal Jawa Tengah dengan mengambil mitra produsen sepeda Indonesia yakni Element.

 

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).