Judul               : Demokrasi Keintiman: Seksualitas di Era Global

Pengarang       : Ratna Batara Munti

Penerbit           : LkiS Yogyakarta

Tahun terbit     : Mei 2005

Tebal buku      : 256 halaman

Kemarin saya membaca Demokrasi Keintiman: Seksualitas di Era Global sekilas, dan menjadikannya salah satu rujukan dalam membahas masa depan teori etika seksual. Secara keseluruhan, buku ini bagus, tidak begitu tebal, dan kutipannya juga oke. Tapi lagi-lagi, saya terlambat menemukan buku ini.

Secara, buku ini telah dirilis pada 2005 silam. Tapi tak mengapa. Prinsip, lebih baik telat baca daripada sama sekali tak pernah mau tahu sudut pandang lain yang tertuang di buku ini.

Saya anggap buku ini penting sebagai sebuah rujukan. Paling tidak, kita dapat menimbang secara adil dan berkonsepsi secara menyeluruh; tentang bagaimana wajah seksualitas yang sepanjang sejarahnya selalu dikaitkan dengan rekayasa sosial, dalam hal ini saya kaitkan dengan teori etika seksual, liberalisasi seksual, masa transisi di antara keduanya, kuasa politik dan kepentingan, serta bagaimana wajah seksualitas umat manusia masa depan.

Buku ini berangkat dari berbagai fenomena sosial berupa kontestasi seksual di Indonesia yang cenderung berbau psikosomatik dan penyakit ruhani; sebutlah fenomena pornografi, pemerkosaaan, homophilia, memburu kenikmatan seksual, pernikahan diri, perceraian, hingga masalah poligami. Di Bab 2, Munti memandang fakta-fakta ini sebagai paradoks. Mengapa bisa?

Bukankah para filsuf agama, cendikiawan, dan rohaniawan telah begitu menjaga diri dari seks, dan seks dari imaji dan sentuhan liar para pecandunya? Seolah Munti mempertanyakan, di mana etika seksual?

Di sisi lain, para pemuja kebebasan yang menganggap batas etika sebagai penyebab utama dari wabah penyakit sosial berbau psikosomatis ini, semakin terbuai dalam ketimpangan-ketimpangan yang tak kunjung ada solusinya. Fakta, penyakit semakin parah dan tak terobati.

Di sini Bab 3, Munti mencoba menawarkan pandangannya; mempertemukan dua aliran yang saling gontok-gontokan ini dengan menyadarkan bahwa saat ini zaman telah berubah. Kita berada di zaman yang makin ke mari, makin menipis batas dan sekatnya. Kita berada di ruang yang sama. Rumah hologram tanpa batas (istilah saya).

Semua dipaparkan oleh Munti dengan detail di awal-awal buku; terkait sifat dan karakteristik kampung global yang “mungkin-mungkin” saja kita dapat bersilaturahmi dan mendemokrasikan wacana seksualitas dengan kepala dingin dan kebesaran hati.

Poin penting yang diwacanakan Munti di buku ini adalah revolusi seksual, yang sejak awal digulirkannya mendapat resistensi tinggi oleh kaum seksual tradisional. Meski begitu, tetap dilirik oleh masyarakat urban, utamanya kaum muda.

Revolusi seksual, tidak selalu bermakna menawarkan dan menerima sepenuhnya bentuk dan ragam seksualitas (atau identitas dan orientasi seksual ketiga yang ditakutkan oleh kaum seksual tradisional) yang merealita di sosial eksternal. Tapi, bagaimana konsep seksual plastis (plastic sexuality) atau seksualitas yang tak terpusat pada poros patriarki, dapat ditimbang sebagai alternatif dan pilihan seksualitas era global.

Dalam konsep ini, tentu kenikmatan seksual dapat dinikmati secara berimbang dan adil baik oleh pihak laki-laki dan perempuan; dikarenakan bebas aturan-aturan lingga (phallus), dan pengalaman dominasi seksual laki-laki.

Dunia seksual direvolusi sedemikian rupa bukan bermakna menggodok konsep dan kemudian  menyodorkan “bentuk jadi. Tapi bagaimana  mempersempit definisi seks dan memisahkannya dari lingkup seksualitas hingga batas fungsi reproduksinya (heteroseksual), diikat oleh hukum perkawinan yang sah, dan dilakukan hanya oleh orang dewasa. Selebihnya, seksualitas adalah ranah umum bagi pasangan dan di luar batasannya.

Setidaknya, inilah proyek sederhana dari Ratna Batara Munti, terkait revolusi seksualnya. Tapi tentu tidak sesederhana itu dengan proyek besar yang ada di kepala Anthony Giddens, Sang Pemantik. Ah rasa-rasanya tak perlu lagi saya ajukan pertanyaan, siapakah perekayasa sosial wajah seksualitas masa depan? Sudah terjawab separuh dari seluruh misterinya.

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.