Pada Sederet Ketika, di Semesta Paradigma

Tulisan ini serupa penggalan-penggalan memori saya beberapa tahun yang lalu. Penggalan kisah yang menurut saya cukup banyak berperan dalam kehidupan saya setelahnya. Entah baik atau buruk, saya kira setiap kisah memang patut untuk dirayakan, sebab di sanalah mutiara kebijaksanaan bersemayam. Dan saya memilih merayakannya dengan tulisan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, maka ia akan hilang dari sejarah dan dalam masyarakat. Menulis adalah berkerja untuk keabadian.” Kata Pram, penulis Tetralogi Buru yang legendaris itu. Saya bukan orang pintar, terkenal juga tidak. Jadi satu-satunya cara agar bisa mengabadi dan berguna adalah dengan menulis. Semoga.

Seiring berlalunya waktu, ternyata menulis itu nikmat juga. Tak kalah dengan makan minum. Bedanya, kalau makan adalah upaya memenuhi kebutuhan raga. Menulis adalah bentuk pemenuhan jiwa. Tanpa makan raga tak berarti, tanpa menulis jiwa perlahan mati. Begitu kata moodbooster saya. Jadilah bertambah alasan saya untuk terus coba menulis. Tentu, motivasi akan bertambah seiring berjalannya waktu. Pasti.

Dan Karena ini adalah tulisan yang hanya mengandalkan memori, mungkin ada beberapa hal yang kurang tepat alias keliru. Jadi mohonlah pintu maaf dibukakan selapang mungkin.

***

Beberapa tahun yang lalu. Kala masa-masa mahasiswa memasuki usia semenjana. Masa di mana riak-riak keresahan mulai menyeruak, tatkala rutinitas “segitiga bermuda” (kos-kampus-kakus) menindih dan sesekali menindas kehidupan sehari-hari. Di tengah keresahan itu, datanglah urita dari seorang kerabat yang juga masih bertalian darah, mengajak nimbrung dalam sebuah pertemuaan yang akan dilaksanakan di toko buku, di sekitaran Jalan Alauddin Makassar. Di kemudian hari, saya tahu toko tersebut bernama Paradigma Ilmu, milik Kak Sulhan Yusuf. Yang ternyata masih singkampong (sekampung) saya juga. Sama-sama dari Butta Toa. Bantaeng.

Dengan semangat yang membuncah. Berangkatlah saya dan rekan-rekan yang lain. Hari ini mestilah menyenangkan dan mencerahkan. Begitu gumam saya dalam hati.

Setibanya di lokasi, saya terkesima melihat deretan buku-buku. Untuk tipe orang seperti saya yang jarang baca buku dan membeli buku, deretan buku-buku itu sungguh membikin kepala saya pening. Melihatnya saja sudah bikin pusing, apatah lagi membacanya.

Memang kala itu, saya masih belum jatuh cinta pada buku. Masih serupa anak-anak SD, membuka buku hanya untuk melihat gambarnya saja.  Tak ada gambar, tak menarik. Begitu pikiran saya, dulu. Dengan bermodal ingatan, saya coba meraba-raba buku apa yang pertama kali membuat saya jatuh cinta. Terlintas beberapa judul buku; Bumi Manusia dari Pram, Pintu-pintu Menuju Tuhan karya Cak Nur, Dunia Sophie dari Jostein Gardner, dan Ideologi Kaum Intelektual oleh Ali Syariati, dan beberapa judul buku lainnya. Sekotah buku-buku tersebutlah yang sedikit banyak menampar-nampar intelektualitas saya. Saya sadar, inilah yang mestinya sedari awal saya lakukan. Membaca.

***

Tatkala asyik melihat-lihat buku. Saya diajak memasuki sebuah ruangan. Tempatnya bersih, dikelilingi berjubel buku yang disusun rapi dan di beberapa sudut terdapat foto. Kala itu, saya hanya kenal satu wajah, Arsene Wenger pelatih Arsenal  yang berkebangsaan Perancis. Di ruangan itulah saya dan teman-teman yang lain diterima oleh sang empunya rumah, Kak Sulhan. Kepalanya plontos kumisnya tipis, serta murah senyum. Sejenak saya sempat berpikir, bahwa salah satu foto di ruangan—yang juga sedikit plontos itu—adalah dirinya tatkala muda. Ternyata bukan. Di kemudian hari barulah saya tahu bahwa foto itu adalah Ali Syariati. Sang Rausyanfikr.

Kak Sulhan membuka perjamuan. Sedikit berbasa basi, tapi tidak benar-benar basi. Bahasanya ringan, tapi dalam. Diksinya rapi, memesona untuk orang yang berbicara tanpa teks. Saya kagum. Di pergaulan saya selama ini, seumur hidup, belum pernah saya jumpai yang demikian. Kalau yang berbicara laiknya puisi, tapi tanpa isi, banyak.

Kala itu, beliau berencana akan membuat kelas khusus untuk kami yang ingin belajar. Kelas Logika namanya. Seingat saya, dia menyebutkan dua nama yang akan mengisi kelas itu saban Ahad pagi menjelang siang, yakni Kak Bahrul Amsal dan Kak Muhajir. Kami adalah angkatan pertama. Entah kelas itu masih berlanjut saat ini saya tidak tahu. Tapi bagi saya, kelas itulah yang sedikit banyak menjadi kompas dalam mengarungi lika-liku kehidupan. Khususnya semangat untuk terus belajar dan belajar. Hingga saat ini.

Setelah tuntas mengikuti kelas logika, saya dan teman-teman kemudian diajak Kak Sulhan untuk bergabung dalam Kelas Literasi Paradigma Institut (KLPI). Saya ikut dalam pertemuan perdana, tahap orientasi kelas. Selanjutnya hilang ditelan skripsi, biaya kuliah sungguh mahal. Saya tak ingin membebani orangtua lebih lama. Tidak lagi.

***

Beruntung. Meski telah menyelesaikan masa kuliah. Saya masih bisa bertemu dan berinteraksi dengan kak Sulhan. Sebuah hal yang patut saya syukuri, mengingat masih banyak hal yang belum saya tuntaskan. Dan mungkin tidak akan tuntas sepanjang hayat. Tapi pertemuan saya dengan beliau selalu berkesan. Selalu ada hal update yang bisa di-upgrade. Libido intelektualitas, emosional, dan spiritualitas saya rasanya meningkat bekali-kali lipat tiap berbincang atawa mendengarnya berbicara. Subyektif memang, tapi demikianlah yang saya rasakan.

Beberapa bulan terakhir. Banyak buku gurih dan bergizi saya cicil darinya, plus kemudahan dalam transaksinya. Beliau paham betul, bahwa hidup butuh banyak arsenal. Pun agar bisa terus konsisten menulis.

Walakhir. Waima kemelataan hidupnya yang sudah memangsa waktu lebih dari separuh abad (53 tahun), yang baru saja berulang tahun di tanggal cantik, 20-02-2020. Kak Sulhan masih sangat energik dalam menebarkan virus-virus literasi. Semangat keanakmudaannya seringkali melampaui anak-anak muda itu sendiri, termasuk saya yang kadang merasa tua sebelum masanya: malas gerak, banyak tidur, kurang bersemangat. Kak Sulhan adalah role model anak muda era milenial. Baginya, umur hanyalah deretan angka-angka, dan beliau sudah membuktikan itu.

Happy Birthday. Wish you all the best..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Muhammad Ikbal

Profil Penulis Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.

Latest posts by Muhammad Ikbal (see all)

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *