Tiga Pertanyaan dari Sapiens

”Akhirnya, dan mungkin paling mengganggu, internet membuat kita lebih kejam, bersumbu pendek, dan tidak mampu melakukan diskusi yang berfaedah.” Tom Nichols dalam The Death of Expertise.

 

Sejak internet menjadi wahana belajar, dan kian hari semakin canggih, rasa-rasanya otak manusia di saat itu mulai berkeinginan berhenti berpikir. Kalimat ini bisa saya tulis dalam bentuk yang lain semisal, ketika internet menjadi sahabat para pelajar, rasa-rasanya para guru akan segera berhenti bekerja dan memilih masuk ke hutan dan kembali bertani saja. Sekolah hanya akan menjadi sia-sia jika lalu lintas pengetahuan dan arus informasi, kian hari membuat internet dikukuhkan sebagai guru pertama.

Kali pertama para ahli purbakala menemukan tulang belulang manusia purba, saat itu juga Homo Sapiens ditasbihkan sebagai mahluk paling efisien. Homo Sapiens disebut-sebut sebagai generasi penjelajah dan mampu bermigrasi berjarak ribuan mil  menggunakan kedua kakinya.

Volume otaknya yang lebih kecil dari saudara dekatnya adalah sebab utama mengapa ini bisa terjadi. Otaknya yang kecil membuat kepalanya jauh lebih ringan dan membuat Homo Sapiens jauh lebih mudah berjalan dengan menggunakan dua tungkai kakinya.

Saya bisa membuat daftar 1001 fungsi kedua tangan, dan setengah dari jumlah itu apa manfaat dari dua kaki yang dimiliki manusia, sama seperti bagaimana para nenek moyang ini mulai belajar menggunakan kedua tangannya untuk meneguk air, mencari kutu, dan membuat api.

Para sejarawan meyakini, Homo Sapiens adalah mahluk bertenoklogi pertama dengan kemampuan elementer berupa keahlian menggesek dua batu panas dan menghasilkan api dari peristiwa itu. Api, sebelum bahasa tercipta, temuan paling canggih bagi kehidupan lawas mereka. Seperti kedua tangan kita, saya memiliki 10 jawaban ketika Anda bertanya apa fungsi api bagi kehidupan purba saat itu.

Saat ini api bukan benda yang mencengangkan sebab ia dapat ditemukan berkali-kali dalam kehidupan seseorang. Jika Anda perokok, api sangatlah penting, tapi itu tidak membuat Anda merasa takjub sama sekali. Otak Anda sudah terbiasa dengan fenomena api yang setiap hari Anda ciptakan menggunakan korek api, kecuali Anda ingin menciptakannya menggunakan dua batu, dan berhasil memercikkan bara api pada gesekkan ke 714.

Seorang sosiolog bernama Max Weber bahkan mengatakan dunia modern bukan dunia seperti di mata masyarakat lawas melihatnya, yang takut dan terpesona dengan kebesaran alam. Semenjak manusia mengerahkan secara maksimal kemampuan berpikirnya, dunia fenomenal seperti hujan atau keluarnya magma dari gunung berapi dipandang sebagai peristiwa biasa belaka. Oleh sebab Anda sudah mampu menarasikannya ke dalam kalkulasi-kalkulasi sains.

Sains dan akal sehat Anda sudah lama dididik sehingga tanpa ragu Anda akan mengatakan ada hukum sebab akibat di balik dari setiap peristiwa, apa pun itu. Keheranan Anda akan segera sirna jika Anda meluangkan waktu demi mencari tahu apa hukum sebab akibat dari fenomena meledaknya gunung berapi, atau mengapa hujan di kota-kota dapat menjadi indikator untuk mengukur kualitas pekerjaan suatu pemerintahan.

Bagi seorang nelayan, pekerjaannya akan jauh lebih berhasil jika hukum sebab akibat itu ia praktikkan saat membaca gelagat alam berupa bentuk rasi bintang, posisi bulan, kekuatan ombak, dan arah angin. Dia bisa menjadi seorang ilmuwan hanya karena membuat jenis pertanyaan semisal apakah ada hubungan sejumlah ikan di lautan akan berkurang ketika musim kemarau datang, atau mengapa tiap hari udara kian panas seolah-olah hutan-hutan sudah kehilangan fungsinya.

Cara berpikir di atas bisa anda kembangkan di berbagai peristiwa kehidupan saat ini, kecuali Anda telah kembali kepada kehidupan purba masa lalu dan takjub kali pertama api bisa menakut-nakuti seekor hewan buas.

Saya membuka tulisan ini dengan mengatakan internet sebagai biang kerok orang-orang mulai malas memanfaatkan otaknya daripada kedua jempolnya. Seolah-olah saat ini orang-orang memiliki cara berpikir dengan memaksimalkan kemampuan menjelajah internet yang dimulai dari kekuatan otot jemarinya. Memikirkan ini ada benarnya, dan bukan dalam arti metaforis bahwa dunia saat ini memang sudah ada dalam genggaman tangan.

Sekarang, seperti seorang nelayan membaca gelagat alam, coba Anda ajukan tiga macam pertanyaan dari hasil Anda membaca gerak-gerik masyarakat informasi, dan coba kita lihat apakah tulisan ini punya manfaat untuk Anda.

Saya berhasil membuat tiga pertanyaan seperti juga Anda berupa, pertama, mengapa orang-orang senang menghabiskan waktunya berselancar di dalam dunia maya? Kedua, apa keuntungan dan siapa bakal dirugikan jika internet merebut perhatian orang-orang terdekat Anda? Ketiga, siapa yang harus bertanggung jawab jika internet berhasil membuat orang-orang kehilangan kemampuan berpikirnya?

Pertanyaan nomor satu adalah pertanyaan paling gampang yang bisa saya jawab oleh karena hampir setengah jumlah penduduk di dunia senang menggunakan internet. Statista, lembaga riset statistik Jerman, mencatat terdapat 3,49 miliar pengguna internet di seluruh dunia dari total 7,7 miliar penduduk per 2019.

Dari setengah jumlah penduduk ini, bisa kita bagi bahwa sebagian dari mereka ada yang menggunakan internet untuk mendukung pekerjaan mereka, sebagian lagi hanya dipakai untuk perdagangan jarak jauh, dan sisanya dari itu adalah penduduk yang memang suka menghabiskan separuh waktu hidupnya berselancar di dunia maya.

Saya satu dari pembagian kelompok terakhir, yang artinya bagian dari orang yang menggunakan internet demi hiburan semata. Tidak ada gunanya saya membela diri di sini karena saya bukanlah pekerja profesional atau pelaku bisnis yang membutuhkan jaringan internet di mana pun saya berada.

Memang seringkali saya berusaha mencari sumber-sumber pemahaman melalui internet ketika menghadapi soal-soal yang menantang pikiran, dan saat itu buku kadang tidak bisa menjadi pilihan utamanya. Tapi tetap saja, aktifitas ini menjadi mubazir karena tidak lama lagi aktifitas itu akan berubah dengan memilih dunia media sosial yang jauh lebih menggelitik secara imajinatif untuk ditengok.

Ada saat-saat ketika media sosial menjadi dunia penuh tanda tanya yang membuat Anda penasaran, kini apa yang sedang terjadi di sana? Siapa yang kini tengah menjadi trending topik? Isu apa yang sedang panas-panasnya? dan apa yang mesti saya lakukan ketika menceburkan diri di dalamnya? Coba Anda perhatikan, dengan pertanyaan ini saja, Anda gampang diyakinkan bahwa tidak ada seinci pun kehidupan saat ini yang lekang dari dunia maya, apalagi jika notifikasi menjadi jenis bunyi-bunyian yang paling sering dan selalu Anda ingin dengarkan.

Bunyi-bunyian yang selalu Anda harapkan itu datang dari perjalanan panjang tapi singkat. Ia berasal dari tumpukan arus informasi yang bergerak di antara sirkuit-sirkuit data dalam satu jaringan raksasa internet. Sebelum sampai ke Anda, bunyi notifikasi informasi itu bergerak di antara lalu lintas miliaran informasi yang melintasi batas-batas benua, kota, negara, dan penyedia layanan sebelum akhirnya sampai ke benda mungil dalam genggaman Anda.

Metafora Tom Nichols dalam The Death of Expertise-nya menyebut hubungan fenomena pengguna internet dengan arus tumpukan miliaran informasi itu sebagai ”orang yang tersesat di mesin pencari”. Bilah pencari yang diset di setiap gawai  merupakan gerbang tanpa arah panah yang jelas. Tom Nichols mengandaikannya semacam hutan belantara tanpa aturan, tanpa batas, tanpa peringkat, dan tanpa filter. Anda jika berusaha mencari kebenaran di dalam dunia maya, Tom Nichols katakan Anda bakal tesesat di belantara miliaran informasi.

Nah, sekarang sudah mulai terjawab mengapa orang senang berselancar di dunia maya  selain bahwa dunia maya merupakan dunia yang betul-betul lain dari kehidupan sehari-hari. Dunia maya, karena ia mirip hutan, membauat orang terlambat sadar bahwa semakin lama ia semakin sulit menemukan jalan keluar dan paradoksnya, Anda akan semakin menikmati keliaran yang ditawarkan rimba kebebasan informasi. Jika Anda bukan seorang ahli dengan kemampuan mengenal peta lokasi, maka sekali Anda masuk ke dalamnya, Anda bakal sulit melihat kembali di mana kali pertama Anda masuk.

Salah satu perbedaan mendasar manusia purba dan manusia modern, adalah kecakapan linguistiknya. Manusia purba masih sulit mengerahkan kemampuan otaknya untuk melakukan percakapan panjang dibanding manusia modern yang sudah dilengkapi kemampuan berbahasa.

Manusia purba mengenal bahasa sebatas bunyi-bunyian yang mereka artikan secara komunal, partikular, dan terbatas. Berbeda dengan makhluk masa kini yang menset kemampuan linguistiknya lebih luas, universal, dan tak terbatas. Bahkan hari ini, setiap orang dituntut mengenal bahasa dari benua-benua lain sekalipun tempat-tempat itu belum pernah ia kunjungi sama sekali.

Saya tidak ingin katakan bahwa ketika seseorang hanya mengenal satu bahasa itu berarti cara hidup ia masih tergolong purba, sekalipun ia seorang pemimpin segerombolan orang. Tapi, itulah kelebihan bahasa masa kini dari bahasa yang dikembangkan manusia purba yang hanya terbatas dalam lingkungan kelompoknya saja. Bahasa masa kini tidak akan membuat Anda seperti manusia purba jika Anda hanya tinggal di kawasan terpencil. Anda masih memungkinkan dapat mengetahui berbagai hal dari negeri yang jauh ketika Anda memiliki rahasianya: internet.

Masih ada dua jawaban jika Anda masih mengingat dua pertanyaan di atas, walaupun saya menduga jawaban atas pertanyaan pertama tidak sama sekali tepat dan memuaskan Anda. Sekalipun jika Anda masih ragu, saya tidak menyarankan Anda untuk memercayai seluruh jawaban yang sudah saya upayakan di atas. Andaikan Anda masih takjub dengan dua pertanyaan lainnya, saya tidak menyarankan Anda agar secepat mungkin mencarinya di bilah mesin pencari.

Tugas  Anda adalah mengerahkan sejauh mana otak Anda mampu mengantisipasi kemalasan dan rayuan dunia maya, sama seperti bagaimana betapa seriusnya seorang manusia purba menciptakan api melalui dua batu digenggamannya.

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *