Dulu. Orang berburu Corona, tepatnya, oto sedan merek Toyota Corona. Sesiapa saja yang memiliki atau mengendarai mobil ini, maka status sosialnya pun meningkat. Sepenggal cerita menarik di kampung saya. Sekali waktu, oto Corona ini melintas di jalan, kepunyaan seorang yang berpangkat nan bangsawan, dan kaya pula. Orang-orang tidak tahu, siapa yang dimuat oleh oto ini, sebab kacanya gelap, riben. Meskipun begitu, orang-orang tetap menghormat pada mobil tersebut, tatkala melintas.

Karena kejadian itu, si sopir, yang tiada lain warga biasa saja, mulai menikmati  laku orang-orang. Selepas mengantar majikan ke kantornya, ia pun sering memanfaatkan waktu senggang, buat melintasi jalan-jalan, guna menikmati penghormatan warga. Saya cuman terkekeh, ketika ulah sopir ini, ia ceritakan pada saya. Saya pun menikmati keluguan warga, dengan tidak bercerita pada siapa pun.  Itulah janji seorang ponakan pada seorang paman.  Mobil ini telah menjadi simbol akan harkat seseorang. Dan, paman saya terangkat derajat sosialnya, waima ia hanyalah seorang sopir. Kini, Toyota Corona telah jadi rongsokan, tidak diburu lagi. Toyota Corona tinggal kenangan.

Kiwari. Orang diburu Corona, persisnya, wabah Virus Corona. Barang siapa yang terinveksi virus ini, maka ia segera menjadi pesakitan. Nyaris masyarakat menolak dan mengucilkannya. Masih ingat dengan warga negara yang dikarantina di Pulau Natuna? Warga Natuna melakukan penolakan. Apa pasal penolakan? Pastilah soal hidup dan kehidupan, sebab virus ini, sangat mematikan. Para saintis, dokter di berbagai belahan dunia masih berjuang melumpuhkan serangan wabah ini.

Masalahnya kemudian, akibat turunan yang ditimbulkan oleh Virus Corona, melebar ke berbagai  arah penjuru mata angin. Tafsir terhadap wabah ini, beraneka bentuknya. Mulai dari yang dikemukakan oleh para ahli virus maupun ahli fitnah, penyebar hoaks, dan penyuka ujar kebencian. Dunia serasa gaduh. Akibat virus ini, bukan saja berpengaruh pada dimensi kesehatan semata, tetapi menjalar pada bidang kehidupan lain. Aspek sosial, politik, agama, dan lainnya, dirinsek oleh wabah Virus Corona.

Paling terkini, manakala Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, tetiba menghentikan izin umrah. Ada kepanikan di dunia, khususnya negara-negara muslim, sebab warganya tidak bisa melaksanakan umrah. Bahkan, ada yang sudah di Jeddah, terhenti perjalanannya, gara-gara larangan ini. Pelarangan dilakukan sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus. Pemerintah Saudi tentu tidak ingin negaranya menjadi ladang berkembang biaknya penyebaran virus. Pengusaha perjalanan umrah gelisah. Posisi untung dan rugi berkelahi.

Pada konteks ini, menarik saya ajukan semacam kekalutan pikir,  yang menghidu saya. Singkatnya, maksud saya tidak perlu Pemerintah Saudi melakukan tindakan mendadak, andaikata mendengar pendapat seorang dai kondang, dari negeri muslim terbesar, Indonesia, yaitu Ustas Abdul Somad (UAS). Sebab, bagi UAS, Virus Corona, tiada lain adalah  Tentara Allah yang diutus untuk menghancurkan kezaliman Cina, terhadap kaum muslim Uyghur.

Mari saya ajukan transkrip dari video di Youtube , ceramah UAS, “Tapi Allah memang sayang pada umat ini. Umat kehilangan kekuasaan, umat kehilangan… kesultanan, umat kehilangan kholifah, umat kehilangan… Sekarang umat hanya tinggal membaca al-Quran dan berzikir, tapi Allah masih kasihan, ‘Aku masih ibah melihat kamu’, kata Allah. Maka ditolong Allah dengan berbagai macam tentara. Macam-macam Tentara Allah datang. Adapula tentara terakhir ini yang bernama Corona. Orang yang berada di Uyghur, tak terkena virus ini. Banyak orang  terheran-heran. Apa Sebab? Salah satu sebabnya karena mereka berwudu, setiap hari mereka membasuh tangan. Virus tak akan terkena kepada orang yang selalu menjaga kesucian. Mereka memakan binatang yang disembelih, yang dimasak, bukan yang mentah, bukan makan darah, sebab di dalam darah ada bakterial penyakit. Manakala ajaran Islam diamalkan pertolongan Allah  SWT datang. Kalau kau tolong agama Allah, Allah menolong kamu. Kalau bukan karena pertolongan Allah, sudah lama Islam ini punah dari di atas muka bumi Allah. Mereka membuat tipu daya, Allah balas tipu daya mereka. Tipu daya Allah, pembalasan Allah lebih hebat dari mereka lakukan.”

Bila saya mengikuti cara berpikir UAS, maka menjadi aneh tindakan melarang umrah. Bukankah yang datang ke Saudi Arabia, di Mekkah dan Madinah, adalah Tamu Allah, karena dipanggil oleh Allah, menuju Baitullah, Rumah Allah. Tamu Allah yang beribadah di Rumah Allah, pastilah mereka bersuci, memakan makanan halal, membaca al-Quran dan berzikir. Pokoknya, sekotah persyaratan bebas virus dari UAS, sebagaimana dirujukkan pada Muslim Uyghur, menyata di Mekkah dan Medina. Pikiran sederhana saya menyentil, berlapikkan pikiran UAS, mungkinkah Tentara Allah menyerang Tamu Allah di Rumah Allah?

Namun, begitulah Pemerintah Saudi, abai terhadap jalan pikir UAS. Mungkin lebih memilih analisis para saintis. Atau bisa juga justru UAS yang kurang tajam analisisnya, paling tidak hanya memandang dari sudut doktrin Islam saja. Kenapa? Bukankah di berbagai belahan negeri kita, di daerah tertentu, memakan makanan yang dimaksud UAS, tak berwudu pula, tidak membaca al-Quran dan tiada berzikir, tapi Virus Corona bukan lahir dari daerah tersebut? Atau jangan-jangan argumen ini justru membuktikan bahwa muslim di tanah air tidak dizalimi, seperti di Uyghur?

Berlapik pada kekalutan pikir yang menerungku saya, tetiba saja saya teringat dengan jihad dari beberapa intelektual muslim, berjuang untuk membangun paradigma berpikir yang memadukan sains dan doktrin Islam. Proyek Islamisasi Sains namanya. Mulai dari yang sekadar mencocok-cocokkan temuan sains dengan sumber ajaran Islam, atau yang sekadar menempuh jalan memberi nilai moral Islam pada bebas nilainya sains, hingga yang berjibaku pada pentingnya merintis epistemologi sains Islam.

Walakhir, semestinya menghadapi serangan Virus Corona ini, kaum muslim berada pada salah satu yang terdepan. Semacam jihad kemanusiaan, dalam bidang sains dan kedokteran. Bukan sekadar mengutuk atau mengembalikan sebagai takdir. Jalan pintas itu, hanyalah akan membawa dunia muslim tak mampu berkontribusi dalam peradaban dunia terkini. Bagi saya, meski ini sebentuk bencana bagi Cina, tapi jalan juang yang ditempuh untuk mengatasinya, akan membuahkan hasil di masa datang. Cina akan menjadi kiblat dunia farmasi, tatkala Virus Corona berhasil diatasi atau dihilangkan. Maksim pun bergaung kembali, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Virus Corona akan menjadi batu loncatan kemajuan peradaban di bidang kedokteran. Wabah Virus Corona menjadi kenangan bagi kemajuan sains, seperti kenangan pada oto Toyota Corona.

Ilustrasi Virus Corona, sumber: Shutterstock

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.