Untuk Apa Sekolah?

Perkenalkan, saya seorang ibu rumah tangga yang sesekali menulis, tetapi lebih senang diam dan banyak membaca. Membaca kepribadian manusia, alam sekitar, juga buku-buku tentu saja. Sejak usia sekolah senang mempelajari hal-hal baru yang memiliki manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Namun di antara semua jenis pengetahuan yang pernah saya pelajari, mengetahui hakikat diri dan kehidupan adalah hal paling menarik.

Mengamati bagaimana suatu masalah bisa terjadi, proses munculnya, faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebabnya, dan seterusnya. Pada prinsipnya saya tidak senang berlama-lama berkubang dalam suatu persoalan. Istilah kerennya, solution oriented.  Namun apa daya umumnya  suatu masalah membutuhkan sinergi dari banyak pihak. Sementara kapasitas, tingkat kepedulian, serta kepentingan setiap orang berbeda. Sehingga apa yang penting bagi seseorang belum tentu penting pula bagi yang lain. Demikian seterusnya.

Rasa-rasanya bertafakur, merenung, atau berkontemplasi sesungguhnya aktivitas yang sangat mengasyikkan. Kita tidak perlu kehadiran orang lain dalam proses tersebut. Cukup diri sendiri yang menjadi prasyaratnya. Langkah berikutnya, setelah proses perenungan dengan segenap perangkat pengetahuan yang kita miliki cukup kuat pijakannya, selanjutnya kita dapat melanjutkan diskusi dengan pihak lain agar gagasan hasil perenungan tersebut mendapatkan perspektif yang berbeda.

Salah satu agenda pemikiran yang sekian lama berkutat dalam benakku selama ini adalah soal sekolah. Saya yakin bukan hanya saya yang menyimpan keresahan soal ini.  Sangat banyak orang di luar sana yang berpikiran serupa. Yang membedakan adalah tataran aplikasinya.  Kita bisa mengelompokkan mereka ke dalam beberapa kategori. Kelompok pertama, mereka yang sama sekali tidak merasakan adanya masalah. Sehingga hidupnya terus berjalan  tanpa merasakan geliat sama sekali. Mereka menganggap kehidupan sudah sebagaimana yang mereka lalui.

Kelompok berikutnya adalah mereka yang sudah beranjak dari level sebelumnya. Yakni bisa merasakan jika ada sesuatu yang salah dalam proses menjalani hidup ini. Tetapi tidak mengetahui solusi alternatifnya. (Kurang referensi pengetahuan terkait masalah yang sementara dihadapi). Akhirnya terpaksa terus bergerak dengan iringan gerundelan. Seolah tidak rela menerima model kehidupan seperti yang sementara ia lalui.

Kategori kelompok berikutnya, adalah mereka yang sadar, yang memiliki pengetahuan dan wawasan, serta berani bertindak berbeda agar masalahnya teratasi, sehingga kualitas kehidupannya pun bisa berubah.

Bagi kami di keluarga besar, sekolah bukan prioritas yang mesti dinomorsatukan. Anda bisa pintar tanpa harus melewati bangku sekolah. Pesan ini yang sering didengung-dengungkan dalam keluarga kami. Namun bukan berarti kami sama sekali tidak melewati jenjang-jenjang akademik sebagaimana umumnya orang-orang. Ada yang sudah melewati strata 1 hingga 2. Soal sertifikat keterampilan non formal, kami pun tidak perhitungan dalam hal biaya. Bahkan sudah bisa praktik dengan memungut  fee dari hasil pembelajaran tersebut.

Pesan sesungguhnya yang ingin saya utarakan, hendaknya semua pihak menyadari, bahwa sekolah bukan tujuan dalam hidup. Ia hanya alat untuk mencapai tujuan. Tujuan sebenarnya adalah mencapai kebahagiaan, serta mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang banyak. Sehingga untuk mencapainya bisa ditempuh lewat berbagai cara.

Itulah mengapa, sangat besar niat kami ingin memperbaiki kualitas hidup anak-anak, sebagai sebuah amanah yang diberikan Tuhan dengan memberikan mereka pendidikan sebaik-baiknya. Yang baik itu seperti apa? Mari kita menganalisisnya bersama-sama.

Pertama, ia bisa merasa bahagia dalam proses pembelajarannya. Apakah anak-anak sudah merasakan itu di sekolahnya? Kedua, anak-anak dididik dalam bingkai akhlakul karimah dari pengajar-pengajarnya. Ketiga, soal penilaian dalam hal kecerdasan kognitif. Apakah ia satu-satunya rujukan dalam memberikan label pintar pada anak-anak kita?

Jika  semua itu belum kita temukan, saatnya kita membahagiakan anak-anak dengan tidak lagi menjejali mereka dengan pertanyaan-pertanyaan klise setiap hari, seperti “Dapat nilai berapa pelajaran Matematikamu tadi di sekolah?” atau “Apakah PR sudah kamu kerjakan?” dengan intonasi disertai ekspresi datar, sebagai sebuah ritual alami sehari-hari.

Oleh karena itu, saya tidak ingin mengajar anak-anak di tempat les kami dengan metode sebagaimana biasanya situasi di sekolah. Melainkan berusaha menarik minatnya dengan memancing mereka bercerita. Tentang perasaan mereka di sekolah, rumah, dll.  Mengapa tidak suka pelajaran tertentu, dan lebih suka pelajara yang lainnya, dan seterusnya.

Saya sungguh khawatir dengan semua situasi yang terjadi saat ini. Mari sama-sama berbenah.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Latest posts by Mauliah Mulkin (see all)

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *