Akhirnya sampai juga. Dunia literasi kedatangan tamu yang sudah lama diperdebatkan keberadaannya, yaitu cultural appropriation. Mari berkenalan.

Cultural appropriation atau perampasan hak budaya sebenarnya bukan isu baru. Di negara Barat, terutama Amerika dan Inggris, isu ini sudah lama diperbincangkan. Bahwa upaya penyalahgunaan budaya oleh mayoritas terhadap minoritas, adalah termasuk kejahatan pelecehan budaya.

Jika menilik kamus, cultural appropriation hampir sama dengan cultural appreciation. Bedanya, cultural appropriation lebih kepada eksploitasi budaya milik bangsa lain secara negatif, sedang cultural appreciation lebih kepada adopsi budaya secara positif. Dikarenakan unsur sama ini, terkadang refleksi budaya dalam penggabungan dua budaya dalam satu karya seni, ditafsir secara konyol sebagai bentuk cultural appropriation.

Fakta-fakta Konyol

Triawan Susetyo, seorang blogger muda dan pemerhati seni budaya, sangat apik menyodorkan fakta-fakta sensitif dari ‘pencaplokan budaya’ dalam akun Kompasiana-nya (08/10/2016). Sebut saja, kisah mahasiswa Universitas Cambridge (UK), melakukan protes saat Queen’s College membuat jamuan makan malam bertemakan Lion King tanpa pembicaraan awal dengan masyarakat Afrika tentang apa yang mesti dilakukan.

Atau yang terlihat konyol dalam kisah Susetyo, ketika dua orang senat mahasiswa mendapatkan impeachment saat datang ke pesta “Tequila” mengggunakan “Sombrero” dengan tenangnya. Atau kisah lainnya, ketika Iggy Azela mendapatkan nominasi Grammy untuk kategori best rap album, Azela menuai protes keras dari netizen dikarenakan ia bukanlah dari kelompok kulit hitam. Apakah musik rap adalah milik orang-orang hitam? “What? That’s a cultural appropriation?”

Atau kisah dari teater “Aida” oleh Musical Theatre of Bristol di University of Bristol yang dibatalkan akibat beberapa pemeran orang-orang Mesir akan diperankan oleh orang kulit putih, dan itu dianggap cultural appropriation.

Begitu  juga dengan fakta yang diangkat oleh Nikita Devi dalam majalah online magdalene.co (16/08/2019), mengulik fakta anyaman rambut Agnez Mo dan suit yang dikenakannya dalam acara peluncuran album terbarunya “Diamond”, dan menghubungkannya dengan cultural appropriation. Apresiasi atau apropriasi?

Untuk mencukupkan fakta, saya mengutip beberapa contoh kekonyolan cultural appropriation  yang dipapar Arif Gumantia dalam akun Medium-nya. Kisah aktris Vanessa Hudgens dan super model Alessandra Ambrosio yang pernah mengenakan “headdress” ala suku Indian yang dianggap sakral itu ke festival musik Coachella dan banyak majalah fashion yang menyebutnya sebagai tren Coachella, meski pun mereka sudah tahu bahwa headdressa tersebut adalah atribut penduduk asli Amerika. Begitu juga dengan kisah Kylie Jenner dan Kadarshian Sisters yang sering mengenakan gaya rambut “corncow”” atau “bantu” yang merupakan ciri khas rambut perempuan Afrika.

Setidaknya ini beberapa fakta sensitif yang banyak dilakukan oleh para selebritis, dan kabur terbaca, apakah sebagai bentuk apresiasi atau apropriasi budaya? Banyak hal yang sebenarnya adalah ekspresi spontan dari cita, rasa, dan karsa; tersangkut dengan masalah pelecehan atau pencaplokan budaya.

Fenomena American Dirt

Masalahnya adalah bagaimana jika isu ini menggembosi dunia literasi? Dalam kata lain, bagaimana misalnya jika seorang penulis dari negara-negara dominan (sebutlah, orang-orang Eropa yang hijrah ke Australia), kemudian melakukan ekplorasi tradisi dan budaya terhadap kaum minoritas (anggaplah, Aborigin); dalam bentuk tulisan dan karya sastra? Apakah ini termasuk apresiasi budaya atau malah apropriasi budaya?

Kira-kira seperti inilah fenomena sebuah novel Amerika berjudul American Dirt, karya Jeanine Cummins yang menuai banyak kontroversi. Novel bergenre dokumenter yang diliris 21 Januari 2020 ini, dibuka dengan sebuah kisah pembantaian.

Sinopsis

Lydia Quixano Peréz, seorang ibu muda berdarah Mexico, tinggal di Acapulco bersama anak lelakinya, Luca (8), serta suaminya yang luar biasa, Sebastian, yang seorang jurnalis. Lydia mengelola sebuah toko buku yang mampu menopang hidupnya hingga mapan. Suatu hari, seorang lelaki dewasa memasuki toko dan memilih buku fovoritnya. Namanya, Javier. Selain menawan, ia terlihat terpelajar. Di luar pengetahuan Lydia, Javier ternyata seorang gembong narkoba yang baru saja mengambil alih kota. Itu diketahuinya setelah Sebastian membeberkan profil Jefe secara lengkap (yumpu.com).

Hingga di suatu hari, beberapa lelaki bersenjata membantai 16 orang dari sebuah keluarga di Acapulco. Dari semua korban, Lydia dan Luca adalah dua korban teror yang selamat. Pasca tragedi teror, Lydia dan Luca menyelamatkan dirinya dengan ikut bergabung dengan rombongan migran menuju el Norte, Denver (kirkusreviews.com).

Di Mexico Utara, moda transportasi tidak seperti dibayangkan. Lydia mengambil risiko perjalanan dengan melintasi wilayah La Bestia. Satu-satunya alat yang dapat mengangkut mereka agar tak terlihat orang-orang, adalah kereta barang. Di sepanjang perjalanan, Lydia berteman dengan Soledad (15) dan Rebeca (14), keduanya adalah imigran gelap dari Honduras. Di sepanjang perjalanan, mereka pun mengalami teror demi teror (publishersweekly.com).

Buku yang awal publikasinya sempat lancar dan menghasilkan beberapa kesepakatan jual-beli royalti hingga hak filmnya ini, tiba-tiba mendapat kecaman dampak dari cultural appropriation. Tidak tanggung-tanggung, menurut koran online Texas Monthly, American Dirt menjadi fokus review dan kritik dari para sastrawan dunia kelas berat, selevel Sandra Cisneros, Reyna Grande, Julia Alvarez, Don Winslow, dan Stephen King. Ulasan yang ditulis oleh Richard Z. Santos, dengan judul The Real probem with ‘American Dirt’ ini benar-benar dapat menjadi sumber informasi komplit bagi para peminat.

Lantas apa yang ditemukan oleh para pengkritik papan atas ini? Adakah alibi yang menunjukkan fakta cultural appropriation?

Kontroversi  American Dirt

Untuk review kontroversi ini, saya mengutip penjelasan Eka Kurniawan dalam Jurnal-nya. Menurut Eka, kontroversi American Dirt menyinggung isu cultural appropriation yang sangat jarang diangkat dalam kesusastraaan Indoneisa. Eka menambahkan bahwa American Dirt menjadi sangat penting, saat Cummins mencoba mendominasi suara ketertindasan dari orang-orang Latinix.

Monopoli dan dominasi yang dilakukannya ini seakan menutup corong-corong suara pembebasan dari para Latinix sendiri. Ini yang dipermasalahkan oleh para kritikus dari kelompok sastra pembebasan. Pembungkaman dua kali ini disamaistilahkan dengan silencing oleh penulis novel kelas dunia ini.

Eka menyebut dua novel, “Max Havelaar” dan “Blood Meridian”, dua novel yang ditulis oleh seorang lain’ terkait ‘budaya lain. Meski Eka menjelaskan bahwa Max Havelaar bukanlah novel tentang pribumi Jawa, melainkan menelanjangi kebrengsekan para Kolonial Belanda yang korup di tanah kolonial; sedangkan “Blood Meridian ”, menurut Eka, tidak sedang membela orang-orang Indian, melainkan membeberkan kebrutalan kaumnya sendiri.  Sekelompok dari mereka adalah bajingan-bajingan yang memburu dan menguliti kepala orang-orang Indian. Nah, kontroversi American Dirt kurang lebih seperti ini.

Senada dengan Eka, Clara NG, novelis perempuan nasional, memberikan pandangan dalam unggahan tweetnya (26/01), bahwa “memberikan suara kepada yang bisu” dari suara kelompok dominan tidak mewakili kelompok subdominan. Itu hanya suara mereka sendiri, dengan kepentingan sendiri, sambil menjajah orang lain. Clara juga mempertanyakan niat kepenulisan seorang penulis Jawa, menulis tentang kultur Thionghoa dengan banyak kesalahan budaya, lalu dipublikasilan di koran Nasional dan dirayakan. Semua alibi ini mengarah ke cultural appropriation.

Sastra dalam Cengkraman Politik Kuasa, dan Aktivis Kemanusiaan yang Lapar

American Dirt” memang tengah menjadi kontroversi di luar sana. Hanya saja, di antara kelompok-kelompok yang mengkritik dan memberi dukungan tentu ada argumentasi bahkan kepentingan yang menyertainya. Tapi setidaknya ada benang hitam yang dapat ditarik, bahwa kekuatan bayangan (kuasa dominan) akan terus mencari celah dari kelas-kelas literasi dan sastra untuk digunakan mendukung dominasinya.

Hanya saja perlu kita ingat bersama, “American Dirt” tidak bisa lepas isu konflik politik yang sempat memanas di awal-awal kampanye Trump (2016), terkait arus imigran yang masuk ke Amerika melalui perbatasan Mexico. Negara Paman Sam ini cenderung mendikte Mexico untuk tidak memberi akses masuk bagi warga Amerika Tengah (Honduras, Guatemala, dan latinix lainnya); dan mengupayakan tembok batas yang mesti didanai oleh Mexico.

Sebenarnya fakta ini masih bisa dipoles, dan wajah para dominicus masih akan terlihat anggun. Tapi banyaknya perlakuan buruk di kamp-kamp dan tahanan imigran, terutama penanganan imigran anak dan perempuan yang jauh dari kesan layak (manusiawi), serta banyaknya jatuh korban dari para imigran; maka cacat pada wajah ini tidak akan pernah tertutupi. Perlu diberi garis bawah dan tebal, ini terkait citra Amerika! (phr.org, Physicians Human Rights, How U.S. Immigration Enforcement Is Obstructing Medical Care, 10/06/2019, June 10, 2019, by Sarah Stoughton, JD and Kathryn Hampton, MSt)

Sebagai tambahan, saya berpandangan bahwa barangkali ini yang disebut dengan senjata makan tuan atau “Boomerang”; bahwa ketika hasrat mengabadikan kuasa melewati batas rasionalnya, maka apapun akan dilakukan. Entah dengan membeli suara-suara para tertindas, membentuk ormas dan partai sempalan, menumbuh suburkan LSM-LSM bayaran, atau bahkan mmembungkam paksa sastra pembebasan. Ketika badan belum basah oleh kucuran dana, maka kembalilah “Boomerang” pada tuannya. Alih-alih membela kemanusiaan. Sebaliknya, seperti kata Clara, itu hanya suara mereka sendiri, dengan kepentingan sendiri, sambil menjajah orang lain!

Penutup

Akhirna saya tutup tulisan ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Kira-kira apa yang bakal terjadi, jika dunia literasi menutup mata terhadap fakta dan realitas eksternal dirinya? Malapetaka apa yang bakal menimpa, jika dunia literasi tunduk pada garis kuasa dan rekayasa sosial? Bagaimana masa depan dunia, jika mata, hati, dan pendengaran para pegiat literasi dibungkam untuk menyuarakan kebenaran; dan melumpuhkan sastra pembebasan? Kemana lagi orang-orang terzalimi akan berharap? Pada Tuhan?!

Media (termasuk, novel) merupakan alat vital dalam tatanan masyarakat. Peran media sangat diakui dalam membahasakan realitas secara nyata dalam kata, penyadaran, dan kritik-kritiknya. Orang-orang yang berkecimpung di dalamnya (baca: pegiat literasi), juga tak kalah memiliki peran penting, yaitu sebagai pendidik, pencerah, dan bahkan agen pengubah sosial. Mereka adalah agen kontrol yang mestinya selalu independen dan tak terbeli oleh uang dan garis kuasa; termasuk kepentingan berupa pencitraan, dan lainnya.

Jika sastra dan gerak literasi telah tergadai oleh uang dan garis kuasa, maka di sinilah (berlaku) awal penindasan dan pembungkaman kedua; bertumpuk-tumpuk; sebagaimana mulut para Latinix yang diduga ‘tersumpal oleh seruan-seruan Cummins dalam American Dirt”.

Akhir dari semuanya adalah, kekonyolan!

ditulis oleh

S. R. Siola

S. R. Siola, seorang pecinta ilmu dan hikmah. Kecenderungannya terhadap dunia literasi telah terpupuk sejak kecil. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Iran, bidang Filsafat dan Theologi Islam, dan Master Pendidikan di Indonesia. Saat ini menetap di Iran, menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis.