”Tapi Anda jangan berkecil hati. Anda tidak mampu mengubah ideologi ini (ideologi kecantikan). Yang bisa Anda lakukan adalah mengubah warna kulit Anda.”

 

TAHUN 2000 ketika Timnas Inggris tampil di Piala Eropa, David Beckham muncul dengan gaya rambut baru. Saat itu berbeda dari model ”belah tengah-nya”, Beckham  berlari-lari di lapangan bergaya rambut mohawk yang menuai kritik, termasuk dari Sir Alex Ferguson, pelatihnya saat masih berkostum Manchester United.

Saat itu gaya rambut mohawk biasanya menjadi gaya pemain bola berdarah Afrika, tapi Beckham adalah Beckham. Kritik bukan masalah bagi dirinya. Toh, pada akhirnya gaya rambutnya itu menjadi trend dunia.

Sudah menjadi pengetahuan umum, Beckham bukan saja bintang di lapangan sepak bola, tapi juga menjadi model ternama dari beberapa merk baju, minyak wangi, dan sepatu. Apapun yang ia lakukan dengan gaya busana dan gaya rambut bakal diikuti banyak orang. Ia selain ditunjang dengan wajah charming juga memiliki model rambut blonde kesukaan banyak wanita.

Rambut bagi sebagian lelaki sama pentingnya seperti kulit putih bagi wanita. Ia menjadi penopang penampilan sekaligus pendongkrak rasa percaya diri. Bagi orang seperti Beckham, mengubah gaya penataan rambut bukan jadi soal.

Lantas, bagaimana jika seseorang memiliki tipe rambut yang sulit diatur, atau bahkan mengalami ”botak tengah”?

Nah, jika Anda ingin melihat pergulatan identitas seseorang akibat mengalami kebotakan dini, maka tidak ada salahnya Anda menonton Bala (2019) karya arahan Amar Kaushik ini.

Bala dibintangi Ayushmann Khurrana berperan sebagai Balmukund “Bala” Shukla, bercerita tentang kehidupannya yang berbalik 180 derajat setelah tumbuh dewasa. Kehidupannya yang menikung turun tiba-tiba berubah hanya karena persoalan rambut.

Semasa bersekolah Bala adalah bintang kelas dalam arti siswa yang pandai merebut perhatian konco-konconya. Ia pandai meniru akting pemain-pemain film Bollywood semisal Amitabh Bachchan sampai Sahrukh Khan.

Di sekolah ia bisa bertindak begitu karena mencintai dan merasa percaya diri memiliki rambut hitam nan tebal. Saking percaya dirinya, sekali tempo dengan maksud mengejek ia menggambar kepala gundul gurunya di atas papan yang membuat seisi kelas menertawakan gurunya.

Kelak, nasibnya bakal berubah ketika ia tumbuh dewasa. Satu persatu bulu rambutnya rontok seperti hutan yang gundul akibat serangan pembalak liar.

Korban Ideologi Kecantikan dan Galau karena kebotakan

Bisa dibilang kehidupan dewasa Bala dipenuhi obsesi untuk menumbuhkan rambutnya seperti semula. Rasa percaya dirinya pupus seiring berhelai-helai rambutnya yang jatuh berguguran saat disisir.

Seribu satu cara ia lakukan demi menumbuhkan kembali rambutnya. Mulai dari membeli sampo khusus hingga ramuan tidak masuk akal berupa kotoran bercampur sperma banteng.

Pelan-pelan kekhawatiran Bala atas nasib kepalanya ikut membuat keluarganya prihatin oleh oleh sebab kegundulan dini dialami Bala membuat dirinya semakin terperosok ke dalam kegalauan akut. Sehari-sehari karena tidak percaya diri, kemana-mana ia mesti menggunakan topi sekaligus kacamata hitam demi menyembunyikan identitasnya.

Rambut adalah mahkota. Begitu adagium yang menandai keistimewaan rambut sehingga ia kerap diperlakukan khusus. Di dunia iklan, tidak sulit menemukan produk khusus perawatan rambut. Di mal-mal kerap juga menemukan salon-salon khusus penataan rambut.

Bahkan, semakin ke sini, salon-salon khusus laki-laki menjadi gampang ditemukan, menandai perkembangan gaya rambut tidak saja dikhususkan bagi perempuan, melainkan juga kaum laki-laki.

Dandanan rambut, seperti juga cara berpakaian, bentuk tubuh, dan cara berbahasa merupakan satu paket untuk menunjang gaya hidup. Dalam masyarakat konsumeristik, semua itu kerap dipelantang melalui iklan untuk menciptakan hegemoni budaya berkaitan dengan idealisasi kebudayaan tertentu.

Theodor Adorno dan Max Horkheimer, dua pemikir kebudayaan marxis melalui The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception membaca hubungan fenomena iklan dan gaya hidup merupakan inisiasi ideologi kapitalisme dalam menciptakan budaya massa.

Budaya massa adalah budaya versi dunia periklanan yang manipulatif, rendahan, dan massif, sekaligus bersifat permukaan yang banyak digandrungi banyak orang. Budaya massa yang menurut Adorno dan Horkheimer adalah bagian dari industri kebudayaan, dalam praktiknya banyak merambah kawasan negara dunia ketiga untuk memberikan efek hegemoni sekaligus timbal balik keuntungan.

Gaya atau model rambut, dalam hal ini dengan kata lain bagian dari ideologisasi masyarakat konsumeristik demi melanggengkan budaya massa. Gaya rambut, sebagaimana ia bagian dari gaya hidup merupakan hasil konstruksi dari industrialisasi budaya kapitalistik untuk mendulang keuntungan. Di balik semarak iklan, film, majalah, dan internet, bersembunyi kepentingan pasar.

Bala, seperti banyak ditemui pada pria-pria kiwari, merupakan orang yang tidak lepas dari pengaruh ideologisasi kecantikan (ketampanan). Seperti juga kulit putih bagi perempuan, memiliki gaya rambut seperti trend masa kini merupakan kemestian bagi Bala.

Itu sebab, di sepanjang film kita akan menyaksikan usaha mati-matian Bala demi mendapatkan rambut yang ideal. Satu-satunya dasar eksistensi dirinya ia temukan hanya melalui rambut tebalnya. Seperti umumnya pria yang memandang gaya rambut adalah tanda sosial, maskulinitas, kesuburan, dan kekuatan, bagi Bala rambut adalah segalanya

Namun, apa boleh buat, rambutnya yang semasa kecil demikian lebat, entah mengapa tiba-tiba sulit tumbuh ketika ia menjadi seorang pemuda. Yang terjadi malah sebaliknya, gugur satu persatu tanpa tumbuh seribu.

Rambut dan Ideologi

Rambut adalah representasi nilai, tradisi, dan pandangan dunia tertentu. Sebelum Tiongkok pecah karena revolusi hijaunya, kaum pria Cina memandang status sosialnya dari dandanan rambut panjang yang dikuncir. Harga diri laki-laki Cina terletak ketika memiliki rambut berekor panjang. Bahkan, secara politik, gaya rambut berekor merupakan tanda kesetiaan kepada dinasti yang berkuasa saat itu.

Di masa Orde Baru, rambut bahkan menjadi demikian politis, karena dianggap tanda kepatuhan kaum muda kepada kekuasaan Soeharto. Dalam Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an, dijelaskan bahwa melalui narasi anti rambut gondrong, Orde Baru Soeharto berusaha mengontrol kritisisme kaum muda.

Selain mengubah terma ”pemuda” menjadi ”remaja” karena kata ”pemuda” memiliki konotasi aktivitas politik, anak-anak muda di seluruh Indonesia dinarasikan sebagai ”anak-anak pembangunan” selama sikap dan perilakunya taat kepada ”Bapak Pembangunan”, yang salah satunya adalah memiliki rambut cepak ala militer.

Kelompok subkultur Punk mengartikan ideologi perlawanan juga dari cara mereka menata rambut. Ketika kali pertama muncul di Inggris, Punk merupakan kelompok anak muda anti kemapanan, anti kelas, dan anti pemerintahan.

Menurut Setyanto dalam  Makna dan Ideologi Punk, Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia, gaya rambut Mohawk yang diambil dari suku Mohican Indian Kuni dilambangkan sebagai perlawanan kaum tertindas terhadap kekuasaan di luar dari diri mereka.

Bala walaupun mengedepankan unsur komedi, tetap menarik perhatian karena diset sedemikian rupa demi menggambarkan relasi rambut dengan kehidupan sosial masyarakat tertentu.

Dalam konteks kehidupan Bala, kebotakan bagi kaum pria bukan saja ada hubungannya dengan derajat penampilan, melainkan melibatkan suatu cara pandang berkaitan gaya hidup ideal seperti yang dipelantang ideologi-ideologi kecantikan/ketampanan.

Seperti juga masyarakat dunia ketiga yang mengalami gegar budaya luar, di dalam film, gaya rambut seperti ditunjukkan para pesohor bintang iklan, penyanyi, ataupun aktor film adalah simbol gaya hidup yang menjamin eksistensi seseorang.

Itu artinya tidak mudah bagi orang seperti Bala menempatkan dirinya di tengah situasi masyarakat yang memuja ukuran gaya hidup tertentu, oleh sebab jika berpenampilan tidak sesuai cara pandang dominan, ia bakal menghadapi bullying dari lingkungan sosialnya.

Kehidupan inautentik

Pagi hari Bala bekerja sebagai sales promotion boy ”Pretty Girl”, produk kecantikan pemutih kulit. Di waktu malam ia sering tampil menjadi comica di café-café. Uniknya, dua profesi ini merupakan dua bidang kerja yang bertolak belakang.

Selama menjadi salesman, sehari-hari ia dituntut perusahaan menjual produk pemutih kulit agar laris terjual. Bala sering mengumpulkan perempuan-perempuan berkulit gelap untuk ia ceramahi tentang betapa pentingnya perempuan memiliki kulit mulus dan putih.

Di ujung persentasi itu, menggunakan bahasa dan strategi pemasaran yang hiperbolis, ia akan menawarkan solusi pemutih kulit produk yang dijualnya.

Sementara saat menawarkan produk kecantikan, dalam arti Bala menjadi agen kebudayaan massal, berbeda saat Bala menjadi comica. Di atas panggung ia malah menjadi pribadi yang lebih bebas. Kelak ketika ia mulai menerima kebotakannya, saat melakukan stand up itulah ia mendeklarasikan kebebasan dan keotentikannya menjadi manusia merdeka.

Puncak konflik Bala ketika ia menikahi Pari Mishra (Yami Gautam), seorang model dari produk kecantikan yang dijual Bala. Namun, masalahnya baru muncul karena selama memadu kasih Bala tidak berterus terang bahwa ia memiliki kepala botak, sesuatu yang tidak diharapkan Pari, istrinya.

Semua usaha Bala menyembunyikan kebotakanya menjadi hancur setelah Latika Trivedi (Bhumi Pednekar) datang ke rumahnya dan membongkar semua aib yang disembunyikan Bala.

Sejak saat itu, baru di hari pertama menjalani kehidupan suami istri, Pari pergi meninggalkan Bala hanya karena ia tidak bisa menerima kebotakan dialami suaminya.

Antitesa Bala ada pada Latika, perempuan bekas teman sekolah Bala yang tidak sama sekali pusing dengan warna kulit gelapnya. Dalam tilikan otentik tidak otentik, Latika adalah pribadi yang percaya diri dengan warna gelap kulitnya.

Latika tidak memiliki akun media sosial dan jarang membeli prioduk kecantikan. Ia sering terlibat pertengkaran dengan Bala hanya karena urusan produk kecantikan dijual Bala yang dianggap Latika adalah pembodohan bagi perempuan.

Salah satu pesan film Bala ada pada figur Latika ini. Ia adalah figur yang melawan cara pandang dominan. Posisinya sebagai perempuan memberikan bobot lebih dikarenakan ia kukuh berpendirian di saat banyak perempuan di sekitarnya terbuai produk kecantikan pemutih kulit.

Jika sehari-hari Bala hidup di dalam kepalsuan dengan memanipulasi identitasnya, Latika sebaliknya memiliki kesadaran melampaui warna kulit gelap yang ia miliki. Ia di titik tertentu rela menerima eksistensi diri apa adanya tanpa mesti diombang-ambing embel-embel opini publik.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah Pari, istri Bala. Sebagai seorang model iklan, ia hidup bertaut dengan ideal-ideal estetika massal seperti ditunjukkan dari kehidupan media sosial ala selebritisnya.

Pari merupakan representasi perempuan-perempuan yang kerap menjadi korban iklan kecantikan. Memiliki kulit putih, rambut tergerai panjang, hidung mancung, dan memiliki laki-laki idaman berambut stylish adalah cita-citanya.

Keterangan Film:

Genre: Comedy, drama

Sutradara: Amar Kaushik

Skenario: Niren Bhatt & Ravi Muppa

Pemain: Ayushmann Khurrana, Bhumi Pednekar

Yami Gautam

Liris: November 2019

Durasi: 133 Menit

Studio: Film Maddock

Negara: India

Bahasa: Hindi

 


 

Sumber gambar: english.newstracklive.com

 

 

ditulis oleh

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).