Seperti yang lalu-lalu, buku Orang-orang Biasa anggitan Andrea Hirata amat luar biasa. Tak butuh waktu lama bagiku jatuh hati pada penulis Laskar Pelangi itu. Andrea Hirata kini mengisahkan sekawan orang “bodoh” yang melakukan perampokan. Tujuannya sekadar mencari biaya kuliah seorang anak yang bermimpi menjadi dokter. Uang yang diraibkan pun uang haram hasil korupsi. Entah benar atau salah, Atid dan Rakib mungkin bingung hendak menulisnya di buku amal yang mana. Pastinya, di negeri kita, baik atau buruk, benar atau salah, banyak diukur menggunakan uang dan kekuasaan.

Sekilas, rampok-rampok tersebut mengingatkan sahaya pada sosok Robin Hood, maling yang bekerja untuk kepentingan sosial. Atawa betapa sosialisnya segelintir pejabat pemerintahan yang menggondol kekayaan negara untuk keluarganya yang dianggap serba kekurangan.

Apa yang dituliskan Andrea Hirata hanya secuil kenyataan yang difiksikan. Masih banyak mimpi anak-anak seperti Aini yang harus kandas gara-gara ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Terdapat banyak anak yang di cap dongok oleh sistem pendidikan kita, sebab gagal lulus dalam pelajaran sains. Tidak sedikit praktik pencucian uang dan koruptor yang khusyuk menggerayangi uang negara. Dan hebatnya mereka pura-pura tidak melihat anak-anak mengamen di jalan, putus sekolah, atau mati kelaparan kala mereka sibuk mengisi perut di restoran-restoran mewah.

So, seberapa greget Anda dengan buku itu? Mencari sisi menarik novel Orang-Orang Biasa lewat tulisan usang ini, laiknya mencari kemakmuran di negeri kita. Sebab tulisan sahaya tidak diperuntukkan untuk meresensi buku tersebut, sebagaimana beberapa kebijakan dikeluarkan bukan untuk kepentingan rakyat kecil. Tapi kesejahteraan para pemilik modal dan korporasi asing. Bahkan banyak di antaranya hanya delusi berisi pemanis buatan.

***

Dalam buku Orang-Orang Biasa, Andrea banyak mengulik soal sekolah dan pendidikan. Sekolah merupakan arsenal pendidikan, bahkan seringkali dianggap sebagai representasi pendidikan itu sendiri. Sekolah sebagai tempat belajar pastinya mengajarkan kita banyak hal, norma baik dan buruk bisa kita temukan. Bahkan acap kali dipraktekkan oleh sebagian kecil orang tua dan pendidik lewat perilaku dan kata-kata.

Sesekali kita jumpai beberapa orang tua meminta anaknya berbohong atau staf sekolah berbohong pada atasan. Orang-orang terdidik membuang sampah sembarangan dan makan sambil berdiri. Atau kita sering melakukan kecurangan-kecurangan kecil demi menutupi kesalahan. Ironisnya kitalah yang mengajarkan pada anak agar tetap bersetia pada kebenaran, mengatakan kebenaran walaupun pahit. Tapi di sisi lain, kita sering mengakali keburukan dengan mencari-cari alasan pembenaran agar terlihat benar.

Nalar kita memang sudah sampai pada tahap itu. Kita sudah pandai menghiasi keburukan-keburukan agar terlihat benar dan dianggap wajar-wajar saja. Walhasil kita lupa, hakikat keburukan tidak akan menjadi benar walau didandani sedemikian rupa. Tai tetaplah tai meski kita mengatakan seribu alasan bahwa itu adalah emas. Hal ini senada dengan apa yang dituturkan oleh Mahatma Gandhi, bahwa kesalahan tidak akan menjadi kebenaran walau berulang kali diumumkan, sebaliknya, kebenaran tidak akan jadi kesalahan walau tak seorang pun mengetahuinya.

Tokoh Aini dalam buku anggitan Andrea Hirata merupakan representasi beberapa anak di negeri ini yang mimpinya harus kandas karena keterbatasan ekonomi di sepetak tanah surga. Masih banyak Aini lain di luar sana dipaksa untuk mencabut mimpinya, menguburnya dalam-dalam di antara sifat rakus para elit. Tak sedikit dari anak-anak itu berakhir di jalan raya, tempat-tempat sampah, atau terpaksa langsung kepelaminan dan membawanya terbang ke Malaysia sebagai tenaga kerja asing.

Kita bisa saja berdalih, karena keberadaan program beasiswa bagi yang kurang mampu. Tapi asasnya yang amat administratif menjadikannya gampang dimanipulasi. Sifatnya pun kadang formalistik dan tidak transparan, sehingga banyak tak tepat sasaran. Apatah lagi minimnya pengawasan serta maraknya praktik kolusi dan nepotisme di negeri kita, memperkecil keberuntungan orang-orang yang seharusnya menerima beasiswa tersebut.

Lalu sekawanan perampok dalam buku Andrea Hirata yang dicap dongok oleh instansi pendidikan, sebenarnya tidaklah layak untuk disebut goblok. Mereka dicap sekolah sebagai orang-orang dengan IQ tiarap mencium bumi, karena kegagalan mencapai standar nilai kognitif yang ditetapkan. Tetapi di akhir cerita mereka adalah orang-orang biasa yang menampilkan moralitas melangit.

Meski Howard Earl Gardner telah mengumumkan pada dunia bahwa kecerdasan manusia itu bersifat majemuk, orang-orang masih saja terbelenggu pada pemahaman lama. Menilai dongok dan pintarnya seseorang lewat aspek kognitif semata. Sekolah-sekolah kita memang masih melihat kecerdasan lewat angka-angka. Haidar Bagir dalam bukunya, Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, mengatakan bahwa assesment di sekolah diselenggarakan semata-mata untuk mengukur hasil pencapaian akademis-parsial sesaat siswa, sambil mengabaikan proses dan cara-cara autentik yang mencakup karakter serta berbagai kecerdasan dan bakat lain siswa.

Sekolah merupakan tempat yang luar biasa. Pasalnya hampir semua ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan di sana. Lihatlah betapa banyaknya pelajaran dipaksakan untuk kepala-kepala mungil anak-anak. Kita juga kerap melihat muka memprihatinkan dari anak kecil yang menelan pil pahit belajar matematika yang tak ia sukai. Sementara pikirannya mengawan bagaimana melakukan gerak tipu agar dua bek lawan bisa dikalahkan.

Waima demikian, sekolah tetap menjadi arsenal yang diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang cerdas secara intelektual, moral, dan spiritual.  Kita tidak memaksakan sekolah mencetak orang-orang sukses, karena Haidar Bagir mengatakan sekolah itu tempat gagal. Tetapi sedapat mungkin sekolah tidak boleh gagal mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Sekolah harus tetap bekerja keras mendidik generasi penerus bangsa, menjadi orang-orang biasa dengan prestasi luar biasa dan moralitas melangit.

 

Sumber gambar: Brillio net.

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.