Sejak pemerintah menetapkan social distancing, maka maksud praksisnya, tinggal di rumah saja. Beraneka respon, beragam reaksi dari publik. Berondongan kata-kata di media informasi amat bancuh. Berita benar-salah campur aduk. Urita baik-buruk menggado-gado. Namun, dari sekian reaksi paling menohok, tatkala agama dijadikan amunisi penolakan, tetap berkumpul dalam ritus. Saya tidak ingin berpanjang lebar bersoal di kedegilan ini. Saya cuman mau mengutip di akun facebook saya, melalui ujar Daeng Litere, “Dengan ancaman kematian massal, menerangkan, bagaimana cara seorang hamba memahami dan mendekati Tuhannya.”

Stay at home, tinggal di rumah, sebentuk slogan yang mudah diucapkan, tapi amat sulit dipraktikan. Pasalnya, ada banyak sebab sehingga harus keluar rumah. Mulai dari cari reski, hingga kumpul-kumpul. Saya sebagai orang yang biasanya lebih dari separuh waktu berada di luar rumah, baik karena tuntutan pekerjaan, maupun seabrek kegiatan sosial lainnya, pun tidak mudah ambil keputusan. Saya lalu mengeja himbauan ini, apa substansi sebenarnya dari perintah tinggal di rumah. Hanya satu yang saya pahami betul, memutus mata rantai penyebaran virus.

Renungan demi renungan saya nalarkan pada diri saya. Membujuk kedirian saya agar mematuhi ajakan ini. Akhirnya, tibalah saya pada puncak pertarungan melawan diri sendiri. Inilah jihad saya. Berjuang mengorbankan egoisme. Dari begitu banyak agenda di luar rumah, baik rutin maupun dadakan, saya mulai siasati.

Paling pertama saya ajukan, membatalkan semua acara berkumpul. Utamanya, jika acara itu saya yang menentukan. Lebih dari sepuluh mata acara publik, saya batalkan untuk menyata di sana. Saya langsung meyakinkan diri saya, sedangkan acara ritus keagamaan, yang statusnya sebagai kewajiban, harus digeser status hukum wajibnya, apatah lagi hanya acara perkumpulan lainnya.

Akan halnya kegiatan rutin, pergi membajak nafkah ini yang rada sulit. Maklum, pekerjaan saya sebagai penjaga toko buku sendiri, Toko Buku Papirus Makassar, di bagian utara kota, pukul 09.00-21-00. Nanti dua hari kemudian, resmi saya tutup. Semua urusan toko, saya diamkan. Sekotah relasi, utamanya para penerbit, saya abaikan. Kalau gara-gara ini, ada masalah bakal muncul, nanti diatur ulang. Saya hanya mau tinggal di rumah. Ingin membantu petugas kesehatan yang menyabung nyawa di garis depan pemberantasan virus.

Lalu apa yang saya bikin di rumah? Di sinilah pengetahuan saya bekerja. Saya mengingat-ingat kembali hasil bacaan saya bertahun-tahun lalu. Kesempatan berempati pada para pejuang, yang menentang ketidakadilan, lalu dikenakan tahanan rumah. Saya bukan pejuang, tapi berkesempatan merasakan apa yang diderita oleh para pejuang keadilan itu. Menjadi tahanan di rumahnya sendiri. Rumahnya, terungkunya.

Langkah berikutnya, membuka kembali kenangan, tatkala saya harus berdiam diri di rumah selama 20 hari. Waktu itu, saya mengalami kecelakaan. Tangan kanan saya patah, tepatnya dislokasi. Hasil operasi memutuskan digips selama 20 hari. Melewati hari-hari itu sungguh sulit. Aktivitas saya hanya membaca, tak bisa menulis. Padahal, menulis bagi saya, sungguh kegiatan yang tingkat pentingnya sama dengan buang air.

Begitulah cara saya membujuk diri sendiri. Perkelahian dengan kedirian, sungguh merupakan pertempuran akbar. Menaklukkan diri sendiri, sunyatanya perkelahian besar. Apakah saya bakal menang? Entahlah. Namun, dengan modal empati pada para pejuang keadilan dan sakit dislokasi tulang, cukup memadai menjadi lapik mental, menghadapi masa dua pekan tinggal di rumah.

Hari ini, cukup sepekan himbauan tinggal di rumah. Saya benar-benar tinggal di rumah. Lalu apa dibikin? Membaca, menulis, dan menonton film bagus lewat fasilitas Indiehome, yang meluaskan cakupan siarannya. Tiga film telah saya tonton senikmat-nikmatnya, sekhusuk-khusuknya. City of Shadows, Paris La Blanche, dan Within The Whirlwind. Sekotah film ini saya tonton di jaringan Cinemaworld. Dan, tak lupa mengakrabi seekor kucing liar dengan dua anaknya, masih menyusu.

Arkian, berlambarkan empati pada para pejuang keadilan, saya mengusir kebosanan dengan membenahi pekarangan. Bercocok tanam. Pekarangan yang tidak sebera luasnya, saya mau tanami cabai. Saya membibitkan sendiri. Mencoba mengamati pertumbuhannya dari hari ke hari. Kalau sesuai dengan teori yang saya baca, maka wujud dari praktik yang saya lakukan, akan tiba di hari ke-14, tanamannya sudah bisa dipindahkan. Saya tunggu dari hari ke hari. Pagi dan sore, saya sambangi. Terkadang bercakap secara batin.

Pun, saya merawat tetumbuhan terdahulu. Bunga-bunga, satu pohon jeruk nipis, dan empat pohon srikaya. Memangkas tangkai liar, memotong ranting-ranting tuanya. Akan halnya dengan pohon sirsak yang berbuah sepanjang waktu, saya mulai memerhatikan secara seksama. Soalnya, saya sering bersaing dengan beberapa ekor burung pemakan buah. Telat sehari saja dari waktu petik, burung itu sudah lebih dulu menyantapnya. Untunglah mereka bayar dengan kicauan yang mahal.

Lalu bagimana dengan persona selain saya di rumah? Masing-masing punya aktivitas. Saat ini di rumah, kami 5 orang. Seharusnya, 7 orang. Ibu mertua saya bertandang ke anak tertuanya ke pulau lain. Putri ke-2 saya di kabupaten lain. Maklum ia bekerja, dikontrak oleh satu instansi untuk beberapa bulan ke depan. Kami berlima, mencoba memaknai himbauan tinggal di rumah secara positif. Pasangan saya, sejatinya memang di rumah saja, menggawangi toko buku kami, Paradigma Ilmu, di bilangan selatan Kota Makassar.

Putri tertua, mendapat kemudahan setelah berjuang meminta bekerja dari rumah. Work from home (WFH), putri ketiga dirumahkan sebab kampusnya membijakinya. Pun, putra bungsu, sekolahnya ikut pindah ke rumah. Ia belajar secara maya. Rumah kami jadi ramai, bersaing ramainya beberapa ekor burung pemakan buah srikaya. Di keramaian rumah yang sudah mulai langka tercipta ini, kami saling menguatkan. Pasangan saya menjadi lalu lintas pengambil kebijakan, bak pemerintah. Ia menjadi polisi kesehatan, juga mengawal fatwa ulama, MUI.

Kami mulai makan dan minum bersama. Sesekali salat dan doa berjamaah. Bergantian nonton film kesukaan. Kadang ada selingan main gadget masing-masing. Tak ketinggalan mempercakapkan informasi terkini tentang perkembangan virus. Sebagai keluarga model urban, hal-hal tersebut amat mahal di keadaan normal. Defenitnya, pandemi global virus corona ini, mengembalikan kepada sejatinya keluarga. Sari diri keluarga.

Apa benar-benar tidak keluar rumah? Seingat saya, pasangan saya masih sempat keluar belanja kebutuhan. Tentu dengan membentengi diri pengetahuan cara berinteraksi di keramaian. Saya sendiri, sejak merumahkan diri, menyempatkan diri ke depan rumah, buat melayat. Tetangga depan rumah kami berpulang pada keabadian. Saya berusaha sedapat mungkin taat pada protokol interaksi keberjarakan sosial. Demikian pula, toko buku di rumah sendiri tetap buka. Meskipun untuk saat ini, sepertinya sangat minim orang yang mau beli buku, untuk tidak mengatakan tak ada transaksi.

Masih tersisa sepekan lagi ke depan, masa di rumah saja ini. Menanti dalam kecemasan berjamaah. Sering ada lintasan tanya di pikiran saya, setelah 14 hari masa di rumah ini, apa yang bakal terjadi? Mungkinkah mata rantai penyebaran virus tercapai sesuai yang diinginkan? Atau berlanjut pada situasi yang lebih parah? Entahlah.

Saya hanya ingin mengulang status di akun facebook saya, lewat tutur Daeng Litere, “Pada kecemasan yang sama, keazalian manusia teruji. Sunyatanya, sebagai manusia tidak sendirian.”

Adakah juga cerita kisanak selama di rumah saja?

 

Sumber gambar: IDN Times

 

ditulis oleh

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.