Musim kemarau tiba. Tubuh seekor burung pipit mulai gerah kepanasan. Ia mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia memutuskan hendak meninggalkan tempat yang sudah lama menjadi habitatnya. Ia terbang jauh ke utara mencari tempat yang udaranya selalu sejuk. Dia mulai merasakan kesejukan udara. Makin ke utara makin dingin. Dia semakin gelojoh dan bernafsu terbang lebih ke utara lagi.

Dia tidak merasakan sayapnya mulai tertempel salju. Makin lama makin tebal. Dia pun tersungkur jatuh ke tanah. Tubuhnya terbungkus salju tebal. Burung pipit tak berdaya. Dia menyangka riwayatnya telah tamat. Dia merintih menyesali nasibnya. Seekor kerbau datang menghampiri. Burung pipit galau mengapa yang datang seekor kerbau datang menghampiri. Kerbau dihardik agar menjauh. Kerbau dimaki sebagai makhluk tolol yang tidak mungkin bisa memberi pertolongan.

Si kerbau tidak bicara. Dia berdiri, lalu mengencingi burung itu. Burung pipit marah semakin menjadi-jadi. Si kerbau tetap tidak bicara. Dia maju satu langkah dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si burung mengira dirinya sudah mati karena sesak napas. Perlahan-lahan, dia merasakan kehangatan. Salju yang membeku pada bulunya meleleh berkat kehangatan tahi kerbau. Dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah.

Burung pipit pun berteriak kegirangan. Dia bernyanyi bahagia. Seekor kucing mendatanginya. Kucing mengulurukan tangan dan mengais tubuh si burung. Kucing itu menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung.

Si burung bernyanyi dan menari kegirangan. Dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. Tiba-tiba dunia menjadi gelap gulita. Tamatlah riwayat si pipit diterkam kucing.

***

Fabel  burung pipit yang saya pernah baca di buku Habis Galau Terbitlah Move on oleh J. Sumardianta di atas rasa-rasanya sangat cocok untuk manarasikan situasi masyarakat kita saat ini. Di tengah pandemi virus corona dan imbauan pemerintah untuk melakukan social disctance, sebagian masyarakat +62 masih saja ngeyel dan justru melakukan liburan bersama keluarga. imbauan untuk tetap stay di rumah rupanya justru dimaknai sebagai seruan liburan dari pemerintah. Menjamurlah mereka di pelbagai tempat. Mengular dalam antrian menuju tempat wisata. Berani dan bodoh memang beda tipis.

Kita mungkin adalah satu-satunya negara yang pemerintahnya mesti mengirim petugas ke pusat hiburan maupun perbelanjaan hanya untuk merazia dan membubarkan warganya yang justru bersikap denial dan masa bodoh di tengah situasi genting beberapa pekan terakhir. Jangan sampai kesadaran itu baru muncul setelah penyebaran virus sudah semakin ekstensif.

Padahal, dalam situasi seperti ini. Untuk warga awam seperti kita—yang bukan tenaga kesehatan, pemangku kebijakan. Maka mengikuti imbauan pemerintah adalah satu-satunya cara kita berkontribusi dalam penyelesaian masalah pandemi ini, yang semakin hari mengalami surplus penderita.

Tercatat Senin 23 Maret 2020, berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 12.00 WIB. Kasus baru virus corona bertambah 65 orang. Total kasus positif corona menjadi 579, 49 meninggal dan 30 sembuh. Ada 22 provinsi Indonesia yang sudah menjadi penyebaran virus corona. Sedang provinsi dengan jumlah kasus positif masih tetap di Ibu Kota Jakarta dengan 353 orang, sembuh 23 orang dan meninggal 29 orang.

Mengapa social distance menjadi penting? Hal ini berguna untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Seperti yang dilansir oleh The Guardian yang saya kutip dari detik.com, isolasi diri ini bertujuan untuk menghindari seseorang dari tertular atau menularkan virus. Orang yang terinfeksi virus tidak selalu menunjukkan gejala, tapi tetap beresiko menularkan kepada orang lain tanpa disadari. Apatah lagi, ada sebagian kelompok masyarakat yang rentan apabila terkena virus. Sebut saja wanita hamil, lansia, dan orang dengan gangguan pernafasan: asma, bronkitis, dan paru-paru kronis.

Jadi ini demi kebaikan aku dan kamu sayang, supaya kita tidak saling menyakiti melalui penyebaran virus. Jika pun harus keluar rumah karena kebutuhan urgen, maka harus diingat untuk tetap menjaga jarak 1-2  meter dengan orang lain dan memastikan untuk menjaga kebersihan tangan dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Mencegah selalu lebih baik dari pada mengobati.

Memang benarlah adanya yang dikatakan Guru Han beberapa waktu yang lalu. Virus Corona ini juga akan menguji kemanusiaan kita. Bagaimana sikap kita menghadapi virus ini, akan menentukan sedalam apa rasa kemanusiaan kita. Apakah kita masih akan bersikap egoistis? Mari mengukur diri masing-masing.

Saya pribadi merasakan sulitnya untuk tetap stay di rumah tanpa hiburan bermutu di layar kaca.  Apatah lagi, sepakbola yang menjadi satu-satunya alasan saya betah duduk depan TV pun sudah lenyap. Akibat penghentian liga di pelbagai penjuru dunia akibat pandemi ini.

Namun, sebagai warga negara yang baik dan tahu akan konsekuensi dari imbauan pemerintah, maka saya pribadi patuh pada arahan sosial distance itu. Tidak mudah memang, tapi mengorbankan beberapa minggu (semoga tak sampai berbulan-bulan) demi kelangsungan hidup manusia adalah harga yang amat murah. Saya merasa baik-baik saja. Tak ada yang berubah. Kecuali malam minggu tanpa Liga Inggris dan rabu-kamis dini hari tanpa Liga Champion. Sepi.

Mengakali situasi yang demikian, saya coba menyibukkan diri: berselancar di media sosial, nonton film Indosiar, push up, dan sesekali baca buku. Banyak buku yang menganggur setelah dibeli. Hanya menjadi pajangan di rak lemari. Begitulah saya, suka beli tapi malas baca. Dan kalau mood lagi baik, menarilah jemari ini di atas tombol-tombol keyboard laptop mengabadikan keresahan itu. Kata demi kata.

Sesekali saya kadang pula hanya duduk berdiam diri, tak melakukan apa-apa seraya merenungkan kembali petuah bijak dari William Wordsworth, “Ketika kita sudah terlalu lama dipisahkan dari sisi diri yang lebih baik oleh dunia yang penuh ketergesaan, muak atas urusan-urusannya, lelah karena kesenangan-kesenangannya, maka betapa murah hati dan lembut kesendirian itu.”

Di tengah musibah ini. Mestinya kita perlu merenung lebih banyak dibanding mengeluh. Menjamah hati dan fikiran kita yang selama ini jarang kita kunjungi akibat ketergesaan dalam menjalani kehidupan. Semoga dengan demikian, kita bisa menemukan hal baik dari kejadian paling buruk sekalipun.

Walakhir, saya tentu berharap kita semua bisa berkontribusi dalam melawan virus corona ini, sesuai dengan kemampuan dan cara kita masing-masing. Tenaga medis telah menjadi garda terdepan melawan virus ini.  Mengorbankan berkali-kali lipat waktu, tenaga dan bahkan nyawa mereka. Jangan biarkan pengorbanan mereka sia-sia. Tugas kita sederhana saja,  cukup patuhi imbauan pemerintah. Mudah bukan? Berhentilah hidup seolah-olah kita tidak punya pemerintah, mengandalkan inisiatif yang kadang tanpa kalkulasi rasional. Mari memutus rantai penularan virus.

Cepat sembuh duniaku. Cepat pulih Indonesiaku.

 

Sumber gambar: NU Online

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.