Setelah buah pikir saya jebrol runtunan kemarin, saya kemudian putuskan untuk mengambil jeda sejenak. Dalam rangka mengamati ragam informasi yang tersiar. Baik lewat media cetak, elektronik, maupun media sosial dalam lingkup saya.

Secara garis besar, kabar tersebar terbagi atas dua bagian. Positif dan negatif. Tentu saja dengan latar belakang berbeda antara satu dengan lainnya.

Pada kesempatan ini saya akan membahas terkait warta positif saja. Karena bagian negatif, selain sia-sia, juga tidak menarik untuk dibahas. Apalagi hal itu adalah tugas dari kelompok “titik-titik” (silahkan isi sendiri). Dan, mengambil tugas mereka bukan ciri dan peran saya.

Setelah penyebaran info virus Korona mulai banyak, tidak sedikit akhirnya pihak tergerak untuk melakukan sesuatu. Sesuatu dalam artian luas. Mulai dari penggalangan dana, membuat tersebar pesan berantai pencegahan secara massif, hingga berbentuk dedikasi diri secara penuh individu atau lewat kelompok relawan. Tidak ketinggalan kampus beserta pakar kesehatan mengambil peran. Memang energi positif perlu untuk diciptakan dan disebarluas.

Semua sedang memberi sumbangsih bagian terbaik dari dirinya. Dengan satu harapan bersama, air mata ibu Pertiwi bisa meredam. Iya. Saat ini ibu Pertiwi sedang lara. Jumlah putera-puteri yang dengan virus Korana semakin bertambah. Tidak menutup kemungkinan, angka ribuan akan dicapai. Saya berdoa itu tidak terjadi. Amin.

Saat upaya menggalang optimisme bergulir, berita duka menghampiri. Beberapa dokter pengisi garda terdepan perang melawan Korona, syahid. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Terus terang kabar ini sempat membuat saya dan beberapa pihak terguncang. Ya Tuhan, berikan kami kekuatan. Semoga mereka damai dalam kepergiannya. Amin.

Mari kita kembali saling menguatkan. Bentuknya bisa membincang beragam berita baik tadi.

Saya akan mulai dengan dua contoh. Pertama, langkah nyata pengelola negara. Tepatnya kemarin, tanggal 23 Maret, pusat penanganan COVID-19 Republik ini diresmikan. Tempat yang disulap menjadi Rumah Sakit Darurat Covid-19 adalah wisma atlit Kemayoran. Bangunan yang terletak di dekat Kali Item, Sunter, Jakarta Utara ini beralih fungsi jadi lebih bermanfaat. Setelah sebelumnya gedung yang berdiri di atas tanah seluas 10 hektar ini tidak terurus.

Dari aspek kapasitas, bangunan yang saat 2018 mampu menampung puluhan ribu atlit ini tentu tidak diragukan lagi. Apalagi jika kita lihat denah dari sepuluh tower tersebut, terdapat 7426 unit ruang seharusnya mampu menimbulkan rasa optimis. Terutama dalam upaya membungkam “jungur” pihak tidak bertanggung jawab.

Sudah tahu kan siapa yang saya maksud?

Oke, mari kita lanjutkan. Hal kedua terkait berita baik yang tersebar adalah kongsi berbagai pihak untuk berjibaku menopang pengisi garda terdepan dalam jihad fi Sabilillah melawan Korona. Bentuknya juga sangat signifikan; pengadaan Alat Pelindung Diri (APD).

Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu fakta lapangan terkait penanganan Korona ini adalah minimnya APD dari NAKES. Konon, keterbatasan itu pula menjadi salah satu alasan mulai rontoknya para NAKES akibat virus Korona. Penyebab lain adalah kepanikan yang menjalar sehingga membikin banyak orang membeli (barang) secara membabi-buta. Alih-alih ingin mengantisipasi Korona, ternyata menciptakan keterbatasan APD di pasaran. Misalnya, pelapis tangan berbahan karet dan cairan alkohol.

Nah, pengadaan APD dari pihak-pihak lain tersebut adalah bukti bahwa rasa kemanusiaan kita belum tergerus (dampak) modernisasi. Seperti kata Rostow suatu ketika, salah satu ciri dominan dari masyarakat modern adalah individualistis.

Tentu saja masih banyak bentuk positif yang hingga saat ini dilakukan oleh pihak tanpa jemu. Kesemuanya harus diapresiasi. Banyak varian yang bisa kita lakukan. Jika tidak bisa secara materi untuk melakukan, bisa juga dengan non materi. Misalnya, patuh pada himbauan untuk tidak keluar rumah dan terlihat dalam kerumunan.

Mari kita teruskan semangat baik ini dengan melakukan hal positif lain. Minimal jangan jadi bagian dari yang gandrung menyebar berita bohong. Karena kebohongan bisa menciptakan efek domino.

Klir?

 

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Mashuri Mashar

Lebih akrab disapa Nano. Konsultan kesehatan. Bertugas dan berdomisili di Bantaeng.