Pagi selepas subuh, udara lembab meliputi semesta dan camp tempat Chandris melakukan aktivitasnya sehari-hari mengais nafkah bagi anak semata wayangnya. Pohon-pohon bergerak gemulai mengikuti irama semilir angin pagi yang berdesir sepoi. Para pekerja baru saja bersiap-siap ke kamar mandi membersihkan diri bersegera ke tempat kerjanya. Chandris, masih bermalas-malasan di depan kamarnya sembari mengisap dalam-dalam rokoknya yang menjadi kebiasaannya sebelum ke kamar mandi. Masih nampak galau setelah semalaman mengetahui putrinya sedang sakit di kampung seberang.

“Hallo.. Hai sayang.”

“Hai Pa.. kapan pulang?”

“Iya.. nanti ya, Papa masih kerja cari duit untuk, Rini kan?”

“Oke, Papa, jangan lama ya, dan Papa harus sehat.”

“Oke, sayang. Terima kasih.”

Percakapan seperti ini hampir setiap hari berlangsung yang mengharu-birukan hati Pak Chandris. Anak semata wayangnya baru berusia sekira lima tahun, centil-centilnya. Masa pertumbuhan yang masih butuh pelukan kasih dari sosok-sosok orang tua yang dikasihinya. Di mata dan hatinya penuh cinta titipan Ilahi. Laku kanaknya masih mengelana ke mana-mana tak bertujuan, mengembara mencari sepucuk kasih sayang yang selalu dirindukannya. Mencari sosok figur yang bisa mengantarnya menjadi anak bertumbuh penuh cinta.

Chandris, telah menduda sekira empat tahun lamanya, sejak Rini anak semata wayangnya berusia satu tahunan. Petaka rumah tangganya datang tak terduga, kala istrinya selama hidup berumah tangga melakoni hidupnya sebagai ibu tumah tangga yang dipilihnya sendiri dengan enjoy, senang dan bahagia. Tapi entah kenapa setelah anak peratamanya lahir yang telah sekira empat tahun ditunggunya, mendorong niat dan tekadnya untuk kembali ke ranah publik mengais nafkah sebagaimana yang pernah digelutinya kala ia masih gadis, setelah menamatkan kuliahnya. Malapetaka itu berawal dari situ, Chandris yang selama ini bekerja di perusahaan tambang jauh dari kotanya, dengan roster kerja yang cukup ketat tentu pertemuan dengan keluarga kecilnya juga periodik. Namun, sepanjang waktu hingga si buah hati lahir kebahagiaan berumah tangga bersama istri yang ia kasihi sangat dinikmatinya.

Perpisahan tak terelakkan setelah pertengkaran demi pertengkaran berlangsung secara intens terjadi. “Itu, Rini anak kita semata wayang butuh diemong setiap saat. Jadi, tolong pertimbangkan lagi aktivitasmu mencari nafkah di luar rumah, bukankah selama ini aku membanting tulang bekerja dengan gaji yang cukup telah kita jalani dengan baik dan bahagia?”

“Iya, tapi aku tidak bisa dikungkung terus di rumah, bosan jadinya. Kalau gaji kamu tidak mau kau berikan padaku tidak apa-apa, aku bisa membiayai hidupku sendiri,” tegas Murni suatu malam, kala Chandris memberi saran dan pertimbangan.

Dan kalimat pendek itulah yang membuat Chandris tersinggung berat. Bukankah selama ini kami tidak pernah mempermasalahkan soal uang dan sejenisnya, karena hubungan kami dilandasi dengan cinta yang kuat, keluh Chandris dalam hatinya.

Ia tak pernah habis pikir kenapa istri yang ia cintai berpikir dan bersikap seperti itu, bak terhipnotis oleh sesuatu di luar dari dirinya. Toh, selama ini bahkan sebelum mereka dikarunia seorang putri cantik tetap rukun-rukun saja tanpa sesuatu pun yang mengacaunya.

Dan akhirnya keduanya menyerah pada takdir setelah dalam rentang waktu yang tak terlalu panjang, mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Jalan nampak buntu terhijab amarah. Cahaya pun tak ada di sana hingga di ujung upaya sekedip pun.

Sesungguhnya, dalam jedah sejenak masing-masing memiliki cinta, paling tidak cinta buah yang mereka semai bersama dalam mata indah Rini dan kasih di hatinya. Tapi, amarah menutupi segalanya, termasuk nasihat kasih dari orang tua keduanya. Keputusan ini menyakitkan keduanya terlebih gundah seorang anak yang lahir dari kasih sayang kedua orang tuanya yang sedang bergumul emosi tak terperih.

Putusan pengadilan dengan berbagai alasan-alasan hukum, Rini, balita mungil nan cantik bermata indah, hak pengasuhannya diberikan kepada ayahnya. Jadilah, Chandris sebagai lelaki muda pekerja professional menjalani hidupnya sebagai single parent. Rini, tinggal bersama kakek neneknya bila Chandris berangkat ke tempat kerja secara periodik dan menikmati hidup bahagia bersama Rini setiap kali menjalani waktu-waktu cutinya.

“Papa mau pergi lagi?”

“Iya, sayang, kan mau cari duit untuk beli mainan, Rini.”

“Tapi, kan mainan, Rini masih banyak.”

“Iya, juga untuk beli baju, Rini kan.”

“Baju, Rini juga masih banyak kok”

“Beli susu juga, sayang.”

“Susu Rini juga masih ada kok di kulkas, kalau habis tidak usah minum susu, minum air saja.”

Jawaban-jawaban, Rini pada bapaknya yang ia sayangi sebagai ungkapan hati anak belia yang masih butuh kasih sayang, sangat menyentak. Chandris, nyaris menumpahkan air hangat haru nan perih di tebing-tebing pipinya, namun ia berusaha menahannya sekuat tenaga, berusaha nampak tegar di kerumunan orang banyak, di bandara suatu siang kala hendak berangkat menunaikan tugasnya untuk periode selanjutnya.

Hatinya berkecamuk gemuruh sedikit linglung dan gundah bercampur baur. Akhirnya, ia bertekad untuk mengambil jalan-jalan terbaik untuk anak terkasihnya. Ia menundukkan kepala sejenak sembari berdoa agar dikuatkan menghadapi cobaan-cobaan hidup dan memutuskan segala yang terbaik untuk Rini, anaknya yang ia cintai.

Rini, yang masih duduk di kelas nol besar taman kanak-kanak “bahagia” di kotanya. Usia ranum-ranumnya untuk seorang anak untuk dipeluk sepenuh kasih dan selalu mengundang rindu yang mengumpal-gumpal kala Chandris sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantornya sebagai finance.

***

Masa single parent telah dilaluinya selama jelang tiga tahun, hingga suatu ketika lewat media sosial di mana ia aktif bersosialisasi untuk membunuh rasa gundah dan rindunya pada Rini yang selalu menyiksanya, hatinya digetarkan oleh seorang perempuan yang ia kenal di facebook, teman kencan di Medsos sejak beberapa bulan terakhir.

Secara fisik ia belum pernah sua dengan perempuan itu, kecuali saling berbagi foto-foto terkini dan juga sesekali melakukan video call. Masing-masing  telah bercerita tentang perjalanan hidupnya yang setali dua uang, masing-masing duda dan janda cerai dengan permasalahan yang berbeda tentunya, namun secara klasik persamaannya sama-sama tidak cocok lagi dengan pasangan terdahulunya. Dari sisi pandangan hidup banyak hal yang mereka berdua cocok, pun hobi beberapa yang cocok, hingga mereka berdua membuat janji ketemu kala Chandris nanti cuti pada priode berikutnya.

Sesungguhnya, Chandris masih ragu apakah masih bisa mendapatkan ibu pengganti dari ibu kandung Rini dalam waktu dekat ini. Melihat perkembangan emosional Rini yang cepat dan sensitif itu. Tumbuh kembangnya terlampau cepat, sensitivitas emosionalnya melampaui usianya.

Dialog-dialog via telepon dan secara langsung bila field break dari kantornya sangat terasa betapa sensitivitas Rini sangat kuat dan tajam. Hingga kerap kewalahan dibuatnya dalam menjawab hal yang terkait berbagai hal, apatah lagi pada aspek durasi waktu pertemuannya yang ia sangat butuhkan.

Hal inilah yang membuat Chandris kerap disambangi rasa gundah yang menggunung lewat hari-harinya yang panjang di tempat kerja. Untungnya beberapa asistennya dapat membantunya dengan baik dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban yang mesti dilakoninya sebagai karyawan yang cukup disegani selama ini. Pikirannya kerap tak bisa fokus dalam pekerjaan walau nampak ceria dan enjoy saja. Dalam kesehariannya secara fisik ia cukup bisa mengantisipasi segala galau yang berkecamuk di dalam hatinya apatah lagi bila ia berhadapan dengan teman-teman sejawatnya, karena memang dasar pembawaannya ceria dan selalu enjoy selama ini. Kecuali beberapa asistennya, sedikit tahu tentang pekerjaan-pekerjaan yang biasanya ia kerjakan dengan baik tapi beberapa bulan terakhir kerapkali pekerjaannya dibantu oleh mereka yang sangat jarang melakukannya, kerena ia dikenal sebagai pekerja yang tekun dan ulet.

“Aku cuti besok, semoga kita bisa ketemu di kota pada hari ketiga cuti saya.”

“Kalau besok malam saja, bagaimana Chand?”

“Kayaknya, gak bisa, Din. Biasanya aku emong dan manjakan dulu Rini.”

“Bawa saja toh.. pas pada waktu kita ketemuan, supaya bisa kenal lebih dekat dan lebih akrab dengan Rini.”

“Sepertinya belum bisa, Din.”

“Ya.. sudah, kamu aja yang atur, semoga waktuku tidak tabrakan dengan kegiatan lainnya.”

“Semoga saja waktunya klop waktu yang  kumaksud.”

Saling berjawab di whatsapp antara, Chandris dan Dinda jadi mengambang. Di sana ada ego yang mulai berselancar. Chandris sulit menentukan sikap. Antara cintanya yang kuat pada anak semata wayangnya, Rini yang lahir dari hati dan kalbu terdalamnya. Sementara, dengan Dinda sudah mulai tumbuh benih-benih sukanya yang mulai merambat ke hatinya. Dua pilihan yang kerap memusingkannya, walau secara naluria pasti pilihan utamanya membahagiakan, Rini, putri cantik yang lahir dari darah dagingnya.

***

“Horreee… Papa pulang besok..”

Rini, memekik sembari berlari kearah kakeknya, setelah melemparkan hp-nya ke sofa. Kakeknya menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Pukul berapa besok bapakmu tiba, sayang?”

“Seperti biasa, Kek, sore, sekira pukul tiga.”

“Mau jemput di bandara atau tunggu di rumah saja?” Tutur kakeknya lembut.

“Jemput di bandara saja ya, kek”

“Oke, kalau gitu cepat bobo ya, agar bisa bangun pagi.”

Dialog-dialog sepenuh kasih dan manja antara kakek dan cucu ini saban waktu berlangsung nyaris tanpa jeda. Sebagaimana lazimnya, kakek dan Nenek lebih cenderung memanjakan cucunya apatahlagi bila sang cucu tak sesering sua dan serumah ibu-bapaknya. Rini, adalah cucu semata wayang berusia lima tahunan.

Perkembangan pisik dan psikologinya melampaui rata-rata anak-anak sebayanya. Hiperaktif dan sensitif. Ia tak mau diam, pergerakan fisik dan celoteh verbalnya paralel dan seimbang. Lantaran itu, kakek dan neneknya kerap kewalahan mengemongnya. Itu salah satu faktor, Chandris sebagai ayah single parent berpikir untuk resign dari tempat ia bekerja mengais nafkah selama beberapa tahun terakhir.

Waktu bersama, Rini anak semata wayangnya sangat singkat dibanding waktunya mencari nafkah di kampung seberang. Waktunya yang singkat bersama Rini, di waktu-waktu cutinya dibuatnya seberkualitas mungkin. Dia tidak mau ada waktu jeda yang mebuatnya terdapat ruang kosong dalam kebersamaannya. Termasuk, Dinda, yang telah dikenalnya dan dijadikannya kekasih. Pusaran cintanya saat ini berpusar pada, Rini. Dia sadar betul bahwa mencintai anaknya sebagai darah dagingnya, sabagai amanah yang diberi Tuhan yang maha cinta adalah representasi cintanya padaNya. Ia tak keliru dalam  memilah skala prioritas cintanya. Walaupun, Dinda pun telah menangkap cintanya yang selama ini hampa dibawa angin beliung terbang entah kemana.

Sebagaimana kebiasaannya selama ini bila Chandris sedang cuti, aktivitasnya rutin mengantar Rini ke sekolah. Menemaninya seharian penuh sejak bangun dari tidur hingga tidur kembali dengan rupa-rupa aktivitas, baik yang rutin, terencana dan yang spontanitas. Tapi, tak sedikitpun membuatnya bosan dan merasa jenuh. Justru semangat hidupnya semakin buncah bila anak semata wayangnya itu ada di sisinya dalam keadaan apapun.

Setelah tiga hari menikmati masa cutinya, Chandris rupanya tak kuat juga menahan gejolak cintanya pada Dinda. Dia mencoba menghubunginya untuk sua melepas kangen bersama yang selama ini ditahannya karena faktor pertimbangan Rini, dan soal gengsi untuk memulainya setelah menyampaikan keberatannya untuk ketemuan begitu tiba di kotanya karena alasan memanjakan Rini. Akhirnya janji ketemuan disepakati juga. Di sebuah sore yang ranum di tepi kota mungil itu terdapat sebuah kafe Tepi Kuala. Café yang berexterior dan interior indah. Terletak di tepi sungai yang berseberangan dengan hamparan persawahan yang luas.

“Hai Rini. Assalamu alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” Chandris mendahului sebab dia tahu, Rini tak langsung menjawabnya. Ia khawatir pertemuan pertama antara, Dinda dan Rini mengalami hambatan psikologis dan bermasalah. Padahal harapannya sangat besar bahwa pada pertemuan pertama ini akan menumbuhkan harapan-harapan yang baik untuk semuanya, agar kesungguhan untuk membawa, Dinda ke pelaminan tidak terkendala oleh hubungan antara Rini dan Dinda.

“Nama kamu, Dinda ya ?”

“Iya, lengkapnya, Dinda Asmaraloka”

“Kamu apanya Bapak saya”

“Temannya,” dengan suara terbata-bata, walaupun senyumnya tetap mengembang.

Sesungguhnya, Dinda berharap dengan menyebutkan nama lengkapnya “Dinda Asmaraloka”, Rini akan menyambutnya dengan kalimat, “namanya indah sekali”, seperti biasa bila berkenalan dengan siapa saja. Tapi, Dinda telat menyadarinya bila Rini itu masih berusia kanak yang belum paham keindahan arti sebuah nama.

Pertemuan pertama tiga anak manusia ini berlangsung sedikit kaku walaupun, Chandris dan Dinda berusaha menciptakan suasana secair-cairnya. Namun, Rini kerap mengajukan tanya yang tak terduga dan mengejutkan keduanya. Pertemuan yang tetap menyimpan gundah yang tak selesai.

Sebelum Chandris meninggalkan kotanya untuk kembali mengais nafkah di kampung seberang, seperti biasanya sejak mengenal Dinda, pertemuan keduanya tetap berlangsung dalam suasana romantis. Namun pertemuan kali ini, Chandris sedikit memaksa agar dirinya dipertemukan dengan keluarga Dinda. Paling tidak dengan Ibu dan Ayahnya serta saudara kandungnya.

“Kenapa harus ketemu sakarang,” ketus Dinda.

“Aku serius ingin menyuntingmu sebagai istri, dan menjadi bagian dari keluarga besarmu.”

“Oooo.. persis kalimat yang dulu diutarakan oleh mantan suamiku ketika ingin menyuntingku sebagai istri.”

Sontak Chandris tak bisa menahan rasa kesal dan kecewanya, walaupun tak diungkapkan secara verbal namun di wajah dan gestur tubuhnya memperlihatkan dengan sangat terang benderang. Ia kecewa berat dengan pernyataan kalimat pendek dari, Dinda. Tersinggung dipersamakan dengan mantan suami perempuan yang baru saja mebuatnya jatuh cinta. Karena marahnya Ia berjanji dalam hatinya untuk berusaha membunuh cintanya pada, Dinda, yang baru saja kuncup seumur jagung. Pertemuan yang awalnya romantis berakhir dengan hambar bak punama empat belas yang tertutupi awan pekat tanpa bintang-bintang.

Cinta.

Engkau ingin membunuhnya?

Tidak akan

Sebab, ia ilahia.

Yang mungkin mati.

Rasa suka kamu.

Sebab, ia fana.

Cinta.

Kasih Tuhan.

Berkecambah di situ.

Dalam perjalanan panjang menuju tempat ia mengais nafkah yang jauh di seberang, ia teringat sepotong puisi karya sahabatnya yang pernah ia baca di sebuah antologi. Hingga ia bimbang menarik garis tegas berkenaan dengan hubungannya dengan Dinda. Cinta kah? Atau suka kah? Bergelayut memenuhi ruang pikir dan hatinya. Galau dan gundah menemani langkahnya menuju kesibukan di kantornya keesokan harinya.

Kakek dan nenek Rini tidak kepalang bahagianya, kala suatu malam mereka bertiga berbaring di ruang keluarga sembari nonton tv. Rini berkisah tentang calon mama barunya yang mirip seorang presenter yang sedang mereka tonton di tv.

“Rini, pernah ketemu dengan calon mama kamu itu?”

“Tadi dia membawakanku kue di sekolah, Nek.”

“Ooo, ya. Orangnya baik dong?”

“Ya, iyalah, Nek,” mereka bertiga tergelak.

“Rini suka padanya?” Canda Kakeknya.

“Kan Rini, butuh mama, ya iyalah suka,” lagi-lagi mereka bertiga tergelak dan saling berpelukan.

Nenek dan kakeknya sudah pernah mendengar langsung dari ayahnya berkenaan calon Istri Chandris dan merasa cocok. Tapi ia khawatir tidak cocok dengan Rini. Padahal ia kadung jatuh hati. Hingga suatu waktu kala Chandris cuti lagi dan kembali ke rumahnya. Kedua orang tuanya menanyainya dan sedikit mendesak untuk melamar Dinda. “Tapi, nampaknya, Rini tidak suka, Dinda, Mak”

“Siapa yang bilang?” Celetuk ayahnya yang nguping tak jauh dari mereka.

“Sudah pernah kupertemukan, tapi Rini cuek dan ketus setiap perkataannya pada Dinda.”

“Dan lagi pula aku sudah bertekad untuk meninggalkannya. Biar aku hidup dengan Rini saja. Bahkan aku juga telah berpikir untuk resign dari kantorku.”

Berkenaan dengan resign dari kantornya, Ayah dan Ibunya juga juga sepakat karena Rini harus dekat dengan orang tuanya. Tapi perkembangan hubungan antara Rini dan Dinda, sama sekali tak diketahuinya.

Hingga di suatu hari libur, Rini mengajak bapaknya ketemu Dinda di tempat mereka pertama kali sua bertiga. Di sebuah cafetaria yang tempatnya romantis, di sebuah tepi sungai dan di sebelahnya terhampar sawah yang sangat luas.

“Papa, aku mau Dinda jadi Mamaku.” Bisik Rini dalam perjalanan menuju tempat janji ketemu antara Rini dan Dinda.

“Aku tak jadi membunuh cintaku,” gumam Chandris.

 


Sumber gambar: hipwee.com

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).