Hujan semakin menderas di luar sana, butiran hujan bersetubuh dengan kaca jendela kedai kopi ini. Ada pula rintik hujan jatuh menghunjam atap dan genting, sepersekian detik kemudian memunculkan suara khas. Aspal di luar sana telah basah dan menghasilkan aroma tersendiri, menyeruak dan menusuki penciuman, merangsang syaraf-syaraf untuk mereduksi ingatan di masa lalu.

Tepat dua tahun lalu, Arya Asnur, lelaki dengan tinggi 175 cm ini mendapatkan penolakan dari calon ayah mertuanya—Ghaza.

“Saya tidak bisa menerimamu  sebagai menantu,” sahut Ghaza. Sedangkan, anak gadisnya, Maharani hanya menangis tersedu, ia tak menyangka ayahandanya menolak niatan baik kekasihnya, Arya. Padahal sebelumnya, ayahnya senang bukan kepalang karena anak gadisnya akan dilamar sang kekasih.

“Kenapa Om menolak lamaran ini?” Arya memelas, Ghaza sejenak memandang perempuan cantik berwajah oriental di depannya, yang tak lain adalah ibunda Arya.

“Mari kita pulang,” sahut Ghaza kepada anaknya, ia berlalu meninggalkan Arya dan ibundanya. Sedangkan lelaki berkulit putih itu tertunduk lesu, ada beningan mata yang akhirnya tidak terbendung, jatuh memenuhi pipinya. Sedangkan ibundanya hanya mengelus punggunng Arya mencoba menguatkan Arya.

“Silakan, mau pesan apa, Kak?” seorang pramuria datang menghampiri Arya, di dadanya tertera nametag. Tiara. Arya memesan cappuccino, kopi yang memiliki komposisi ¼ espresso dan ¾ susu dan buih. Tak berselang lama, seorang lelaki berkacamata dengan wajah datar menghampirinya, di dadanya tertera nametag Ade Rahim. “Ini pesanannya, Kak,” sahutnya dengan nada yang teramat datar.

Arya mencicipi cappuccino itu, aromanya membawa ingatannya ke masa lalu, sebuah masa kala ia telah berumur 17 tahun.

“Ibu, jujur deh, ayah itu mana sih? Kenapa ibu selalu menghindar kala saya bertanya siapa ayahku?” memang benar, ketika SD, SMP, dan hingga SMA, Arya tak mengetahui gerangan ayahnya, bagaimana rupanya, ia hanya mengetahui bahwa ayahnya bernama George Enos Surya, itupun karena di biodata rapornya tertera demikian. Hingga pada akhirnya, ibunda Arya tak kuasa menahan rasa penasaran anaknya, dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arya melihat ibundanya menangis tersedu-sedu.

Arya kembali mencicipi cappuccinonya, ia memandang seorang lelaki yang berdiri di atas panggung, di belakangnya berdiri dua orang perempuan dan dua orang lelaki. “Selamat sore pengunjung kedai kopi sekalian, hari ini kami mencoba menghangatkan sore yang hujan ini dengan suguhan musik. Sebelumnya perkenalkan kami dari Good-Name Band, sekumpulan siswa-siswi SMA yang hoby mengamen dari kedai kopi ke kedai kopi, saya Agym sebagai vokalis, Dhea pada instrumen gitar, sedangkan yang cantik itu bernama Indy tukang pukul drum, Fauzan dan Iqbal pada bass dan saxophone. Di sore yang sendu ini, kami akan membawakan lagu dari Hindia-Secukupnya…”

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?
(Renggang)
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang
Di esok hari

Arya memerhatikan seksama penampilan band tersebut, sesekali matanya mencuri  pandang pada sesosok gadis yang memainkan gitar, sang vocalis begitu apik membawa lagu tersebut. Alam pikiran Arya kemudian berkelana ke masa lalu, ke masa kala ibundanya menangis tersedu-sedu.

“Maafkan Bunda, karena selama ini telah berbohong kepadamu, sebenarnya….”

Arya tertunduk lesu, ia seakan ingin menghapus memori itu, tapi memori itu begitu melekat diotaknya, ia merasa dunia tidak begitu adil baginya. Kala fakta itu terungkap, ibundanya adalah seorang Tionghoa yang menjadi korban pemerkosaan kala huru-hara 1997-1998, huru-hara menjelang kejatuhan Soeharto. Ibundanya menceritakan pengalaman mengerikan itu, kala ia masih gadis sedang pulang dari sekolah, menuju rumah, dan saat itu kawasan pertokoan dan pemukiman tionghoa dijarah, termasuk kediamannya. Ia berlari menuju rumuahnya yang atapnya dilahap si jago merah, belum sempat ia menggapai rumah yang dilahap si jago merah, ia secara tak sengaja menubruk seorang lelaki yang cukup muda, wajahnya teduh tapi tatapan matanya seperti elang yang hendak membunuh mangsanya.

Wisata masa lalu
Kau hanya merindu
Mencari pelarian
Dari pengabdian yang terbakar sirna
Mengapur berdebu
Kita semua gagal
Ambil s’dikit tisu
Bersedihlah secukupnya

Apakah satu kebetulan? Tapi memang demikian nyatanya, hujan yang sendu dan musik dengan lirik tajam mengena tepat dijantungnya. Arya mengambil tisu sebagaimana lirik lagu tersebut, namun ia tak mampu bersedih secukupnya. Lelaki yang bersedih itu meminum secangkir cappuccino, lalu mereduksi ingatannya di masa lalu, masa kala ia kuliah bersama kekasihnya, Maharani.

“Oke, saya sudah bagi kelompok yah, tugas kalian sederhana, sebagaimana yang ibu jelaskan,” sahut Ibu Vivi—dosen cantik yang dikenal ahli dalam Sejarah Tionghoa dan Sejarah Sosial Politik.

“Syukur kita bisa  satu kelompok, Maharani,” Arya menggoda kekasihnya. Sang kekasih menunjukkan ekspresi menggemaskan. “Tahu aja nih, Bu Vivi kalau kita kasmaran,” sahut Arya. Mereka mengerjakan tugas dari Ibu Vivi, sebuah tugas untuk mengurai peranan mahasiswa dalam menjatuhkan Soeharto.

“Wah asyik nih, sepasang kekasih satu kelompok, hei Maharani, hati-hati dengan Arya, wajahnya saja innocent, tapi kelakuannya bejat,” sahut Galuh yang tentunya dibalas Arya dengan tamparan tepat di kepala.

“Brisik lu!” seru Arya.

“Sudah, guys. Kamu bisa bantu saya kan Arya, tugas saya dari Ibu Vivi untuk mengungkapkan korban kerusuhan tahun 1998, terutama yang dialami masyarakat Tionghoa, kalau mengandalkan si brengsek Galuh ma’ itu perbuatan sia-sia” sahut Anugrah Yemima.

Sesaat raut wajah Arya berubah, ada rasa kekesalan yang terpatri di wajahnya, bukan karena omongan Galuh, namun permintaan tolong dari Yemima untuk membantunya mencari bahan papper tentang kekerasan yang dialami masyarakat Tionghoa di akhir masa kejatuhan Soeharto.

“Nanti biar saya bantu,” sahut Maharani kemudian menggenggam jemari Arya.

Semua yang sirna ‘kan kembali lagi
Semua yang sirna ‘kan nanti berganti

Sang vocalis dengan apik menyanyikan lagu Hindia berjudul Secukupnya, sedangkan cappucino di cangkir yang digenggam Arya sisa seperempatnya, hujan di luar juga mulai mereda. Arya masih tidak habis pikir mengapa ayah Maharani menolak lamaran itu, padahal kala pacaran, ayah Maharani, Ghaza sangat respect dengannya, lelaki yang sorotan matanya mirip elang itu sangat menyukainya, bahkan ia pernah berujar ingin memiliki menantu yang baik seperti Arya. Demikian pula dengan Ibunda Arya, ia sangat senang dengan perangani Maharani. “Wah calon menantu ibu cantik sekali,” sahut Ibunda Arya kala Arya membawanya ke kediaman ibundanya.

Tapi Arya tak habis pikir, ketika para orang tua bertemu, ketika ayah Maharani bersua dengan Ibunda Arya, penolakan pun muncul. Sungguh sebuah sikap yang berkebalikan.

Hujan kini telah reda, lagupun telah habis, demikian pula dengan secangkir cappucino yang telah dipesan. Arya berjalan lunglai ia yakin, Maharani juga merasakan hal yang sama dengannya, perasaan bingung atas penolakan yang tak beralasan.

***

Di tempat lain, Ghaza mendatangi kuburan istrinya, di sana telah berbaring wanita cantik bernama Clara. Lelaki yang wajahnya teduh itu menangis di hadapan pusara istrinya. “Clara, saya menerima amarah Tuhan kepadaku, setelah kepergianmu, kukira dosa yang kubuat akan sirna, ternyata itu belum cukup untuk menghapus dosa yang kubuat di masa lalu, kini Tuhan mengirimkan karma melalui perempuan yang telah kunodai di masa lalu. Clara, ia datang, bersama anak lelakinya yang hendak melamar anak kita….”

 


 

k0

ditulis oleh

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM dan S2 Program Pascasarjana UNM pada Prodi IPS Konsentrasi Pendidikan Sejarah. Pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan kini sebagai seorang pengajar di SMAN 3 MAKASSAR