“Suasana tahun baru 1994 di Kapal Umsini riuh seperti layaknya pesta ganti tahun. Saya tidak meninggalkan deck tempat saya tidur. Saya terganggu dengan sebuah artikel yang mengulas tesis Samuel P. Huntington. Saya menganggap ini penting karena artikel itu dimuat di sebuah jurnal terkemuka saat itu, Ulumul Quran. Kaum kapitalis kini hendak membuka front baru tatkala merasa telah digjaya menggulung kekuatan kaum komunis dengan runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet.

Catatan di atas adalah sebagian coretan saya ketika masih aktif di HMI Koordinator Komisariat Universitas Hasanuddin.  Kritik ideologi menjadi bagian dari denyut gerakan kampus saat itu. Fakta kesenjangan yang dibuka oleh Orde Baru amat jelas. Ketidakpuasan rakyat luar Jawa atas ketimpangan pembangunan menjadi bahan perbincangan sehari-hari. Kapitalisme menjadi ideologi yang ditampilkan sebagai pesakitan.

Persepsi itu terpelihara sampai selesainya reformasi politik di Indonesia, Mei 1998. Hampir tidak ada pembelaan yang memadai dari pendukung tesis Huntington tentang kemenangan kapitalisme terutama di kalangan aktivis. Tiga tahun kemudian, Juan J. Linz dan kawan-kawan menulis buku yang cukup provokatif berjudul “Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat”. Linz menguliti demokrasi sebagai sistem yang dipercaya oleh prinsip demokrasi untuk mengatur keadilan sosial.

Namun tak berselang lama, saya melihat buku berjudul “Membela Kapitalisme Global”. Bahkan penulisnya pun tak saya baca. Saya secara apriori menganggap buku itu adalah kumpulan pemikiran yang ngawur. Kebencian terhadap kapitalisme sudah demikian mengakar dalam pikiran saya. Sampai suatu hari di sebuah kampus, saya menemukan buku itu lagi. Johan Norberg, penulis muda (saat itu) dengan amat percaya diri membuka diskursus untuk membela konsep kapitalisme. Bertambah lagi satu naskah yang mencoba menguatkan tesis Huntington. Baginya, kapitalisme adalah berkah, bukan sesuatu yang perlu dimusuhi.

Delapan tahun kemudian, majalah Prisma terbit lagi. Edisi yang berjudul “Senjakala Kapitalisme dan Krisis Demokrasi” membaca kapitalisme sebagai suatu eksperimentasi tata kelola kesejahteraan sosial yang justru membentangkan kesenjangan. Tentu saja ini terkonfirmasi dengan kasus resesi yang melanda Amerika Serikat sekitar sepuluh tahun lalu. Wall Street sebagai pusat perguliran modal dan dapat disebut sebagai simbol kapitalisme dunia pernah mengalami goncangan yang amat dahsyat. Banyak pihak sudah membuat pernyataan tentang perlunya mengevaluasi secara serius konsep kapitalisme.

Namun yang terjadi justru menyimpang dari perkiraan tersebut. Goncangan yang sangat dasar pada sendi-sendi kapitalisme tidak segera menyebabkannya terkubur. Alih-alih terkubur, justru kemampuan kapitalisme merajai kehidupan dalam berbagai medan kini terlihat jelas. Setidaknya, kritik atas menganganya kesenjangan memang tak dapat dijawab dengan baik oleh konsep kapitalisme tersebut namun tawaran dari konsep sosialisme atau basis ideologi lain belum kunjung dapat menyetarainya.

Mungkin gagasan Norberg dalam buku Membela Kapitalisme Globa” ini kembali perlu ditelaah secara hati-hati, jernih, dan lebih teliti. Pasalnya, Norberg memiliki tinjauan yang cukup menarik. Ia menyajikan banyak data mengenai perkembangan dunia dalam kurun 1968-1998. Baginya, kapitalisme bukan seperti yang dibesar-besarkan oleh kritikus ideologi yang bertengkar selama ini, baik yang pro maupun konra. Norberg antara lain menyatakan, “Kapitalisme yang saya maksud bukanlah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikan model dan sistem investasi, sebab hal tersebut juga dapat dijumpai dalam ekonomi yang terpimpin.”

Sebenarnya jika kita ingin melihat rangka dasar kapitalisme, ia tersusun oleh dua prinsip besar; individualisme dan liberalisme. Keduanya lahir berurutan dan sekuensial. Sesudah individualisme maka muncullah liberalisme. Kapitalisme memiliki idealita mengenai kebebasan dan kesempatan yang sama tanpa intervensi sama sekali. Itulah kapitalisme yang dibela oleh Norberg. Hampir sepanjang uraiannya dalam buku Membela Kapitalisme Global tersebut berbicara tentang kebebasan berusaha dan fakta-fakta tentang manfaatnya dalam peningkatan kesejahteraan manusia.

Menurut Norberg, konsep pertumbuhan ekonomi yang banyak dikritik, termasuk oleh kaum environmentalism yang menghendaki kelestarian dan keberlanjutan Sumber Daya Alam (SDA) adalah sesuatu yang salah kaprah. Memang benar bahwa ada eksploitasi dalam konsep pertumbuhan ekonomi tersebut, namun sebenarnya, kekuatan permodalan sangat mudah melakukan kompromi dengan suatu model valuasi ekonomi lingkungan hidup yang rasional dan terukur. Mungkin di sinilah Norberg yakin bahwa kapitalisme harus dibela. Kerusakan lingkungan menurutnya justru lebih banyak terjadi pada negara komunis dibanding negara kapitalis. Boleh juga ditambahkan bahwa negara yang tidak menerapkan kapitalisme seperti sesejati-sejatinya kapitalisme itulah yang akan mengancam lingkungan hidup.

Kapitalisme tidak datang untuk kaum kaya, melainkan memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk kaum miskin juga demi mengakses kesempatan berusaha yang sama. Tentu saja harus merangkak dalam tangga-tangga ekonomi dari dasar. “Dalam ekonomi pasar yang dinamis juga terdapat mobilitas sosial. Seseorang yang  miskin hari ini tidak mesti miskin esok. Ketiadaan hak istimewa yang legal dan pajak tinggi akan meningkatkan peluang orang dalam meningkatkan standar hidupnya melalui kerja keras, pendidikan, dan penghematan. Empat perlima jutawan Amerika memeroleh kekayaan melalui usahanya sendiri, dalam perbandingannya dengan mereka yang menjadi kaya berkat warisan,” tulis Norberg.

Pada pertengahan uraiannya, emosi seorang Norberg tidak dapat ditahan, nampaknya. Ia dengan amat menggebu menyatakan bahwa kebebasan inilah yang seharusnya disebut keadilan. Keadilan bukan distribusi yang diatur oleh otoritas diktatur. Memang Norberg sepertinya belum keluar dari diskursus bipolar antara kapitalisme dan sosialisme. Ia membantah juga mengenai ketimpangan distribusi. Baginya, kemiskinan yang terjadi pada banyak penduduk dunia yang miskin bukanlah akibat sebagian kecil yang kaya. Nampaknya ia juga tak setuju mengenai pemiskinan struktural melainkan gagalnya memanfaatkan kebebasan berusaha yang disiapkan oleh sistem kapitalisme ini.

Pemiskinan struktural memang bukan lahir dari adanya orang kaya, melainkan pada korupnya penguasa yang memiliki akses terhadap distribusi ekonomi dan investasi yang berada dalam otoritasnya. Inilah yang amat terasa emosinya dalam penjelasan-penjelasan Norberg. Kebijakan proteksi yang diterapkan berbagai negara dengan sistem kapitalis, menurut Norberg menyalahi pikiran dasar kapitalisme. Proteksi hanya akan menekan ekonomi dalam negeri untuk menemukan persaingan yang lentur dan ketahanan masa depan. Norberg tak luput membaca kasus bisnis kendaraan bermotor era Soeharto di Indonesia yang hanya mempergulirkan kekayaan dan permodalan di sekeliling keluarga presiden saja. Ini menjadi penjelasannya mengenai sistem proteksi.

Serangan lain kepada sistem kapitalisme adalah kelembagaan ekonomi dan perkreditan dunia. World Bank dan International Monetary Fund (IMF) sering disebut sebagai biang kerok krisis di berbagai negara. Pasalnya, lembaga-lembaga tersebut sering menyertakan berbagai syarat seperti, anggaran dana seimbang, inflasi rendah, persaingan yang terbuka, pasar terbuka, korupsi yang menurun, penguatan penegakan hukum, serta pengurangan anggaran militer untuk dialihkan ke pendidikan dan kesehatan. Melihat hal-hal yang lazim disebut sebagai rekomendasi World Bank  dan IMF sebenarnya bukan suatu yang buruk. Mengapa di negara berkembang rekomendasi itu dituding sebagai intervensi? Memang lembaga donor tersebut melakukan intervensi untuk memberi jaminan kembalinya piutang secara normal, alias kegagalan negara penghutang membayar hutangnya. Kegagalan membayar hutang umumnya disebabkan oleh kesalahgunaan atau adanya pemanfaatan hutang yang salah sasaran. Ambil contoh, korupsi dan kekeliruan prioritas pilihan pembangunan. Kalau negara penghutang mengalami lilitan korupsi ataupun kekeliruan memilih prioritas pembangunan maka apakah kapitalisme juga yang harus disalahkan?

Ketika kritikus kapitalisme bernama E.F. Schumaker menggaungkan konsep bahwa teknologi sederhana dan tepat guna jauh lebih bermanfaat dan dibutuhkan dibanding yang canggih dan rumit, maka Norberg menyatakan pembelaannya. Schumaker menyatakan bahwa kecil itu indah, sedangkan Norberg menegaskan bahwa besar itu indah. Monopolilah yang harus ditakuti, bukan ukuran dan tingkat kerumitan. Begitulah sekali lagi Norberg menyatakan pembelaan terhadap kapitalisme, dan sekali lagi, kesan saya terhadap Norberg bahwa kapitalisme yang benar adalah kesungguhan untuk menjalankan asas liberalism. Jika dicampur dengan kecurangan, maka kapitalisme hanya tertinggal cangkangnya, dan kehilangan isinya.

Buku ini dipungkasi oleh suatu pernyataan yang menurutnya menjadi tulang punggung kesalahan dalam memaknai kapitalisme. Kaum kapitalis keliru menjalankan kapitalisme sehingga menimbulkan ketidakadilan, demikian juga kaum antikapitalis salah kaprah menohok kaum kapitalis yang salah tersebut sebagai representasi konsep kapitalisme. Ia seolah ingin berteriak, “Hei, kapitalisme bukanlah standarisasi, melainkan liberalisasi!” Sambil mengutip kisah Halimah seorang penjual telur yang terhindar dari kecurangan setelah ia memiliki akses untuk mengetahui harga asli telur di pasaran. Ini memperlihatkan bahwa akses informasi secara bebas adalah kontribusi besar kapitalisme terhadap umat manusia.

Di sinilah saya merasa perlu memaklumi kapitalisme. Namun demikian, ini bukanlah suatu permakluman yang mati sehingga saya tidak menyisakan suatu diskursus untuk mengembangkannya menjadi penemuan lain dalam hakikat keadilan yang sebenarnya menjadi buhul utama problem ideologi ini. Norberg sendiri telah memberikan sebuah cara pandang sejak awal tulisannya. Ia mengakui bahwa pertanyaan mendasar mengenai manusia, masyarakat, dan kebebasan ternyata lebih rumit daripada yang dulu ia yakini. Artinya, segala diskursus dalam polemik kapitalisme global adalah bentuk reaksi manusia atas pandangan dunia. Wallahu a’lam.

Judul Buku: Membela Kapitalisme Global

Penulis : Jihan Norberg

Penerjemah: Arpiani dan Sukasah Syahdan

Penyunting: Sukasah Syahdan

Penerbit: Freedom Intitute

Terbit: 2001

Halaman: 432+XLVI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ditulis oleh

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit). Kiwari, beliau Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi (STAIMI) Depok, Jawa Barat, Periode 2020-2023.