Tiara, Pramuria di sebuah kedai kopi sedang memandangi gawainya, ia menunggu pesan dari kekasihnya, Muhammad Adhe Rifki. Sejak sejam lalu ia meminta sesuatu kepada kekasihnya,

“Bubu [panggilan sayang Tiara ke kekasihnya], udah makan belum? Kamu mau nggak saya bawakan paha ayam sama choky-choky? Nanti sepulang kerja saya singgah belikan makanan kesukaanmu. Oh iya, kamu mau bantu saya, kan? Kerjakan tugas sekolah saya? Bubu tahu sendiri kan kalau saya juga sekolah sembari kerja? Mama butuh biaya untuk berobat.”

“Tiara!” seorang lelaki berkacamata memanggilnya, ia Ade Rahim, partner kerjanya.

“Kamu bawakan pesanan ini ke meja 6, meja yang sana,” sahut Ade Rahim dengan ekspresi datar, sembari menunjuk sebuah meja yang dikuasai empat orang, sepasang muda-mudi dan seorang perempuan cukup berumur dan lelaki berwajah teduh, namun sorotan matanya mirip mata elang.

Tiara mengangguk, dan membawa nampan tersebut, menuju meja nomor enam. Di sana ia melihat seorang lelaki yang tertunduk lesu, adapun gadis di depannya nampak sedih, begitu jelas dari beningan matanya, mungkin benar kata pepatah, mata adalah jendela hati, dan jendela hati itu nampak terbuka lebar, Tiara mampu melihat kesedihan terpancar dari hati perempuan cantik itu. Tiara menaruh makanan di atas meja, sejurus kemudian ia pergi bersama sayup-sayup percakapan, “Om kenapa menolak lamaran saya?”.

Sepersekian detik kemudian, sayup-sayup juga terdengar sebuah suara dari speaker yang tertanam di langit-langit kedai kopi.

For all the things i didn’t do

            And all the love that haven’t got to you

            I’m sorry

            I Wish i could turn back the time

And let you know

I Never meant to hurt you

I’m Sorry

 

“Pas banget suasana dan lagunya,” sahut Tiara dalam hati, berlalu bersama lagu sendu dari Pamungkas – I’m Sorry.

Di ruang ganti karyawan, ia masih memerhatikan gawainya, pesan WA yang dikirimkan masih terceklis dua, hingga beberapa saat ceklis dua itu beruba menjadi biru, ada senyuman menyungging di wajahnya.

“Iya, thanks sebelumnya, kamu kerja di sana yang rajin yah, jangan nakal! Maaf kan saya yang belum bisa membantu semampumu, kamu tahu sendirikan? Saya berantem dengan Papa-ku dan diusir dari rumah, oh iya andai hubunganku dengan Papa tidak renggang, saya pasti membantumu untuk mengobati Mama-mu. Oh iya masalah tugas sekolah? Gampang, kirim saja soalnya.”

Sejenak, Tiara menyeka beningan mata yang jatuh, ia kadang tak habis pikir mengapa Papa kekasihnya, Rifki, berbuat demikian? Mengusirnya.  Tapi ia sebagai kekasih akan maklum, ketika mendengar bahwa Rifki berontak pada Papa nya lantaran ia tak mau dijodohkan.

“Bubu! Kenapa kamu kabur?” tanyanya pada satu malam kala ia dan Dhea, sahabatnya bertemu di salah satu kedai kopi, di sana juga nampak Rezky Mahmud.

“Saya kabur karena Papa hendak menjodohkan saya dengan seorang perempuan yang tak pernah kutemui, dan saya tidak mau, bagiamana bisa saya harus mengkhianati cinta yang telah kita jalani selama delapan bulan ini?”. Rifki menggenggam jemari kekasihnya dengan erat. Dhea hanya menyaksikan momen tersebut, walaupun ada sesak di dalam hatinya, sedangkan Rezky memasang ekspresi seolah mau muntah.

“Bucin!” seru Rezky, “Kamu sementara nginap di rumahku saja, apalagi Ayah dan Mamaku sudah akrab sama kamu, bahkan dititik tertentu sudah menganggap kamu sebagai anak,”.

Selama delapan bulan, Tiara mengetahui bahwa kekasihnya orang yang kaya, orang berada, walaupun demikian ia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua Rifki. Ia mencintai kekasihnya bukan karena materi, jikalau masalah materi? Mungkin ia akan berpacaran dengan Fauzan, lelaki tajir melintir nan tampan yang sering dijuluki Playboy Cap Tikus.

Tiara kemudian mengetikkan sesuatu di gawainya, ia mengirimkan pesan berupa tugas dari gurunya. Bubu, minta tolong yah? Ini kamu kerjakan, Gerakan Reformasi tahun 1998 memiliki agenda, sebutkan dan jelaskan!

Malam semakin larut, satu persatu pengunjung kedai mulai beranjak, hingga arloji—pemberian kekasih—di pergelangan tangan Tiara menunjukkan pukul 23.56. “Kamu sudah ada yang antar?” tanya Ade Rahim dengan ekspresi datar. Seperti biasa, Tiara menggeleng.

“Yah udah, saya antar kamu ke rumah.”

Sepanjang perjalanan, hanya kesunyian yang menemaninya, hingga Ade Rahim membuka suara. “Kamu bisa kan perkenalkan saya dengan Dhea, sahabatmu itu?”. Tiara lantas tertawa kecil dan menjelaskan kepadanya bahwa Dhea sedang berpacaran dengan seorang lelaki bernama Rezky.

Ade Rahim hanya ber-o panjang, dan sejurus kemudian, perempuan berambut lurus ikal bergelombang itu sampai pada rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Ada taman kecil dan pohon mangga rindang di sana.

“Assalamualaikum,” suara salam yang lirih itu memenuhi ruang tamu dan Tiara berjalan menuju pada sebuah kamar, di sana ia mendapati ayahnya—Galuh—sedang menggenggam jemari ibunya yang terbaring lemah—Yemima Lembayung.

“Waalaikumsalam, kamu baru pulang selarut ini?”

“Iya ayah,”

“Jaga kesehatanmu, Nak. Tidur sana cepat,” sahut Galuh.

***

Rifki berjalan gontai  di antara selasar sekolah, di usia terbilang sangat muda, pikirannya begitu disesaki pertanyaan-pertanyaan. Mengapa ayahnya begitu memaksa-nya untuk menikah? Toh ia terbilang sangat muda, baru menginjak bangku kelas 12 SMA. Ia berjalan ke kantin dengan rona-aura yang lusuh nan kuyu.

“Kamu kenapa?” tanya Rezky, dan di sampingnya ada Dhea.

“Papa, kirim pesan. Katanya Mama sakit keras gegara saya berontak, Kak Indy dan suaminya juga sering kirim pesan WA, mengabarkan kondisi Mama yang drop dua minggu ini.”

“Sudahlah, Rifki. Jangan keras kepala, kamu boleh benci ayahmu, tapi ibumu jangan. Gini aja deh, entar sore kita ke rumah mu, oke?!”

***

Di WC perempuan, di tempatnya kerja, Tiara menangis tersedu-sedu, semalam ia menerima pesan dari kekasihnya, sebuah pesan yang membuat hatinya remuk redam. “Kita putus! Walaupun pahit, tapi saya harap kamu mengerti, kemarin Mama telah tiada, Papa mengatakan bahwa saya harus melaksanakan wasiat Mama, untuk menjodohkan ku dengan putri teman kuliahnya dulu. Saya tidak bisa menolak, ini bakti terakhirku pada Mama, pekan depan Papa akan mengantarkanku ke rumah gadis yang dijodohkan kepadaku. Tiara, kekasihku, sayangku. Mungkin nama kita tidak bisa bersanding di buku nikah nanti, namun yakinlah, di hatiku hanya terukir namamu.”

Pesan itu diakhiri dengan emoticon sedih, sebagai manisfestasi dari kesedian yang dialami oleh sepasang kekasih ini.

***

Sudah enam hari, Tiara memutuskan mengelabui orang tuanya, ia mengenakan pakaian sekolah lalu berbelok menuju tempat kerjanya.. Alasan Tiara tidak ke sekolah karena ketak-sanggup-an-nya melihat wajah mantan kekasihnya, Rifki. Walaupun demikian, Tiara mampu menyembunyikan kesedihannya di tempat kerjanya. Ia tetap melayani para pelanggan dengan begitu ramah, seolah tak ada yang terjadi padanya. Hanya seorang Ade Rahim yang mampu mengetahui bahwa Tiara sedang sedih.

“Tiara, kamu sebaiknya izin dulu deh sehari, kamu nampaknya butuh refresing,”

“Saya baik-baik saja, saya sedang tidak butuh liburan,”

“Tapi dari auramu nampak kamu sedang sedih, kamu tahukan saya ini mahasiswa Psikologi?gerak-gerik dan mimik wajahmu begitu jelas menunjukkan kalau kamu sedang tertekan, sedang ada masalah yang menimpa,”

***

Pagi itu, di sabtu yang sendu, ayah Tiara, Galuh, meminta anaknya untuk tidak pergi bekerja, suatu kebetulan karena Ade Rahim telah me-lobby bos nya untuk memberikan ia cuti untuk satu  hari.

“Kamu dandan yang cantik, kita akan kedatagan tamu sebentar siang, dia adalah teman kuliah ibumu dulu, yah sahabat ayah juga sih. Oh iya kamu dandani juga ibu dengan cantik yah, kursi rodanya ada di dekat lemari.

Tiara hanya menurut saja dengan ayahnya, memang Tiara adalah anak yang penurut, ia berdandan secukupnya, lalu memakaikan pakaian terbaik untuk ibunya. Ibunya nampak anggun dengan atasan dan bawahan putih, sederhana namun anggun.

Tiara, Galuh dan istrinya—Yemima, berkumpul di ruang tamu. Sejurus kemudian suara deru mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Galuh beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan keluar rumah dan bertemu dengan seorang lelaki. “Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya istrimu,”

“Terimakasih, sobat,” sahut lelaki itu kemudian menghadapkan wajahnya ke luar pintu dan memanggil nama seseorang. Nama yang tak begitu asing di telinga Tiara.

“Rifki, sini, Nak masuk.”sahut lelaki itu, dan dari balik pintu Tiara melihat sesosok pria yang tak begitu asing baginya….

ditulis oleh

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM dan S2 Program Pascasarjana UNM pada Prodi IPS Konsentrasi Pendidikan Sejarah. Pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan kini sebagai seorang pengajar di SMAN 3 MAKASSAR