Tuhan Tak Berumah?

Bak permainan sepak bola, situasi terkiwari, akibat pandemi global Covid-19, penerapan keberjarakan sosial dan fisik, sudah memasuki babak kedua. Pasalnya, dua pekan pertama, belum memadai merumahkan orang, meski di rumah sendiri. Akhirnya, ditambah dua pekan lagi. Jika babak kedua ini tidak efektif, alias masih seri, maka kemungkinan perpanjangan waktu sudah menanti.

Sebagai orang yang awam dalam soal agama dan kesehatan, saya langsung mematuhi fatwa resmi kaum agamawan dan imbauan pemerintah. Tidak ikut berkerumun, termasuk dalam soal berjemaah di masjid. Jumat kali ini, merupakan Jumat keempat, saya mengganti salat Duhur di rumah. Termasuk tidak ke mesjid salat wajib secara berjemaah. Keawaman saya, mesti ditebus kelantipan pada kepatuhan.

Pun juga dengan penganut agama lain. Setiap pemukanya menganjurkan agar menghindari kerumunan. Mungkin baru kali ini, semua penganut agama harus menyepikan diri. Padahal selama masa kuncitara ini, ada beberapa peringatan hari besar keagamaan. Plus ibadah akbar mingguan.

Pada sepi berjemaah ini, saya mulai mengadu pada senyap di jalan sunyi. Ada tanya membuncah, “Mungkinkah Tuhan tak ingin ditemui di rumah-Nya?” Soalnya, semua rumah-Nya, mulai dari yang agung bin megah, raya nan mewah, hingga yang paling sederhana dikuncitara.

Sepertinya Tuhan enggan dijumpai beramai-ramai. Lebih ingin dintimi secara personal. Persona menemui-Nya secara pribadi. Mendekat satu per satu. Persoalannya menjadi rumit pada setiap orang, akankah keakraban beramai-ramai selama ini, hasratnya sama tatkala sendirian? Adakah gelora personal melangit dalam pemujaan dan membumi di penghambaan?

Mungkin keasyikannya ibadah berjemaah itu, saya ilustrasikan, waima pasti tidak persis. Ibaratnya, orang beramai-ramai nonton permainan sepak bola di stadion atau nonton bareng di tempat pavorit, sungguh masyuk. Gairah dan gelora melambung. Tetiba berubah harus menonton dalam kamar. Sendirian di depan televisi, siaran tunda pula.

Betapa tidak menarik bukan? Apatah lagi saat ini, seluruh kompetisi sepak bola dikuncitara pula. Tiada siaran langsung. Terpaksa mengulang-ulang seabrek pertandingan, mulai dari kompetisi paling mula hingga kiwari. Namun, bagi penikmat bola, meski pertandingan itu hanyalah pengulangan, selalu saja ada sensasi dari setiap kali menonton. Mungkin tidak masyuk tapi khusyuk.

Beribadah pun demikian, kayak tak asyik bila sendiri-sendiri. Sebab, di rumah ibadah, tempat Tuhan bisa ditemui, penuh sensasi. Mulai dari para penganjur kebenaran dan kebaikan di mimbar, amat otoritatif menguarkan suara Tuhan. Janji surga dan ancaman neraka. Pun para penghadir, akan merasa beramal maksimal dan berlipat ganda ganjaran, tatkala mengisi kotak amal.

Setali tiga uang dengan pasar, toserba, dan mal. Akan tersalurkan hasrat konsumerisme saat belanja bareng, membeli beramai-ramai. Bandingkan dengan belanja sendiri di pedagang keliling, yang jualannya nyaris itu-itu saja. Tak bisa saling membandingkan hasil belanjaan. Padahal, asyiknya belanja itu, ketika saling memperlihatkan hasil buruan. Tak terkecuali di kafe, setiap orang ingin mengunjukkan menunya. Selera makan turun, bila makan sendiri-sendiri.

Mungkin inilah jawaban, dari mengapa orang masih sulit dicegah ke rumah Tuhan, pasar dan serumpunnya, yaitu: masyuk di keramaian. Ramai adalah kunci.

Tetiba saja saya teringat dengan satu maksim, “Ramai dalam kesunyian, sunyi di keramaian.” Kata bertuah ini seolah merundung para pemburu keramaian dan memuja pencari kesunyian. Betapa tidak, orang yang berada dalam keramaian tapi mengalami kesunyian, keterasingan, dan keterbuangan. Masyuk nirkhusyuk.

Sebaliknya, orang yang bermukim di kesunyian tapi menjumpai keramaian. Mukimnya mengantarkan pada makam keindahan diri dan semesta. Takjub pada jagat dan Penciptanya. Cakrawala akan ditelannya, bukan termangsa cakrawala. Keberadaannya meramaikan buana. Menjadi episentrum putaran dan pusaran kehidupan. Hidup mewujud pada aneka makna. Masyuk khusyuk.

Ketika suasana masyuk khusyuk ini menghidu saya, menyatalah pikiran nyeleneh. Boleh jadi virus covid-19 adalah tentara tuhan yang dikirim oleh-Nya, untuk menghalau para penyembahnya yang terjebak dalam keramaian. Beternak keterasingan, keterbuangan, dan keformalan. Tuhan ingin diakrabi di rumah-rumah hamba-Nya, yang sepi dari manifestasi cahaya-Nya. Terlebih lagi, mau dintimi dalam rumah diri, di kedirian sari diri setiap hamba.

Mengapa demikian? Sebab selama ini, jebakan formalitas keberagamaan lebih dominan. Manusia membanggakan religiositasnya. Lebih suka membangun dan merawat simbol-simbol Tuhan, rumah-Nya. Abai meningkatkan spiritualitasnya. Enggan mendekati-Nya secara personal. Spiritualitas akan menghamparkan karpet merah pada-Nya. Sementara, religiositas hanya menyediakan sajadah menuju rumah-Nya.

Sikap religiositas selama ini, tumbuh subur dalam keramaian sosial. Karenanya, spiritualitas datang menginterupsi agar meninggalkan keramaian. Berjarak secara sosial dan sekaligus fisik. Namun, kerekatan sosial dan fisikal, menemukan aktualisasi barunya, berupa solidaritas sosial. Spritualitas seseorang akan membimbing hidup soliter menuju solider. Sudah cukup memadai tamparan religiositas ini, telah menunjukkan hidup solider meniba soliter.

Benarlah maksim Daeng Litere yang saya unggah di akun facebook saya, “Adakalanya pencari tak bisa sua Tuhan di rumah-Nya. Namun, ia menyata di mukim pencarinya.” Atau lebih menyentil lagi, “Rumah-Mu di bumi tak terjangkau, tapi di langit-Mu tidak berbatas. Sekaum hamba akan melangit.”

Religiositas tak lagi memadai menemui Tuhan di bumi, rumah-Nya. Namun, tersedia langit-Nya tak berbatas, bila seorang hamba mau bersua dengan-Nya. Setiap orang, secara rahasia, sendirian, sila melangit. Spiritualitas merupakan gala buat tiba di langit-Nya.

Sembari menanti ramainya kembali dunia persepakbolaan, semoga tidak ada perpanjangan waktu. Kalaupun ada, tetap berharap, itulah cara mengakhiri pertandingan. Serbuan pandemi global Covid-19 ini, anggaplah semacam kompetisi antara sesama makhluk. Pertandingan antara kegenitan virus dan kelantipan manusia. Saya tinggal di rumah, karena ingin ikut memenangkan pertandingan. Sekaligus menonton siaran ulang selaksa pertandingan bola.

 

Sumber gambar: NU Online.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *