Sekira selustrum terakhir, aktivitas bersepeda seiring waktu mengalami perkembangan yang cukup pesat sehingga bermunculan berbagai komunitas pesepeda, mulai dari yang anggotanya beragam jenis sepeda, hingga yang mengkhususkan komunitasnya pada jenis sepeda tertentu, semisal sepeda lipat, MTB (Mountain Bike), bahkan tarakhir beberapa komunitas muncul dengan membawa bendera merk sepeda, dll.

Even-even pun semakin marak. Kalender even untuk tahun 2020 saja yang terjadwal ada puluhan, yang kemudian setelah pandemic Covid-19 diumumkan secara resmi oleh WHO (Word Health Organitation) dengan berbagai macam bahaya penyebarannya dan jenis virusnya, kemudian bersamaan pula diumumkannya oleh pemerintah Indonesia, dibarengi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), untuk menghindari kerumunan dan bahkan meniadakan sementara salat jumat, guna memotong mata rantai penyebaran virus corona yang dahsyat itu. Maka berguguran pula even-even bersepeda yang sudah terjadwal rapi. Bahkan event B2B (Bogor To Bandung) menempuh jarak sekira 130 Km yang pendaftarnya lebih seribu peserta dan telah melakukan pembayaran terpaksa dibatalkan dan hanya racepack yang dikirim ke rumah masing-masing, dan setahu saya tak satu pun peserta yang complain, semua bersabar untuk kebaikan bersama, mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa ulama. Dalam rangka memeringati hari jadi Kabupaten Bone juga menginisiasi even bersepeda dengan jarak 67 Km yang juga akhirnya diundur hingga waktu yang belum ditentukan, padahal sudah banyak yang melakukan pembayaran, pun tak ada yang complain.

Tak dinyana, tiba-tiba beredar video dan foto oleh pengabar mainstream yang memberitakan sekelompok goweser bergerombol di tepi jalan masuk CPI (Centre Point Of Indonesia) yang masih satu kawasan dengan Pantai Losari, jumlah kerumunan yang terambil kamera lumayan banyak seolah tidak terjadi apa-apa, seolah himbauan pemerintah dan MUI berkenan dengan Covid-19 tak bertuah, tak ada apa-apanya, dan dipandang sebelah mata. Bahkan di sebuah billboard tak jauh dari situ yang lumayan besar dan benderang tulisannya mengingatkan khlayak untuk  “kembali ke rumah saja” tak dipedulikan pula, sebab mau dikatakan mereka tak tahu membaca atawa tak melihatnya sangat kecil kemungkinannya. Judul beritanya cukup provokatif “Komunitas Sepeda Makassar meremehkan Covid-19”. Tentu komunitas sepeda di Makassar yang sejak awal anjuran pemerintah Republik Indonesia dan MUI untuk di rumah saja dan tidak melakukan aktivitas secara berkelompok atawa berkerumun, langsung menyikapinya dengan bijak dan tegas sehingga gowes bareng yang hampir setiap pekan dilakukan untuk sementara ditiadakan. Bila ada yang mau gowes dilakukan sendiri-sendiri saja atawa paling banyak lima orang perkelompok dengan syarat yang sangat ketat. Harus memakai masker atau semacamnya. Jaga jarak, dan setelah gowes langsung kembali ke rumah, tidak lagi berkumpul di warkop dan sejenisnya sebagaimana yang lazim dilakukan sebelumnya. Pun mengikuti protokol yang disampaikan oleh para pakar virus dan kesehatan, bahwa bila usai beraktivitas di luar rumah setelah kembali langsung mencopot pakaian dan direndam di air sabun atawa langsung dicuci. Benda lainnya termasuk sepeda disemprotkan disinfektan.

Bagi saya, sejak menjamurnya pengabar berita online, judul berita provokatif seperti itu bukan hal yang luar biasa, dari yang mainstream hingga yang “abal-abal” seolah begitu sulit dibedakan. Seolah kaidah klasik dalam mencari dan menulis berita, yang termaktub dalam 5 W 1 H ; What: Apa, Who: Siapa, When: Kapan, Where: Di mana, Why: Kenapa, agar dalam menuliskan sebuah berita keakuratannya tetap terjamin, nampaknya sudah mulai buyar apatah lagi kuli tinta media “abal-abal”.

Di beberapa komunitas sepeda di Makassar, sejak awal diumumkan pandemic Covid-19 ini, telah dengan cepat menggalang empati. Kala dikabarkan bahwa para tenaga medis di rumah sakit kekurangan APD (Alat Pelindung Diri), mereka langsung menggalang dana untuk kebutuhan itu dan alhamdulillah tak terhitung terlalu lama terkumpul anggaran untuk sejumlah seratus APD yang disumbangkan kebeberapa rumah sakit, dan hal ini tidak diliput media, dan memang tidak perlu sebab hal ini gerakan cepat untuk kemanusiaan. Cukup diunggah di group WAG (Whatsapp Group) sebagai pertanggungjawaban ke anggotanya. Gerakan cepat seperti ini tidak hanya satu komunitas yang melakukannya, tapi beberapa dengan variasi sumbangsih beraneka ragam. Terakhir yang saya tahu, beberapa komunitas langsung turun ke lapangan berbagi masker dan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat yang bekerja secara serabutan.

Kurang lebih dua tahun terakhir saya menetap full di Makassar dan cukup aktif di beberapa komunitas sepeda, gerakan kawan-kawan di komunitas ini selain aktif bersepeda dan silaturrahim untuk sehat juga sangat aktif pada gerakan social. Jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar politik seperti yang sangat massif di medsos. Pun dalam suasana genting pandemic Covid-19 ini. Padahal di WAG komunitas pesepeda juga ada anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dari pelbagai partai.

Cukup prihatin bila menyaksi hiruk pikuk postingan negatif dan nyinyir berkenan dengan Covid-19 di negeri ini. Mestinya kita bersatu untuk mengawal pemutusan rantai penularan virus yang sangat cepat dan sangat berbahaya ini. Teringat Adlai Stevenson, yang pernah berucap lugas pada sahabatnya, Eleanor Roosevelt sebagai Ibu Negara atawa istri presiden Amerika Serikat 1933 – 1945, Franklin Delano Roosevelt,  yang begitu sarat dengan makna filosofis, bahwa “lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”. Adlai menasehati sahabatnya itu ketika banyak mengeluh kala menghadapi masalah yang cukup pelik sebagai Ibu Negara. Nah, untuk kondisi saat ini, saya fikir ungkapan ini masih sangat relevan untuk kita sampaikan kepada para penyinyir dan para pengeluh di bangsa ini dalam menghadapai pandemik yang yang sedang melanda negeri tecinta ini.

Lance Amtrong, peraih juara Tour De France tujuh kali setelah sebelumnya menderita kanker otak yang yang cukup akut dalam memoar panjangnya yang ditulis bersama seorang wartawan olah raga, Sally Jankins, menuliskan beberapa episode dalam hidupnya setelah sembuh total dari penyakit yang diidapnya, ia mendirikan sebuah yayasan atawa lembaga sosial yang membantu anak-anak pengidap kanker di seluruh dunia. Bahwa nampaknya aktivitas bersepeda cukup padupadan dengan aktivitas sosial di mana keduanya sangat mengasyikkan. Satunya (bersepeda) menyehatkan raga, sedang satunya lagi (aktivitas sosial) menyehatkan jiwa.

Jadi, fenomena goweser atau pesepeda selustrum terakhir memang berkembang dengan pesat dengan motivasi utama untuk sehat tentunya dan mungkin beragam motivasi lainnya yang mengikutinya. Kita berharap kejadian yang diekspos oleh media beberapa waktu lalu tidak terulang lagi. Sebab kesadaran untuk bersepeda dengan baik memang butuh edukasi dan waktu yang menyertainya.

 

Maros, April 2020.

 

 

ditulis oleh

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).