Pernahkan kita mengalami sebuah momen menanti sesuatu namun hal lain yang muncul? Ataukah berdoa memohon dikabulkannya harapan tetapi tidak seketika terkabul? Setiap orang pasti memiliki jawaban yang bervariasi. Ada yang pernah, sering, atau boleh jadi hal tersebut sudah tak lagi menjadi soal, karena ia telah terbiasa mengalaminya. Artinya, ia legowo saja tatkala situasi seperti ini menimpanya. The life must go on istilahnya dalam dunia motivasi. Ia tidak mau lama-lama berada dalam situasi kecewa dan tanpa harapan.

Jika ingin cermat, akan banyak kita jumpai situasi-situasi dalam hidup yang mirip seperti judul dalam tulisan ini. Manusia dihampiri oleh sesuatu yang tak pernah ia harapkan alih-alih terpenuhi hasratnya. Meskipun begitu, banyak pula hukum-hukum yang bekerja sebaliknya. Dalam artian ada banyak harapan yang terwujud sebagaimana keinginan para pendambanya. Ketika hal ini yang terjadi maka rasa bahagialah yang tentu akan menjadi penyertanya. Dan apabila ini yang terjadi maka setiap individu bisa dipastikan akan siap menyambut kegirangan dengan sepenuh perasaan bahagia.

Namun apabila yang terjadi adalah situasi yang berbeda bagaikan bumi dan langit, akan seperti apakah umumnya reaksi-reaksi kita? Sudah siapkah, akan kecewakah, frustasikah, atau depresikah? Entahlah, setiap orang akan memberikan respons dan reaksi yang berbeda-beda. Tergantung kondisi batin masing-masing.

Bertebaran contoh dalam hidup yang dapat kita lihat. Misalnya soal jodoh. Seringkali terjadi seseorang berharap A yang melamar, yang datang justru D. Atau yang berharap tahun ini bisa merenovasi rumah nyatanya yang terjadi malah dirumahkan dengan adanya pandemi ini. Takdir hidup sungguh tak bisa ditebak. Manusia hanya menjalani segala yang terbaik yang ia bisa.

Hari ini sebulan lebih sudah orang-orang merasakan suasana kebersamaan, tinggal lengkap di rumah, meskipun mungkin saja ada yang minus satu atau dua orang anggota keluarga. Disebabkan pekerjaan atau hal penting lainnya sehingga mereka untuk sementara belum bisa kembali berkumpul di rumah. Berharap pandemi segera berlalu, dan kehidupan kembali normal seperti semula.

Tak ada yang pernah menduga hidup manusia akan berbalik seratus delapan puluh derajat sebagaimana yang terjadi kini. Yang mana penyebabnya adalah makhluk kecil tak kasat mata yang telah terbang melintasi benua hingga akhirnya tiba di titik terdekat keberadaan manusia. Tak terlihat, tak berciri, tak berbau, tidak teraba dengan indra, namun berefek sangat dahsyat. Ialah invisible creature, corona, sosok makhluk yang tak terlihat.

Tahun ini banjir tak menyambangi rumah-rumah warga di sekitar pemukiman kami. Ia yang kedatangannya telah kami persiapkan dan antisipasi, hingga tiba di seperempat tahun tak menampakkan rupanya, kiranya Tuhan mengirimkan ujian dalam bentuk yang lain. Situasi gambaran warga Kota Wuhan yang tumbang satu per satu, yang beredar dalam bentuk video sekitar bulan Desember lalu menjadi sesuatu yang nyata di depan mata. Rupanya bukan hanya teknologi yang canggih dan sangat cepat, namun perpindahan wabah dari satu negara ke negara lain pun menyamai kecepatannya. Apatah lagi jika hanya antar orang ke orang dalam satu RT.

 

Beradaptasilah

Anjuran atau imbauan pemerintah untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah sudah berjalan kurang lebih empat pekan. Tetapi pada praktiknya, orang-orang menyikapinya dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang sudah langsung patuh pada sepekan pertama, ada yang menerapkannya nanti pada pekan kedua, ketiga, atau pada saat ancaman makin ditingkatkan barulah mau patuh. Banyak dalih yang disodorkan, di antaranya soal pekerjaan mencari nafkah memenuhi kebutuhan anak istri.

Dari semula kelompok ini sudah dapat pengecualian, namun masih juga nyaring berteriak. Seolah menentang dengan lantang anjuran tersebut. Walaupun banyak juga orang-orang yang sebenarnya masih punya pilihan untuk keluar bekerja atau tetap tinggal di rumah. Tetapi memilih untuk berdiri di kelompok mereka yang dapat pengecualian. Sekali lagi, bahwa manusia pada dasarnya dan sesungguhnya sangat menikmati dan mendambakan sebuah kebebasan.

                Apalagi hal ini berkaitan dengan kebebasan yang bersifat alamiah. Jalan-jalan keluar rumah, nongkrong di warung kopi dengan relasi, berolah raga bersama, belanja ke mal, dan masih banyak lagi hal-hal yang selama ini sudah menempati bagian tersendiri dalam peta pembagian kebutuhan mutlak yang wajib dipenuhi. Bukan hanya bagi mereka yang penganut hobi refreshing tiap bulan atau tiap pekan, tetapi juga bagi mereka yang memang senang dan nyaman menghabiskan banyak waktunya di rumah. Sesekali ia pasti ingin keluar dari semua rutinitas yang ritmenya sama dari hari ke hari. Sebuah hasrat yang sangat lumrah.

Dalam ilmu psikologi populer yang saya pahami, di saat seseorang memiliki masalah, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah, memberikan empati. Saya sangat yakin tinggal di rumah selama pekan-pekan yang panjang sudah jelas menimbulkan banyak sekali masalah. Di antaranya, masalah yang berkaitan dengan diri sendiri, bagaimana membujuk nafsu dalam diri ini agar tidak bergejolak setiap ada celah sedikit saja. Belum lagi masalah yang kemungkinan besar timbul antar pasangan. Sehari 24 jam dikali 30 hari,  banyak hal remeh namun berpotensi besar menimbulkan gesekan. Ditambah lagi soal anak-anak beserta tugas sekolahnya, perkerjaan rumah tangga yang tak kenal ujung pangkal. Dan seabrek persoalan yang jika dituliskan akan butuh waktu dan lembaran-lembaran yang tak sedikit.

Karena sesungguhnya hal yang paling melegakan dan membahagiakan dalam hidup seseorang adalah ketika ia ia bisa merasakan aura penerimaan pada dirinya. Dalam empati terkandung unsur penerimaan. Setelah sesi saling memberikan empati lewat, mari beranjak ke sesi selanjutnya, menawarkan solusi. Ide-ide kreatif bisa bermunculan di sini. Bagaimana setiap anggota keluarga mau mengubah dan saling menyesuaikan diri dengan anggota keluarga yang lain. Tentunya akan berbeda pelaksanaannya pada masing-masing keluarga.

Setelah muncul banyak solusi, maka yang diharapkan dalam praktiknya adalah kesediaan setiap orang untuk melaksanakannya dan saling bertoleransi jika ada hal-hal yang tidak berkenan dalam penerapannya. Bersiaplah kita menghadapi aneka perasaan yang bercampur-aduk jadi satu ketika menghadapi perilaku-perilaku yang tidak berkenan di hati. Karena pada hakikatnya tujuan kita adalah melakukan perjalanan menuju jiwa yang penuh damai. Bukan semata pada proses memperjuangkan kebenaran, yang sifatnya pun masih relatif dan butuh interpretasi.

Manusia makhluk yang dilengkapi akal agar mampu bertahan hidup dan beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi dari masa ke masa. Dan kita semua hingga detik ini masih  menyandang status sebagai manusia.

 

 

 

ditulis oleh

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).