Apa yang anda pikirkan saat berpuasa dan lapar?

Saya ingat anak saya diusia 9 tahun, di bulan puasa siang hari, di puncak lapar dan hausnya, menginginkan makan ini dan makan itu pada saat berbuka puasa nanti. Sehingga jelang maghrib, dia sudah duduk di meja makan dan di hadapannya sudah terhidang tiga gelas minuman dengan beraneka rasa. Ia menunggu waktu berbuka yang hanya tinggal beberapa menit, dan mengeluh mengapa waktu menjadi sangat lama.

Atau di lain waktu, ia bahkan bermimpi tentang makanan.

Perut yang lapar, membuat sebagian besar orang memikirkan makanan. Tidak percaya? Cobalah anda sadari pikiran anda di minggu kedua bulan puasa. Berdasarkan pengalaman saya, minggu pertama kita belum merasakan lapar yang sangat, mungkin karena cadangan energi masih banyak.

Minggu kedua, laparnya sudah mulai melilit. Buat saya jam-jam kritis adalah jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Tubuh kita, yang bereaksi karena kebiasaan makan kita berbulan bulan, dan bertahun tahun, mulai menuntut. Nah, jika sudah seperti itu, cobalah untuk mengamati pikiran anda. Apakah gambaran gambaran makanan sudah mulai pop up? Apakah anda terkadang menelan ludah karena pikiran tentang makanan dan minuman itu?

Pada situasi yang demikian, lapar akan membuat seseorang kemaruk pada saat berbuka puasa. Karena pikiran adalah daya gerak yang kuat.

Apa yang terjadi pada akhirnya? Alih alih puasa menahan hawa nafsu, yang ada menjadi aksi ‘balas dendam’ pada saat berbuka puasa. Atau berharap puasa makan dan minum mengurangi anggaran dapur, yang terjadi bahkan sebaliknya. Lapar mendorong seseorang untuk membeli beraneka rupa bahan makanan. (Salah satu nasihat para konsultan keuangan adalah jika ingin berbelanja ke supermarket atau ke pasar, berangkatlah dalam keadaan perut kenyang. Karena jika anda lapar, anda akan mengeluarkan anggaran berlebih untuk makanan)

Pada hari biasa penganan spesial terhidang di meja makan hanya seminggu sekali. Pada saat bulan Ramadan atau bulan puasa, semua itu menjadi makanan harian. Sebut saja pisang ijo, kolak, bubur ketan, cendol, cocktail, dan lain sebagainya.

Walhasil pengeluaran menjadi dua kali lipat. Sebuah situasi yang harus dipersiapkan buat ibu rumah tangga dengan menaikkan pos pengeluaran dapur dan mengurangi anggaran lainnya.

Lihatlah setiap tahun di bulan Ramadan, aneka jajanan berjejer di pinggir jalan, sangat menggoda iman. Makanan makanan khas bulan puasa mendominasi lapak di pasar. Cincau, kelapa muda, pepaya, nenas, nangka, cendol. Sebutlah apa saja. Bahkan tetangga kita pun mendadak buka lapak makanan. Mereka memanfaatkan peluang di bulan puasa.

Itulah sebabnya beberapa komoditi di pasar mengalami kenaikan harga di bulan puasa, karena naiknya permintaan.

Kecuali tahun ini pastinya, karantina diri karena virus covid, juga pemberlakuan PSBB, memaksa ibu ibu untuk kreatif berjibaku memasak sendiri penganan berbuka atau mungkin menjadi kreatif memilih jajajan on line?

Tingkatan puasa terendah adalah menahan diri dari makan dan minum. Yang kata para ustadz, itulah tingkatan puasa anak anak. Karena, begitu waktu berbuka tiba, kita makan segala macam meski perut telah kenyang. Apakah anak anda seperti itu? Atau jangan jangan kitalah yang berlaku demikian.

Tingkatan puasa selanjutnya adalah menahan pikiran dari makan dan minum. Bisakah tubuh kita lapar, tetapi pikiran kita tidak memikirkan makanan? Bisakah kita mengontrol atau menenangkan tubuh yang telah adiksi terhadap makanan karena pola makan rutin di siang hari pada bulan bulan sebelumnya?

Atau dalam bahasa saya, bisakah pikiran tidak didikte oleh tubuh kita?

Sehingga meski lapar, warung coto Makassar yang tetap buka di pinggir jalan, tak membuat kita terganggu. Pikiran kita tetap tenang, kita tak menelan air liur karenanya.

Berbahagialah anda yang sudah berada pada fase ini.

Anda tentu saja tak akan menjadi target iklan di TV semisal sirup yang dituang ke dalam gelas berisi es batu dan berembun karena dingin, lalu diminum secara dramatis oleh bintang iklan. Anda tak akan berlaku seperti anak saya yang tergiur indomie di televisi yang dibuat sedemikian menggugah selera, hingga dengan segera berlari ke toko terdekat membelinya, lalu memasaknya saat itu juga! Anda tak akan komsumtif.

Para pembuat iklan itu mengerti betul bagaimana membuat customer dengan segera membeli produk produk mereka. Mereka mengerti tabiat dasar manusia.

Dan pastinya, anda tak akan ikut gerakan sweeping warung makanan. Karena orang orang yang makan di pinggir jalan, tak mengganggu anda.

Pada tingkatan ini, pikiran yang tidak lagi didikte oleh tubuh akan memiliki perspektif yang meluas dan menghasilkan kejernihan dan kebijaksanaan.

Kesadaran atau pengetahuan kita awalnya diperoleh melalui panca indera, melalui mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Lalu pengetahuan dan kesadaran itu berkembang seiring waktu dan pengalaman. Menurut saya puasa salah satunya berkaitan dengan ini. Agar kita memperoleh pengetahuan dan kesadaran melalui sumber ‘yang lebih tinggi’ lagi, tak terbatas melalui panca indrawi.

Itulah sebabnya mengapa Nabi Mulia SAW mengajarkan pentingnya puasa ini yang diikuti dengan anjuran untuk memperbanyak zikir, membaca Alqur’an, menghadiri majlis ilmu, mengurangi bicara yang tak perlu, menahan telinga dari mendengarkan pembicaraan tak berguna, semua itu untuk mendidik batin atau kesadaran kita agar memiliki perspektif yang lebih tinggi dan tak terbatas.

Seseorang yang berada pada tahap ini, yang pikirannya telah terbebas dari keterikatan tubuh sehingga memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, akan memiliki empati, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan yang karenanya kehadirannya menentramkan, keberadaannya dinanti dan menggembirakan para mustadh’afin. Perkataannya mengandung hikmah, dan ia welas asih.

Selamat berlatih dan selamat memasuki madrasah ruhaniah.

 


Sumber gambar: Liputan6.com

ditulis oleh

Lisa Mulkin

Lisa Mulkin, S.Psi adalah seorang People Helper dan Therapist di Mutti Institute. Konsultan Keluarga di Sekolah Rakyat Cakrawala Makassar. Ibu paruh baya, dengan 4 anak.