Semalam saya baru saja menyaksikan Seven (1995), film lawas yang dibintangi Morgan Freeman dan Brat Pitt. Film ini bercerita tentang David Mills (Brat Pitt), seorang detektif yang bermitra dengan pensiunan William Somerset (Morgan Freeman) untuk melacak seorang pembunuh berantai yang menggunakan tujuh dosa mematikan (Seven deadly sins) sebagai motif dalam pembunuhannya.

Menariknya, tujuh dosa ini diinspirasi dari  puisi epik tiga bagian milik Dante Alighieri, penyair Italia, The Divine Comedy, dan beberapa karyanya, termasuk inferno, tujuh tingkatan neraka yang konon diambil dari pandangan Aristoteles mengenai supremasi akal budi sebagai puncak hireraki wujud.

Ketujuh dosa mematikan tersebut berturut-turut adalah: kerakusan, keserakahan, kemalasan, hawa nafsu, kesombongan, iri hati, dan kemarahan.

Saya berikan gambaran bagaimana pelaku pembunuhan memberlakukan korbannya sampai mati: kasus pertama, pria supergendut yang dipaksa makan spageti yang membuatnya mati hingga perutnya pecah (kerakusan); kasus kedua, seorang pengacara yang dibiarkan darahnya habis terkuras akibat potongan satu pon daging di pinggangnya (keserakahan); kasus ketiga, seorang pemuda  pengedar narkoba yang diikat di atas ranjang dan disiksa selama setahun hingga kurus dan kulitnya mengering (pemalas); kasus keempat seorang pelacur yang mati setelah dipaksa diperkosa menggunakan alat sex berupa kemaluan dari pisau (hawa nafsu); kasus kelima adalah seorang model yang mati setelah mukanya dimutilasi (kesombongan).

Saya tidak usah menuliskan di sini bagaimana kasus keenam dan ketujuh yang mewakili iri hati dan kemarahan.

Namun, satu hal yang ingin saya katakan, sejak kasus kedua, Somerset menyadari bahwa pelaku yang mereka hadapi bukan pembunuh kelas teri.

”Jalan keluar dari neraka menuju surga sangat sulit dan berat,”  begitu yang tertulis di secarik kertas yang Somerset temukan tersembunyi di balik kulkas, di lokasi kasus pertama.

Kalimat itu merupakan potongan bait dari Paradise Lost, karya puisi John Milton, penyair Inggris abad 17.

Ya, orang yang dihadapi dua detektif ini merupakan seorang pembunuh dengan kepribadian yang berdisiplin tinggi, sistematis, dan sabar.

Dan, satu hal yang juga tidak bisa diabaikan, pelaku yang sedang mereka usut ini adalah seorang pembaca buku yang telaten (setelah ditemukan, dikamarnya ditemukan 200 lebih buku catatan hariannya yang ditulis tanpa spasi).

Kelak karena itulah, Somester dan Mills harus membaca buku karya-karya sastra untuk mengetahui motif apa yang menginspirasi pembunuhnya dalam melalukan kejahatannya.

Tidak usah saya teruskan bagaimana jalan cerita film ini.

Tulisan ini dibuat hanya untuk merayakan Hari Buku Internasional dengan cara ala kadarnya yang jatuh tepat hari ini (23 April), sekaligus mengungkapkan rasa takjub saya kepada kekuatan dikandung sebuah buku, yang mampu mempengaruhi persepsi dan tindakan seseorang.

Sebuah buku, kata pepatah, adalah sebuah jendela. Bahkan, setelah kata jendela, kata itu dipakai dimaksudkan untuk melihat dunia. Ini menandakan betapa pentingnya arti sebuah buku. Sesederhana apa pun gagasan yang dikandungnya, sebuah buku berpotensi membangun sepercik pemikiran yang mewakili suatu dunia.

Si pembunuh dalam film Seven, walaupun salah kaprah, tidak bisa disebut melakukan tindakan kejahatannya terlepas dari buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Ia telaten membaca buku, mencatatnya ke dalam buku harian apa saja yang ia baca dan rasakan, dan setelah itu ia bangun suatu dunia di dalam kepalanya.

Di dunia ini banyak orang seperti John Doe (Kevin Spacey), pembunuh yang diusut dua detektif di atas, yang memiliki imajinasi atas buku bacaannya.

Di pelosok negeri, bisa saja terjadi hal-hal yang membangkitkan imajinasi ketika seseorang habis melahap buku. Seorang anak sehabis membaca kisah Seribu Satu Malam, atau kisah Alice in Wonderland, bisa saja membangun alur hidupnya dari kisah yang ia baca, dan membayangkan kehidupannya seolah-olah hidup di dalam negeri dongeng.

Atau, siapa bisa menduga bisa saja kelak, akan ada anak-anak pelosok negeri yang menjadi penyidik terkenal dikarenakan terinspirasi kisah detektif Sherlock Holmes.

Indonesia menurut suatu laporan masuk dalam  urutan ke 8 dari 10 negara paling banyak menerbitkan buku. Agak aneh memang mengingat peringkat literasi seperti dilaporkan beberapa tahun ini, menempatkan Indonesia ketingkat nyaris buncit dari 63 negara.

Tapi, buku tetaplah buku, jika ia intens menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seseorang, cepat atau lambat ia bakal membentuk takdir hidup seseorang.

Os livros mudam o destino das pessoas.” Buku mengubah takdir hidup orang-orang, kata Carlos María Domínguez penulis buku Rumah Kertas.

Saya rasa tidak berlebihan jika takdir Indonesia juga ditentukan oleh buku-buku. Terutama jika mempertimbangkan kiprah pendiri bangsa yang dipengaruhi buku-buku dalam merumuskan konsep kenegaraan bangsa ini. Tidak sedikit bahkan, beberapa pendiri bangsa ini intens membangun kehidupannya dengan mengoleksi banyak buku.

Sekarang ada analisis takdir bangsa-bangsa akan didasarkan kepada kemampuan menguasai data-data maya. Di keadaan ini, buku memperoleh lawan tangguh ketika semua informasi dialihkan di atas sirkuit data-data. Rezim data-data, pelan-pelan akan mengubah tradisi membaca yang mendudukkan buku sebagai pusat kegiatannya.

Dunia berubah, begitu pula cara orang mencari ilmu, kata orang-orang yang mulai meninggalkan buku fisik dan banyak mengoleksi data-data maya.

“Teman-teman aku tidak pernah mengerti. Semua buku ini, dunia ilmu pengetahuan ada di depan mata kalian, tapi apa yang kalian lakukan? Kalian bermain poker semalaman?!”.

Itu perkataan sarkas detektif Somerset, ketika melihat ulah sekelompok satpam yang bermain poker di tengah ribuan buku, saat ia mencari buku-buku karangan Dante di perpustakaan yang ia kunjungi malam-malam buta.

Ya, hubungan kita dengan buku kadang seperti segerombolan satpam penjaga perpustakaan dalam Seven itu. Dihimpit  banyak buku tapi menyia-nyiakannya. Ini satu dari tujuh dosa mematikan: malas membaca buku.

Selamat hari Buku Internasional, Bung dan Bing.

 


Sumber gambar: https: https://id.wikipedia.org/

ditulis oleh

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).