Saya menulis lagi. Setelah lama tidak mengerjakan pekerjaan intelektual ini. Bukan saya dilarang ibu. Melainkan, saya berada di tengah pedalaman hutan Papua Barat, distrik Mumugu. Nanti lain waktu saya akan bercerita tentang tempat ini.

Simpan rasa penasaranmu.

Saya tiba-tiba tergerak melihat Makassar hari ini. Jauh di pedalaman ini, kita semua sama-sama menghadapi masalah. Pandemik virus covid-19.

Sungguh menyayat hati, melihat Makassar hari ini. Statusnya masuk ke zona merah. Daerah yang virus itu tumbuh subur.

Saya tiba-tiba membayangkan Makassar menjadi sebuah medium ternak virus. Di dalam sebuah laboratorium, virus itu bisa tumbuh subur sebab dibiarkan. Mungkin juga bukan dibiarkan, tetapi dikondisikan supaya bisa tumbuh kembang baik.

Semua hal dipertimbangkan di laboratorium itu. Mediumnya disesuaikan, termasuk nutrisinya. Mungkin pencahayaannya. Dan subjeknya, dalam hal ini peneliti, mengontrol dan membiarkan sampai virus itu tumbuh.

Tentu analogi ini keliru kalau disamakan dengan kondisi Makassar hari ini. Makassar sebuah kota yang mengalami goncangan. Isinya tentu bukan medium tumbuh kembang virus, melainkan manusia yang bisa berpikir. Tapi, boleh kita bertemu di titik yang sama kalau pembiaran itu berjalan.

Orang membiarkan dirinya keluar rumah.

Seolah di luar rumah tidak ada kejadian apa-apa.

Mutan virus ini anggap enteng saja. Iya, soalnya kan penyakitnya bisa sembuh sendiri. Asal kekebalan tubuh berjalan bagus. Niscaya mutan ini mampus.

Toh, mutan ini tidak kelihatan mata. Untuk apa ditakuti.

Dia tidak menyebabkan air laut naik. Tanah pun tidak bergoncang. Pohon juga tidak rubuh. Langit juga tidak runtuh seperti suara gemuruh badai. Apa yang kau takutkan?

Mutan ini hanya bikin batuk. Kerongkongan kering. Paling istirahat sedikit bisa membaik. Minum vitamin dan obat batuk, reda. Santailah!

Mungkin pikir banyak orang di Makassar sana.

Tidak perlu panik. Kami masih mau keluyuran. Jangan larang dan batasi. Kami mau nongkrong.

Saya dengan nada nyinyir membaca perilaku kepala batu mereka. Mungkin terlalu nyinyir. Sengaja. Sebab, merekalah yang membuat banyak tenaga medis terinfeksi. Banyak dokter dan paramedis kini menjadi inang virus. Tidak tahu nasib mereka bagaimana. Tinggal doa yang menyertai kesembuhan.

Melihat Makassar di tahun 2020, banyak sekali tumbuh manusia berkepala batu. Saat dilarang mereka masih membangkang. Sudah tahu ada mutan, mereka masih kekanak-kanakan. Menunjukkan keberanian, di saat sebenarnya timingnya tidak diperlukan.

Saya tiba-tiba teringat rumah. Iya, saat masih kecil. Ibu saya melarang dengan larangan. Saya patuh.

Saya ingat pernah melawan larangan ibu. Waktu itu kami baru pindah di rumah baru. Kawasannya masih dominan dengan tanah kosong. Otomatis karena adikku laki-laki, kami menggiring bola di tanah kosong.

Janganko main bola, nak. Belumpi ada pagar itu. Jatuh bolamu itu ke got.”

Kejadian.

Bola itu meluncur cepat. Got yang menganga itu beda ukurannya dengan got-got yang biasa ada di perumahan. Sial. Bola masuk got. Celakanya, kami berdua kehilangan bola dan tanda bekas selang menempel di betis kaki.

Larangan ibu mujarab. Itu ingatan kecil saja berhadapan dengan larangan ibu. Kalian pasti punya masing-masing. Setelah membaca ini, kalian ingat kembali. Saya sungguh belum selesai menulis.

Makassar di tahun 2020, sepertinya sosok ibu mulai keluar dari kehidupan. Larangan ibu seolah tidak hadir di kita. Tidak menjadi penjaga lagi saat kita sedang dirundung mara bahaya. Larangan ibu sesungguhnya pencegah bagi kita di Makassar 2020.

Sosok ibu sudah malas. Kita terlalu bebal.

Atau jangan-jangan ibu sudah lelah melarang dan melontarkan larangan. Dia mungkin sengaja. Pada mereka yang hari ini abai. Melakukan pembiaran.

Tidak pernah mendengar dan malas tahu. Kalau dapur ibu, di zaman pandemik ini, asap yang mengepul sudah mulai menipis. Kita mengurung rumah, tetapi api dapur hanya membakar angin saja.

Banyak yang sudah kehilangan pekerjaan. Balik ke rumah tanpa punya kehidupan lain. Di sekeliling mereka, secara tidak sadar, telah berganti menjadi beton. Halaman rumah seperti tidak bisa ditanami.

Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.

Di tahun 2020, itu jadi omong kosong.

Kita masing-masing kebingungan. Mau makan apa kita?

Nutrisi yang harusnya dicecap oleh masing-masing lidah. Yang harusnya dipergunakan tubuh menguatkan sistem kekebalan. Kini berubah menjadi beton. Bahkan, nutrisi itu kini diperebutkan oleh orang yang kedekatan akses.

Larangan ibu dan pembiaran membuat tubuh kita menjadi nutrisi. Inang yang bagus bagi virus. Dan perlahan-lahan kita menjadi makhluk di bumi yang tidak saling mengenal lagi. Dan Makassar di tahun 2020, terancam menuju ke sana.

 

Sumber gambar: Tribun Timur. Tribunnews.com

 

 

ditulis oleh

William Gunawan

Lahir di Makassar, pada 16 Februari 1991. Terlibat dalam Komunitas Literasi Makassar, ia mengaku banyak mendapatkan kejutan-kejutan dan manusia cerdas. Setelah selesai sekolah medis selama 7 tahun, sekarang sudah jadi dokter. Mondar-mandir di koridor rumah sakit kayak kain pel. Telah menulis buku berjudul: "Sekolah Medis dan Bikini Bottom" (2019). Dapat dihubungi melalui Email: wwdableyu@gmail.com.