Ziarah di makam sepi, kebanyakan orang memakai setengah topeng (masker). Saat bertemu kerabat, hanya senyuman, terasa ganjil tanpa jabat tangan. “Maaf, kita dituntut jaga jarak!”

Saya hendak memekik, namun mereka menuduh saya gila! Saya kembali bertanya pada pusara seorang syekh bernama Abdul Gani. Jarak rumah saya, tidak begitu jauh dari makam para raja-raja Bantaeng tempatnya terkubur, dan La Tenri Ruwa dimakamkan; kini namanya menjadi ikon situs sejarah di Bantaeng. Saya mengajaknya bercakap, “Tenangkah engkau di alammu, atau resah dengan keberadaan kami yang kini dilanda penyakit kronis zaman dan peradaban?” Lalu, saya mengiriminya doa ke langit, tampak awan berteduh di atas saya, sore menjelang petang. Rusuh tanpa risalah, masalah yang curang dalam solusi, hingga kebiasaan yang tersemat selama ini, berada di ujung tanduk.

Sepatutnya, tidaklah harus saling menunjuk, orang-orang yang paling bertanggung jawab pada situasi pandemi covid 19 sekarang ini.  Apatah lagi, kehadiran corona virus tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan. Memang sangat terasa perbedaannya, Ramadan hadir dengan tidak biasa seperti sebelumnya. Semisal, anak-anak ramai menjelang tarwih berbondong-bondong ke masjid, orang dewasa mengatur jadwalnya seperti halnya anak remaja yang berkumpul menentukan pilihan masjid tempat tarwihnya jika malam dengan songkok barunya, dan sejumlah varian lainnya yang secara budaya telah berlangsung sejak lama. Kehadiran wabah yang makin menakutkan dan “menakut-nakuti” ini, mengakibatkan semua telah berubah secara cepat dan massif. Orang-orang di seluruh penjuru dunia takluk, tidak melakukan apa-apa termasuk salat tarwih, dan pembatasan berskala besar pada nilai sosial budaya yang telah kita anut bersama.

Ramadan akhirnya menjadi bulan tumpahnya gerutu manusia. Salah satu ladangnya adalah media sosial. Sebuah ladang pelampiasan sisi lain manusia yang senang saling menuduh, lalu menyalahkan satu sama lain yang akhirnya dibaca, dan dianggap sebagai kebenaran valid. Banyak pendapat yang tertuangkan di media sosial, alih-alih menenangkan orang-orang di masa pandemi corona, berbalik menjadi pernyataan yang memprakarsai kepanikan khalayak. Jika ini tidak terbendung, bisa jadi akan terlahir sebuah kebiasaan saling menuangkan opini tanpa kontrol diri, dan berujung kekacauan tanpa kendali.

Kondisi saat ini, semisal pusara menggigil. Aroma kedamaian tercium sungguh samar oleh pandemi dan hiruk pikuk opini orang-orang yang sungguh beku, mendinginkan kemanusiaan dari sisi psikis dan budaya. Ibaratnya, kita sedang hidup dalam relung dan renung yang dipasung. Sepertinya butuh lebih banyak “nutrisi” mengeja suasana ini agar lebih jeli memilah solusi yang tepat tentang nilai kemanusiaam yang kini hampir diusaikan, oleh seribu pesona dan beragam cara. Ada beberapa tipologi manusia yang dapat menjadi rujukan. Ada orang-orang yang penuh takzim membantu meski pada hal-hal kecil. Ada yang memilih berdiam, sebatas menyimak sahaja. Ada pula yang bergerak langsung ke medan “pertempuran”, entah mereka para medis, ibu rumah tangga yang stay at home, bapak-bapak tulang punggung rezeki keluarga yang tetap harus bekerja, atau para pengojek online sebagai kurir “kehidupan” di tengah wabah corona. Namun, tidak sedikit pula yang menjadi “pengeruh” suasana, yaitu mereka yang penuh semangat membalikkan opini publik demi kepentingan pribadinya, atau mereka yang sulit membedakan mana yang lazim (pantas) dan yang kurang lazim dilakukan. Sujiwo Tejo mengatakan dalam buku “Ngawurnya Karena Benar“, “Bagaimana kita mengubah suatu kelaziman kalau yang lazim itu sendiri tak kita sadari?”

Kekhwatiran itu makin berspekulasi. Dari sebuah kebiasaan dan ketidaklaziman yang kini dipancing untuk patuh pula. Atau mungkin saya saja mengalami sindrom itu? Kadang tidak tenang, kacau, tragis, paranoid, dan cendrung menyiksa diri sendiri. Sebagaimana pemikiran seorang filsuf abad pencerahan, Jean Jacques Rousseau, bahwa orang-orang beradab di masa kini adalah para “pemakai topeng”.

Kemewahan, seni, dan ilmu pengetahuan hanyalah fana, sebuah muslihat yang justru menjauhkan manusia dari kodratnya sendiri. Tokoh romantisme ini, dikenal sebagai sosok yang memiliki watak tidak stabil, dan mudah marah. Dia juga mudah menyerah kepada setiap wanita cantik sehingga memiliki banyak anak yang semuanya dititipkan di panti asuhan. Dalam laku berpikirnya, dia kadang merasa dirinya terpecah-belah antara perasaan dan akal budi, meski demikian dia mampu berkontemplasi yang membuat dirinya melahirkan karya-karya. Menyikapi apa yang terjadi sekarang, saya merasa berada dalam diri Rousseau yang membabat pikiran para filsuf rasionalisme. Rousseau berteori bahwa alam murni itu baik dan indah, sehingga segala sesuatu yang dekat dengan alam murni, baik dan indah adanya. Saya hendak mengatakan, “Kembalikan semua pada posisi sebenarnya. Pada kebiasaan semestinya!

Tahukah? Raut cahaya cemerlang itu seperti tiada berseri menjelang kehadirannya. Yah, pada hari pertama hujan lebat, angin wara-wiri di antara daun mangga, anggrek, dan atap-atap rumah yang membuatnya saling bergesek mengacaukan keadaan. Bias dan kiat seketika. Sejengkal jarak, di dekat saya sebuah kitab mengundang gulana.

Rasa rindu pada suasana Ramadan dulu, mematuk.  Menghabiskan waktu berada di masjid, ikut pesantren kilat, atau pun tadarusan adalah sebentuk aktivitas pengisi bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Saya terpengaruh oleh ingatan-ingatan itu. Pada dinding kaca, saya menemukan mimik ini dipenuhi kecemasan dan ketakutan saat mengingat pandemik ini akan bersentuhan lama dengan Ramadan. Pesonanya, saya pastikan akan pudar, sepi oleh aktivitas yang membuatnya senantiasa dinantikan. Siang setelah salat Zuhur, saya mendaras kitab suci lagi mulai dari awal Alif Lam Mim. Sampai beberapa lembar, setadah hujan mengguyur di luar jendela, saya rekatkan kembali dan bertahan pada kondisi yang tidak lazim ini.

Haidar Bagir, dalam bukunya “Islam Tuhan Islam Manusia”, menulis bahwa, akal adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan manusia makhluk paling mulia (Ahsan taqwin). Maka, saya bahkan melepaskan keyakinan keislaman ini dari segala bentuk otoritas tafsir sesuai dengan akal. Namun, saya akan menerima tafsir otoritatif jika itu bersumber pada bukti-bukti yang meyakinkan secara intelektual, dan berdasar pada prinsip-prinsip ilmiah yang saya yakini kebenarannya.

Jika direnungkan, otoritas keyakinan manusia sesungguhnya sangat kuat. Hanya saja, kini otoritas itu mulai berbelok, menghancurkan tatanan budaya, tradisi, bahkan secara agama itu sendiri. Dia seperti virus baru yang secara cepat memengaruhi sifat berkebudayaan dan keberagamaan yang saya yakini selama ini.

Benar juga teori konspirasi dan analisis yang pernah ada pada zaman-zaman sebelumnya. Antara ketakutan, kecemasan, sampai pada akhirnya kita terpapar bukan karena covidnya yang gesit, tetapi karena sifat, cara, dan kebiasaan berbudaya dan beragama kita yang mulai genit semasa pandemik kurang lebih empat bulan ini. Kita semisal dipasung manusia-manusia yang memiliki otoritas lebih, dan mampu mencipta opini memukau, serta membalikkan kondisi yang seolah-olah masih butuh waktu lama membaik. Pun pada keadaan yang serba salah, dan serba terpaksa.

Selama dua hari ini, saya telah membaca dua surah. Namun, terasa hambar. Padahal, Ramadan yang telah lalu, saat membaca kitab ini, saya sungguh menikmatinya. Tidak terasa, Ramadan telah sampai pada hari ini, ingin rasanya kembali menikmatinya tuntas. Seperti jatuh cinta lagi dan melewati fase pubertas sebagaimana dahulu merangkai kehangatan. Walakin, jatuh cinta di masa begini, sungguh menggelisahkan, dan  bagai berkencan di tengah pusaran badai. Menahan rindu itu berat. Lamun, biarlah ini menjadi kidung cinta ilahi, dalam sepi. Tetap bersemi, sembari terpasung. Saya menikmati sahaja keberadaan ini.

 


 

Sumber gambar: google

ditulis oleh

Dion Syaif Saen

Pekerja seni di Bantaeng