Saya rasa pandemi Covid-19 semakin hari semakin akrab dan tidak lagi begitu menakutkan seperti awal mula pemerintah dan aktivis serukan untuk merumahkan segala aktivitas. Berbagai pergerakan sosial masyarakat dikontrol dari bilik-bilik privasi untuk menghalau kemungkinan ledakan pasien positif dan naiknya data kematian karena virus Covid-19. Virus dengan berbagai sejarah dan isu-isu yang menungganginya ini telah merebut perhatian global dan meringsek ke lapisan konglomerat. Jika pandemi berdampak pada kaum proletar mungkin sudah biasa, tapi kemudian menjadi seru rasanya ketika bigdaya dan figur tersohor dibuat pula kelimpungan mengurasi ekonomi dan nasib usahanya.

Di Korea Selatan pemerintahnya sibuk menggerakkan rapid tes dan PCR agar data-data total penduduk bisa dipisahakan antara yang ODP, suspek, PDP, dan positif, segera dipotong dan dimukimkan secara ketat di ruang inkubator nasional. Korea Selatan melaksanakan berbagai peluang untuk menyelamatkan rakyatnya agar tidak ada yang tumbang walaupun pada akhirnya ada yang meninggal, Korea Selatan memilih memberdayakan tim medis dan menjaga rakyatnya. Sesari informasi di media elektronik mengungkapkan bahwa virus ini mampu mamatikan pasien jika usianya rentan, punya penyakit bawaan, dan imun tubuhnya diambang lemah, atau prinsipnya komplikasi.

Hampir senasib dengan gejala virus flu lainnya. Dengan bolak-balik RATAS (rapat terbatas) dan pergulatan opini, pemerintah di negara manapun melakukan pencegahan separatis meski ada anjuran WHO dan nasihat para ilmuwan profesional. Pandemi global yang berasal dari binatang ini tidak pelak bergemuruh merisaukan banyak pihak dan seluruh lapisan masyarakat. Apalagi yang tersisa? tentu saja rasionalitas dan nilai-nilai kemanusiaan.

Amerika sebagai negara adikuasa yang dominan membiayai organisasi kesehatan dunia, WHO, akhirnya menghentikan donasi dan fokus meredam berbagai tekanan rakyatnya yang mulai terprovokasi dan keluar kejalanan berdemonstrasi menolak swakarantina. Sebagai negara yang kerap ditandai sebagai pihak konspirasi, tentu ini kabar lucu untuk negara lain atau musuhnya sekalipun. Pandemi dengan akurasi data yang nyaris dipenuhi sketsa konspirasi hingga menelurkan banyak praktik-praktik perlawanan, ilmu spekulasi positivisme, menambah dereta tajam bagaimana mental tiap orang dikerumuni oleh info ancaman. Setiap orang dipaksa berdiam sebagai bentuk soliter nan solider.

Di indonesia yang notabene dikuasai oleh masyarakat muslim, hingga kini masih sering meributkan selebrasi keagamaan yang dilarang, ditunda, ditiadakan hanya karena penularan massiv sars-cov2 ini. Buat banyak aliran agama Islam, meniadakan salat berjamaah telah menurunkan akidah dan menguji keberimanan. Namun sekali lagi ini ditampik dan dilarang oleh pemuka agama. Indonesia adalah negara dengan daya komsumsi besar, jumlah penduduk sangat mendukung agresivitas putaran uang, bahkan sebagian besar kini lahir dari ekonomi syariah yang juntrungannya masih simpang siur.

Banyak perusahaan di masa pandemi memilih meredam aktivitasnya dan melaksanakan WFH, ataupun merumahkan pegawai dengan status kontrak atau mitra. Seluruh aktivitas perusahaan menunjukkan kondisi cari aman, dan melarikan sisa aset untuk mempertahan eksistensi hingga masa pandemi berakhir. Tapi siapa sangka salah satu perusahaan terapi kecantikan, Dove, melakukan “pemberdayaan” untuk berdampak kepada masyarakat. Memberi cerminan berbeda dalam menghadapi masa-masa resesi pandemi covid-19.

Di sebuah ulasan akun Instagram platform creative consultant, Vosvoyers, Dove ditampilkan melakukan tendangan telak terhadap rendahnya putaran uang saat ini. Melalui gerakan amal, produk dari Unilever itu menunjukkan kepeduliannya, dampaknya, secara gamblang sesuai dengan konsepnya yaitu “courage is beautifull.”

Sejak pandemi berlangsung Dove mengkampanyekan nilai-nilai kecantikan dari para perawat perempuan yang tengah menjadi garda terdepan melawan pandemi ini. Apresiasi besar semakin nyata ketika perusaan Dove di Inggris menghentikan penjualan dan menyiarkan iklan dengan seruan “we dont care which soap you use, we care that you care.

Kampanye humanis di balik stigma industri kapitalis yang cuma menghitung laba besar, menggiring opini masyarakat untuk membeli produk Dove tanpa harus menunggangi label halal, ecofriendly, serta meluruskan makna cantik yang purnarupa ke dalam satu konsep baku warna kulit. Dove adalah contoh industri value yang sedang marak di zaman generasi milenial berhasil meraup simpati dengan konotasi sentimentil.

Pandemi menjadi panggung tersendiri bagi banyak pihak untuk menghidupkan kembali riwayat jatuhnya harga barang dan rendahnya daya beli. Dove merepresentasi nilai peduli dalam bentuk pemberdayaan. Menggunakan kekuasaan untuk menyetop penjualan dan melakukan iklan-iklan berbau kepedulian agar konsumen menjatuhkan pilihannya pada Dove tanpa harus ada iming-iming kecantikan. Kecantikan dari dalam adalah bagian dari konsep yang dibangun agar Dove secara tidak langsung berhasil menciptakan pasar barunya. Karena dalam ilmu pemberdayaan kita mampu mengontrol melalui semacam tindakan nyata, pemulihan, ikatan emosional, pembangunan dengan harapan kemanusiaan, melalui kepercayaan. Kepercayaan inilah mata uang yang dipakai untuk membeli prodak-prodak dove.

Apapun yang kita coba lakukan di masa swakarantina ini tentu bukan untuk menghidupi diri sendiri tapi untuk saling menguatkan dan menjadikan kepedulian sebagai tameng kedua menghalangi gelombang setelah pandemi yakni chaos-nya masyarakat dan hilangnya simpati rakyat kepada pemerintah. Naiknya emosi kaum muda untuk melakukan demo-demo penolakan terhadap upaya-upaya genting yang rawan risiko. Apalagi industri sedang jatuh, dan rakyat miskin diserang kecemburuan sosial atas konglomerat yang belum kehabisan harta.

Gambar: https://fineartamerica.com/featured/dollar-puzzle-2-chris-van-es.html

ditulis oleh

Sandra Dewi

Sandra Dewi murid KLPI angakatan 2.
Lahir di Pangkajene, 24 Mei 1989. Besar dikeluarga NU dan membawa nama Filsafat dalam berbagai literaturnya sebagaimana studi yang diampu. Alamat Jl. Dg. Ramang, Btn Gelora Baddoka Indah blok G3/13. Hobi mereview buku/film, menulis essai dan prosa, dan berjuang membesarkan komunitas yang diembannya.