Tahun ini dunia sedang kedatangan dua tamu istimewa. Keduanya merupakan makhluk Tuhan yang tak kasatmata, tak dapat disentuh, tak bisa diraba, bahkan tak mampu diterawang. Mereka datang di saat yang hampir bersamaan. Tapi anehnya, perlakuan dan penerimaan manusia terhadap keduanya sangat bertolak belakang.

Kedatangan tamu pertama disambut dengan penuh histeria, ketakutan, bahkan kepanikan. Begitu dia datang, seluruh lini kehidupan menutup diri. Sedangkan ketika tamu kedua tiba, dia disambut penuh euforia, penghargaan tinggi dan kebahagiaan tiada tara. Bahkan beberapa hari sebelum kedatangannya, manusia sudah menyiapkan berbagai hal demi menyambutnya. Ada apa dengan kedua tamu ini? Coba kita telusuri akar persoalannya.

Tamu pertama disebut istimewa sebab kehadirannya yang tidak pernah disangka-sangka oleh siapapun. Dia datang tak dijemput, pulang tak diantar (hehehe…kayak jelangkung saja yah?!). Tak tanggung-tanggung, hanya dalam hitungan hari dia menyambangi banyak negara melalui berbagai perantara. Tak ada satupun yang mau disentuh olehnya. Tak seorangpun yang rela ditemuinya. Siapakah dia? Mengapa dia sangat tidak diharapkan? Jreng, jreng, jreng…. Dialah si cantik Coronavirus.

Dia disebut sebagai virus atau mikroorganisme sebab ukurannya yang teramat kecil. Saking kecilnya sehingga tidak dapat dilihat melalui mikroskop biasa.  Dia hanya bisa ditangkap netra jika menggunakan mikroskop elektron (Tapi, bukan elekton loh!). Dia kunamai si cantik karena bentuknya yang unik dan warnanya yang eksentrik (Padahal aku tidak yakin juga dia itu perempuan atau laki, hehehe…)

Dia merupakan sekumpulan virus yang dapat menginfeksi sistem saluran pernapasan (Mungkin jika datang sendirian, dia tidak akan menginfeksi yah?). Dalam banyak kasus ditemukan bahwa virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, tetapi di beberapa kasus lainnya dia mengakibatkan infeksi pernapasan berat. Terutama jika yang terpapar adalah orang lanjut usia, ibu hamil, perokok, penderita penyakit kronis, ataupun orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Si cantik Coronavirus dapat menginfeksi siapa saja. Berbagai reaksi tubuh manusia yang terinfeksi olehnya, tergantung kondisi fisik mereka. Jika sistem kekebalannya kuat, maka dia tidak merasakan gejala apapun. Sebaliknya, jika imunitas tubuhnya lemah, bisa fatal akibatnya. Hal inilah yang menyebabkan hingga kini sudah beribu jumlah korban jiwa.

Tamu istimewa yang kedua sangat berbeda dengan yang pertama. Kedatangannya begitu dirindukan oleh kaum muslimin. Dia dielu-elukan di langit dan di bumi. Digemakan kabar kedatangannya di dunia nyata dan dunia maya. Semua makhluk menantinya, bahkan berhari-hari sebelumnya.

Tamu ini setiap tahun datang menyapa dunia. Dia membawa berjuta berkah dari Sang Khalik. Dia memiliki beberapa momentum istimewa di dalamnya. Ada puluhan hari yang agung dan malam yang diberkahi bersamanya. Dia bulan kesembilan Hijriah, bulan Ramadhan.

Betapa manusia sangat mengimpikan berjumpa dengan Lailatul Qadar yang diyakini berkahnya mampu menyaingi ibadah selama kurang lebih 83 tahun lamanya.  Siapa yang tidak tergiur dengan janji Tuhan itu? Sementara usia manusia sekarang rata-rata hanya berkisar 60-70 tahun saja. Kalaupun ada yang lebih dari itu, jumlahnya hanya segelintir orang saja.

Lalu pertanyaan yang timbul kemudian, mengapa terjadi perlakuan yang berbeda terhadap kedua tamu ini? Padahal tamu itu adalah raja. Agama apapun di dunia mengajarkan seluruh umatnya untuk menghormati para tamu, tidak boleh ada perbedaan perlakuan terhadap mereka. Dalam sebuah hadis Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan pernah menegur sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akibat membedakan perlakuan terhadap tamunya. Sangat jelas termaktub dalam QS. ‘Abasa ayat 1 – 11:

 

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ  ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ  ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ  ٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ  ٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ  ٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ  ٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ  ٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ  ٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ  ٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ  ١٠ كَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ  ١١

 

Terjemahan:

  1. Dia bermuka masam dan berpaling,
  2. Karena telah datang seorang buta kepadanya.
  3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
  4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
  5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
  6. Maka kamu melayaninya.
  7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
  8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
  9. Sedang ia takut kepada (Allah),
  10. Maka kamu mengabaikannya.
  11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

 

Berdasar pada kedua dalil di atas, manusia diajarkan agar menyambut tamunya dengan hati lapang, tak berkeluh kesah, dan tanpa perlakuan yang berbeda. Pada waktu Coronavirus mewabah, banyak orang yang mengeluhkan kedatangannya, protes, tidak senang, benci, bahkan menghujat Tuhan dan mempertanyakan keberadaannya. Padahal dibalik musibah, pasti Allah memberi berkah yang menyertainya. Sesudah kesulitan, akan ada kemudahan-kemudahan.

Dengan adanya epidemi saat ini, bumi mulai membersihkan dirinya secara jasmaniyah (kayak mandi kembang gitu!). Dia memulihkan diri dari ‘sakit’ yang mendera selama berabad-abad lamanya. Lapisan ozon kembali menebal, udara yang dihirup semakin segar, langit menjadi lebih cerah, laut bersih dari polusi, dan masih banyak lagi perubahan baik lainnya. (Andai bumi bisa bicara, dia pasti akan bilang “wow, segaarr!!!”)

Ketika si cantik Corona menyapa, saat itulah titik awal instalasi rehabilitasi ulang bumi terhadap dirinya. Banyak yang tidak menyadari bahwa selama ini bumilah yang sebenarnya tercemar dan terinfeksi oleh ‘virus-virus’ hasil perbuatan manusia. Virus-virus itu berasal dari kelakuan manusia yang mengeksploitasi alam dan mengabaikan pelestarian lingkungannya. Kini saatnya manusia mengambil ibrah dari pandemik ini bahwa bumi dan manusia harus saling mendukung dalam mempertahankan kehidupannya. Tak boleh ada yang merusak lingkungan sehingga alam bisa tetap lestari.

Wallahu a’lam.

 


Sumber gambar: https://cmo.adobe.com

ditulis oleh

Sitti Zuhraeni

Sitti Zuhraeni. Lahir di Bantaeng, 15 Mei 1982. Buah hati kesebelas dari pasangan Kyai Abdul Djabbar dan Sitti Rohani. Aktif sebagai tenaga pendidik di MAS. Ma'arif NU Lasepang Bantaeng sejak tahun 2004 hingga sekarang.