Orang bijak mengatakan, “jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis. Dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.” Adagium tersebut, satu dari mutu manikam Mahatma Gandhi yang ditaburnya semasa hidup. Apa yang dikatakan Gandhiji merupakan hasil refleksi kehidupan yang telah dititinya. Hidup yang diabdikan penuh cinta untuk kemanusiaan.

Maksim Gandhi jua yang mengingatkan sahaya pada sosok lelaki tua yang di setiap perjumpaan selalu melontar senyum ramah. (Bolehlah kiranya saya meminta segenap pembaca yang budiman mengirimkan surah Al-Fatihah, semoga Beliau diberi kebahagiaan hakiki di tempatnya kini). Sejak kematiannya, sahaya mengikrarkan diri untuk menuliskan satu amalannya untuk dijadikan bahan renungan. Meski saya tahu, beliau amat enggan hal-hal demikian disingkap. Tetapi paling alit menjadi jam weker bagi sahaya sendiri, yang sampai kini masih terseok-seok, melata di emperan zaman.

Lelaki renta yang selalu berpenampilan sederhana itu, kerap bertandang di sekolah tempat sahaya bekerja. Sahaya tidak mengenalnya lebih, sebagaimana orang lain mengakrabinya. Pertemuan dengannya sekilas saja serupa berjumpanya musafir di kedai-kedai kopi. Sesekali saja saya bercakap-cakap tentang masjid yang dibangunnya atau bibit pepaya yang dirawatnya sejak kecil.

“Bapak” – sebutan orang-orang untuk beliau – seorang pensiunan dosen kampus oranye. Padanya melekat gelar doktor, jabatan direktur, dan kemapanan, tapi tak jua beliau tampil jumawa. Benar-benar pribadi yang sederhana, ramah, nan budiman.  Lalu apa yang hendak sahaya abadikan selain kesederhanan dan kisah cinta dengan istrinya yang semolek hubungan Habibi-Ainun?

Soe Hok Gie boleh saja mati memegang kata-kata filsuf Yunani yang dikutip dalam puisinya. “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan tersial adalah berumur tua.” Tapi usia senja bagi Bapak, tetap menjadi masa terbaik. Di mana ia mengerahkan segala daya dan upayanya menyongsong kehidupan mendatang. Jalan yang ditempuhnya adalah dengan berbagi. Berderma dengan penuh cinta untuk sesamanya. Tak ayal, masyarakat di kompleks tempat tinggalnya mengenal Bapak sebagai pengayom bajik nan bijak bestari.

Hasil daya cipta yang paling dikasihinya semasa hidup adalah sekolah yang kini berdiri di pedalaman Gowa. Bukan hanya tanah yang dihibahkannya, tapi uang dikucurkan, tenaga dikerahkan, dan pikiran dibagikannya dengan penuh cinta. Tak ada kepentingan apa pun yang disematkan macam geliat segelintir politikus negeri ini.

Sekolah yang dirawat Bapak seperti anak sendiri, diharapkannya menjadi rahim bagi generasi bangsa yang berwawasan global. Namun, tetap menjadikan ilmu agama, khususnya karakter dan akhlak, sebagai pondasi utama. Sebab ilmu tanpa agama itu buta dan agama tanpa ilmu itu pincang, demikian pendakuan Albert Einsten.

Di mata sahaya, kecintaan Bapak berbagi adalah pengejawantahan tingginya ilmu dilandasi dengan pemahaman agama yang mumpuni. Menubuh menjadi satu dalam laku dan lakon sehari-hari yang ringan tangan, ramah, dan sederhana.

Kiwari ini, banyak dari kita kehilangan kepekaan sosial dan hanya peduli mengurusi perut sendiri. Kita acuh dan pura-pura tak melihat orang-orang kelaparan hingga meregang nyawa di emperan toko, kolong jembatan, atau bahkan tetangga kita sendiri. Sikap inilah yang disebut kekafiran terselubung oleh Haidar Bagir dalam bukunya, Islam Tuhan Islam Manusia. Haidar mengatakan bahwa sikap acuh dan “masa bodoh” terhadap kesusahan orang lain atau pelanggaran terhadap syariat secara tegas dinyatakan sebagai keadaan “tidak beriman”.

Kebiasaan berbagi atau bersedakah merupakan salah satu sikap yang harus kita tubuhkan. Jika tak punya harta untuk dibagikan, dermakan tenaga kita dalam komunitas sosial yang kini banyak berseliweran di sekitar kita. Atawa sedekahkanlah pengetahuan dan ide-ide  positif  di media sosial. Bukan malah membagikan postingan atau artikel yang berbau kebencian dan hoaks, yang dapat menyulut pertikaian antara sesama manusia.

Berbagilah dengan penuh kebahagiaan dan cinta. Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 261, dengan indah menyebutkan bahwa, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.”

Hamza Yusuf pun dalam bukunya Purification of The Heart, menegaskan bahwa kedermawanan adalah salah satu kebajikan tertinggi dalam Islam dan salah satu sifat menonjol Nabi Muhammad Saw., yang dikenal sebagai orang paling dermawan.

Bapak, meminjam istilah Robin Sharma, hanya satu dari banyak orang yang memasuki hidupku, yang memiliki pelajaran untuk disampaikan dan kisah adiluhung untuk diceritakan. Masa lalu tidak selamanya harus disimpan di ruang lupa bukan? Di kedalaman pengalaman hidup pastilah terdapat mutiara kebijaksaan yang berharga. Kita hanya perlu menyelam lebih dalam untuk menemukannya.

Olehnya di bulan Ramadan ini, banyak-banyaklah berbagi kebaikan. Berbagilah dengan penuh cinta. Rasakan sensasi dan nikmatnya ketika melihat senyum orang-orang yang kita bantu. Buatlah hidup kita bermakna sebagaimana yang dikatakan Robin Sharma dalam bukunya Who Will Cry When Die. “Hidup bermakna tercipta dari serangkaian tindakan sehari-hari yang terdiri atas perilaku yang baik dan kebaikan hati, yang ironisnya, menjadi sesuatu yang sangat hebat sepanjang hidupmu.”

 

Sumber ilustrasi: Inilah.com

 

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.