Selama Ramadan kali ini, tubuh dan jiwa mengalami ujian dua kali lipat dari biasanya. Masa PSBB membuat jiwa, terutama tubuh mengalami pembatasan secara radikal dan ekstrem. Tubuh tidak dapat bergerak kemana-mana. Pengalaman spasialnya otomatis menyempit untuk tidak mengatakannya hilang sama sekali.

Tubuh, berkat PSBB mau tidak mau mesti menerima rumah sebagai satu-satunya wahana tempat ia bergerak.

Agak unik melihat fenomena ini, oleh sebab seolah-olah secara sosial tubuh mengalami obesitas. Ia sulit bergerak berpindah dari satu ruang ke ruang lain walaupun tidak sama sekali kelebihan serat daging.

Meski tubuh fisik mampu mengatasi ruang yang maha melimpah,  namun tetap saja, di luar, ruang sosial yang lebih luas, tubuh mengalami penyempitan kehilangan kemampuan bergeraknya seperti saat kelebihan beban.

Obesitas tubuh sosial ini bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap tubuh fisik ini. Dengan kata lain, semakin lama kita terkurung di dalam rumah, akan semakin cepat tubuh kita mengalami pembengkakan karena kehilangan setengah ruang geraknya.

Dalam momen ini, agaknya hikmah Ramadan dalam suasana PSBB ini adalah menjadi alat timbang yang mengontrol tubuh agar tidak mengalami obesitas. Ruang gerak yang minim akan ditransformasikan menjadi lebih sepadan saat tubuh mengalami pengurangan asupan melalui puasa.

Walaupun demikian, meski tubuh saat ini mengalami diet sosial, ia senantiasa memanfaatkan jiwa untuk mengoperasikan dirinya agar dapat bergerak lebih bebas.

Di saat inilah jiwa mengalami dua kali lipat ujian. Di samping ia ditimpa beban keinginan tubuh agar ingin terus bergerak, ia sendiri juga mengalami godaan dari dalam berkat kemampuannya melakukan proses imajinasi secara bebas.

Kiwari, tubuh lebih fleksibel bergerak ketika ia dibantu melalui device canggih berupa smartphone. Teknologi smartphone dalam hal ini selain menjadi alat bantu indera, sebenarnya juga menjadi kepanjangan tubuh.

Tubuh, dengan kata lain, di saat mengalami hambatan gerak saat PSBB, tidak serta merta terpenjara sama sekali. Selama ia dibantu melalui identitas maya melalui akun-akun virtual, ia dapat bergerak dari satu situs wilayah ke situs wilayah lain dengan menggunakan tubuh maya yang dibuat sebelumnya.

Di satu sisi keadaan ini akan sama dengan situasi ketika PSBB belum diberlakukan. Selama ini tubuh memanfaatkan pasar sebagai arena bermainnya. Di mal, toko pakaian, pub, restoran siap saji, adalah wilayah-wilayah penting tempat tubuh selama ini memenuhi kebutuhan hasratnya.

Sekarang, saat tubuh mengalami pembatasan berskala besar, ia memanfaatkan dunia maya sebagai medan petualangan barunya. Ini dalam pengertian tertentu merupakan kompensasi dari situasi yang sudah diakrabi tubuh sebelumnya.

Bahkan, pergerakan tubuh maya di saat ini lebih bebas merambah dunia yang tak pernah dijamah tubuh fisik. Dengan aturan sosial yang lebih bebas, tubuh maya bisa melakukan apa saja dengan cara apa pun jika ia ditopang unsur genetiknya berupa byte-byte yang tak terhitung jumlahnya.

Itu artinya ketika tubuh kehilangan medium gerak dalam ranah spasial-sosialnya, ia bakal mencari medium baru agar ia dapat terus bergerak dan menyalurkan keinginan terpendamnya di ranah yang lebih aktual.

Interaksi kelas online, kajian online, belanja online, dan grup-grup maya yang lebih ramai dari masa sebelum PSBB merupakan contoh konkret bagaimana tubuh susah ditundukkan oleh aturan yang membatasi ruang bergeraknya. Positif atau negatifkah ia, terlepas dari motivasi apa pun itu, tubuh liat mencari cela dan ruang baru untuk mempertahankan eksistensinya.

Bagaimana dengan jiwa? Jiwa lebih dahsyat lagi. Selama tubuh bergerak bebas melalui interaksi maya, di saat bersamaan jiwa juga melakukan gerak imajinatif di dalam dunia imajinary.

Bukan saja jiwa dapat menyambangi dunia fantasi yang dibentuk realitas imajiner, bahkan ia sendiri bisa menduplikasi dengan cara membentuk sendiri dunia fantasi yang ia inginkan.

Dibandingkan tubuh, imajinasi jauh lebih berbahaya jika dibiarkan bebas bergerak. Jika tubuh menemukan momentum aktusnya di dalam dunia maya, jiwa justru dapat menciptakan aktus di dalam dunia kemungkinan yang tidak dapat ditemukan di dalam dunia maya tempat tubuh beroperasi.

Itu artinya, jiwa yang tidak dikendalikan dengan bajik, akan membuat suatu dunia imajiner yang melanggar nilai normatifitas yang selama ini diakui.

Dalam terminologi Islam, tubuh dikategorisasi menjadi tiga tipe. Al Qur’an membaginya menjadi tiga berupa al insan, al nas, dan al basyar. Pemakaian tiga terma tubuh dalam al Quran ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Al Insan adalah lapisan subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik dan bergerak menyempurna. Tubuh dari sisi  al insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Al Nas sering dipakai al-Qur’an untuk menunjuk tubuh sosial manusia.  Al Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat.

Sementara al basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya.  Al Basyar sering dirujuk al Qur’an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Melihat tubuh dari tiga tipe di atas, nampaknya hanya dua yang berhasil ditundukkan melalui aturan PSBB. Tubuh dalam pengertian al nas dan al basyar adalah dua tipe tubuh yang mengalami perumahan. Ia praktis dalam masa PSBB mengalami pendisiplinan ketat untuk menghalau penyebaran penyakit yang saat ini sedang dihadapi.

Sementara, al insan adalah tubuh yang menjadi golden goal selama puasa dan PSBB. Jika PSBB bertujuan menundukkan tubuh al nas dan Al basyar sekaligus secara bersamaan, maka  saat bersamaan selama Ramadan, dua tubuh ini mesti mencapai tubuh al insan sebagai tujuan utamanya. Al Qur’an menyebutnya takwa sebagai puncak keberhasilan jika dua tipe tubuh sebelumnya berhasil dididik selama menjalani masa karantina puasa ini.

Kelak jika kualitas al Insan dapat diraih, jiwa akan merdeka dan suci setelah selama 30 hari menjalani karantina dari godaan gejolak tubuh, hasrat, dan imajinasi yang selama ini menjadi lawan terberatnya.

 


Sumber gambar: Bobo.grid.id

ditulis oleh

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).