Buruh atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apa-apa selain tenaga. Tak memiliki apa-apa selain otot. Dalam sistem pemuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan diisap. Mereka mengalami keterasingan, dari mesin-mesin, dari barang-barang, juga dari masyarakat.

Alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja satu-satunya milik buruh berubah menjadi milik tuan pemodal. Dengan upah, tuan-tuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan: menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka dari itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem kapitalistik, buruh bukan berarti pribadi individualistik. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum.

Sebab itulah di balik sistem kapitalistik, ada penjajahan massal. Di dalam urat nadi industrialisasi kaum buruh menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Ia kecil tapi signifikan justru bukan bagi kelasnya. Di dalam tatanan akbar itu, buruh kian dirundung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Karl Marx itu nyatanya bertransformasi. Ia berkembang berjilid-jilid. Dari kapitalisme tua, pramodern, modern, hingga kapitalisme lanjut. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrik-pabrik. Tapi itu tadi, zaman berubah, dan kapitalisme juga berubah: sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem tunggal, melainkan jamak menjadi struktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun.

Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuan-tuan kapital.

Sebuah penghisapan massalkah ini?

Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalistik sama halnya menjual jasa pada sistem yang belum tamat ini. Kerja di abad kiwari, bukan lagi persis seperti di abad lalu yang mesti bersentuhan langsung dengan alat produksi berupa mesin di pabrik-pabrik.

Kerja, dengan semangat zaman yang baru, adalah pertukaran tenaga dan keahlian menjadi keuntungan kapital bagi nama baik perusahaan, rating tinggi media, citra baik pemerintah, atau bahkan nilai sempurna akreditasi perguruan tinggi. Abad kiwari, setiap tetes keringat akan ditransformasikan menjadi kapital baru. Dari tenaga menjadi keahlian. Dari otot diganti otak.

Tiada yang abadi di dalam kapitalisme selain kerja. Kerja atau mekanisme menggerakkan modal dari cukup menjadi berlipat ganda adalah inti sistem global saat ini. Siapa pun mau tidak mau, atas nama apa pun bakal disedot masuk mengisi satu slot ruang pekerja. Entah menggunakan seragam, helm pengaman, atau stetoskop. Dipaksa atau terpaksa.

Karl Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem masyarakat kapitalistik, kerja yang dilakukan tanpa gairah dan kebebasan akan menjadi petaka.  Akan menjadi alienatif. Kerja  macam inilah yang disebut mengkerdilkan kemanusiaan. Menciutkan arti hakikat manusia seolah-olah seperti binatang.

Kerja, bagi Marx adalah modus sejarah. Kerja adalah cara manusia mengelola apa yang awalnya nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kekejaman kapitalisme mampu mendesak kerja yang manusiawi menjadi nonmanusiawi. Mau tidak mau buruh yang tak memiliki apa-apa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. “Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah!” Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginspirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak mati-mati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuan-tuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti: di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Dengan itu sepertinya buruh yakin atas ramalan Marx. Kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri. Sistem kapitalisme akan terjerat pertarungannya sendiri. Marx menyebutnya kontradiksi internal: iman yang pasti akan keruntuhan dengan sendirinya kapitalisme. Meski itu bakal lama terjadi. Meski bisa sebaliknya, itu bakal tidak mungkin terjadi.

Adakah yang salah dengan itu? Adakah yang mesti dibuktikan di situ? Saya pikir ramalan bukan berarti urusan keyakinan yang harus dibuktikan. Justru sebaliknya, karena tidak pernah terbukti, sesuatu itu semakin menjadi keyakinan. Sesuatu utopiakah ini? Rasa-rasanya optimisme itu penting: karena suatu cita-cita jadi utopia, maka ia mesti terus diperjuangkan. Juga buruh yang jadi alat kekayaan pemodal itu, semakin diisap semakin melawan. Ini memang mirip pegas.

Selamat hari Buruh Internasional. 1 Mei 2020

 


Sumber gambar: commons.wikimedia.org

ditulis oleh

Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).