Siang ini, saya duduk berlalai-lalai di bawah pohon mangga besar yang tumbuh depan rumah. Konon kabarnya, pohon itu seumuran usia saya. Enam belas tahun lalu, ibu penyebab tumbuhnya. Bertepatan saat saya telah dua minggu menginapi rahimnya, dia mengidam mangga masak. Sebuah habis ditelannya, dan bijinya dibuang begitu saja. Tanpa sengaja, gentel itu tumbuh. Pohon ini telah berpuluh kali berbuah lebat. Pun sempat dibagi-bagi pula oleh nenek saya ke tetangga dekat rumah. Tetapi, saat musim kemarau begini, daun-daun pohon tersebut akan menguning, gugur satu-satu. Sungguh, ini membuat saya kerepotan. Saya harus menyapu pagi dan sore. Apabila dibiarkan, dedaunan itu akan menggunung di halaman, bertebaran di jalan depan rumah, kemudian diterbangkan angin ke pekarangan rumah orang lain. Jika sudah begini, saya harus pasrah menerima gerutu tetangga, padahal jika berbuah mereka juga turut menikmatinya.

Nenek juga senang berangin-angin di kolong tanaman ini. Bahkan, dia menempatkan sebuah balai-balai yang dibuatnya sendiri di bawahnya. Ketika subuh, dia menyusun, mengikat kecil-kecil sayur kangkung yang dibudidayakan mandiri memanfaatkan halaman rumah, sebelum dijual ke pasar. Saat sore, nenek pun ada di sana. Menikmati rebusan kayu secang dalam mug besi motif lurik berukuran satu liter. Nenek sudah tidak minum kopi dan teh lagi, semenjak gula darahnya sering naik. Saya kerap melihat nenek mengelus-elus batang mangga itu, seperti merisik sesuatu. Barangkali, dia mengumpulkan kepingan kenangan di situ. Tampaknya, dia rindu pada anaknya yang telah lama pergi. Saban waktu berjanji pulang, tetapi tidak pernah datang.

Suatu ketika, nenek sempat menceritakan tentang ibu saya di balai-balai itu. Kata nenek, “Ibumu perempuan cerdas. Dia melulusi kuliah Bahasa Inggrisnya di kota dengan nilai sangat baik. Kefasihan berbahasa tersebutlah yang mengantarkannya bekerja sebagai tour guide untuk turis-turis mancanegara yang berkunjung. Tetapi, sayangnya ibumu bernasib sial saat kehidupannya mulai di atas angin. Seorang lelaki kebangsaan Inggris keturunan Jerman bernama Adalrich memikat hatinya. Di usia ibumu yang baru 23 tahun, dia membawa laki-laki itu ke hadapan nenek, memohon restu. Selisih usia mereka terbilang 10 tahun. Meski begitu, Purnama, ibumu sangat mencintainya. Saya tidak bisa menjadi penghalang mereka. Apalagi, ayahmu saat itu sudah mapan. Dia mengendarai mobil bagus ketika pertama kali berkunjung ke Indonesia, lalu meminta ibumu memandunya.” Nenek, termenung menatapi tanah di pijakannya.

“Apa yang dilakukan Adalrich, Nenek? Mengapa ibu bernasib kurang baik?” Saya menyanggah.

“Setelah mereka menikah, ibumu berhenti bekerja. Dia menuruti permintaan Adalrich agar di rumah saja. Menjadi perempuan yang menanti kedatangan suami, dengan dandanan cantik. Ibumu saat itu tengah mengandungmu. Sementara Adalrich, selalu bepergian ke beberapa kota untuk menyelesaikan perjalanan bisnisnya. Dia sempat pulang, saat usia kandungan ibumu Enam bulan. Tetapi setelah itu, dia pamit ke Inggris. Mengambil beberapa dokumen penting, alasannya. Itulah pertemuan terakhir ibu dan ayahmu. Sampai hari ini, dia tidak pernah kembali. Ibumu, menangis sejadi-jadinya saat menyadari semuanya, namun dia tidak bisa berbuat banyak. Alamat pasti ayahmu tidak ada, dan biaya ke sana pun tidak cukup. Satu-satunya alasan ibumu bertahan waras adalah dirimu.” Mata nenek mulai berkaca-kaca. Saya memalingkan muka.

Saya selalu tidak tega melihat nenek seperti itu. Mata digenangi air sambil menahan pinggiran mug besi berlama-lama di mulutnya setelah menelan isinya, sungguh terlihat menyembunyikan pedih. Ini menandakan hati nenek berkecamuk. Saya sering melihatnya serupa ini, apalagi jika berkaitan dengan ibu.

Perihal kepulangan ibu, nenek selalu menanti. Saat waktu menyapih saya selesai, ibu meninggalkan saya bersama nenek. Dia ke kota mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan kami. Dari cerita nenek, ibu diterima kerja sebagai resepsionis hotel atas rekomendasi salah satu teman guidenya dulu. Saya maklum atas pilihan ibu meninggalkan saya sejak usia dua tahun. Menjadi single parent memang tidaklah mudah. Meski wajahnya sungguh samar di memori kanak-kanak saya, tetapi saya mulai mengingat suara dan senyumnya yang indah saat bermain Ci Luk Baa. Nenek menajamkan kenangan saya tentang garis wajah ibu, dari foto-fotonya yang menggantung di dinding.

***

Belakangan ini, saya mulai bertanya-tanya tentang keberadaan ibu. Nenek tidak pernah lagi mengajak saya duduk di balai-balai mewartakan keadaannya, sejak tersiar kabar ibu menjadi istri simpanan pengusaha. Warita ini, didengarnya dari Pak Salih yang bekerja mendistribusikan sayuran ke kota. Nenek lebih banyak diam jika saya tanya. Meski uang kiriman ibu untuk kami masih tetap rutin setiap bulannya, saya merasa ada yang berbeda. Nenek tidak pernah mengajak saya ke minimarket lagi berbelanja alat-alat kosmetik sebagaimana biasanya ketika transferan ibu diterima. Padahal untuk urusan ini, dia terbilang bawel. Dia suka melihat saya berdandan. Katanya saya mirip ibu.

Pernah juga suatu hari sepulang sekolah, saya mendapati nenek menerima sebuah paket dan sepucuk surat yang diantarkan petugas pos. Begitu melihat saya, nenek tergesa-gesa menyelipkan surat itu dalam tengkuluk yang melingkari kepalanya. Kalang kabut, dia mengajak saya duduk, membuka kardus paket secara seksama. Isinya, mukena dan gamis berwarna merah muda untuk saya, merah maron milik nenek. “Ibumu mengirimnya untuk persiapan Ramadan, dan lebaran.” Kata nenek.

“Surat itu?”

“Tidak ada yang penting, tunggu saja ibumu pulang Ramadan nanti!” Raut muka nenek, datar.

Saya berbahagia. Benak saya mulai ditimbun rasa penasaran, melihat wajah ibu secara langsung. Saya telah beberapa kali dikiriminya foto, tetapi saya yakin ibu jauh lebih cantik dari gambar yang tampak di layar ponsel saya. Saya sudah menyusun rencana akan membawa ibu nostalgia mengelilingi kampung ini dengan sepeda ontel saya. Lalu, saya akan mengajaknya menangkap ikan-ikan kecil di sawah, sebagaimana kegemaran ibu dulu waktu remaja menurut nenek. Jika ibu berencana tinggal lebih lama, artinya dia juga bisa ke sekolah mengambil rapor hasil belajar saya di semester dua ini. Sungguh sebuah  peristiwa langkah. Selama ini sayalah satu-satunya siswa berseragam abu-abu di sekolah itu yang mewakili diri sendiri. Sebagaimana biasa, di momen itu, saya mati rasa. Saya menyiapkan sumbat telinga, agar cibiran orang-orang tidak terdengar menusuk. Makanya, saya tidak membiarkan nenek datang menjadi wali. Hatinya pasti remuk jika dia tahu orang-orang kampung menyudutkan ibu. Apapun kata mereka. saya tetap percaya dengan ibu. Jika dia datang nanti, semua desas-desus itu akan hilang. Ibu pandai mengademkan suasana.

***

Besok satu Ramadan, kami menanti ibu. Nenek menyuruh saya merapikan kamar agar ibu betah. Di dapur masakan dalam periuk, menguap. Aroma khas racikan rempah-rempah kampung, tercium. Saya menggosok lantai rumah panggung ini dengan ampas kelapa parut, biar bersih mengkilap. Gorden-gorden jendela juga telah diganti. Memberesi rumah, dan masak makanan enak adalah salah satu tradisi masyarakat di kampung kami menyambut Ramadan. Apatah lagi, ibu janji pulang,

“Seharusnya ibu telah sampai?”

Jelang waktu Asar, semua telah beres. Saya bergegas mandi, dan menyalin pakaian. Lalu, saya berleha-leha di depan televisi, menunggu azan, pun ibu. Seorang newsreader di salah satu stasiun televisi swasta mewartakan,  “Telah ditemukan seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, tidak sadarkan diri di Baggage Claim area Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar pukul 12.00 wita. Hasil thermo scanner menunjukkan suhu tubuhnya berkisar 38, 5 derajat celsius. Saat ini, korban berada di salah satu rumah sakit rujukan Makassar untuk pertolongan pertama, dan persiapan rapid test Covid 19.”


Sumber gambar: hipwee.com

ditulis oleh

Muchniart AZ

Lahir 35 tahun silam. Punya dua jagoan andalan, Za dan Ken. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.