Wajahnya dipenuhi bercak merah bergumpal kecil-kecil, sekujur tubuhnya bersimbah darah dan basah. Parang itu berjaya memenggal kepala dan merobek lambung musuhnya. Ia pulang dalam keadaan menggigil penuh keringat dan rasa ketakutan. Sehari setelah peristiwa itu, ia ditemukan tidak lagi bernyawa, tanpa bekas luka atau sayatan parang. Kematian itu menyisakan tanya. Siapakah yang membunuh pemilik lidah gelap itu? Semua warga kampung terheran-heran.

Di rumah papan itu ia merengek dan memecah tangis pertama kali. Rumah yang beratap rumbia, berdinding bambu hasil anyaman. Berdiri tegak di sepanjang deretan rumah-rumah dengan model yang hampir semuanya serupa. Kecuali rumah Pak Karim, juragan kopra di perkampungan itu. Bangunannya kokoh, lebih besar dan bagus, pagarnya terbuat dari besi kuat yang dibawanya saat merantau 10 tahun silam. Tanah yang dikelilingi pohon kelapa itu dinamai Kampung Joro, menurut orang-orang dahulu, kelapa-kelapa itu tumbuh atas perintah tentara Belanda di masa penjajahan.

Dialah Lasinrang, hidup bertiga bersama ayah tiri dan ibunya yang kini tengah berbadan dua. Sejak kecil ia dididik oleh ayahnya dengan cara berbeda. Di umur sembilan tahun saat kawan-kawan sejawatnya asyik bermain, ia justru harus membelah ratusan buah kelapa milik Pak Karim, tetangga rumah tempat di mana ia berlelah-lelah. Kelapa-kelapa itu dikupas dan dijemur sampai sekering mungkin. Lalu isinya yang sudah kering mesti dibakar berjam-jam dan dicincang-cincang kecil serupa daging. Itulah yang dilakukan Lasinrang setiap harinya sehingga membuat postur tubuhnya besar, kekar dan berotot serupa raksasa.

Ia tentu tidak akan pernah mendengar dongeng dari mulut ayahnya, seperti kebanyakan para bocah di kampung Joro. Saat menjelang waktu tidur, ayah-ayah mereka akan sibuk memilih kisah terbaik dan menceritakan satu dua sampai tiga dongeng kerajaan untuk anak-anaknya. Sementara Lasinrang adalah satu-satunya anak yang lahir dan ditakdirkan menjadi pekerja kasar serupa binatang sepanjang hidupnya.

Ia seperti kerbau kampung, yang dipaksa membajak sawah setiap musim hujan datang. Atau mirip seekor kuda roda pengangkut tanah dengan muatan penuh lalu berjalan terbirit-birit mendaki kerikil dan bebatuan. Setiap harinya adalah bekerja, jika tidak, cambuk dari ekor pari kering itu akan melilit tubuhnya sampai berbelang-belang kesakitan.

Lagi pula, para bocah di kampung itu tidak akan berani berteman dengan Lasinrang, apalagi sampai bermain bersama, ayah ibu mereka tentu mengutukinya. Jika itu terjadi meski sekali saja, maka mereka akan dihukum tanpa ampun.

Suatu waktu, Lasinrang pernah sekali mencoba bergaul dengan anak-anak tetangga rumahnya, di suatu saat ia usai melakukan pekerjaan. Dengan rasa penuh harap ia membawa langkahnya mendekati sekumpulan bocah yang setiap harinya bermain dan tertawa riang. Belum lagi sempat berbaur, para bocah itu telah bubar dengan wajah sinis dan tatapan tajam. Sebetulnya ia juga ingin merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

Namun, semua orang menjauhinya karena rupa aneh dan menakutkan. Sejak lahir ia memiliki tubuh lidah yang hitam, ketika marah bola matanya merah berapi-api. Struktur wajahnya terlihat aneh, ia memiliki daun telinga yang panjang, jidatnya melebar sehingga tidak seimbang dengan bentuk dagunya yang rendah dan runcing seperti alien.

***

Di umur 17 tahun saat beranjak dewasa, kehidupannya segera berubah. Ia menjelma menjadi sosok pemabuk berat yang tempramental, bukan hanya karena terasing dalam lingkungan, tetapi juga karena Ayahnya tirinya yang memiliki sifat pemarah, celakanya kemarahan itu bukan hanya diterpa Lasinran, tetapi kemarahan itu juga selalu ia saksikan menerpa ibunya.

Puncak pertengkaran-pertengkaran hebat di dalam gubuk tua dimulai di suatu malam saat mendapati ibunya merasa nyeri kesakitan dan meminta ini itu. Perubahan mood yang tidak terkontrol saat hamil tua membikin ayahnya jengkel, geram dan menampar Sang Ibu berkali-kali sampai pipinya memerah-merah dan tersengut-sengut menahan simbah air mata.

Kekejaman yang ia saksikan tepat di depan mata membuat dadanya seperti diguncang gempa tektonik yang luar biasa. Lalu gerak spontan tanpa pertimbangan Lasinrang menyerang ayahnya dengan perasaan berang. Pukulan itu lancar bertubi-tubi mengenai wajah ayahnya sampai tersungkur kolaps. Darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Pertempuran itu segera berakhir saat ibunya berteriak histeris dan berhasil melerai.

Sejak malam itu ia meninggalkan rumah dengan perasaan parau berkepanjangan. Ia kasihan pada ibunya, tetapi di waktu yang sama ia membenci sosok seorang ayah tiri yang memiliki sifat layaknya binatang berkaki empat yang kekurangan makan.

Di sisa hidup ia berdiam di rumah pamannya, Daeng Kulle, kakak saudara dari mendiang ayahnya. Seorang peramal terpercaya di Kampung Joro, sepak terjangnya sudah terbukti sampai ke desa-desa seberang. Dan Lasinrang adalah satu-satunya kemenakan yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama disuruhnya untuk hengkang dari rumah neraka itu.

“Tidak bisama tahanki. Kasianka liat ibuku dipukuli,” paparnya geram, di hadapan Daeng Kulle.

“Kau tidak salah Nak, siapa pun akan marah jika diperlakukan serupa binatang. Dari duluka’ kasi tau mama’nu untuk tolakki lamarannya.” Peramal itu berkisah.

Saat Lasinrang masih seumur jagung, tepat setahun setelah mendiang ayahnya meninggal, Daeng Kulle adalah orang yang paling pertama menolak pernikahan birasnya dengan lelaki pemalak jelek dan miskin. Penolakan itu sia-sia, ibu Lasinrang terlanjur jatuh hati pada lelaki pemilik gigi kuning itu. Dan sebentar lagi akan melahirkan seorang anak dari hasil perkawinannya.

***

Hidup dengan sifat tempramental itu dipenuhi dengan peperangan dan perkelahian. Kemarin sore warga digegerkan dengan ulah Lasinrang. Ia dikabarkan telah membuat lawannya babak belur. Perkara itu dimulai di rumah Pak Ramli, lelaki paruh baya, juga penjual tuak terlaris di Tanah Joro. Tak menerima dirinya dihina dan dijuluki anak setan, lalu menghabisi lawannya sampai tumbang.

Memang, warga kampung secara diam-diam menjuluki Lasinrang sebagai anak setan sebab tubuh lidahnya yang gelap dan hitam. Sebetulnya bukan hanya malam itu, sejak ia dilahirkan, saat itu juga desas-desus semua warga kampung geger membicarakan. Gunjing gujirak itu justru kini memperparah perilaku Lasinrang.

Sehari sebelum pertempuran itu Daeng Kulle, Sang Peramal kampung itu bilang, kelak ia akan menjadi manusia yang tak terkalahkan.

“Tapi nanti, akan lahir seorang anak yang akan bunuhki tanpa alasan, bukan juga karena dendam, tetapi karena tulah. Anak itu akan lahir dengan rambut berwarna putih seperti kapas,” seloroh pamannya sambil membolak balik tangan Lasinrang dan memeriksa setiap lekuk garis-garis kecil layaknya seorang juru ramal profesional. Ia menjelaskan bahwa barang siapa yang lahir dengan lidah hitam akan menjadi penguasa tanpa tandingan. Namun kekuasaan itu akan segera berakhir tepat saat Sampaga Ulu atau pemilik rambut putih itu datang. Kata-kata itu seperti tombak tajam yang melesat, menghunus dada Lasinrang sebelum kematiannya datang.

Kehidupannya dipenuhi bayang-bayang kematian, sehingga setiap kali bepergian di pinngang Lasinrang selalu terikat kokoh senjata parang yang tajam. Berapa kali seseorang telah menanti dan mencoba untuk mencelakainya sampai di suatu malam tepat ketika purnama datang.

Saat ia hendak bertolak ke rumah Pamannya. Dalam keadaan mabuk ia berjalan terseok-seok menyusuri lorong persimpangan jalan. Tiba-tiba tiga orang bertopeng sarung mendadak menyerangnya dari arah semak belukar. Pertempuran itu dipenuhi dengan suara parang. Perkelahian itu berlansung lama sampai akhirnya Lasinrang berhasil menumbangkan tiga orang lawannya dengan penuh luka-luka. Kemarahan itu ia lampiaskan dengan sempuna. Lasinrang membelah dan memenggal ketiga kepala lawannya lalu mencacah perutnya sama seperti saat ia membelah ratusan kelapa-kelapa itu. Simbah darah dan bau amis memenuhi sekujur tubuhnya. Ia berjalan terseret-seret.

Sehari kemudian sesudah peristiwa itu, pamannya Daeng Kulle mendapati kemenakannya dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya membeku tanpa bekas luka, atau sayatan parang. Kematian itu tepat saat warga kembali dihebohkan oleh kelahiran bayi berambut putih. Bayi itu tidak lain adalah adik dari Lasinrang, Sang Sampaga Ulu.

Gambar: https://news.productioncrate.com/high-resolution-blood-texture-pack/

ditulis oleh

Wawan Saa

Wawan saa alias Sulpandi Adriawan. Lahir di Ballabulo, 28 Oktober 1995, Kabupaten Kepulaun Selayar Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Pegiat di komunitas literasi Rumah Belajar Paradox (RBP).