Kal ini saya gak mau bicara yang rumit-rumit, seperti hubungan kita. Aku trauma. Tidak juga yang berat-berat seperti beban hidupmu. Yang ringan-ringan saja seperti isi dompetku. Misalnya, bagaimana hukum kumur-kumur pake air coto di siang hari saat puasa? Sama aja Bambang. Oke, oke santai bro.

Begini, tak terasa Ramadan sudah kita lewati…. berapa ya? Gegara libur, saya jadi gak bisa ngitung hari dan tanggal. Yup, delapan hari. Setelah delapan hari puasa, tentu sudah banyak hal-hal menarik yang kita lewati bukan? Atau mungkin sudah dapat orang yang mau ngucapinsilimit berbuka puasa ciying.”

Saya pribadi, mencatat banyak kebiasaan ‘buruk’ yang muncul selama puasa kali ini. Saya lebih senang menyebutnya “dosa bakda sahur”. Tau kan yang saya maksud? Yup, tidur.

Saya yakin, kamu juga punya kebiasaan ini kan? Godaan tidur setelah sahur itu sungguh luar biasa. Perut kenyang adalah syarat utama untuk bisa tidur nyenyak. Tak kenyang, maka tak sayang nyenyak! Begitulah kira-kira. Padahal, di Ramadan ini, yang mesti kita perbanyak kan adalah ibadah, bukan tidur, “tapi kan, tidurnya orang puasa itu juga ibadah Bang?” Iya juga sih. Yuk tidur saja kalau gitu.

Coba logikanya kamu balik deh. Begini, kalau tidurnya saja orang puasa itu sudah dihitung ibadah, gimana coba dengan aktivitas positif lainnya. Kalau ibarat kata kamu gak ngapa-ngapain saja  sudah dianggap berbuat baik, gimana kalau kamu berbuat baik. Itu pasti ibadah dan pahalanya udah dihitung berlipat-lipat, tapi masa iya, Ramadan hanya kita jadikan ajang mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Bukan sarana menempa diri menjadi lebih baik? Saya yakin, kalau yang kita ikuti adalah yang kedua, maka yang pertama akan ikut secara otomatis. Jika sebaliknya, saya tak yakin.

Selain itu, tidur setelah sahur itu gak sehat. Saya kan gak mau kalau kamu kenapa-napa. Kalau kamu sakit, yang bangunin aku sahur siapa?

Emang kenapa sih kalau tidur habis sahur? What’s wrong?

Problemnya banyak, saking banyaknya, saya bisa bikinin skripsi tuh. Nih, saya kasi beberapa di antaranya saja ya. Bentar, saya buka gugel ya. Pertama, tidur setelah sahur dapat menyebabkan Gastro-esophageal Refkamux Disease (GERD), pusing kan? Sama, saya juga. Refkamuks asam itu terjadi karena katup lambung dan kerongkongan tidak menutup sepenuhnya. Ini biasanya disebabkan oleh pengaruh gravitasi, yaitu perubahan posisi menjadi telentang atau miring. Kamu pasti gak mau kan, kalau tidur tiba-tiba muntah. Indomie kamu dua bungkus langsung keluar dari lambung plus kecap, usus besar, empedu, usus kecil, dan trakeamu.

Terus gimana dong kalau ngantuk? Nah, kamu bisa tunggulah, minimal 2-3 jam, setelah makanan benar-benar sudah dicerna dengan baik dalam lambung. Setelahnya, terserah kamu dah, mau tidur sampai gak bangun-bangun juga gak apa-apa. Yowis, bercanda ya bro. Ingat kata pepatah “Tetaplah hidup, meskipun gak berguna.” Kabur.

Oke lanjut, tidur setelah sahur gak enak banget bro pas bangun. Delapan hari puasa, saya biasanya tidur tuh tiap habis sahur. Pas bangun, tenggorokan jadi panas, mual, dan mulut berubah jadi pahit kayak habis minum obat satu ember. Bikin mood jadi gak enak, rasanya pengen tendang orang aja. Untungnya puasa, jadi tahan dulu.

Kedua. Tidur setelah sahur dapat menaikkan berat badan. Nah, takut kamu kan, habis puasa kok jadi tambah bondeng alias gendut. Kok bisa? Oke, oke saya jelaskan lagi. Hal ini disebabkan karena kamu banyak makan kalori dibanding yang dibakar. Kurangnya aktivitas fisik saat berpuasa akan membuat tubuh menimbun lemak lebih banyak. Kalau lemak bakso mah enak, nah lemak di badan? Gak sehat bro kalau terlalu banyak. Mengundang banyak penyakit. Lebih sakit dari undangan mantan. Ehh.

Selain itu, menurut penelitian Profesor dari Missouri State University, Jeremy Barnes menjelaskan bahwa ketika orang tidur, terjadi peningkatan hormon grehlin. Hormon ini mengakibatkan munculnya rasa lapar ketika bangun. Nah itu, kamu pasti gak mau kan bangun tidur jam 8 pagi, udah lapar. Mana buka puasa masih lama lagi. Hiks.

Ketiga, kalau kamu masih menganggap enteng dua hal di atas. Saya beri kamu serangan fatality Liu Kang, plus smackdown Brock Lesnar. Tidur setelah sahur dapat menyebabkan serangan jantung. Mengutip SienceDaily, menurut penelitian: orang yang tidur setelah makan berat dan kemudian langsung tidur kurang dari dua jam,  2,8 kali lebih mungkin mengalami peningkatan tekanan darah. Dan apabila tekanan itu terus menerus terjadi, maka akan meningkatkan risiko terserang penyakit kardiovaskular: penyakit jantung koroner, stroke, dan serangan jantung. Ngeri cuy.

Meskipun Ramadan ini bulan berkah, kamu pasti tetap gak mau mati kan. Apalagi utang kamu masih banyak, cicilan apalagi, belum nikah pula. Sabar bro. Makanya kebiasaan buruk begitu ditinggal ya, Saya kan perhatian sama kamu. Saya pun sekarang udah tobat kok dan menyesali perbuatan di masa lalu. Kembali ke jalan yang benar: gak mau sahur setelah bangun, ehh maksudnya gak mau tidur setelah sahur. Delapan hari kebelakang cukuplah kebiasaan buruk itu. Saya mau hijrah dan semoga istiqamah.

Terus, gimana dong supaya gak tidur? Sekarang kan kita diimbau untuk di #Rumahaja. Imbauan pemerintah di #Rumahaja jangan dimaknai hibernasi. Carilah kegiatan positif sembari menunggu waktu makanan dicerna dalam tubuh. Contohnya saya nih, bikin tulisan ini setelah sahur sebagai bentuk perlawanan saya terhadap ngantuk. Bisa juga jalan-jalan di pagi hari dengan bertelanjang kaki sembari cari cewek udara segar. Mantap tuh. Pokoknya ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Asal jangan bakar ban ya. Itu demo namanya.

Nah, setelah membaca ini kamu pasti berpikir berulang kali kalau mau berbuat ‘dosa’ lagi kan. Kalau masih belum, sepertinya kamu butuh dirukiah deh. Kamu cari ustadnya sendiri ya. Terserah. Saya capek. Mau makan tidur dulu.

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.