Saya masih ingat, tanggal 16 Maret 2020 adalah hari pertama Penilaian Akhir Semester untuk Tahun Ajaran 2019-2020. Tidak ada yang istimewa dari proses tersebut selaiknya ujian yang diselenggarakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada selingan mengenai epidemi corona yang terjadi di Wuhan, Tiongkok, dan urita kasus pertama positif Covid-19 yang terjadi di Kemang, Jakarta pada 2 Maret 2020. Segalanya nampak normal hingga pada malam harinya keluar surat edaran Gubernur Sulawesi Selatan untuk meliburkan siswa-siswi dari tanggal 17 Maret hingga 30 Maret 2020. Sekali lagi semuanya nampak biasa saja, di dalam benak saya dan mungkin beberapa siswa menyatakan bahwa : ini biasa saja, akan berlalu dan kehidupan menjadi normal kembali.

Saya sendiri menilai situasi mulai genting ketika tren kasus positif Covid-19 menunjukkan gejala yang semakin bertambah, bahkan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengambil kebijakan penghapusan Ujian Nasional. Dari situlah saya mulai yakin bahwa kedepan kehidupan akan berjalan berat dan anomali.

Dua bulan telah berlalu sejak diumumkan kasus pertama, mengutip dari laman Kompas dan Kementerian Kesehatan RI, update perkembangan Covid-19 di Indonesia per tanggal 2 Mei 2020 pukul 12.00 WIB ialah 10.843 positif, 1.665 di antaranya dinyatakan sembuh, dan 831 di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut bukanlah sekadar statistik belaka melainkan satu pesan bahwa negara ini sedang menghadapi “Perang Kesehatan” dengan mahkluk bernama Covid-19 (data kemenkes.go.id ; covid19.go.id per-tanggal 02 Mei 2020)

Sebenarnya wabah yang menerjang negeri ini bukanlah barang baru, di dalam sejarah bangsa Indonesia telah berapa kali berperang melawan wabah penyakit. Tercatat ada wabah Pes atau sampar yang pernah menjangkiti Malang dan Pulau Jawa, wabah cacar, dan wabah yang paling banyak memakan korban yakni Kolera. Penyebaran wabah tersebut terjadi karena adanya interaksi dari manusia ke manusia. Anthony Reid dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: Tanah di Bawah angin Jilid 1 mengemukakan bahwa interaksi perdagangan antara Nusantara dengan kawasan di India dan Tiongkok membawa dampak masuknya penyakit yang dibawa para pedagang, cacar adalah wabah yang mematikan di paruh abad ke-16 dan ke-17 (Reid, 1992 : 67-68).

Andaya dalam ulasannya juga menyebutkan di abad ke-17 tepatnya antara April hingga Juli 1668 timbul satu epidemik (disebutkan demam yang menakutkan) di Makassar. Kurang lebih 360 jiwa meregang nyawa, kesemuanya orang Belanda lalu sekitar 2.000 hingga 4.000 jiwa lebih warga bumiputra baik Makassar maupun Bugis terserang penyakit tersebut (Andaya, 2013 : 149-150).

Wabah penyakit yang juga menerjang Nusantara adalah wabah Pes atau Sampar, wabah ini menjangkiti daerah Malang di tahun 1910 dan menyebar ke daerah Cirebon, Priangan, Batavia. Bahkan wabah Pes di daerah Jawa telah memangsa korban sebanyak 280.000 jiwa kurun tahun 1910-1939 (baca Nur Janti Sudah Kena Pes Tertimpa Apes, historia.id).

Upaya pemerintah kolonial dalam menangani penyakit Pes di Malang adalah karantina wilayah. Akses menuju Malang ditutup selain itu masyarkaat dari Malang yang hendak keluar wilayah karantina juga tidak diizinkan. Bahkan kepala-kepala desa di daerah Surabaya mengeluarkan peraturan pelarangan masyarakat Malang memasuki Surabaya (Luwis, 2008 : 41-43). Walaupun demikian—sebagaimana yang telah saya sebutkan, wabah ini tetap menjangkiti masyarakat yang bermukim di Pulau Jawa.

Satu lagi wabah mematikan yang pernah menerjang Nusantara ialah Kolera. Kasus kolera dalam jumlah yang besar terjadi pada tahun 1881, 1882, 1889, 1897, 1901, 1904, dan 1910 (Usman Manor, 2015 : 5) menerjang beberapa wilayah di Nusantara, Aceh terkonfirmasi dilanda wabah kolera pada kisaran tahun 1873. Sultan Aceh kala itu Mahmud Syah II meninggal karea wabah Kolera (Kartodirdjo, 1987 : 387). Di Sulawesi Selatan juga terkonfirmasi wabah kolera pada tahun 1910-1911, wabah tersebut menerjang beberapa daerah salah satunya Bone (H.R. Rookmaker, 1915), sedangkan Batavia sebagai kota besar di Nusantara juga tak luput dari wabah kolera. Disebutkan wabah ini pertama kali muncul pada 27 April 1821 hingga dinyatakan terbebas dari wabah pada 6 Desember 1927 (Usman Manor, 2015 : 9).

Sebelum ditemukan vaksinnya, di kalangan masyarakat Nusantara baik itu Bumiputera Muslim maupun Tionghoa memercayai berbagai takhayul seputaran penyakit kolera. Di kalangan Bumiputera Muslim dikenal “Air Suci” yakni air yang diberikan doa oleh pemuka agama setempat atau kiai kharismatik, para pengikutnya memercayai bahwa air tersebut sebagai obat untuk menyembuhkan kolera. Sedangkan di kalangan masyarakat Tionghoa diyakini dengan menggelar pertunjukan barongsai mampu “menakuti-nakuti” wabah kolera sehingga tidak mendekati pemukiman masyarakat Tionghoa (Usman Manor, 2015).

Setidaknya sepanjang paruh akhir Abad ke-19 hingga Abad ke-20 wabah kolera di Nusantara telah merenggut nyawa 125.000 jiwa bahkan lebih (Usman Manor, 2015 : 38). Untuk menanggulangi wabah tersebut pemerintah Hindia-Belanda melakukan berbagai kebijakan strategis dan taktis seperti propoganda kesehatan melali Volksgezondheid-dienst (Dinas Kesehatan), perbaikan sanitasi, penelitian vaksin, vaksinisasi massal, karantin, dan membentuk Biro Kolera atau Cholerabureau (Usman Manor, 2015 : 6-7).

Dari ulasan mengenai sejarah wabah penyakit di Indonesia dapat kita ambil suatu pembelajaran, bahwa cepat atau lambat badai wabah tersebut berlalu. Tentunya dengan segala ikhtiar yang ditempuh oleh masyarakat, kita dapat menerka bahwa segala keterbatasan yang dimiliki pemerintah dan masyarakat di masa yang lalu, mampu menanggulangi bencana kesehatan dan memenangkan peperangan melawan wabah penyakit. Maka kiwari ini sewajarnya lah sikap optimistis dipupuk untuk bersama-sama memerangi pandemi Covid-19 agar badai ini cepat berlalu.

Daftar Pustaka

Buku:

Andaya, L.Y., 2013. Warisan Arung Palakka: sejarah Sulawesi Selatan abad ke-17, Cetakan III. ed. Ininnawa, Panakkukang, Makassar.

Kartodirdjo, S., 1987. Pengantar sejarah Indonesia baru, 1500-1900. Gramedia, Jakarta.

Reid, A., 1992. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga Jilid I : Tanah di Bawah Angin. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Penelitian Ilmiah:

Luwis, Syefri. 2008. “Pemberantasan Penyakit Pes di Wilayah Malang 1911-1916”. Skripsi. FIB-Universitas Indonesia, Depok.

Manor, Usman. 2015. “Penyakit Kolera di Batavia Tahun 1901-1927:. Skripsi FIB-Universitas Indonesia, Depok.

Sumber lainnya:

data kemenkes.go.id ; covid19.go.id per-tanggal 02 Mei 2020

Historioa.id à Nur. Janti, Sudah Kena Pes Tertimpa Apes

H.R. Rookmaaker. 1915. Memorie van Overgave van Den Controleur H.R. Rookmaaker Betreffende de Onderafdeling Boni-Ri Attang Afdeeling Boni, Gouvernement Celebes en Onderhoorigheden (diterjemahkan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2007).


Sumber gambar: www.minews.id

ditulis oleh

Ilyas Ibrahim Husain

Pernah mengajar di SMAN 1 Gowa dan SMA 3 Makassar. Kini menjadi anggota AGSI Sulawesi Selatan serta mengajar di SMPN 3 Palangga.