Sejak di bangku pendidikan sekolah dasar, guru menginformasikan bahwa malaikat Israfil diciptakan oleh Allah SWT dengan tugas meniup sangkakala terompet pertanda hari kiamat tiba. Para pengkhutbah agama pun demikian pandangannya, sembari menukil bagaimana horornya kiamat nanti, yang teramat mengerikan. Tak ada tandingannya dengan bencana selain kiamat.

Generasi milenial mulai sekolah taman kanak-kanak juga sudah tahu tugas Israfil seperti itu. Tak ada interpretasi (takwil) tugas Israfil yang lain, yang diketahui anak-anak maupun orang dewasa. Lalu apa yang dilakukan Israfil ketika hari kiamat belum tiba?

Pertanyaan tersebut diajukan Emha Ainun Nadjib saat berbagi pengetahuan sarat makna bertema “manusia batu dan manusia mutiara”, 13 Agustus 2017 lalu, yang sudah berulang kali saya pelototi di youtube pada 2019. Emha dengan gayanya yang khas mengajukan pertanyaan lain terkait tugas malaikat, yang mengundang tawa, menyegarkan pikiran.

Bagi Emha, malaikat itu semacam Institusi, yang perdana menterinya malaikat Jibril. Adapun Israfil ialah alkhabir-nya Allah. Israfil merupakan sound system all information of Allah. “Masa Allah Yang Maha Kuasa menciptakan malaikat yang tugasnya hanya meniup terompet? Kata Cak Nun, sapaan akrab Emha, sembari meniru gaya peniup trompet, yang lagi-lagi mengundang tawa.

Fungsi Israfil sebagai duta informasi, kata budayawan yang saya kagumi sejak mahasiswa itu, jika ditarik ke dunia manusia, dalam sistem pemerintahan atau ketatanegaraan ialah menteri penerangan (di zaman Orde Baru yang sudah dibubarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, diganti dengan menteri informasi dan komunikasi). Menteri ini menyampaikan informasi pemerintah kepada khalayak melalui publikasi media cetak, elektronik, dan media daring.

Fungsi yang sama dijumpai pada biro protokol dan humas di pemerintahan daerah, yang kerap disebut juru bicara pemerintah. Perusahaan besar juga punya biro semacam itu. Di luar institusi-institusi tersebut, ada badan usaha khusus swasta yang fokus menyajikan informasi, di samping peran bisnis dan politiknya, yakni pers. Kendati mengemban fungsi demikian, pers lebih bebas dibanding biro protokoler dan humas.

Pers merupakan profesi mulia yang diakui negara. Pers memegang peranan penting dan strategis sehingga disebut salah satu dari empat tiang penopang demokrasi dalam suatu negara, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Suatu negara disebut demokratis jika pers “bernafas” bebas di negara itu. Kebebasan itu kebebasan bertanggung jawab yang dipagari undang-undang pers dan kode etik jurnalistik.

Pada konteks fungsional, rasanya tak berlebihan untuk dikatakan bahwa jurnalis ialah “Israfil Israfil kecil” yang mengemban tugas dan tanggung jawab mulia, menjembatani setiap peristiwa yang layak diberitakan secepat mungkin kepada publik di kota hingga pelosok. Mereka bekeja lebih sepuluh jam setiap hari, seakan tak kenal lelah.

Dan, virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19, menjadi isu “terseksi” pemberitaan pelbagai media di dunia sejak pertama menyerang penduduk Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Semenjak itu, setiap hari, tak lengkap rasanya jika tidak mengikuti perkembangan corona yang begitu populer diberitakan media cetak, elektronik, dan daring.

Kendati corona jadi isu “terseksi”, tapi semakin disibak, bukannya “menggairahkan.” Malah menakutkan karena sisi “gelapnya” yang dicenderungkan, ketimbang benderangnya yang dapat memekarkan asa, dikedepankan.

Cepat tersebar melalu interaksi manusia, jumlah pasien bertambah, nyawa terus berjatuhan dan protokol pemakaman tak biasa, yang meridingkan pasien dan masyarakat merupakan sisi “gelap” yang dipekatkan lagi dengan informasi mengernyitkan dahi. Siapa yang tak bingung dengan judul berita orang positif Covid-19, sementara isinya hasil rapid tes yang kebenarannya ditentukan hasil uji specimen di laboratorium?

Siapa pula yang tak risau dengan orang yang statusnya belum dibuktikan di laboratorium, lalu meninggal akibat penyakit lain, dimakamkan dengan protokol kesehatan tanpa penjelasan medis yang detail? Sementara dalam data resmi tidak dimasukkan sebagai orang atau pasien yang meninggal akibat corona? Mengakumulatifkan pasien positif dan positif sudah sembuh, adalah informasi penting yang tak kalah menggegerkan.

Sebelumnya, sejumlah peneliti media, jurnalis dan pengamat sosial sudah mekritik pemberitaan melalui artikel di media nasional dan daerah. Sebab, pembaca di Indonesia tak seperti di negara-negara maju yang sudah kuat literasinya. Sudah mampu membedakan mana informasi yang bisa disaring, dipercaya, dan tidak.

Di Indonesia, banyak orang tak lagi menyaring informasi, seakan-akan yang tersaji ialah kebenaran yang tak perlu ditelisik lagi kebenarannya. Lalu diobrolkan di mana-mana. Di kampung, di “rumah” Tuhan, pemerintah desa rajin mengumumkan perkembangan corona, menakutkan masyarakat, dan mungkin melampaui ketakutan mereka pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kerja, termasuk jurnalis jadi bermakna jika dimaknai sebagai pengabdian seorang hamba kepada Tuhan. Jurnalis yang sampai pada maqam (tingkatan) ini dengan hati dan pikiran benderang akan menyajikan berita yang jernih, edukatif, tidak diskriminatif, dan seterusnya. Sebab, ia sadar, kerja-kerjanya ialah bentuk ibadah kepada Tuhan yang tak kalah penting dengan ibadah lain yang dititahkan Tuhan maupun yang diteladankan Nabi Muhammad Saw.

Hanya dengan kesadaran sebagai hamba Tuhan, kata Nadirsyah Hosen, dosen senior Monash Law School, Australia, yang bisa melesat menembus sidratul muntaha, tercermin dalam firman Allah SWT (QS. Al-Isra [17]:1). Pada kesadaran ini pula, seseorang menekuni profesinya sebaik mungkin, tidak memainkan skenario orang lain, tak membutuhkan pujian, tidak tumbang oleh cercaan.

Saat menyudahi tulisan ini, sayup-sayup terdengar, penggunaan anggaran daerah/negara untuk penanganan Covid-19, akan dibenderangkan sejumlah jurnalis yang sejak dulu konsen mendukung upaya pemberantasan korupsi, dan sudah mengukir jejak keberhasilan menyibak tabir korupsi dana bencana yang lain. Semoga (*)


Sumber gambar: Google

ditulis oleh

Muin Kubais

Pengagum Alfred Russel Wallace. Pernah Redaktur Posko Malut.
Jebolan Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS), Jakarta.