Untuk kesekian kalinya aku menghampirinya dan mengatakan kepadanya bahwa Pilkades ini akan ditunda dan ia melihatku seperti robot mainan yang kerasukan. Bukan hanya kepadanya aku berkata hal yang sama. Kepada Imam Desa juga kubilang untuk segera memikirkan langkah terbaik dengan cara membujuk Kepala Desa agar mengumumkan peringatan dini kepada warga desa. Sama saja. Ia bahkan menyuruhku di ruqyah.

Kepada Hasbullah, pedagang eceran, pun kusampaikan hal yang sama dan payah, ia mengatakan aku hendak menganggu usahanya. Tidak percaya. Padahal, yang kubawa adalah kebenaran. Kebenaran yang datang dari langit kepada orang-orang yang dibekali kemampuan khusus.

Jika mereka mau mendengar sedikit saja apa yang kusampaikan, maka situasi tidak akan secarut marut seperti saat ini. Mungkin, warga desa masih hidup tenang, damai, dan sentosa.  Masih seperti hari-hari yang lalu yang mereka siangnya bekerja dan pada malam harinya bercengkrama di beranda rumah. Anak-anak masih sekolah dan di desaku, masih kau temukan perahu nelayan dengan tangkapannya yang bejibun.

Sebenarnya, aku juga tahu resiko jika menyampaikan hal-hal yang belum terjadi dan akan terjadi. Siapapun akan sulit menerima apa yang dianggapnya tidak masuk akal. Itu hal yang normal. Sampai disana tidak ada masalah. Aku ingat, dulu Nabi-Nabi juga begitu. Bedanya, aku beruntung belum diusir keluar dari desa.

Kebenaran itu, kau tahu, akan masuk akal jika disampaikan pada waktu yang tepat. Tetapi sekarang sia-sia, semuanya telah terjadi. Untuk apa pula aku menyampaikan sesuatu yang sedang terjadi, bukan? Tampangku sama sekali bukan lembar pengumuman.

“Lalu kenapa mereka percaya teks suci, yah Bar?” Tanyaku pada suatu waktu.

“Teks suci titah lagit, dan mereka orang-orang beriman.” Bara menjawab.

“Kau ingin mengatakan kebenaran yang kusampaikan bukan dari Tuhan?”

“Bukan begitu,”Katanya kembali.

Bara adalah orang yang tergolong awet berkawan denganku. Kami berkawan sudah cukup lama dan aku pernah main ayunan dipekarangan rumahnya. Untuk ukuran di desa, rumahnya cukup besar dan memiliki pekarangan yang luas. Ayahnya rajin menanam pohon nenas, juga pisang, dan kuingat dahulu di pekarangan rumahnya ada pohon mangga. Tapi sekarang sudah tiarap. Kata Bara, mangga ayah jarang berbuah makanya  ditebang dan menggantinya dengan pohon durian.

Hal lain tentang kawanku ini, ia anak yang pintar. Bara menguasai banyak bahasa dan rajin membaca. Bara juga yang memperkenalkanku buku-buku bagus. Dan darinya aku pernah membuka buku semacam Rekayasa Sosialnya Jalaluddin Rachmat, aku juga pernah melihat Di Bawah Bendera Revolusi yang ditulis Soekarno, juga buku-buku Sun Tzu dan sederet buku lainnya yang berkaitan.

“Bar,” Aku merayu.

“Iya,” Jawabnya.

“Bar, aku liat kamu akan jadi pemimpin masa depan, kelak.”

“Jangan bercanda kamu. Aku ini maunya jadi ilmuwan, pun kalau gagal aku akan jadi pengusaha,” Katanya.

“Serius Bar,” Aku berusaha meyakinkan.

“Jadi pemimpin bukan jalanku,” Tepisnya lagi.

Ia berdiri melepas pelukan dari kedua lututnya lalu berjalan memunguti kerikil kemudian melempar jauh ke laut lepas. Kerikil tersebut melesat naik turun dipermukaan air kemudian jatuh tenggelam. Kami sering kesini jika air sedang tenang. Tetapi, oleh ayahnya, kami dilarang bermain jika sedang pasang. Jika air sedang pasang, raja ubur-ubur akan naik dan menculikmu, katanya menakuti kami.

Aku terus berusaha meyakinkan karena ia adalah kawanku. Aku mengatakan kepadanya, aku dapat melihat apa yang terjadi besok, lusa, juga tahun-tahun kemudian. Dan jika Bara mau, kubilang, Bara dapat merubah takdir yang akan datang dan ia baru percaya ketika kukatakan ayahnya akan meninggal minggu depan dan itu benaran terjadi.

Sejak saat itu, sekonyong-konyong ia mulai mengikuti apa yang kusarankan padanya. Ia akan datang kepadaku dan selalu menanyakan apa yang akan terjadi besok dan seterusnya. Ia seperti muridku yang setiap kalah bertarung dengan perkumpulan silat sebelah akan datang meminta jurus yang baru, kemudian keluar bertarung lagi.

Jika kukatakan, besok Kirana –gadis yang ditaksirnya sejak lama- perasaannya berkecamuk dan Bara hanya perlu memakai pakaian yang berwarna biru muda, maka ia akan melakukan itu, dan mereka, sejak saat itu, makin lama makin dekat dan sekarang aku tidak tahu sejauh mana mereka berhubungan. Sampai saat ini, bagaimanapun, aku senang dengan apa yang di raih oleh kawan kecilku.

Dari luar, yang terdengar hanya gemuruh ombak. Mereka bersahut-sahutan seolah mengejek. Tidak ada lagi es kelapa dengan payungnya. Sepi. Dengking anjing juga tak pernah terdengar. Mungkin, pikirku, anjing-anjing telah lari ke hutan. Kokok Ayam? Apalagi, selain telurnya, induknya pun sudah habis  terpotong. Hanya dekak tokek kadang-kadang. Begitulah.

Aku duduk mengingat – ingat semua yang berlalu. Sudah 3 bulan warga desa berdiam. Wabah datang seperti orang bertamu yang tak kenal kata pulang. Mula-mula ia menjangkiti satu orang, lalu berpindah kepada yang lain. Dan semuanya meninggal dengan cara yang aneh. Situasi berubah dan yang terbaik  adalah berdiam di dalam rumah. Tanpa terkecuali.

Apa kabar dengan Bara kawan kecilku sekarang? Aku tidak mungkin datang menghampirinya. Karena sudah pasti aku diusirnya. Omonganku juga tidak lagi sakti baginya.

Bara melihatku sebagai momok yang menakutkan. Semenjak terpilih sebagai Kepala Desa ia terlampau sibuk dan kami jarang bertemu. Aku tahu Kirana pernah melihatku bersama dengan Jamaluddin. Lantas apakah salah jika aku bergaul dengan Jamaluddin? Aku tau, Jamaluddin pernah maju sebagai calon kepala desa melawannya namun gagal.

Bagi Bara, aku patut disingkirkan. Aku tahu ia telah memprovokasi warga desa agar menjauhiku. Bahkan dari Jamaluddin, kutahu ia merencanakanku agar diusir dari desa. Padahal, kaupun tahu bukan, kedekatanku dengan Jamaluddin sebatas teman ngobrol. Dan sama sekali aku tidak pernah bercerita kepada Jamaluddin soal kemampuanku melihat hari esok. Aku juga tidak mengatakan bagaimana cara mengalahkan Bara.

Bara seolah lupa, bagaimanapun, aku terus-terusan mensiasati takdirku setiap hari. Berkeliling seperti kucing lainnya yang kelaparan, juga tak lelah menimbun kebenaran.*


Sumber gambar: xenotheka.delbeke.arch.ethz.ch