“Bagaimana cara meredam amarah?” Itulah tanya yang dilesatkan laksamana Yi Sun Shin yang diperankan Choi Min-sik dalam The Admiral: Roaring Current. Film ini bukan drakor yang bikin mewek yah! Melainkan sinema aksi yang mengangkat sejarah pertempuran Korea dan Jepang kisaran abad 16. Tepatnya tahun 1597 di selat Myeong-Nyang, yang terletak di kawasan lepas pantai barat daya Semenanjung Korea.

Dalam kisah epik tersebut laksamana Yi Sun Shin, berhasil memenangkan perang meskipun kalah jumlah. Serupa Uciha Madara melawan aliansi ninja Naruto pada perang dunia ninja keempat.

Bayangkan saja pasukan laksamana Yi yang berjumlah 12 kapal, dipaksa menghadapi gempuran lebih kurang 300 kapal perang Jepang. Dalam situasi demikian, moral pasukan laksamana Yi merosot, banyak yang cuit nyalinya, lalu memilih jurus andalan mak Lampir ketika terdesak kiyai Jamas dan kiyai Jabat, jurus langkah seribu.

Selain dalam percintaan, dalam perang juga ada pengkhianatan, dan setiap pengkhianatan pasti menyisakan kekecawaan mendalam. Laksamana Yi harus menelan pil pahit beruntun setelah dikhianati beberapa kapten kapalnya. Dalam situasi seperti ini, siapa yang tidak geram? Terdesak, kalah jumlah, pasukan kocar kacir dan ketakutan, dan dikhianati pula para bergajul. Tetapi laksamana Yi yang tenang seperti kamu Р ya.. kamu yang meski disia-siakan dan diselingkuhi berkali-kali masih saja sayang Рdapat tampil sebagai pemenang dalam dua perang yang dihadapinya. Perang melawan invasi Jepang dan melawan amarahnya.

Pegangan yang kuat tapi jangan dipeluk, kita melompat ke medan pertempuran lain beberapa abad sebelumnya. Jauh di padang pasir, pada bulan Syawal sekitaran tahun 675 Masehi, seorang kesatria muda tengah beradu pedang dengan lawannya. Ia, Ali bin Abi Thalib r.a., single dengan jawara pilih tanding Quraisy, Amr bin Abd Wad al-Amiri.

Peristiwa tersebut terjadi dalam perang Khandak, ketika Madinah dikepung pasukan Quraisy dan Yahudi Bani Nadir. Pertarungan sengit terjadi. Tetapi Ali mampu mengimbangi dan perlahan mendesak Amr. Hingga akhirnya Ali berhasil menjatuhkan Amr setelah menyabet pahanya. Amr tersungkur. Ali dengan sigap mengarahkan senjatanya ke arah Amr. Satu tebasan lagi nasib Amr menyerupai buah pepaya di tangan tukang rujak.

Amr yang sudah tak berdaya dan kehilangan muka di hadapan pasukannya karena kalah dari Ali yang dianggapnya bau kencur, menantang Ali untuk segera membunuhnya. Amr pun memprovokasi Ali dengan meludahinya.

Diludahi, Ali pastinya geram. Tetapi bukannya memenggal kepala Amr, Ali mengangkat pedangnya dan menyarungkannya kembali. Kemudian berbalik dan meninggalkan Amr yang masih tergeletak. Ali kembali ke tengah-tengah pasukan Rasulullah Saw., membawa dua kemenangan sekaligus, menang melawan Amr dan dari amarahnya.

Dari dua kisah heroik di atas sahaya hendak menyampaikan wasiat Rasulullah Saw., “Laa taghdhab!” Janganlah engkau marah. KBBI mengartikan marah sebagai tidak senang, berang, atau gusar. Bisa karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya.

Sedangkan dalam buku Gesture, The Secret of Body Language and Facial Expression, Daud Antonius mengatakan, “Marah merupakan emosi dasar manusia. Emosi ini biasanya muncul karena ada ketidaksesuaian antara apa yang kita inginkan, dengan apa yang terjadi atau dengan pandangan kita. Bisa juga karena adanya ketidaknyamanan.”

Marah merupakan perilaku yang tidak boleh dibiakkan. Dalam ajaran Kristen Katolik, marah digolongkan sebagai satu dari tujuh dosa pokok. Dosa yang jika dilakukan akan terus memicu pelakunya melakukan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Mungkin inilah yang mengilhami Nakaba Suzuki mengilustrasikan amarah ke dalam sosok Meliodas, anak raja iblis sekaligus pewaris tahta, dan komandan kesatria tujuh dosa mamatikan dalam serial anime Nanatsu no Taizai. Atau Seven Deadly Sins dalam bahasa Ratu Elizabeth. Meliodas tampil sebagai sosok yang berumur panjang, kesatria paling kuat, dan jika mengamuk, menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Tak mengenal kawan ataupun lawan. Persis dengan orang yang dikendalikan amarah, menjelma orang bengal dan barbar.

Kiwari ini kita sedang menghadapi situasi genting, dilarang ini dan itu. Sebagai emosi dasar manusia, kita tentunya marah karena tidak bisa pulang kampung atau mudik. Tidak bisa buka puasa bersama dan tarawih ramai-ramai di masjid. Tetapi perlu kita sadari bahwa segala yang diupayakan ulama dan umara untuk kemaslahatan kita bersama, agar mata rantai penyebaran covid dapat diputus.

Jadi, jangan mudah marah, apalagi jadi orang bersumbu pendek. Kalaupun masih suka marah-marah, pada bulan puasa ini sifat yang demikian mesti diterungku, dirumahkan, dan dikunci serapat-rapatnya. Tak boleh tumpah lagi, ditumpahkan di media sosial lewat caci maki atau kekerasan. Berpikirlah berkali-kali sebelum melampiaskan amarah, karena cepat marah membuat kebodohan kita cepat terlihat kata Bruce Lee.

Apa yang lalu-lalu sudahilah! Sudahi kemarahan-kemarahan seperti tempo hari yang hampir membakar habis bangsa kita. Terlalu banyak pertikaian-pertikaian hingga pembunuhan, akibat kemarahan yang membabi buta. Telah banyak rumah-rumah ibadah yang diporak-porandakan karena kita bersumbu pendek. Marah itu gampang kata Aristoteles. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu sesuatu yang sulit.

Olehnya Rasulullah Saw., mewasiatkan, laa taghdhab! Kendati marah merupakan hasil kerja otak yang bernama limbic system, dan banyaknya hal-hal yang dapat memantik kemarahan – baik karena ke-baperan kita, sengaja diprovokasi oleh oknum tertentu, atawa tak lagi mampu bersabar, jika kemarahan muncul ia harus mampu diredam dan dikendalikan.

Walakhir, sebagai jawaban dari pertanyaan laksmana Yi Sun Shin, atau mungkin pertanyaan kita semua, sahaya kutipkan kiat-kiat menahan amarah dari DR. Aidh Al-Qarni dalam salah satu karya emasnya, La Tahzan, Jangan Bersedih. DR. Aidh Al-Qarni menegaskan bahwa terhadap hal-hal yang menimbulkan keresahan, kesedihan, emosi, dan amarah di dalam hati, obatnya ada pada diri Rasulullah.

“Pertama, kita harus melawan watak pemarah yang bersemayam dalam diri kita. Kedua, berwudhu. Marah merupakan bara api yang hanya bisa dipadamkan oleh Air. Dan dalam al-hadis, dikatakan bahwa “wudhu itu senjata orang mukmin. Ketiga, jika seseorang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Dan jika duduk maka hendaklah ia berbaring. Keempat, diam dan jangan berbicara saat sedang marah. Dan kelima, mengingat-ingat pahala orang yang menahan amarahnya, yang memberikan maaf kepada sesama, dan yang bersikap toleran.”

 

Sumber ilustrasi: Lampungpos.com

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.