Selama pandemi corona plus Ramadan, banyak kegiatan menjadi lambat oleh anjuran physical distancing. Demikian halnya yang berkaitan dengan pendidikan. Telah hampir dua bulan, sekolah seolah beku. Anak-anak diliburkan, dan segala proses belajar kembali ke rumah. Sekaitan dengan ini, Ki Hajar Dewantara pernah bilang, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Kata-kata ini seolah mendapat ruang yang pas. Virus covid 19, sekses memulangkan sekolah ke rumah, dan mengembalikan orang tua menjadi guru.

Lantas, masalahnya apa? Sebenarnya, jika disimak lebih jauh masalahnya tidak terlalu rumit. Hanya saja, karena merasa tiba-tiba, pulangnya sekolah ke rumah membuat para emak kelabakan. Mereka sepenuhnya tidak siap, sebab sebelum-sebelumnya urusan belajar semuanya diserahkan ke sekolah formal. Apatah lagi jika para orang tua bekerja. Ketika mendadak, rumah harus berubah jadi sekolah, para orang tua, khususnya emak-emak kelabakan.

Telah banyak cara yang emak-emak tempuh, menyiasati sekolah yang pulang ke rumah. Semisal nyontek di internet, menunggu arahan guru dari sekolah para anak, atau berinisiatif sendiri membuat alat permainan edukasi yang membikin anak betah di rumah sambil tetap ingat belajar. Tetapi tidak sedikit pula di antara mereka yang mengeluh karena beberapa alasan.

Pertama, beberapa emak beranggapan bahwa tugas sekolah anak yang dibebankan oleh para guru saat ”libur” pandemik terlalu berat dan banyak. Mereka merasa tidak sanggup, dan tidak memiliki waktu fokus mendampingi anak belajar. Membagi waktu antara mengurusi rumah, dan anak-anak belajar bagi para emak adalah hal yang sulit.  Apatah lagi, bagi mereka pelajaran anak-anak SD kelas satu sekarang ini setara dengan pelajaran anak kelas 5 di masa mereka. Pun menghadapi anak TK, meski pelajarannya terlihat “sepele” tetapi sungguh menguras waktu dan kesabaran.

Kedua, sebagian emak-emak tidak memakai android (ini biasa ditemukan pada orang tua anak kurang mampu). Kalau pun pakai, aplikasi dalam ponsel canggih mereka banyalah facebook, whatshap, belanja online, youtube, dan beberapa games milik anak. Ketika tetiba ada anjuran belajar dari rumah, para emak akhirnya baru menyadari bahwa ponsel canggih miliknya harus ditambah fungsinya. Selanjutnya, mereka barulah memelajari beberapa aplikasi yang mendukung kebutuhan tersebut. Ada yang telah coba download, namun banyak juga di antara mereka memilih masa bodoh karena takut dikatai gagap teknologi jika salah menggunakan aplikasi tersebut di hadapan emak-emak lainnya.

Ketiga, faktor kouta. Entah untuk apa, tetapi sebagian emak-emak selalu meringis kehabisan kuota. Bisa jadi karena seringnya menonton tutorial memasak, atau tata cara merias wajah, serta memberikan ponselnya pada anak menonton youtube, akhirnya kuota terkuras. Sementara, sistem pembelajaran daring saat ini membutuhkan ketersediaan kuota, dan jaringan yang bagus. Sebagian emak, lekas menyerah jika kuota habis dan sinyal lelet.

Keempat, sebelum para emak stay at home, mereka telah memiliki jadwal padat dari pagi sampai malam. Lebih-lebih sekarang, saat Ramadan datang. Semisal, pagi mengurusi anak-anak dari bangun, mandi, dan makan. Siangnya, mencuci dan membereskan rumah yang berantakan setelah anak-anak menghambur mainan. Sementara saat sore, mereka mulai menyiapkan menu makan malam, tepatnya berbuka puasa. Malam? Pastilah beres-beres rumah lagi, dan menemani anak bermain sampai tertidur. Lalu, ibadahnya kapan? Yah, emak-emak harus pandai curi-curi waktu, saat anak pulas, atau sedang teralihkan perhatiaannya dengan mainan. Itu pun siap-siap tergesa-gesa jika ada salah satu yang merengek tiba-tiba.

Kelima, emak-emak merasa sering kalah oleh “amukan” anak yang enggan belajar di rumah. Kebanyakan mereka berkata, “Anak saya kalau di rumah susah diajar. Nanti mau belajar jika di sekolah dengan guru!” Jadilah, para emak membiarkan anaknya bermain sepanjang waktu secara acak dan semaunya.

Keenam, jika para emak adalah para pekerja publik yang menggiring kerjanya di rumah alias work from home, pastilah punya tambahan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga. Jadilah waktu tengah malam, saat anak-anak telah pulas adalah kondisi yang pas menyiapkan dan menyelesaikan bahan kerja untuk dikirim ke kantor jika karyawan, dan ke murid-murid jika seorang guru. Mengajar anak di rumah, menjadi kurang maksimal karena menumpuknya pekerjaan, dan lelahnya para emak keseringan begadang.

Para bapak kemana? Ada! Hanya saja, para bapak tidak setelaten emak-emak dalam mendampingi proses belajar anak. Maka, jangan heran jika di media sosial wara-wiri pemberitaan dan keluhan ketidaksanggupan para emak mendampingi belajar anak, lebih banyak dari para bapak.

Terus, salahkah curhatan para emak? Saya menjawabnya, tidak? Anggap saja keluhan-keluhan tersebut adalah sebentuk relaksasi. Semisal koma dalam tulisan agar si pembaca mengambil napas sebelum lanjut membaca.  Sebab, sebenarnya dari awal sekolah ada di rumah, dan emak adalah guru pertama dan utama bagi anak. Raden Ajeng Kartini berkata begini, “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu berasal.”.Hanya saja, para orang tua, khususnya emak membuatnya sering pergi dan lupa pulang. Menyerahkan seluruh aktivitas belajar di sekolah, membuat “sekolah” menjadi begitu jauh. Dan ketika dia kembali, barulah kita mulai lagi berbenah dari awal.

“Dan siapakah yang lebih banyak berusaha memajukan kesejahteraan budi itu? Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia? Ialah wanita, Ibu. Karena haribaan ibu, itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula mula sekali.” Putri Jepara itu melanjutkan.

Sesungguhnya, dari dalam kandungan, emak sudah membelajarkan anak. Mengasupinya dengan nutrisi lengkap, dan dukungan pregnancy instrumental demi maksimalnya tumbuh kembang janin dalam rahim adalah pembelajaran pertama. Menyusui dan mengasuh anak setelah lahir, adalah selanjutnya. Belum lagi mengenalkan benda-benda dan mengajarkan kata-kata, pun memberikan rangsangan pada anak untuk menguatkan otot dan otak demi maksimalnya motorik halus dan motorik kasar anak, bukan hal yang mudah. Menamankan akhlak baik, sebagai pondasi dasar bertutur dan bersikap, juga dari orang tua, khusunya emak yang memiliki waktu lebih banyak bersama anak. Semua dilalui dengan sukacita. Sehingga, jika sekarang ada emak yang mengeluh lelah menemani anak belajar di rumah karena “libur” tak berkesudahan, selayaknya mengingat-ingat kembali alur pelajaran yang telah dilaluinya dari awal dan pertama bersama anak. Itu jauh lebih sulit, tetapi terbukti mampu dilakukan dan dilalui.

Nah, jika sudah begini sambutlah kembali sekolah yang sedang pulang ke rumah dengan riang gembira. Sebagaimana menanti sang perantau pulang, sembari menyiapkan makanan enak agar semua bahagia. Bagaimana caranya? Sederhana.

Pertama, daur ulang niat, bahwa masa depan anak bergantung apa yang diajarkan orang tua hari ini. Belajar di sekolah hanya memberikan secuil saja. Dan mendidik anak itu bukan semata-mata menggugurkan kewajiban orang tua, melainkan juga adalah sebuah seni menikmati hidup.

Kedua, upgrade pengetahuan emak, mengikuti perkembangan zaman.

Ketiga, sisihkan separuh waktu emak demi bermain/ beraktivitas bersama anak, jika dia masih berada di level pendidikan usia dini dengan tetap memerhatikan nilai-nilai edukatif dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Jika sudah di level lebih tinggi maka, manfaatkan fasilitas dan aplikasi yang ada semaksimal mungkin untuk memudahkan orang tua/ emak mengajar anak, bukan malah menghabiskan kuota curhat-curhatan dan mengeluh di media sosial.

Keempat, belajar bagi anak adalah menikmati proses, jadi para emak jangan menuntut hasil yang sempurna karena itu bisa menjadi penyebab anak tertekan dan malam belajar.

Kelima, coba saja dulu kerjakan apa yang bisa dilakukan. Sebab emak tidak akan mungkin bisa mengukur kemampuan bahwa sesungguhnya para emak bisa, jika tidak berusaha mencoba.

Keenam, selamat mencoba dan tetap semangat!


Sumber gambar: IDN TIMES

ditulis oleh

Muchniart AZ

Lahir 35 tahun silam. Punya dua jagoan andalan, Za dan Ken. Senang pinjam buku dan minum kopi hitam.