Membaca judul di atas mungkin akan terdengar posesif. Namun, itu cuman clickbait saja. Agar kamu tertarik membaca, buktinya sekarang kamu baca kan? Saya bukan tipe cowok posesif kok, jadi kamu gak usah khawatir ya.

Tulisan ini, tak hendak melarang kamu ini dan itu. Apalagi mau mengatur menu takjil berbukamu. Tidak sejauh itu, saya tahu diri kok, saya ini bukan siapa-siapa. Saya cuman ingin membincangkan sedikit hal, sedikit sekali. Ihwal pemahaman kita selama ini mengenai adagium, “Berbukalah dengan yang manis-manis.” Emang kenapa? Ada yang salah ya? Itu kan hadis Nabi.

What? Hadis Nabi?

Iya, ya, harus diakui bahwa pernyataan tersebut seolah-olah sudah aksioma. Sejak saya kecil, sampai sekarang pernyataan tersebut masih sering saya dengar, “Berbukalah dengan yang manis, sunnah njoka”. Namun, jika itu kemudian sudah dikaitkan dengan hadis Nabi dan kebenaran, nampaknya saya mesti menyuarakan sedikit perasaan dan pikiran saya. Supaya penyesalan itu tak datang di kemudian hari.

Apa yang  akan saya sampaikan ini mungkin sudah kamu tahu. Namun, tak apalah saya ungkit kembali. Tak apa kan?

Jadi gini ya. Saya pernah membaca buku yang juga membahas hal tersebut, pun dengan beberapa literatur di internet yang konon katanya hadis Nabi itu. Sependek pencarian, saya tak menemukan redaksi hadis Nabi yang demikian, yang ada hanyalah anjuran untuk berbuka dengan beberapa biji kurma dan air putih. Itu doang. Entah sejak kapan adagium itu menyerang, mungkin lebih dulu dibanding negara api yang menyerang suku air. Atau? Mungkin juga semacam propaganda dan agitasi iklan sirup, supaya kamu beli produknya tentu saja. Bisa jadi.

Ahh, sepertinya saya ini negative thinking saja dari tadi. Makruh mi puasayya. Untungnya tulisan ini saya bikin setelah berbuka. Jadi aman. Ehh.

Memang sih, gula dalam kadar tertentu sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kamu pasti pernah kan, sakit kepala? Buram penglihatan? Lemas? Itu semua bukan gejala tanggal tua dan kanker (kantong kering). Hal tersebut terjadi salah satunya, bisa disebabkan karena gula darah kamu rendah (hipoglikemia). Saya makan gulanya cukup kok Kak? Hmm, coba cek dompetmu. Mungkin alasan yang pertama cocok.

Tapi, bukankah kurma itu manis, jadi gak salah dong?

Sayang, manisnya kurma itu berbeda dengan manisnya es teler, es kelapa, es campur, S2 dan S3 yang selama ini kamu minum. Coba deh manfaatkan gawaimu, jangan cuman dipake selfie doang ya. Ihh, kamu kok bilang gitu sih? Maaf yank, keceplosan.

Jadi gini, pakar kesehatan menjelaskan bahwa kurma itu memiliki kandungan karbohidrat kompleks yang aman bagi kesehatan. Sedang, makanan dan minuman manis yang selama ini saya dan kamu konsumsi berdua  kala berbuka itu memiliki kandungan karbohidrat sederhana. Nah, masalahnya di sini, karbohidrat sederhana ini bisa berpengaruh buruk pada kadar gula darah dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Apalagi kalau dikonsumsi secara berlebihan. Gini ya, Kamu itu orangnya sudah manis, jadi gak usah ditambah lagi sama gula. Takut gulanya minder.

Karbohidrat kompleks—termasuk yang terdapat pada kurma—adalah karbohidrat yang memiliki susunan kimia yang lebih rumit, lebih kompleks. Sesuai dengan namanya. Karbohidrat jenis ini karena lebih kompleks, maka dipandang lebih sehat, karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicerna dalam tubuh, menjadikan kamu merasa kenyang lebih lama dan berenergi. Seturut dengan itu, karbohidrat kompleks juga kaya loh akan serat, vitamin dan mineral. Pokoknya yang kompleks itu pasti komplet.

Sedang karbohidrat sederhana adalah…. ya yang sederhana. Seperti sajak Sapardi Djoko Damono “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.” Hanya terdiri dari gula dasar yang mudah dicerna dalam tubuh. Meski menurut Joko Pinurbo,”Mencintai dengan sederhana, adalah mencintai paling tidak sederhana.” Pusing kan? Kalau dikaitkan dengan sajak-sajak cinta. Apalagi untuk orang seperti kamu yang fakir cinta dan miskin kasih sayang.  Sabar ya.

Jenis karbohidrat sederhana ini banyak di takjil yang sering kamu konsumsi: es teler, es buah, es campur, es teh dua belas, juga kue-kuean. Kasadnya, sudah diproses dan sudah ditambahkan gula, karenanya tidak sehat dikonsumsi secara berlebihan.

Terus gimana dong? Saya suka yang manis, tapi takut juga kena diabetes. Saran saya sih, jangan dikonsumsi berlebih dan olahraga yang cukup. Yang berlebihan selalu membawa petaka. Satu-satunya berlebihan yang baik saat ini hanyalah berlebihan tinggal di rumah karena korona. Sisanya, bahaya, termasuk berlebihan mencintai pacar kamu. Udah, putusin aja.

Penting juga untuk selalu diingat, bahwa berbuka dengan air putih tak kalah urgennya, demi mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa seharian.

Jadi sunah nabi itu tak ada yang menganjurkan berbuka dengan yang manis-manis ya. Yang ada itu, hadis seperti ini: dari Anas bin Malin RA, beliau berkata “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan kurma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Saya kira sudah jelas, tak anjuran berbuka dengan yang manis. Dalam hadis tersebut hanya kurma dan air putih. Jadi Nabi tidak menyalahi hukum sains, justru sebaliknya. Jadi, saya kira tak ada lagi perdebatan mengenainya. Toh kalaupun ada, mungkin yang keliru adalah pemaparan saja. Hal tersebut disebabkan karena referensi buku saya yang terbatas. Saya hanya mencoba memaksimalkan gawai dengan mencari literatur-literatus medis dan agama. Sisanya, saya serahkan pada teman-teman untuk mengoreksi dan menyempurnakan.

***

“Terus. Aku mesti berbuka dengan apa?” Hmmm, kamu berbuka dengan saya saja. Saya tahu tempat yang cocok. Mau? Di rumah calon mertuamu. Sini.

 

 

 

ditulis oleh

Muhammad Ikbal

Profil Penulis

Lahir di Bantaeng, 13 Agustus 1995. Ketua Karang Taruna “Sipakainga” Desa Tombolo. Kec. Gantarangkeke. Kab. Bantaeng. Guru PJOK di SDN 48 Kaloling. Aktif sebagai pustkawan di Rumah Baca Panrita Nurung dan bergabung dalam KGB (Komunitas Guru Belajar) Bantaeng. Penyuka hujan dan buku-buku sastra.