Berita Duka Berskala Besar

 

jalan-jalan hari ini

kepayahan menangisi obituari,

dan jendela rumah sakit

terdengar malaikat maut nyanyi lagu nina bobo

sedu sedan, iramanya adalah sesak napas

 

dan negara mulai berpikir

“apakah grafik akan mencapai orbit Palapa?”

merah putih kelabu

hijau muda berubah biru

amboi, bahkan tangis gitar B.B. King

kepayahan tiap jam 4 sore Waktu Indonesia Barat

 

seorang juru bicara pemerintah selalu mengingatkan

“jangan mudik,

kami belum siap memberi kursus cara menjadi kenangan”

 

jangan baca sajak ini sebagai pengantar berita

berbuka saja dulu, sebab yang cemas

belum bisa berpuasa

 

(Makassar, 29 April 2020)

 

 

Karantina

 

Seseorang pernah retak telinganya demi satu musim

di mana anginnya bertugas meredam ingatan pada ratusan obituari

Aku berdiri, memperhatikan bahwa masker kadang terlalu terang

dan luas untuk saku baju meski dadaku susut sekali lagi

 

Besok pemerintah akan memuji-muji matahari, sebagai penangkal wabah

yang bekerja setiap hari sekali agar ibukota tetap waras saat mendongak

Padahal dua bulan lalu, penduduk masih terkepung berita basi

di mana seorang bocah mengaku hafal nama nabi-nabi baru yang tertera di kertas suara

 

Tiba-tiba aku amat mengenal orang-orang yang kini berubah menjadi angka

berkat laporan harian, buku-buku lusuh dan daftar putar memuakkan

Di satu tugu kurus, aku ingin mampir meminta satu sakit kepala

dan suara lemah menjawab : “Pergilah ke rumah sakit kemudian bercanda di sana

 

Kini orang-orang ingin menjadi waktu atau sebotol bir

atau datang dengan cara berlari paling kanak-kanak ke pelukanmu

Benar, maut telah melampaui langit dan malas kembali sederhana,

kembali kuingat pertanyaan Ibu : “Kapan kita mau mendengar?”

 

(Makassar, 2020)

 

 

Pemadam Kebakaran

 

Sepasang mata merah padam yang ruwet

menyimak sisa-sisa rahasia langit

dan lupa bahwa tubuh tua menggigil

tertanam di mulut sebuah gang sempit,

memeluk Bumi yang pernah menjadi ibunya

 

Berita sabana kena obrak-abrik petir saban hari

masih menyuplai sesak tulang dada

setia bak raung nama sakit paru-paru terkenal

yang disambut dengan kematian di ujung ranjang,

mimpi mereka tenggelam sebagai terapi kejut

 

Gelap desak-desakan dari jejeran lampu neon

sebelum nyala untuk satu peraturan goblok

belum sudi kita kenang, hina dina

maka jadilah tanda tanya yang sibuk

saat kamarku mulai memantulkan api

 

(Makassar, 2017-2020)

 

 

Tetap Bakudapa

 

Sajak-sajak cinta terbakar tepat tengah malam

jangan bangun” kau telah berhenti dari permainan ini

Sepakat perihal waktu mandi mesra berikutnya

pandai meralat diri sendiri di kalender, namun aku masih buta

menganggap seprei merah muda itu adalah ibumu

 

Engkau jelita dalam bahasa yang baru tercipta tadi pagi

tetaplah menari hingga langkahmu menyentuh warna keramat

di atap-atap kalimat, aku selalu terlambat bekerja

mencatat puluhan kenyataan yang ingin menjadi bumbu dapur

(penduduk kota mengaku lebih beragama di meja makan dan kantor partai)

 

“Jubah menangis dari dinding timur penjara Nusakambangan,”

kiasanmu yang paling puisi selain beberapa pengakuan

bahwa tubuhmu adalah krim stroberi, kecap, arak,

roti isi dan stik daging banteng, mungkin aku

adalah hujan tepung kanji atau anggur gagal panen

 

(Makassar, 2017-2020)

 

 

Innuendos

 

Wanita botak tinggal dalam seluruh mimpi basah

demi melengkapi kamar sebagai pusat kota yang sah

hanya di hari ini, sebagai tanda dari satu sekolah

mencari murid-murid seusai tangis paling meriah

Mereka belajar separuh cerita nilai kejujuran lama

bahwa keimanan pernah tinggal dalam bahasa

sepasang peziarah, mereka mati seperti sedia kala

tanpa warisan hidup karena kampungnya ditelan gempa

 

Kawanan gagak telah lepas sebagai serenade,

jadi narasumber sesi pameran diam para pengunjung kafe,

kipas angin mengatakan “Aku punya rima : kesatuan Marsose

mungkin berasal dari Balige, Ternate, Sangihe atau Enschede

Seseorang di sini pernah gagal keguguran karena menjadi ratu

tapi rambutnya berhenti pada sinonim kain beludru

mungkin juga ayunan dayung perahu, kuakui epitaf nyaring milik cintaku

kian padam di puncak terlunak tubuhmu

 

Wanita botak kini berambut dan pandai berpantun

risalah seratus warna pampasan leluhur lanun,

maka bertandanglah sematan cinderamata merah marun

saat kau utus kelaki-lakianku penuhi ranjang tambun

 

(Pomalaa, 2017-2018)

 

 

Nyaris Lekang dari Omong Kosong Hari Ini

 

Kumpulan sajak terguling bersama kereta api,

muntah diksi, ada juga rima-rima kadaluarsa

milik masa muda yang terlalu lama ditunggu

selama orang tetap mengatakan “penyair telah mendekat!”

 

Diriku mungkin tanda tanya, jemariku selalu dukacita

tanpa arti meski hanya untuk satu hari

diminta mengurus warna cerah di baju zirah

atau melaporkan berita cuaca telah kembung hujan

 

Atas nama kenyataan, tegakkan nama jasad-jasad itu

lantaran kini wabah selalu berarti lelaki lugu batuk hebat,

bocah-bocah sarapan orang tuanya, dan negara menjadi hantu

melalui cara paling sederhana dalam berita sore

 

Atas nama kenyataan, urungkan usaha menjadi dahaga

meski setengah Danau Mawang tetap basah di saku celana,

tetanggaku pernah berfirasat jasadnya akan selalu terjaga

menunggu kitab kebenaran semesta menjadi agama rahasia

(mungkin sudah terjadi dan entah siapa dia)

 

Atas nama kenyataan, ingatlah bahwa perut bisa membaca

kebebasan dalam sepotong kue kering, setoples garam,

bahkan kuning telur jika bercampur dengan pecahan batu kali,

sesekali dengarlah mereka kegirangan meminta usus buntu

(mungkin sudah sampai, dan entah mereka dari mana)

 

Kumpulan sajak jarang patuh kepada waktu,

pengawas jalannya sandiwara penuh bayonet,

luka dari pergumulan menunggu secarik kertas

tapi kali ini harus terurai menjadi diriku sendiri

(mungkin sudah selesai, dan entah kenapa kepalaku)

 

(Pomalaa-Makassar, 2017-2020)

 

  

 

Menyimak Sulap David Copperfield

 

Sesungguhnya terbang adalah bahasa santun

lagi purba, rumah-rumah liar di kaki langit

adalah tempat kembali selain pesta abadi

antrian bangsa arwah yang meminjam nirwana,

entah kenapa kartu pas berupa lagu jazz

kerap tertukar dengan kata terakhir Caesar

(“Bukan begitu, Brutus?”)

 

Panggung adalah bumiku, keturunanku, tarianku,

kadang pengantinku yang acap ragu-ragu,

lahirlah mantera lugu milik remaja tanggung

usai simpuh atas nama leluhur para kelinci

pajangan toko topi, tabungan ayunan tongkat

jelas berguna di hadapan petugas karcis

 

(Makassar, 2017-2018)

 

 

Magnitudo

 

Semua menjadi kiasan dalam percakapan, termasuk wabah

yang kini abadi dalam warna plastik sembako, foto atau tenda pengap

(tetap ada tempat-tempat yang harusnya disebut belakangan)

kita urung pulang sebelum mengerti kebaikan ambulans

atau muncul dalam berita dan jadi menu makan malam terbaru

(ibukota peduli dengan lebih banyak mengirim karangan bunga)

 

Di jalan lain menuju pantai terlihat lapangan yang basah,

rumah yang basah, peti-peti retak yang selalu basah

(patutlah singgahi hal-hal kecil pengingat pada orang tua)

di akhir tahun, kuiringi doa-doa paling patah dan sabar

pergi menuju tepi langit menunggu tangga diturunkan

(tetanggaku pernah menyebut itu dalam salah satu mati surinya)

 

Tubuh gemetar tuliskan terima kasih dalam inkarnasi

pembawa nama guna dekam selamanya pada sudut-sudut ingatan

(kaumku lebih mahir melupakan seperti parlemen negara)

bacalah kabar yang minta dikirim melanggar peraturan

atau kadang ucapan salam ketika kau terpaksa jadi tamu

(orang sering mengatakannya sebagai mimpi, maka jadilah firasat)

 

(Makassar, 2017-2020)

 

 

Messy

 

Wabah disinggung dalam notulensi acara debat, pertanyaan memojokkan dari pembaca berita, pidato presiden tentang kenaikan harga, demonstrasi palsu di ibukota, kebakaran rumah, klakson mobil, sirene ambulans, rambu jalan, batang portal, ruang belajar, benteng kuno, museum kuno, pedagang kaki lima, Pantai Losari, Pantai Tanjung Bayang, Pantai Kuri, Pelabuhan Soekarno-Hatta, Bandara Sultan Hasanuddin, Stadion Mattoanging, Taman Macan, Taman Pakui Sayang, rumah-rumah mewah di Tanjung Bunga, Nusantara yang temaram nun menggoda, hotel-hotel sepi, rumah-rumah sepi, loket pembayaran tol, warung-warung makan, kedai-kedai kopi, tempat parkir liar.

Wabah juga menghantui instruksi menggunakan ponsel, buku tamu pernikahan, koran edisi lawas, pesan singkat dosen, antrian pengambilan uang, gedung belum jadi, kamar kost berantakan, iklan laptop bekas, jadwal keberangkatan pesawat, rumah-rumah ibadah, penyambutan mahasiswa baru, lagu baru, kalender baru, baju baru, buku baru, anak baru, rambut baru, pacar baru, yang baru-baru, Barru, Takalar, Luwu Raya, Majene, Soppeng, Enrekang, Sidrap, Maros, Pangkep, Gowa, Sinjai, Pinrang, Jeneponto, Bone, Wajo, Tana Toraja dan tetangganya di utara, Bulukumba, Bantaeng, Selayar, Parepare, Palopo, Makassar, BTP, NTI, BDP, Perumnas, dan warung mana pun yang ada asap rokoknya.

Halo? Apa ada petugas medis dengan APD lengkap di sana?

 

(Makassar, 2020)

 


Sumber gambar: Kompas.com

ditulis oleh

Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair. Lahir di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, 15 Mei 1995. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin, Makassar. Karyanya pernah dimuat di Fajar Makassar, Go Cakrawala Gowa, Rakyat Sultra, Lombok Post, Analisa Medan, Tanjungpinang Pos, Radar Surabaya, Litera, FloresSastra, NusantaraNews, WartaLambar, Sediksi, serta beberapa buku antologi puisi bersama. Yang terbaru, puisi-puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Takengon 2016 “1550 MDPL”. Bisa dihubungi melalui sur-el ayatautum95@gmail.com.