Esai sederhana untuk kisah yang agung, ditulis oleh pembelajar Islam klasik yang sekolah di sekolah sekuler

***

Esai ini diinspirasi tiga kisah: pertama, keberanian si “Sontoloyo” Bossmam Mardigu yang pernah menyela mbahnya dalam pengajian tentang hadis St. Aisyah yang keliru mencampur gula dan garam dalam minuman Nabi. Kedua, quote Marthin Luther King. Ketiga, kisah Syahid Imam Ali yang dibunuh oleh si penghafal Alquran yang kelihatan saleh, Ibnu Muljam.

Waktu kecil (tahun 80-an) saya sering mendengar penggalan kehebatan kisah Bagenda Ali. Saat itu saya tidak tahu, siapa itu Bagenda Ali. Di masjid-masjid justru yang banyak dikutip adalah Sahabat Abu Bakar, Umar, Usman, dan Istri Nabi, Aisyah. Saya merasa semua sahabat Nabi bisa diceritakan riwayatnya dengan santai di mimbar-mimbar. Kisah heroisme, kisah ketegasan, kedermawanan, kecuali Ali. Mengapa?

Sedekat pengetahuanku, banyak orang tidak mau  masuk dalam ranah perdebatan atau pergulatan sejarah Islam klasik, khususnya pasca kenabian, mengapa?  Boleh jadi tidak tertarik, boleh jadi buang-buang waktu saja, beranggapan konflik tak berkesudahan atau Bisa saja takut mengganggu stabilitas keyakinanya. Its Ok. Itu hal lumrah. Sudah ada sejak jaman bahelula (zaman dahulu kala).

Saya ingat ungkapan ekonom yang mengatalan, bukan karena ide barunya sehingga orang menolak ide tersebut. Tetapi karena orang-orang enggan menggeser ide atau pengetahuan lamanya.

Kondisi ini semakin parah di era post-truth, karena orang lebih tertarik pada pengetahuan yang dia sukai (meskipun belum tentu benar) dari pada mencari dan menggali pengetahuan yang lebih sahih. Semakin diperparah lagi karena kehidupan bersosial media kita diatur oleh algoritma sosmed yang akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang seselera dan seemosioanal (khususnya FB), platform lainnya juga mirip demikian.

Marthin Luther King bilang, “Jika Anda ingin ide baru, bacalah buku lama”. Itulah mengapa saya menyukai kisah klasik dari buku-buku klasik. Kisah dari ayat dan riwayat. Termasuk kisah cinta klasik.

Teori Chaos mengajarkan, jika ada kekacauan yang susah terselesaikan, bahkan sulit ditemukan akar masalahnya, teori ini menyarankan carilah titik awalnya (initial condition).

Sependek pengetahuanku, banyak riwayat (termasuk Sunnah Nabi) dalam Islam yang tercemar oleh tangan-tangan para sahabat. Apalagi penulisan sejarah pada fase tabbit tabiin. Sangat jauh dari titik awal (initial condition) . Jika ada pembaca yang berminat kitab-kitab dan publikasi kajiannya (ebook) boleh japri saya, bisa via email (cintadanakal@gmail.com)

Salah satunya misalnya. Gara-gara Virus Corona banyak umat Islam baru mengetahui kalau kebiasaan salat tarawih berjamaah bukan sunnah Nabi, tapi Sunnah sahabat. Bahkan azan yang sering kita dengar itu adalah hasil gubahan sahabat  (Umar) (Sumber Kajian IJABI, dikutip dalam Kitab Sunan Baihaqi). Daaaaaaan banyak lagi kisah dan riwayat yang menurut saya, yang bersekolah di sekolah sekuler, namun merasa wajib mengatahui asal-usul keyakinan, sangat membutuhkan informasi dan hasil kajian initial condition dalam ajaran Islam.

Satu lagi cerita Bossman Mardigu Sontoloyo, ketika dalam satu pengajian mbahnya, ia bertanya pada kiyainya (yang juga mbahnya sendiri). Ketika mbahnya menyampaikan riwayat St. Aisyah dengan Nabi. Di mana Aisyah memberikan minuman kepada Nabi tetapi rasanya kurang enak. Manis dan agak keasinan. Namun Nabi tidak marah, ia hanya memberikan pada Aisyah untuk dicicipi. Dan ternyata Aisyah mencampur gula dan garam. Nah, pada bagian inilah Bossman protes, dan mengajukan pertanyaan pada mbahnya. Bossman berkata, bukannya gula rafinasi itu ditemukan sekitar abad ke-17. Zaman dulu pasti gulanya bisa dibedakan dengan jelas. Hadis itu pasti bohong. Si Bossman diamankan oleh Banzer pengajian (Sumber: video wawancara Mardigu dengan Helmi Yahya).

Dan banyak lagi kisah dan riwayat yang kalau kita nalar dengan otak kritis ala sontoloyo, akan kita temukan bahwa riwayat  itu berpotensi ada pencemaran hadis dan riwayat di dalamnya.

Hingga usia saya yang masuk kepala empat, yang belajar Islamnya dari pesantren kilat di HMI, pengajian lembaga-lembaga formal dan membaca (diskusi) serta mengkonfirmasi hasil bacaan pada guru-guru. Yang borpotensi tersesat. Tetapi, saya tetap saja belajar. Menurut para kiai, ilmu agama itu wajib. Setidaknya atas apa yang kita yakini. Wajib tahu asal-usul dan sistem penjelasnya. Demikian doktrin di HMI.

Sayangnya, kisah-kisah yang berkenaan dengan keluarga Rasulullah Saw khususnya Imam Ali, Fatimah dan kehidupan keluarga sangat sedikit kita jumpai dalam referensi mayoritas umat Islam Indonesia.

Siti Fatimah (Istri Imam Ali) misalnya. Yang kita ketahui secara umum adalah hadis Nabi yang mengatakan, kalau anakku (Fatimah) mencuri saya sendiri  yang akan memotong tangannya. Coba Fatimah dimisalkan menculik. Itu saja yang populer, tetapi kemulian dan perlawanannya terhadap. Khalifah yang berkuasa pasca Wafatnya Nabi. Amat jarang kita temukan. Kenapa?

Apa penyebab perang besar, Perang Jamal  antara pasukan St. Aisyah dengan Pengikut setia (Syiah)  Imam Ali. Kenapa mereka berperang? Apakah perang tersebut berdampak pada  periwayatan hadist setelah itu? Dan seterunya? Ini adalah secuil pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak di kepalaku, ketika membaca kisah-kisah klasik.

Salah satu kisah setiap akhir Ramadan yang tragis. Kita selalu diingatkan dengan Syahidnya Imam Ali. Beliau dibunuh di waktu salat terbaik (subuh), dan posisi salat terbaik (sujud). Dst. Menurut riwayat ada yang menyebutkan 19 Ramadan, bertepatan 26 Januari 661 M di Masjid Agung Kufah.

Ibnu Muljam mewakili sosok umat Islam yang brutal, mungkin bisa saya istilah umat islam dengan otak bersumbu pendek. Marahan, ngamukan, dan mudah meledak.

Paragraf-paragraf berikut saya kutip dari situs nuonline.com. “Judulnya Ibnu Muljam Membunuh Imam Ali karena Hoax”

Ibnu Muljam dikenal sebagai orang yang taat dalam beribadah, salat, puasa dan bahkan hafal Alquran. Tapi sayang bacaannya tidak masuk kecuali sebatas sampai batas kerongkongannya. Sehingga mudah termakan oleh berita palsu/ hoaks yang telah disebarkan oleh kaum Khawarij. Mereka menebarkan hoaks yang menyatakan bahwa:

Sayidina Ali bin Abi Thalib itu pemimpin yang munafik, kafir dan musyrik. Rupanya Ibnu Muljam belum puas terhadap jawaban Sayidina Ali yang menjawab kaum penentangnya, “Kalimatu haqqin yuraadu bihaa bathilun.” Artinya ungkapan yang diucapkan itu sebuah kebenaran tapi yang ditujunya justru sebuah kebatilan.

Jawaban Sayidina Ali itu dilontarkan setelah peristiwa Perang Shiffin sebagaimana dikutip oleh Al Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab Al Bidayah wa Al Nihayah. Usai perang Shiffin, hoaks semakin tersebar. Kaum Khawarij meneriakkan, “Laa hukma Illa lillahi.” Artinya Tiada hukum kecuali untuk Allah SWT.

Kaum Khawarij menolak kekhilafahan Sayidina Ali. Ali dianggap tidak adil dan tidak menjalankan aturan Allah SWT. Hal itu menegaskan  seolah-olah kaum Khawarijlah yang paham hukum Allah. Tapi hakikatnya mereka tidak pernah paham bahwa perdamaian itu justeru esensi dari ajaran Islam.

Ibnu Qutaibah telah menulis kejadian sadis tersebut dalam kitabnya yang berjudul Al Imamah wa Assiyasah. Juga oleh Ibnu Faraj Al Isbahani dalam Kitab Maqaatil Al Thalibin.

Hadis populer tentang Imam Ali adalah,. Kalau Rasulillah adalah gudangnya Ilmu, maka Ali adalah pintunya, lalu mengapa banyak dari kita (umat) Islam masih enggan mengetuk pintunya ilmu. Apakah kita lebih suka lompat jendela?  Carilah pengetahuan baru, pada buku lama. (Adaptasi Marthin L.K). Carilah pengetahuan baru dari kisah lama yang otentik.

Wallahu a’lam.

Gambar: http://lilit.ir/34907/

ditulis oleh

Syamsu Alam

Ketua Masika ICMI Makassar, Dosen di Fakultas Ekonomi UNM, dan pegiat di Kelompok Studi Praxis FE UNM.