Konon katanya pada titimangsa jauh sebelum kita tercipta, mengadalah kisah makhluk yang ketaatannya memesona. Langit dan bumi bahkan cemburu padanya. Ia dipuji penghuni langit, dielu-elukan di bumi. Saking taatnya, dalam sejarah emasnya dikabarkan bahwa hampir semua tempat di alam semesta pernah dikunjunginya untuk beribadah. Tantangmi!

Kisah ketaatan makhluk ini sudah melegenda jauh sebelum Sun Go Kong merintis perjalanannya mencari kitab suci bersama biksu Tong Sam Chong. Karena ketaatannya yang cemerlang, dia akhirnya dipromosikan, diangkat jabatannya, tiba-tiba jadi stafsus, eh bukan. Diberi predikat menyamai para malaikat. Dialah Iblis, makhluk Tuhan paling seksi yang tercipta dari api. Makhluk malang yang kerap dikambing-hitamkan sebagai biang dosa manusia.

Selain ketaatannya yang melebihi mereka yang paling banyak ngomel di media sosial tentang anjuran ibadah di rumah – padahal paling malas ke rumah Tuhan, Iblis juga memiliki pengetahuan yang luas. Tak pelak, sulthonul auliya’ Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menukas tutur bernas bahwa,  “Aku lebih menghargai orang yang berakhlak daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, Iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia.”

Aforisme Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menunjukkan pada kita luasnya ilmu sang Iblis. Saya kadang berkhayal jika saja Iblis semasa dengan Plato atau Aristoteles, mereka pasti akan berguru filsafat kehidupan juga padanya. Lalu ia akan menerbitkan berjilid-jilid buku yang tak kalah larisnya dengan buku J.K. Rowling.

Sayang seribu sayang, rupanya ketaatanya masih rapuh, serapuh iman kita yang goyah karena kabar dukhan. Mungkin juga serentan keyakinan para jomblo yang was-was asteroid benar-benar mencium bumi, sementara kita masih “berusaha” berhenti melajang dan mencari buku nikah. Kemuliaan dan kehormatan yang dianugerahkan Tuhan, rupanya membuat Iblis terperangkap dalam kebanggaan-kebanggaan yang membuatnya celaka. Ia terjerat jaring-jaring fatomorgana yang diciptakannya sendiri.

Klimaks cerita ketaatan si Iblis terjadi tatkala Tuhan menciptakan manusia (Adam) dan menitahkan segenap makhluk bersujud padanya. Al-Qur’an dengan indah melukiskan tragedi tersebut dalam surah Al-Baqarah ayat 34, al-A’raf ayat 11, al-Hijr ayat 1, al-Isra’ ayat 61, dan dalam beberapa ayat lainnya. Pada tulisan ini saya kutipkan surah al-Isra’ ayat 61, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu semua kepada Adam, lalu mereka sujud, kecuali Iblis. la (Iblis) berkata, Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih suci, lebih taat, lebih senior, dan superior dari Adam. Kesombongannya yang melangit dan hakiki, membuatnya jatuh pada titik paling rendah. Menjadi makhluk paling hina lagi nista. Ia terjerembab dalam kawah kesengsaraan sampai akhir zaman. Itulah kisah sang Iblis yang hingga kini masih terus berjuang mencari jemaah, untuk mengisi rongga-rongga neraka yang luas di kemudian hari.

Keangkuhan inilah yang menjadi dosa yang ditanggung Escanor dalam animasi Nanatsu no Taizai. Escanor merupakan kesatria terkuat kedua dalam kelompok Seven Deadly Sins, yang dijuluki the Lion’s sin of pride. Escanor memiliki watak angkuh. Ia amat membanggakan dirinya dan merasa paling kuat di antara yang lainnya. Apakah itu di hadapan lawan ataupun kawan. Lantaran sombong, Escanor sampai lupa bahwa dirinya memiliki kelemahan.

Kesombongan merupakan satu dari tujuh dosa pokok dan secara alami menjadi biangnya dosa. Sama seperti amarah, kesembongan akan menyeret kita melakukan perbuatan buruk lainnya.  Sifat sombong inilah yang merupakan harta warisan sang Iblis, sebuah hasrat berlebihan yang timbul ketika seseorang menilai dirinya lebih atau  yang ter- dari orang lain.

Imam Syafi’i menyebutkan bahwa kesombongan adalah akhlak tercela. Sifat ini menjangkiti hati seseorang dengan halus macam corona. Banyak orang berilmu angkuh tapi tidak tahu dirinya sombong, karena kelihaiannya berargumen mencari alasan membenarkan sikapnya. Kesombongan intelektual demikian membuat seseorang merasa paling benar dan tahu segala hal melebihi orang lain. Padahal Gus Mus dengan sarkas menyebut kesombongan sebagai lebihan ketololan, di mana pemiliknya tak tahu harus dikemanakan

Kesombongan orang kaya tersimpan dari bagaimana caranya ia menggunakan hartanya. Uangnya digunakan berfoya-foya, tapi enggan menyisihkannya untuk orang membutuhkan. Atawa menggunakannya dengan niat ingin pamer.

Angkuhnya para penguasa terlihat dari bagaimana ia ingin diperlakukan mulia dari yang lain karena jabatan yang dimilikinya. Sedang kesombongan orang-orang beragama adalah ketika merasa dirinya lebih suci, lebih benar, dan lebih taat dari siapa pun. Sifat itu pula yang meligitimasi kita menghardik dan mencaci orang yang berbeda pemahaman keagamaannya.

Walakhir, kesembongan hanya bisa ditundukkan dengan bersikap rendah hati. Hati selayaknya disimpan di tempat paling rendah, sehingga tak adak lagi yang merendahkannya dan kita pun tak merendahkan orang lain. Imam Al-Ghazali menyebutkan enam hal untuk mengatasi kesombongan, sebagaimana yang saya comot dari Republika.co.id.

Pertama, jika berjumpa dengan anak-anak, anggaplah bahwa anak-anak tersebut lebih mulia daripada kita karena mereka belum banyak melakukan dosa. Kedua, apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah ia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadah.

Ketiga, jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena mereka telah mempelajari dan mengetahui banyak ilmu. Keempat, jika melihat orang bodoh, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita karena mereka melakukan dosa dalam kebodohan, sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui. Kelima, apabila melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin suatu hari nanti dia akan bertobat atas kesalahannya. Keenam, apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahwa mungkin suatu hari nanti mereka akan mendapatkan hidayah dan memeluk Islam sehingga segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.

 

Sumber ilustrasi: Pixabay

 

 

ditulis oleh

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.