Tahun ajaran baru sudah di depan mata. Walaupun situasi masyarakat dan negara saat ini berada dalam keadaan yang penuh keterbatasan, namun kebutuhan manusia dalam hal-hal tertentu tetap menuntut pemenuhan. Di antaranya, kebutuhan soal pendidikan. Yang dengan banyak cara berusaha untuk dicarikan alternatif pemecahannya. Semisal lewat pembelajaran daring yang dilakukan secara tatap muka lewat layar telepon genggam atau piranti laptop dari tempat tinggal masing-masing. Walaupun dalam proses tersebut pada akhirnya mengalami banyak sisi-sisi kekurangan.

Hal ini semakin mengukuhkan bahwa bukan hanya soal sandang seperti makanan yang butuh untuk tetap dipenuhi, melainkan pendidikan pun menjadi hal penting yang tak mau kalah dalam skala prioritas warga masyarakat, meskipun pendidikan yang dimaksud lebih kepada soal formalitas belaka. Baik sekolah negeri maupun sekolah swasta tetap melanjutkan program pembelajaran sesuai dengan rancangan yang telah ditetapkan oleh lembaga masing-masing. Yang membedakan keduanya hanyalah soal “rasa tanggung jawab”.

Jika pada sekolah negeri, pihak sekolah adalah sekelompok orang yang bekerja untuk pemerintah karena mendapatkan gajinya dari sana, sedangkan sekolah swasta, adalah kelompok orang yang memiliki pertanggungjawaban langsung kepada pihak orangtua siswa, dikarenakan dari sanalah sumber terbesar pendanaan mereka. Walaupun pada hakikatnya keduanya seharusnya bertanggung jawab penuh pada moralitas dan misi kemanusiaan. Hal tersebut pernah dijadikan bahan candaan oleh seorang pemilik sebuah yayasan sekolah swasta cukup besar di Indonesia, bahwa sejatinya para orangtua murid adalah pihak yang sangat ditakuti atau disegani oleh sekolah. Mengapa? Karena sumber pendanaan terbesar mereka berasal dari sana. Paradigma berpikir ini tentu saja akan memiliki dampak pada tata cara memperlakukan anak-anak didik mereka. Wallahu a’lam.

Berbanding terbalik dengan kondisi sekolah negeri. Nyaris tak ada urusan dengan kualitas murid. Apakah kelas tersebut jumlahnya melebihi kapasitas atau daya tampung yang ideal, ataukah saat mengajar murid-murid mengerti atau tidak. Yang lumrah terjadi adalah mereka tidak begitu peduli, apakah murid-murid sudah paham atau tidak mata pelajaran tersebut, roda waktu harus terus berputar. Yang terjadi mereka akan terus berlari karena dikejar dan terbebani oleh target-target pembelajaran yang menuntut untuk dipenuhi. Siswa tak lagi dipandang sebagai subyek yang memiliki perasaan, yang suara mereka hanya sayup-sayup untuk didengarkan.

Hingga pada suatu ketika muncul kasus-kasus penganiayaan guru ke murid ataukah sebaliknya yang terjadi. Barulah pada titik ini aktivitas dapat berhenti sesaat. Pada saat itu mulailah terselip setitik kesadaran, baik dari pihak sekolah maupun dari orangtua, bahwa ternyata selama ini banyak kesalahan yang telah dilakukan dalam praktik pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Di mana anak-anak hanya dijadikan obyek semata, ibarat benda mati yang bisa seenaknya disetel dan dikendalikan sesuka hati. Sayangnya tak banyak pihak yang bisa mengambil pelajaran dari situasi yang pernah menimpanya.

Perlukah anak sekolah?

Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada masyarakat umum, maka jawabannya sudah bisa ditebak. Ya, setiap anak sangat perlu sekolah. Hanya segelintir kecil saja dari mereka yang memiliki pendapat berbeda atau sebaliknya. Karena dalam benak masyarakat awam bersekolah satu-satunya cara yang diyakini dapat meningkatkan pengetahuan, jalan untuk mencapai pekerjaan yang diidam-idamkan, bahkan mampu mendongkrak status seseorang menjadi lebih baik dan berkualitas. Dari sederet alasan inilah maka akan terdengar aneh jika ada orang yang tak menganjurkan bersekolah.

Pendapat di atas umumnya berasal dari pikiran orang dewasa. Lalu bagaimana kita melihatnya dari sisi pandang kanak-kanak? Kurang lebih sama, anak-anak pun pada dasarnya akan sangat senang dan tertarik dengan bangunan yang bernama sekolah. Bahkan pada saat usia mereka masih sangat belia, usia pra TK atau play group. Sekolah adalah hal yang paling mereka impi-impikan. Bahkan jauh sebelum usianya mencukupi, ia akan menghibur dirinya dengan mengisi kegiatannya dengan bermain peran. Bersama teman atau orang dewasa lainnya, mereka akan berpura-pura menjadi murid, dan sebagiannya lagi menjadi gurunya. Lalu kita akan mendengarkan celoteh dan dialog-dialog lucu mereka hasil merekam apa saja yang telah mereka lihat dan saksikan selama ini. Entah itu dari orangtuanya langsung, kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu masuk sekolah, atau dari tetangga-tetangganya yang boleh jadi sebagiannya sudah berstatus anak sekolah.

Bahkan walaupun kejadian-kejadian tersebut tak mereka temukan di lingkungan sekitar, bisa jadi dunia sekolah dan hal-hal menyenangkan yang ditampilkan oleh iklan-iklan atau tayangan-tayangan pendidikan di layar kaca menjadi pendorong minatnya untuk juga mau masuk sekolah secepat-cepatnya. Namun apa yang terjadi setelah mereka mulai merasakan dunia sekolah?

Tentu akan berbeda pengalaman yang dirasakan oleh masing-masing anak. Tergantung type kepribadian, dukungan orangtua, juga tentu saja perlakuan guru. Karena tak semua anak mampu melalui masa-masa awal sekolah dengan mulus dan sebahagia sebagaimana yang mereka harapkan. Ada gangguan teman di sana, ada suasana kelas yang padat dan ribut. Belum lagi keterbatasan guru yang mengajar dan mendampingi akan sangat berpengaruh pada psikologis anak. Sehingga wajar saja jika muncul perasaan gado-gado di awal mereka mulai merasakan sekolah.

Namun kita tak perlu khawatir jika kita sebagai orangtua yang tentunya perlu bekerja sama dengan pihak sekolah mampu mengatasi semua “kekacauan-kekacauan” ini. Persoalan selanjutnya adalah, apakah orangtua mau dan cukup waktu untuk memikirkan semua permasalahan tersebut? Dan apakah guru-guru bisa diajak bekerja sama dan terlebih memiliki kompetensi untuk membantu mengatasi masalah yang dialami anak didiknya? Jika ya, teruslah sekolahkan anak-anak kita di sana. Namun jika tidak, maka berpikirlah untuk mencarikan solusi, karena sekolah formal bukanlah satu-satunya jalan untuk menempuh pendidikan. Ada alternatif-alternatif lembaga pendidikan yang memiliki tujuan sama, mencerdaskan anak, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda.

Karena pada hakikatnya, kebahagiaan anak adalah misi utama pendidikan manusia. Bukan semata menjadi pintar namun ditempuh dengan cara-cara yang tidak menggembirakan. Semestinya proses memasukkan pengetahuan ditempuh menyelaraskan dengan cara kerja pikiran. Di saat mana pikiran rileks di sanalah ilmu dengan mudah akan masuk dan menetap selamanya.

Ilustrator: Nabila Azzahra

ditulis oleh

Mauliah Mulkin

Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute. Telah menulis buku "Dari Rumah untuk Dunia" (2013) dan "Metamorfosis Ibu" (2018).